Cewek Bertalenta

Cewek Bertalenta
Keadaan Genting


__ADS_3

"Aku tidak merestui pernikahan ini!" teriak seorang wanita dari pintu kedatangan para tamu membuat semua mataa tertuju pada wanita itu.


"Dia adalah putri kandungku yang kemudian menikah tanpa restu dariku. Apakah itu bisa dikatakan sebagai pernikahan yang sah?" Pristina mulai menceracau mempermalukan keluarga Zen Ivander di depan semua tamu yang datang.


Meskipun tamu yang hadir tidak lebih dari 100 orang, tetap saja itu akan berpengaruh dengan perkembangan perusahaan milik Zen Ivander dan juga jabatan yang sekarang diampu oleh Auryn.


Para tamu undangan sudah mulai berbisik membicarakan acara pernikahan putra Zen yang memang terlihat sangat dirahasiakan. Terlebih kedua mempelai masih dalam kategori usia di bawah umur untuk menikah.


Auryn tampak pias menghadapi kegaduhan yang tidak ia bayangkan sebelumnya. Melihat ibunya terdiam menunduk, Zyva segera berdiri daan mengambil pengeras suara.


"Perhatian semuanya, perkenankan saya untuk bicara di hadapan para tamu undangan yang terhormat untuk memperjelas semuanya." ucap Zyva terdengar sangat santun membuat semua tamu undangan kalangan elit berpindah memperhatikannya.


"Saya Zyvanna Ray, memang putri kandung dari Nyonya Pristina." ucap Zyva menunjuk ke arah Tina berdiri. "Ayah saya sudah meninggal dunia, dan memang seharusnya saya meminta izin kepada ibu kandung saya untuk menikah, terlebih di usia yang maaih sangat muda." Penyataan Zyva kali ini membuat Tina sedikit lega karena para tamu undangan yang datang pasti akan memihaknya untuk membatalkan pernikahan.


"Tapi ibu kandung saya sudah meninggalkan saya dan ayah saya sejak delapan tahun yang lalu dengan membawa aset penting milik keluarga kami. Saya hanya tinggal berdua dengan ayah sebelum ayah meninggal dunia satu bulan yang lalu." Kali ini Tina mulai menatap Zyva dengan mata yang nanar atas pernyataan yang ia dengar dari Zyva.


"Apakah perlu saya meminta izin untuk menikah dengan ibu yang selama delapan tahun ini selalu mengabaikan saya? Apakah masih pantas saya menyebutnya sebagai ibu, jika dia meninggalkan saya begitu saja?"


"Saya tidak akan menceritakan semua masalah hidup saya kepada para tamu undangan yang terhormat, tetapi saya minta keadilan untuk masalah pernikahan saya kali ini." ucap Zyva dan tamu undangan kini saling memberikan suara bahwa pernikahan Zyva dan Devan tetap sah.


Hal ini membuat Pristina sangat malu dan keluar dari kerumunan para tamu undangan dan pergi meninggalkan mansion Zen Ivander. Tak lama kemudian setelah kepergian Pristina, Pengacara Rudi dan Adrian tiba dengan keadaan yang berantakan dan lebam.


Keduanya segera masuk lewat pintu belakang dan memperbaiki penampilan mereka. Setelah itu mereka langsung membaur dengan para tamu undangan untuk memberi selamat pada Zyva dan Devan. Hampir semua tamu undangan mengungkapkan rasa kagum mereka kepada Zyva dan memuji keberanian Zyva.


Zen dan istrinya juga meminta maaf kepada para tamu undangan satu per satu atas ketidak nyamanan mereka karena kedatangan Pristina yang tiba-tiba merusak suasana. Para tamu undangan sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut, justru mereka salut atas kebaikan Zen dan istrinya yang ingin merawat Zyva.

__ADS_1


Setelah serangkaian acara terlaksana dan para tamu undangan sudah meninggalkan mansion, Zen langsung menginterogasi Pengacara Rudi dan Adrian.


"Kenapa kalian baru datang?" tanya Zen Ivander.


"Maaf Tuan, tadi Nyonya Pristina mengerahkan anak buahnya untuk menahan kami agar tidak segera tiba disini. Nyonya Pristina juga mengambil kunci mobil Adrian dan membawa mobilnya pergi, sedangkan kami berdua harus melawan orang-orang suruhan Nyonya Pristina." jelas Pengacara Rudi.


Zen segera memanggil asisten rumah tangganya untuk mengobati lebam dan luka pada Adrian dan Pengacara Rudi.


...***...


Zyva kini duduk bersandar di sofa dengan tubuh yang sangat lelah ditemani oleh Dena. Melihat raut wajah Zyva yang sedikit pucat, Dena langsung memegang kening Zyva.


"Kamu demam lagi Zyva." ucap Dena. "Istirahat di kamar yuk." ajak Dena memegang lengan Zyva dan membantunya berdiri. Baru saja Zyva berdiri, ia langsung terjatuh pingsan.


"Dibawa ke kamar siapa?" tanya Devan pada Dena.


Dena langsung memukul jidatnya melihat keanehan Devan, bisa bisanya di keadaan genting begini ia harus memilih kamar untuk menidutkan Zyva. Dena langsung mendorong Devan menuju kamar Devan sendiri.


"Baringkan aja di kamar ini. Dia kan sudah jadi istrimu, aku akan turun membantu mama." ucap Dena sambil beranjak meninggalkan Devan dan Zyva berduaan di kamar milik Devan.


Devan pun membaringkan Zyva di atas ranjang miliknya. Setelah itu Devan segera mengambil kompres untuk menurunkan suhu tubuh Zyva yang sangat tinggi. Dokter pun segera memeriksa keadaan Zyva. Ternyata Zyva dehidrasi dan harus segera dipasang infus. Melihat keadaan Zyva yang masih menggunakan gaun pengantin, sangat tidak memungkinkan untuk memasangkan infus.


"Sepertinya kau harus mengganti gaun istrimu dengan baju rumah atau piyama. Aku akan menunggu di luar dan segera ganti pakaian istrimu." ucap Dokter tersebut dan langsung keluar dari kamar Devan.


Dena yang sedang menggantikan Devan membantu mamanya tentu saja tidak dapat membantunya menggantikan gaun Zyva. Perlahan-lahan Devan membuka resleting gaun Zyva dan terpampanglah punggung mulus Zyva membuat Devan menelan ludahnya kasar.

__ADS_1


Dengan perjuangan luar biasa Devan melepaskan gaun Zyva, kini Zyva hanya mengenakan bra dan ****** ******** saja membuat senjata Devan berdiri tegak. Cepat cepat Devan menutup tubuh Zyva menggunakan selimut dan mencari piyama miliknya dan memakaikan pada Zyva.


"Aku bisa gila jika terus terusan melihat seperti ini." gumam Devan sambil mengusap wajahnya kasar.


Ia segera memanggil Dokter Ryan untuk memasangkan infus Zyva.


"Kenapa lama sekali mengganti baju begitu saja." gerutu Dokter Ryan sambil masuk ke kamar Devan.


"Huh, dia tidak mengerti saja bagaimana perjuanganku mengganti pakaian milik Zyva." keluh Devan dalam hati.


Zyva sudah sadar saat dipasangkan infus dan langsung diperiksa oleh Dokter Ryan. Setelah memeriksa Zyva, Dokter Ryan pun undur diri.


Zyva melihat dirinya sendiri yang sudah tidak mengenakan gaun dan justru memakai piyama yang kebesaran di tubuhnya. Ia melihat sekelilingnya, bukan kamar yang kemarin. Yang ini mirip kamar cowok. Kini tatapan Zyva terhenti memandang Devan yang terduduk di sofa sedang menangkupkan wajahnya dengan telapak tangannya.


"Devan," panggil Zyva membuat Devan mengangkat kepalanya. "Apa ini kamarmu?" tanya Zyva.


"Hemmm." jawab Devan singkat.


"Kau pasti sangat lelah yaa. Jika kau ingin beristirahat, tidurlah di kamarku. Aku masih sangat lemas jika harus berjalan ke kamar." ucap Zyva. Devan langsung berdiri dan berjalan menghampiri Zyva.


Devan yang masih menggunakan jas penggantinya terlihat sangat tampan di mata Zyva dan kali ini membuat dada Zyva berdegub kencang saat Devan berjalan mendekat ke arahnya.


"Aku akan beristirahat nanti, sekarang berikan kunci kamar kostmu. Aku akan memindahkan barang barangmu kemari." ucap Devan.


"Ada di saku tas yang paling depan." ucap Zyva dan Devan segera berbalik meninggalkan Zyva.

__ADS_1


__ADS_2