Cewek Bertalenta

Cewek Bertalenta
Amarah Tersulut


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Liza selalu membicarakan tentang perasaannya pada Devan. Dena yang sudah biasa dengan celotehan Liza hanya diam saja. Zyva juga tidak ambil pusing dengan pernyataan cinta Liza pada Devan.


"Dev, kamu kok diem aja sih dari tadi. Jawab dong gimana perasaan kamu ke aku?" tukas Liza sedikit kesal karena sedari tadi diacuhkan Devan.


"Kamu maunya apa sih?" Devan akhirnya buka suara dan membuat Liza merekahkan senyumnya.


"Aku cinta sama kamu, kamu mau gak jadi pacar aku?" tanya Liza membuat supir Devan langsung mengerem mendadak.


"Lah gimana ceritanya, Den Devan bisa jadi pacar Non Liza. Jelas-jelas Non Zyva jauh lebih cantik dari Non Liza." celetuk supir Devan to the point.


"Duh Pak Supir jangan ikut ikutan deh. Pake acara body shaming lagi. Biarpun Zyva lebih cantik, belum tentu gaya main di kasurnya juga cantik." timpal Liza percaya diri.


"Emang kamu secantik apa sih gayanya kalo lagi main di kasur?" tanya Dena. "Jangan-jangan kamu udah gak perawan lagi." Dena mulai menebak nebak.


"Dena nih kuper banget deh. Nanti aku ceritain deh. Sekarang aku lagi nunggu kepastian Devan dulu." balas Liza. "Gimana Dev, kamu terima aku jadi pacar kamu gak?"


"Gak!" jawab Devan singkat.


"Kenapa? Aku udah minta izin sama Zyva. Istri kamu aja bolehin aku nembak kamu." tukas Liza tidak terima.


"Aku gak pernah cinta sama kamu, Liza." jawab Devan sambil menahan rasa kesalnya.


"Tapi kan cinta akan hadir dengan sendirinya jika kita terus bersama." Liza masih saja belum mau mundur untuk berjuang mendapatkan penerimaan dari Devan.


"Emang ya, cewek sekarang itu kalo yang gak aturan kayak Non Liza ya udah putus pasti urat malunya. Atuh Non Liza, jangan maksain gitu non." ucap Supir Devan membuat Liza diam sambil menggerutu.


Sampai di rumah, Devan langsung masuk ke kamarnya untuk menghindari Liza.


"Zy, gimana dong?" tanya Liza. "Devan masih acuh gitu sama aku."


Zyva hanya mengedikkan bahunya. "Mundur aja Liza. Ntar kalo kamu kejar terus kasihan Devan." ucap Dena yang tidak tega melihat Devan terus dikejar kejar Liza dari SMP.


"Gini deh, Zy. Kamu rayu Devan dong setidaknya biar terima cinta aku sebentar aja. Satu bulan jadi pacar aku deh. Setelah itu kalo memang Devan gak suka sama aku ___." Liza memotong kalimatnya.


"Kamu bakal mundur?" tanya Dena dan Liza langsung menggelengkan.


"Yaaa aku bakal terus berjuang dong buat dapetin Devan." celetuk Liza dan kali ini membuat Dena sangat marah.

__ADS_1


Tapi ia langsung ingat nasehat mama Auryn yang berkali-kali mengatakan untuk mengalah dengan Liza karena dia anak yatim piatu.


"Huft, Zyva. Kamu ikut aku."


Akhirnya Dena menarik tangan Zyva dan mengajaknya masuk ke dalam kamarnya. Dena langsung menutup pintu kamarnya dan menguncinya.


"Zyva, aku kesel tauk sama kamu. Kenapa sih kamu diem aja ngeliat suami kamu digoda sama Liza?" tanya Dena dengan wajah kesal.


"Liza tadi memang minta izin sih sama aku kalo dia mau nembak Devan." tukas Zyva.


"Trus kamu bolehin?" tanya Dena dan Zyva menganggukkan kepalanya. Baru kali ini ia mendapati sahabatnya marah-marah padanya.


"Aku gak paham deh sama kamu. Kamu tuh sebenernya cinta gak sih sama Devan?" Dena kali ini sedikit menurunkan nada bicaranya.


"Emmm, gimana ya Den. Awalnya dulu aku sebel banget sama Devan. Tapi makin kesini rasa sebel itu bisa dibilang udah gak ada." jelas Zyva.


"Hemmm, sorry aku udah marah - marah sama kamu. Abis aku sebel banget sama Liza tadi." ucap Dena sambil memeluk Zyva. "Maafin aku ya, Zy."


"Iya gak papa. Aku ngerti kok." jawab Zyva sambil membalas pelukan Dena.


Kini keduanya duduk di kasur Dena sambil bertukar cerita. Tiba-tiba terdengar teriakan Devan dari luar pintu kamar Dena memanggil nama Zyva.


Zyva langsung turun dari tempat tidur Dena dan keluar dari kamar Dena. "Kenapa Dev? Kok teriak sih." tanya Zyva sedikit terkejut melihat raut wajah Devan yang terlihat sangat kesal.


"Tuh kan Dev, liat aja Zyva. Dia itu gak peduli sama suaminya sendiri. Mending kamu pilih aku dari pada Zyva." ucap Liza.


Devan tidak membalas ucapan Liza dan justru menarik tangan Zyva dan mengajaknya masuk ke dalam kamar lalu menguncinya.


"Maaf jika teriakan ku tadi membuatmu terkejut. Aku hanya sangat marah saat mendapati Liza masuk ke dalam kamar kita." jelas Devan sambil menangkupkan telapak tangannya di pipi Zyva.


Flashback ON


Liza tersenyum saat Dena mengajak Zyva masuk ke dalam kamarnya.


"Waaaaah, kesempatan nih buat aku deketin Devan. Mumpung Zyva juga gak ada di kamarnya." gumam Liza dalam hati.


Liza langsung menuju kamar Devan dan masuk ke dalamnya. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Liza sangat takjub melihat tubuh kekar Devan yang saat itu sedang bertelanjang dada dan hendak memakai kaosnya. Meskipun masih SMA, tubuh sixpack Devan memperlihatkan sisi maskulin Devan.

__ADS_1


Mulut Liza menganga lebar melihat pemandangan di depan matanya. Ia berdiri terpaku memandang Devan sampai lamunannya buyar saat Devan mengertaknya.


"Liza! Ngapain masuk ke kamarku??!!! Keluar!!!" teriak Devan mengusir Liza.


Bukan keluar dari kamar Devan, Liza justru makin mendekat ke arah Devan.


"Aku cinta sama kamu Dev. Aku rela memberikan yang aku miliki hanya untuk kamu." ucap Liza membuat Devan makin terbakar emosi.


Akhirnya Devan keluar dari kamarnya dan berteriak memanggil Zyva.


Flashback Off


Devan menjelaskan secara detail apa yang terjadi di dalam kamarnya dan Zyva kini merasa kasihan melihat Devan sangat terganggu dengan Liza.


"Aku juga gak tau harus gimana, Dev." timpal Zyva.


Devan memandang Zyva, "Kenapa kamu perbolehkan Liza buat nembak aku?"


"Kenapa kamu seolah-olah gak cemburu setiap Liza mengungkapkan semua perasaannya buat aku?"


"Kenapa kamu gak cegah Liza buat dekatin aku dan posesifin aku, Zy?"


"Apa kamu memang gak cinta sama aku?"


Pertanyaan Devan yang bertubi-tubi membuat Zyva terdiam seribu bahasa. Kali ini Zyva benar-benar bingung harus menjawab apa. Untungnya saja Dena mengetuk kamar mereka dan memberi tahukan bahwa Nino dan Angga datang.


"Dev, dicari Angga sama Nino." teriak Dena dari luar kamar Devan.


"Suruh tunggu bentar Den." teriak Devan.


"Zyva, aku masih menunggu jawabanmu dan aku akan menagihnya setelah menemui Angga dan Nino." ucap Devan meninggalkan Zyva sendirian di kamar.


Devan langsung turun menemui Angga dan Nino. Kedua sahabat Devan itu akhirnya meminta maaf setelah apa yang mereka tuduhkan pada Devan tadi di Sekolah. Tidak hanya itu, Angga juga menceritakan bahwa yang sebenarnya hamil adalah Neffy.


Sayangnya mereka berdua tidak sempat merekam apa yang mereka lihat dan dengar. Devan yang masih menanti nantikan jawaban Zyva tidak begitu fokus dengan apa yang disampaikan Angga dan Nino. Yang Devan tangkap, kedua sahabatnya itu hanya meminta maaf.


"Aku udah maafin kalian kok. Aku juga gak mau mengkhianati persahabatan kita. Apalagi besok kita mau tanding bareng." ucap Devan.

__ADS_1


Setelah Angga dan Nino berterima kasih pada Devan, mereka pun segera pulang karena mereka harus segera beristirahat.


Setelah sahabatnya pulang, Devan langsung bergegas ke kamarnya untuk menagih jawaban Zyva.


__ADS_2