
Devan terlihat sudah meringkuk di dalam selimut saat Zyva masuk ke dalam kamar dan memejamkan matanya. Zyva yang baru saja makan enggan untuk langsung tidur. Ia pun menarik kursi belajarnya dan duduk di tepi ranjang Devan.
"Dev, kamu dah tidur?" tanya Zyva dab Devan hanya diam saja.
"Tumben cepet banget tidurnya." ganggu Zyva dan Devan masih diam saja.
Tuk tuk tuk! Zyva menempelkan telunjuknya ke hidung Devan dan membuat kelopak mata Devan bergerak gerak.
Zyva langsung tergelak saat mengetahui Devan yang hanya pura-pura tidur. "Jangan bohong deh, kamu itu jelas belum tidur." Zyva menggoyang goyangkan tubuh Devan agar ia membuka matanya.
Devan tetap saja diam, hanya saja ia langsung merengkuh tubuh Zyva dan jatuh di pelukannya. "Kamu kenapa sih Zy? Gangguin orang tidur aja." gerutu Devan.
"Maafin aku ya Dev. Aku cuma mau minta maaf aja sama kamu." ucap Zyva yang kini berada di dalam pelukan Devan.
Sebenarnya Devan sudah memaafkan Zyva sejak Zyva minta maaf tadi. Tapi kali ini Devan ingin pura-pura marah. Ia ingin tahu bagaimana jika Zyva mendapatinya marah.
Devan pun melepaskan pelukannya dan kembali masuk ke dalam selimut membelakangi Zyva. "Aku tidak marah. Sekarang tidurlah! Kita bahas masalah ini besok pagi." ucap Devan yang sangat mengerti bahwa Zyva tidak akan bisa tidur tanpa menyelesaikan masalahnya dulu.
Zyva mengambil nafasnya dan membuangnya perlahan-lahan. "Dev, beneran udah ngantuk?" tanya Zyva yang hanya dijawab deheman oleh Devan.
"Yaudah, kalo gituh aku ke kamar Dena dulu yaa." pamit Zyva. Belum sempat Zyva beranjak, tangan Devan sudah menahan tubuh Zyva agar tidak pergi.
__ADS_1
"Jangan!" cegah Devan. "Tetap disini bersamaku, Zyva." pinta Devan yang kemudian memeluk Zyva.
"Maafkan aku Devan, apa kau masih marah denganku?" tanya Zyva dan Devan langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah memaafkanmu, aku tidak marah, aku hanya sangat cemburu Zyva. Mengertilah." tukas Devan sambil menangkupkan tangannya di wajah Zyva.
Bagaimana Devan tidak cemburu jika gadis secantik Zyva menghabiskan wakyu bersama lelaki yang lebih dulu mengenal Zyva dari pada Devan. Bukan hanya itu, Devan sangat takut jika Zyva juka menyukai Sean dan berpaling darinya.
Zyva dan Devan memang sudah menikah, tetapi mereka tidak selayaknya suami istri dikarenakan banyak faktor. Umur mereka sama sama masih terbilang sangat muda, hanya saja faktor yang paling penting adalah sejauh ini berulang kali Devan menyatakan jatuh cinta dengan Zyva. Tetapi sayangnya Zyva tidak pernah mengucapkan itu sekali pun.
"Aku mengerti Devan," Timpal Zyva. "Tapi entah kenapa aku suka melihatmu cemburu." ucap Zyva jujur membuat Devan mengernyitkan dahinya.
"Apa maksudmu, Zyva? Kau senang ya membuatku sengsara." Devan mulai menggelitiki pinggang Zyva.
"Ampun?" tanya Devan dan Zyva menganggukkan kepalanya.
Devan memandang wajah Zyva intens, membelai rambut Zyva, mengusap pipi lembut Zyva dan kini jari tangannya mengusap bibir Zyva.
Zyva menikmati usapan Devan dan memejamkan matanya. Tanpa menunggu lama, Devan pun mendekatkan bibirnya dan mencium bibir Zyva perlahan lahan.
Kali ini Zyva membalas ciuman Devan dan meletakkan tangannya di leher Devan. Keduanya saling memagut satu sama lain, Devan kini mulai berani mengusap leher Zyva dan turun ke punggung Zyva.
__ADS_1
Ctak! Devan berhasil membuka pengait br* Zyva dari luar dan membuat Zyva meremang. Devan melepaskan pagutannya dan memandang Zyva.
"Bolehkah aku bermain di sini?" tanya Devan menunjuk ke dada Zyva tepatnya di aset berharganya.
"Jangan Dev." tolak Zyva meskipun bahasa tubuhnya mengatakan hal yang berbeda.
Zyva sangat ingin menikmatinya, tapi disisi lain Zyva takut kelepasan karena mereka berdua masih sama sama sekolah.
"Aku tidak akan membuka pakaianmu. Aku hanya ingin menyentuhnya dari luar." pinta Devan sambil mulai me-raabaa dari luar kaos Zyva.
"Aaah." Zyva mulai mengeluarkan de-sa-hannya. "Ta-pi Dev__."
"Aku berjanji yidak akan melakukan hal yang lebih dari ini." janji Devan dan kini br* milik Zyva sudah tidak menangkup miliknya meskipun tubuhnya masih tertutup kaos yang ia kenakan.
Baru sekali usapan saja ni**le milik Zyva sudah mulai meng*ras membuat Devan terus memainkan jarinya di area sensitif Zyva.
Zyva menggelinj*ng hebat akibat permainan jari Devan yang menurutnya sangat lembut dan juga memunculkan sensasi yang ia belum pernah rasakan sebelumnya. Zyva makin membus*ngkan dadanya dan Devan mulai berani me-r*m*s dan juga mem*l*n milik Zyva hingga kali ini Zyva benar-benar seperti dibatas awan.
Zyva hampir saja hilang kendali dan menginginkan Devan melakukan lebih jika Devan tidak cepat-cepat mengakhiri permainannya dan berlari ke kamar mandi untuk menuntaskan hasr*tnya.
"Aku harus ke kamar mandi Zyva. Maaf." ucap Devan buru buru masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Zyva pun mengatur nafasnya dan memperbaiki kaosnya yang acak acakan. "Untung saja Devan cepat mengakhiri semua ini. Jika tidak bisa habis aku." gumam Zyva dalam hati.
...***...