Cewek Bertalenta

Cewek Bertalenta
Forgive me, please.


__ADS_3

"Zyva, ini aku sayang." ucap Devan yang makin gusar melihat Zyva tidak mempercayainya.


"Apa buktinya?" tanya Zyva sambil menatap tajam ke arah Devan.


Tiba-tiba pintu ruangan Zyva dibuka oleh Dena dan buru-buru Dena menutup mulutnya.


"Ups, Kau sudah sampai di sini Devan." ucap Dena. "Baiklah, sepertinya aku sudah mengganggu kalian berdua." ucap Dena yang kembali menutup pintu ruang kerja Zyva.


Tapi tiba-tiba Dena membukanya lagi. "Jangan lupa dikunci pintunya!" ucap Dena yang kemudian menutup pintu lagi. Devan pun mengunci pintu ruangan Zyva dan kini mulai mendekat ke arah Zyva.


"Masih belum percaya?" tanya Devan dan kini Zyva hanya menundukkan kepalanya. Sikap juteknya seketika sirna begitu saja saat mengetahui bahwa laki-laki yang ada di hadapannya benar-benar Devan.


Devan merengkuh bahu Zyva dan mengajaknya duduk di sofa. Perlahan ia memegang dagu Zyva dan membuat netra Zyva beradu pandang dengan netranya.


"Maafkan aku sayang, aku bersalah sudah membuatmu seperti ini." ucap Devan.


Mata Zyva mulai berkaca-kaca dan satu bulir air mata langsung membasahi pipinya. Cepat cepat Devan mengusap air mata Zyva dan kemudian mendekapnya dengan sangat erat.


"Jangan menangis, Zyva. Aku sungguh tidak sanggup melihatmu menangis." ucap Devan sambil mengusap punggung Zyva.


Zyva justru berusaha melepaskan pelukan Devan dan memukul dadanya dengan kencang. "Kamu jahat, Devan." ucap Zyva dalam isak tangisnya.


Devan kini membiarkan Zyva terus memukuli dadanya, karena pukulan tangan Zyva di dadanya sangat tidak berarti apa-apa untuknya.


"Ya, aku sudah sangat jahat, sayang. Pukul saja terus sampai rasa kesalmu terhadapku terluahkan semua." ucap Devan.


Zyva pun menghentikan pukulannya dan kembali menatap netra Devan. "Kenapa kau sangat jahat padaku?" tanya Zyva.


"Maafkan aku sayang. Aku bersalah atas semua ini" jawab Devan yang lagi lagi meminta maaf pada Zyva.


"Aku bahkan merasa bahwa kau bukanlah suamiku, Devan."

__ADS_1


"Aku akan memperbaiki semuanya menjadi suami yang baik Zyva."


"Ck, kau tahu. Pernikahan kita hanyalah seperti kisah cinta monyet. Di saat aku berada di puncak asmara, kau meninggalkanku begitu saja."


"Kita ulang semuanya dari awal, Zyva. Aku akan memperbaiki semua kesalahanku. Kita perbarui pernikahan kita dan sama sama membuka lembaran baru."


"Aku tidak yakin bisa menjalani itu semua." ucap Zyva membuat Devan mengusap wajahnya kasar.


"Katakan apa yang harus aku perbuat untuk menebus semuanya?" tanya Devan.


"Bukankah suami istri yang terpisah selama 8 tahun tanpa komunikasi itu sudah jatuh keputusan cerai?" tanya Zyva membuat Devan sangat terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Zyva.


"Zyva, kau sendiri yang tidak mau berkomunikasi denganku dan sama sekali tidak ingin mendengar kabar apa pun tentang diriku. Aku sama sekali tidak pernah untuk meninggalkanmu begitu saja Zyva. Terlebih untuk mengucapkan kata cerai." jelas Devan yang masih sabar untuk menghadapi Zyva yang menurutnya kini seperti anak kecil.


Zyva kini terdiam. Ia membenarkan apa yang diucapkan oleh Devan. Dia sendiri yang memutuskan komunikasi terhadap Devan hanya karena rasa marahnya.


Tangan Devan kembali terulur mengusap kepala Zyva dengan sangat lembut. "Aku tahu kau sangat marah padaku, sayang. Aku mohon beri aku kesempatan untuk menebus semuanya. Maafkan Aku, Zyva."


Perlahan Zyva menganggukkan kepalanya. Kali ini ia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri betapa ia sangat merindukan Devan.


"Aku sudah memaafkan semuanya." ucap Zyva.


"Terima kasih, sayang." ucap Devan yang kembali memeluk Zyva dengan sangat erat.


"Zyva." panggil Devan sambil melepaskan pelukannya.


Tangan Devan berpindah ke bibir Zyva membuat Zyva menelan ludahnya kasar. "Kamu semakin cantik." puji Devan.


"Terima kasih sudah setia menunggu kepulangan ku." ucap Devan sambil mendekatkan bibirnya ke bibir Zyva.


Gemuruh dalam dada Zyva kini sudah mulai tidak menentu terlebih saat wajah mereka berdua hampir tidak berjarak. Zyva benar-benar sangat gugup saat bibir mereka sudah hampir bersentuhan.

__ADS_1


"Ehhmm!" Zyva pun berdehem membuat Devan sedikit menjauhkan wajahnya dari wajah Zyva.


"Jangan gugup, sayang. Cukup tutup matamu dan biarkan aku yang memulainya." bisik Devan tepat di telinga Zyva.


Zyva pun mulai memejamkan matanya membuat seutas senyuman terukir di bibir Devan.


Devan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Perlahan ia kembali mendekatkan bibirnya sampai bersentuhan di bibir Zyva. Devan melakukannya dengan sangat lembut membuat Zyva memberikan ruang untuk Devan untuk melakukannya lebih.


Kini keduanya saling meluahkan rasa rindu mereka, saling bertaut dan membelit satu sama lain hingga terdengar bunyi perut Zyva yang mulai protes karena tidak kunjung diberi makan.


Devan pun melepaskan pagutannya dan tersenyum menatap Zyva yang mulai merona.


"Semakin manis." puji Devan. "Kita makan siang di luar yuk. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan." Ajak Devan.


Zyva pun memeriksa jam di dinding ruangannya ternyata menunjukkan jam 1 siang. "Kita makan siang di sini aja ya. Kerjaan aku masih numpuk." ucap Zyva.


"Udah mau disertasi ya?" tanya Devan dan Zyva pun mengangguk.


Devan pun akhirnya memesan makanan untuk mereka berdua. Dan tanpa menunggu lama pesanan untuk mereka berdua pun tiba. Devan menikmati makan siang sambil bercerita bahwa kini ia sudah menjadi Dokter Spesialis Anestesi di salah satu Rumah Sakit di kota. Devan juga menceritakan bagaimana cara dia saat menjalani pendidikan di London.


Sedangkan Zyva cukup mendengarkan cerita dari Devan karena ia paham bahwa Devan sangat mengetahui bagaimana cerita tentang dirinya lewat Dena.


"Minggu depan, kita akan mengadakan acara resepsi pernikahan kita yang tertunda sangat lama." ucap Devan membuat Zyva sangat terkejut.


"Kenapa secepat itu?" tanya Zyva.


"Itu adalah waktu yang tepat Zyva. Aku hanya ingin semua orang tahu bahwa kau adalah istriku." jawab Devan.


Setelah Zyva menghabiskan makan siangnya, ia pun kembali berkutat dengan macbooknya. Begitu pula Devan yang menemani Zyva sambil membuat laporan pasien yang sedang ia tangani.


Tak terasa, kini waktu pun sudah menunjukkan jam pulang sekolah. Zyva pun memutuskan untuk pulang tepat waktu karena hari ini ia akan menginap di rumah Devan untuk membicarakan perihal resepsi pernikahannya.

__ADS_1


__ADS_2