
Sesampainya di rumah Zyva, Devan langsung merasa nyaman dengan suasana yang sangat asri. Devan dan Mang Uli yang akan jadi supir baru Zyva langsung menurunkan barang barang Zyva dari mobil dan membawakannya masuk ke dalam rumah.
Rumah Zyva tidak nampak berdebu karena setiap minggu, Zyva sudah membayar orang untuk membersihkan rumahnya. Zyva langsung membuka kamar ayahnya yang sekarang akan menjadi kamar ibunya.
"Buk-Tin. Ini kamar ayah yang nantinya akan jadi kamar ibu. Zyva harap ibu nyaman tidur disini." ucap Zyva membuat air mata Pristina kembali berderai mengingat sosok Ray Pratama.
"Ibu pasti akan sangat betah sayang." jawab Pristina yang mulai masuk dan membawa barang-barangnya masuk ke dalam.
Sedangkan Zyva kini menuju ke kamar lamanya dengan diikuti Devan dari belakang. Zyva membuka kamar lamanya dan menunjukkan kepada Devan.
"Dev, ini kamarku. Tentunya tidak sebesar kamarmu. Apalagi ranjangnya hanya muat untuk satu orang." jelas Zyva menunjuk ke arah ranjang yang berukuran single.
"Kata siapa hanya muat satu orang?" protes Devan yang langsung menarik Zyva ke atas ranjang dan merebahkannya. Kemudian Devan rebahan di samping Zyva.
"Coba kamu hadap kanan dan kiri." perintah Devan dan Zyva pun menuruti. "Gimana? Masih muat kan untuk dua orang?" tanya Devan.
"Iya sih, tapi kan sempit Dev. Gak sebesar di kamar kamu." sanggah Zyva.
"Kalo masih berdua, itu masih sangat pas dan cukup. Kecuali kalo nanti kita punya anak, baru bisa dibilang gak cukup dan harus ganti ranjang yang baru." bisik Devan membuat Zyva langsung mendorong tubuh Devan.
"Zy, kira kira kamu mau punya anak berapa sama aku?" tanya Devan membuat Zyva langsung meninju lengan Devan.
"Jangan ngaco deh. Kita masih sekolah Devan." balas Zyva dan Devan pun terkekeh.
"Iya deh iyaa. Eh, kayaknya itu motor kamu udah di anter deh di luar." ucap Devan yang kemudian keluar karena mendengar ada suara deru kendaraan di luar.
Zyva pun mengikuti langkah Devan, sayangnya bukan motornya yang datang. Melainkan kiriman mobil baru dari dealer.
"Permisi, saya mau kirim mobil atas nama Zyvanna Ray." ucap dealer yang keluar dari mobil yang dikirimkannya.
Zyva langsung terkejut sambil menutup mulutnya. "Dev, ini kerjaan kamu ya?" tanya Zyva.
__ADS_1
Devan hanya diam saja sampai Zyva melakukan serah terima dengan dealernya.
Devan memang sengaja menggunakan uang tabungannya selama menjadi DJ untuk membeli mobil XL7 untuk Zyva.
"Maaf ya Zy, aku baru bisa beliin yang ini dulu buat kamu. Setidaknya biar kamu gak kehujanan kalo pergi kemana-mana." ucap Devan membuat mata Zyva berkaca-kaca.
"Maksud kamu apa sih Dev?"
"Bagiku, kamu adalah istriku bukan hanya sekedar pacarku, Zyva. Meskipun kita masih sama-sama sekolah, setidaknya aku akan berlatih untuk menjadi suami yang baik untuk kamu." ucap Devan membuat Zyva sangat terharu.
Zyva benar-benar tidak menyangka, Devan akan tulus mencintainya.
"Nanti kamu juga harus berlatih bawa mobil ya," ucap Devan mengacak rambut Zyva. "Kita test drive yuk sambil belanja." ajak Devan dan Zyva pun langsung menganggukkan kepalanya.
"Aku ijin sama Buk-Tin dulu ya." ucap Zyva yang masuk ke dalam tumahnya dan berpamitan.
Devan sengaja mengajak Zyva berkeliling dengan alasan belanja karena sebenarnya Devan sedang mencari kost yang dekat dengan rumah Zyva. Agar nantinya ia bisa tetap mengawasi dan mengantar jemput Zyva.
Setelah mendapatkan beberapa bahan makanan yang Zyva perlukan, Devan menyampaikan keinginannya pada Zyva dan Zyva pun langsung mengajak Devan ke kost yang berjarak lima rumah dari rumah Zyva.
"Gimana Dev, mau cari yang lain lagi atau nunggu yang disini kosong?" tanya Zyva.
Devan menimang-nimang dua pilihan, "Nunggu yang ini kosong aja deh." ucap Devan.
Akhirnya mereka berdua pulang ke rumah dan buk-Tin langsung mengolah bahan makanan yang sudah dibeli Zyva.
...***...
Sore harinya, keluarga Devan datang ke rumah Zyva. Zen dan Auryn langsung mengobrol dengan Pristina di ruang tamu. Kali ini orang tua Devan benar-benar meminta Pristina untuk berubah dan mengurus Zyva dengan baik.
Sedangkan Devan, Dena, Zyva dan Liza menghabiskan waktu di ruang tengah di depan televisi sambil bercerita.
__ADS_1
"Rumah kamu nyaman banget, Zy. Kayak rumah oma sama opa. Aku bakal sering main kesini nih." ucap Liza yang diam diam merindukan rumah oma opa.
"Main aja lagi, cuma ya itu. Rumahnya kecil." ucap Zyva.
"Ini mah gak kecil Zy. Tuh masih ada satu kamar kosong." tunjuk Dena.
"Itu memang kamar tamu sih. Kadang kalo saudara ayah dateng tidurnya di situ." jelas Zyva dan Devan langsung membuka pintu kamar yang di tunjuk Dena.
"Loh, ini kamarnya lebih luas dari kamar kamu Zyva." ucap Devan menutup kembali pintu kamarnya.
"Iya, di kamar itu juga ada kamar mandinya malah di dalam. Kata ayah dulu, itu buat kamar aku kalo udah nikah." ucap Zyva.
"Lah berarti kamar aku juga dong Zy. Kita kan udah nikah." ucap Devan.
"Tapi kan kita masih sekolah Dev." sanggah Zyva membuat Devan kembali menggerutu.
"Aku ada kesempatan nih buat godain Devan lagi kalo Zyva disini." ucap Liza yang langsung ditegur oleh Papa Zen.
"Liza, kalau kamu sampai godain Devan lagi. Om gak akan segan segan kirim kamu ke asrama." ancam Papa Zen.
"Yaelah, om. Cuma gurau doang dibikin serius sih." timpal Liza membuat semuanya tertawa.
Liza kini mulai takut dengan gertakan papa Zen dan sudah tidak lagi menggoda Devan semenjak ia ketahuan sengaja menggoda Devan dengan hanya berbalut handuk.
Setelah menjelang malam, mereka pun makan malam di rumah Zyva dan kemudian berpamitan untuk pulang. Papa Zen, mama Auryn, Dena dan Liza pulang lebih dulu.
Sedangkan Devan akan mengantar Mang Uli dulu yang rumahnya tidak jauh dengan Zyva, baru pulang ke rumah dengan mobil yang dibawa Mang Uli tadi.
"Zy, malam ini aku bakal kesepian gak ada temen tidur." gerutu Devan membuat Zyva tersenyum geli.
"Nanti tetep aku temenin kok, by phone." jawab Zyva.
__ADS_1
"Kamu tega banget deh. Yaudah, aku pulang dulu ya. I will miss you so much Zyva. Sampai ketemu besok di sekolah." ucap Devan sambil melambaikan tangannya ke arah Zyva.
Zyva sebenarnya juga berat melepas Devan pulang, tapi mungkin ini lebih baik untuk sementara waktu.