
Point of View Zyvanna Ray
Aku sudah sangat lama tidak mendengar kabarnya. Bahkan jika Dena menceritakan tentang Devan, suamiku, aku sama sekali tidak berkeinginan untuk mendengarkannya sedikitpun. Alasannya sangat sederhana, aku hanya ingin fokus mengejar masa depanku dan membiarkannya mengejar apa yang sudah menjadi cita-citanya.
Bahkan sekarang aku sama sekali tidak merasa bahwa aku dan Devan adalah sepasang suami dan istri. Kita berdua menikah di usia yang sangat muda dan bisa dikatakan pernikahan itu layaknya cinta monyet anak SMA.
Bahkan sampai saat ini aku juga tidak memegang sama sekali buku catatan nikahku dengan Devan, dan Status ku juga masih lajang di KTP yang saat ini aku pegang. Semenjak kuliah dan memegang kepemimpinan Gelora Internasional, aku sama sekali tidak terfikir tentang asmara.
Karena bagiku, asmara hanyalah suatu perasaan yang begitu menyakitkan. Bagaimana tidak?
Saat aku sedang di puncak asmara, orang yang aku cintai justru meninggalkanku begitu saja. Yaah, meskipun aku juga memberi izin dan menyetujui apa yang sudah menjadi keputusannya.
Bahkan selama duduk di bangku kuliah, aku terkenal sebagai mahasiswi yang sangat dingin dengan setiap lelaki yang bertemu denganku. Bahkan dosen laki-laki saja mengakui hal itu.
"Zyva." terdengar suara ibu memanggilku dari luar kamar. Aku melihat jam di dinding masih menunjukkan pukul 6 pagi.
Hari libur selalu membuatku malas untuk bangun lebih pagi. Tapi sepertinya ibu tidak begitu membiarkan aku beralas-malasan pagi ini.
"Zyva." ibu memanggilku lagi dan kali ini sambil mengetuk pintu. "Apa kau sudah bangun?"
Aku menggeliat malas dan bangun untuk membukakan pintu. Nampak ibu sudah memakai kaos dan juga celana training dengan topi di kepalanya.
"Kita jogging yuk. Ibu udah lama loh gak jogging sama kamu." ucap ibu.
"Zyva capek bu, rasanya masih pingin malas-malasan di kamar." jawabku jujur.
"Duuuh, gak baik loh anak gadis malas-malasan gituuuh. Udah yuk ikut aja. Ibu tunggu di teras depan yaa." desak ibu yang langsung berlari lari kecil menuju teras rumah.
Dengan malas aku kembali menutup pintu kamarku dan menuju kamar mandi dan mencuci wajahku. Kemudian mengganti bajuku dan menyisir rambut panjangku. Setelah mengikatnya dan menutup kepalaku dengan topi, aku pun keluar dari kamar.
"Cantiknya anak gadis ibu." puji ibu yang melihat aku sudah berdiri di belakangnya. "Kita jogging di taman kota aja ya. Lumayan kalo ada senam di sana kan ibu juga bisa ikut."
Aku pun mengangguk dan berjalan ke arah mobil yang terparkir di depan rumah. Ya, aku masih menggunakan mobil XL7 pemberian Devan. Meski sudah 8 tahun berlalu, mobil ini masih sangat nyaman aku kendarai.
__ADS_1
Tentu saja, aku merawatnya dengan baik. Bahkan pemberiannya lebih setia denganku dari pada orang yang memberikannya kepadaku. Lucu sekali bukan hidupku ini.
Delapan tahun memiliki status sebagai seorang istri yang hanya tertulis di atas kertas. Meskipun hubunganku dengan ayah dan ibu mertua sangat baik, tapi tidak dengan hubungan antara aku dan Devan. Karena aku sendiri yang memutuskan komunikasi dengannya.
Jalanan kota pagi ini masih sangat lengang dan membuatku berkendara dengan kecepatan sedikit di atas rata-rata. Cukup lima belas menit aku sudah sampai di taman kota.
"Tepat sekali, senamnya baru akan dimulai. Zyva mau ikut senam atau jogging?" tanya ibu sambil melepaskan seat beltnya.
"Zyva makan bubur ayam aja deh bu. Laper." jawabku.
Ibu mengusap kepalaku dengan sangat lembut. "Baiklah, ibu turun dulu ya."
Kulihat ibu begitu bersemangat menuju ke tengah taman kota, tempat diadakannya senam. Sedangkan aku masih berada di dalam mobil, enggan untuk keluar.
Tuk! Tuk! Tuk!
Kaca mobilku diketuk oleh seseorang dari luar dan membuatku mengangkat kepala untuk melihat siapa yang datang. Aku pun membuka kacar jendela saat mengetahui Dena ada di luar pintu mobilku.
"Turun yuuk, kita makan bubur ayam di situ." ajak Dena yang seleranya sama sepertiku. Jika aku tebak, ia juga pasti sedang mengantar mamanya untuk senam di taman kota, sama seperti ibuku.
Aku pun mematikan mesin mobil dan keluar mengikuti ajakan Dena menuju warung bubur ayam yang sudah mulai dipadati oleh para pembeli. Bubur ayam di taman kota memang terkenal sangat lezat dengan harga yang sangat terjangkau untuk semua kalangan.
"Zy, pertandingan basket besok senin, kamu yang buka acaranya ya. Aku kebetulan harus antar papa sama mama check up ke dokter." ucap Dena yang menjabat sebagai kepala sekolah di Gelora Internasional.
"Ck, gampang itu mah. Tapi kamu tetep datang ke sekolah kan? Ibu pengawas dari Dinas Pendidikan akan datang sekitar jam 10." Aku mengingatkan Dena yang masih sering terlupa dengan jadwal penting di sekolah.
"Aku masih inget kok, tenang aja bos. Jam sembilan aku pastikan udah ada di sekolah." ucap Dena.
Aku dan Dena mengambil jurusan kuliah yang sama dalam bidang hukum, karena kita memang dipersiapkan untuk melanjutkan kepemimpinan Gelora Internasional. Sedangkan sepupu Liza mengambil jurusan pendidikan bahasa Inggris dan kini ia menjadi guru bahasa Inggris di sekolah yang aku pimpin.
"Liza kok gak ikut?" Aku menanyakan Liza yang sudah aku pastikan bahwa dia kini pasti sedang beralas-malasan di kamarnya.
"Biasaaa, dia mah hari libur gini pasti lagi molor." jawab Dena.
__ADS_1
"Paling agak siangan nanti dia bangun terus ngemall deh ama si doi." timpal Dena lagi.
Aku hanya terkekeh sambil menikmati bubur ayam yang sudah tinggal separuh. Semenjak Liza memiliki pacar, ia memang lebih banyak menghabiskan waktunya bersama pacar barunya.
Bahkan sudah dua bulan ia berpacaran, tetap saja ia tidak mau mengenalkan pacar barunya dengan aku dan Dena dengan alasan takut pacarnya nanti berpaling darinya setelah bertemu dengan kami berdua. Meskipun begitu, aku dan Dena bukanlah tipe saudara yang kepo tentang hal pribadi Liza.
"Dena, nanti siang ada acara gak? Anterin ke toko buku yuk."
"Boleh, tapi aku nanti ajak Nino juga ya, gimana?" tanya Dena.
Huft, selalu saja seperti ini. Jika aku butuh untuk ditemani, Dena pasti mengajak kekasihnya Nino. Sedangkan jika aku mengajak Adel, dia juga akan selalu mengajak Angga. Dan aku pasti akan menjadi obat nyamuk diantara mereka semua.
"Ya udah deh, nanti aku pergi sendiri aja." ucap ku dan sudah aku tebak sebelumnya jika Dena pasti langsung segera melarangku pergi sendirian.
"Yaelah Zyva, nanti aku gak akan cuekin kamu meski ajak Nino pergi bareng sama kita. Percaya deh, nanti biar aku sama Nino yang jemput kamu ke Mansion." tukas Dena.
Tebakanku sangat tepat, bukan? dan kalimat itu selalu aku dengar selama 8 tahun ini.
...🍀🍀🍀...
Hai Readers setia aku, mampir juga yuk ke Novel baru aku, judulnya Complicated Mission.
Aku kasih cuplikannya sedikit yaaa.
...Rychelle Olyvia mematut dirinya di depan kaca. Hari ini ia akan mulai menjalankan misinya untuk menguak perjudian dan perdagangan narkoba di Kota Metropolitan. Misi penting yang sudah ia persiapkan bersama dengan Abangnya (Komisaris Besar Rychand Olyver) saat ayah kandung mereka (Iptu Ryan One) menghilang tanpa jejak saat mengusut perkara tersebut....
...Ia sudah mempersiapkan semua data baru mengenai dirinya yang berubah nama menjadi Rachel Ortisia, Fresh Graduated dari Fakultas Perbankan Kampus Terbaik di Indonesia agar dapat masuk dalam perusahaan Bank One Point. Setelah melewati beberapa tes untuk menjadi pegawai baru, Rychelle pun berhasil masuk menjadi pegawai kontrak selama 3 bulan pertama....
...
...
__ADS_1