
Keesokan harinya, Keluarga Devan berkumpul di ruang makan untuk sarapan pagi. Liza pun sudah siap di meja makan dan duduk di samping Dena. Persiapan acara pernikahan sepupunya kali ini, Liza memutuskan untuk menginap di Mansion.
"Kapan kalian mau fitting baju pengantin?" tanya Mama Auryn kepada anak-anak dan menantunya.
"Lusa ya, Ma." jawab Dena. "Kebetulan Nino masih ke luar kota hari ini."
"Tapi kalo Devan sama Zyva mau duluan juga gak papa kok." timpal Dena lagi.
"Bareng aja besok lusa, hari ini aku mau ajak Zyva kencan sekalian ngecek Ballroom hotel yang mau dipakai untuk tempat resepsi." balas Devan.
"Duuuh, senengnya yang udah bisa berdua-duaan terus nih. Setelah penantian panjang, kayaknya udah mau unboxing aja nih buka segel." ledek Liza yang tahu persis jika Zyva masih perawan.
Ledekan Zyva langsung dibalas dengan toyoran di kepalanya oleh Dena. "Ngasal aja nih bocah kalo ngomong. Irii yeeee?" tanya Dena dan Liza langsung mencebik kesal.
"Diiih, gak banget ngiri ama kalian yaa. Cowok aku juga lebih ganteng dan macho. Kayak oppa oppa korea gituuuh." balas Liza.
"Devan ama Nino malah lewaaat."
Mendengar Liza membanggakan pacarnya, Papa Zen langsung ikut nimbrung.
"Trus mana sekarang pacar kamu?" tanya Papa Zen. "Bawa ke Mansion dong, nanti papa yang nilai deh."
"Emmmh, cowok Liza nih agak pemalu. Tapi nanti akan Liza bawa ke Mansion." ucap Liza sambil menghabiskan sarapannya.
Selesai sarapan, Mama Auryn dan Papa Zen langsung berangkat ke kantor. Liza dan Dena hari ini tetap harus berangkat ke sekolah untuk mengajar meski nanti akan pulang lebih cepat dari biasanya.
Sedangkan Zyva dan juga Devan langsung menuju ke Hotel untuk mengecek persiapan yang sudah dilakukan pihak Hotel yang bekerja sama dengan Wedding Organizer.
...❤️❤️❤️...
Kini Zyva dan Devan sudah berada di mobil dan menuju ke Hotel Bee. Devan mengemudi dengan santai karena ia memang berniat untuk menikmati waktunya bersama Zyva.
__ADS_1
"Makasih ya sayang, udah sabar untuk bertahan menjadi istriku." ucap Devan yang terus menggenggam tangan Zyva meski sambil mengemudi.
Sesekali Devan mencium punggung tangan Zyva dan membuat desiran halus dalam hati Zyva. Kali ini Zyva merasa seperti di atas awan karena terus saja diperlakukan bak ratu oleh Devan.
"Aku makin salut denganmu, Zyva. Jujur saja, aku sangat paham bagaimana Keseharian mu selama 8 tahun ini. Dan itu aku jadikan cambuk agar aku pantas menjadi pria yang berdiri di sampingmu." ucap Devan membuat Zyva mengulum senyumnya.
"Kau hanya berlebihan menilaiku, Devan. Aku tidak seperti yang kau dengar dari Dena." timpal Zyva sedikit salah tingkah.
"Aku tidak berlebihan, sayang. Istriku memang sangat luar biasa dan mempesona." tukas Devan membuat Zyva makin berbunga-bunga.
Zyva pun memalingkan mukanya yang mulai merona karena pujian Devan ke luar jendela, tanpa sengaja ia mengamati mobil yang terlihat seperti mengikutinya.
"Dev, kamu lihat mobil Nissan yang di belakang kita?" tanya Zyva kemudian dan Devan langsung mengamati dari kaca spion mobilnya.
"Yap, sepertinya saat kita keluar dari gerbang komplek, aku lihat mobil itu terparkir di depan ruko." timpal Devan. "Ada apa, sayang?"
"Aku hanya sedikit curiga jika mobil itu sedang mengikuti kita."
"Ingat sayang, kau tidak boleh jauh dariku sedikit pun saat di hotel nanti. Kali ini kita harus waspada."
Zyva langsung mengangguk setuju dengan apa yang diucapkan oleh Devan.
Benar saja dugaan Zyva, mobil Nissan yang ada di belakangnya mengikuti mobil mereka yang berbelok ke Hotel Bee.
Namun Zyva dan Devan sudah sepakat untuk berpura-pura tidak tahu jika kali ini mereka sedang diikuti oleh seseorang. Mereka berdua tetap bersikap biasa saja meski dalam mode waspada.
Devan dan Zyva langsung menuju ke Ballroom hotel dan menemui pemilik Hotel serta CEO Wedding Organizer mereka. Kini mereka berempat sama-sama sedang membahas tentang acara pernikahan yang dikehendaki kedua mempelai.
Namun, di tengah pembahasan, Zyva mohon diri untuk ke toilet. Sedangkan Devan masih tetap fokus membahas acara pernikahannya dengan pihak hotel dan WO.
Zyva tidak begitu was-was karena toilet yang akan ia tuju tidak jauh dari tempat Devan meeting. Dengan santai Zyva menuntaskan hajatnya di kamar mandi dan kemudian mencuci tangannya di wastafel luar kamar mandi.
__ADS_1
Tiba - tiba saja Yuda sudah berdiri di belakang Zyva dan langsung menutup hidung Zyva dengan sapu tangan yang sudah diberi bius. Zyva yang terkejut dengan kehadiran Yuda tidak sempat berteriak karena ia langsung tidak sadarkan diri.
Yuda pun langsung menampakkan senyum seringainya karena kini dengan mudah ia menjalankan aksinya untuk menghancurkan Zyva. Dengan senang hati kini Yuda membawa Zyva ke dalam kamar hotel yang sudah ia pesan sebelumnya.
"Kamu semakin cantik Zyva dan sangat menawan. Sayang, kamu sudah jadi milik orang." gumam Yuda yang sudah mengangkat tubuh Zyva ala bridal style.
Yuda terus memandangi wajah cantik Zyva yang kini dalam dekapannya. Ia pun memencet tombol lift dan segera menuju ke kamar yang sudah ia pesan.
Bulu mata Zyva yang lentik, alisnya yang tidak begitu tebal, hidungnya yang mancung dan bibir Zyva yang begitu sangat menggoda Yuda untuk segera dicicipi membuat Yuda salah menekan tombol lantai kamar yang ia pesan.
"Huft, hanya memandangi mu saja membuatku lupa lantai berapa kamar hotel yang aku pesan untuk menikmati tubuhmu, Zyva." gerutu Yuda.
Setelah tiba di lantai yang tepat dengan kamar yang di pesan, Yuda langsung membawa Zyva masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar hotel dengan kakinya.
Perlahan Yuda merebahkan tubuh Zyva di atas kasur. Kemudian ia menyiapkan kamera yang sudah ia siapkan untuk merekam tubuh Zyva.
Setelah semuanya siap, Zyva terlihat bergerak dan mulai mengerjapkan matanya karena efek bius yang diberikan Yuda sudah mulai hilang.
"Hai Zyvanna Ray." panggil Yuda yang kini mulai mengusap pipi Zyva.
Mendengar suara Yuda di sampingnya membuat Zyva memaksa untuk membuka matanya yang masih terasa berat.
"Yuda." suara Zyva terdengar sangat pelan namun terdengar begitu seksi ditelinga Yuda.
"Aku sangat senang kau masih mengingatku Zyva." tangan Yuda kini menyentuh bibir Zyva.
"Suaramu terdengar begitu indah saat memanggil namaku. Dan sebentar lagi aku akan membuatmu berteriak memanggil namaku tepat di bawahku,"
Zyva mencoba menggerakkan tangannya untuk menepis tangan Yuda, namun usahanya sia-sia karena tubuhnya masih sangat lemah.
"Jangan sentuh aku, Yuda!" pinta Zyva dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Sebentar lagi kau justru akan memintaku untuk menyentuh setiap inchi tubuhmu, Zyva." ucap Yuda yang kini membantu Zyva untuk duduk dan memaksanya untuk meminum air yang sudah ia campur dengan obat perangsang.