
Zyva dan Devan kini sudah dalam perjalanan pulang ke Mansion bersama dengan supir yang diminta Devan untuk menjemput mereka. Devan dan Zyva duduk berdampingan, tetapi keduanya sama-sama memandang ke arah jendela.
"Dev, oma sama opa jadi dateng gak?" tanya Zyva yang masih tetap menghadap ke jendela.
"Kamu tanya sama jendela atau sama aku?" tanya Devan balik sambil memegang kepala Zyva dan diarahkan untuk menatap padanya.
"Ya sama kamu lah. Dasar aneh." jawab Zyva sambil menepis tangan Devan.
"Oma sama Opa gak jadi ikut. Tiba-tiba asma Opa kambuh tadi pagi. Tapi Liza jadi dateng dan berencana untuk sekolah disini." jawab Devan membuat Zyva manggut manggut.
"Waaaaah, kalo gitu malem ini aku balik ke kamar lama deh."
"Gak bisa! Kamu tetap harus di kamar aku." ucap Devan tidak setuju. Kali ini ia sangat menyesal telah memberi tahukan Zyva bahwa opa dan omanya tidak jadi datang.
"Diiiih, emang kenapa sih. Kamu bucin ya sama aku? Sampe gak bisa pisah gituh." ledek Zella membuat Devan langsung menatap tajan ke arahnya.
"Bucin?"
"Gak banget bucin sama kamu. Gadis ingusan yang tidurnya aja kayak kitiran." jawab Devan mebuat Zella memutar bola matanya malas.
"Trus kenapa dong?" tanya Zyva.
"Biar kamu bisa aku denda terus tiap hari." jawab Devan yang langsung dapat tinju di lengannya oleh Zyva.
"Awh." pekik Devan. "Sakit tauuu." Devan berbalik hendak memencet hidung Zyva tetapi tangannya justru mendarat di bibir Zyva.
Bukan mencubit bibir Zyva, Devan justru mengusapnya pelan. Bibir Zyva memang sangat menantang untuk dicium. Zyva sendiri menelan ludahnya kasar dan merasakan sesuatu yang berbeda saat Devan mengusap bibirnya.
"Boleh aku cium?" tanya Devan membuat Zyva tersadar dan langsung menepis tangan Devan.
__ADS_1
"Mau aku gigit lagi bibir kamu?" tanya Zyva membuat Devan langsung mundur dan bersandar di kursi mobil.
"Kamu nih garang banget sih." gerutu Devan sambil melipat tangannya di dada. "Tapi kemarin waktu aku cium enak gak Zy?" tanya Devan sambil memandang ke arah Zyva.
"Ya enggak lah. Jahat ih kamu, itu padahal First Kiss aku. Eh malah jatuhnya sama kamu. Padahal aku tuh maunya first kiss aku jatuh ke laki-laki yang aku suka." jawab Zyva membuat Devan terhenyak.
"Memang kamu gak suka ama aku?" tanya Devan membuat Zyva terdiam. "Kamu memangnya gak cinta sama aku, Zy?"
Kali ini Zyva bingung harus menjawab apa. Jujur sejak awal bertemu Devan, tidak ada yang spesial baginya. Karena baginya Devan hanyalah cowok tengil yang paling ngeselin.
Tapi saat Devan mencium bibirnya, ada perasaan aneh dalam diri Zyva yang ia sendiri tidak tahu perasaan apa itu. Terlebih saat Devan bersedia untuk menikah dengannya. Ada perasaan gembira dalam hatinya yang tidak mampu ia ungkapkan.
"Zy," Devan menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Zyva. "Ditanya kok malah ngelamun sih. Ntar kesambet loh."
"Siapa juga yang ngelamun." balas Zyva. "Kamu sendiri suka gak sama aku?" tanya Zyva balik membuat Devan membuang nafasnya kasar.
"Kamu nih ya, ditanya malah balik tanya." gerutu Devan. "Gak asik banget ih." Devan kini membuang mukanya menghadap ke luar jendela. Tak lama kemudian, mereka sampai di Mansion. Zyva langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam Mansion.
"Hai, kau pasti Zyva ya. Kenalkan Aku Liza. Sepupu Dena dan Devan." ucap Liza menyodorkan tangannya ke arah Zyva.
Zyva langsung membalas jabatan Liza. "Hai Liza, senang bertemu denganmu. Kapan kau tiba?" tanya Zyva.
"Baru satu jam yang lalu." jawab Liza yang langsung berpaling menatap Devan.
"Hai Devan, kau makin tampan saja." ucap Liza yang langsung menghambur memeluk Devan. Zyva tidak ambil pusing melihat dua bersaudara itu berpelukan. Ia pun segera menuju ke kamar Devan untuk membersihkan dirinya.
Sedangkan Devan yang melihat Zyva biasa saja saat dipeluk oleh sepupunya, Liza justru mendengus kesal. Devan beranggapan bahwa Zyva memang tidak memiliki perasaan khusus padanya.
"Devan, kamu apa kabar?" tanya Liza sambil melepas pelukannya.
__ADS_1
"Baik." jawab Devan singkat dan hendak meninggalkan Liza. Tetapi Liza langsung menahan Devan untuk tetap di dekatnya dan mengajaknya duduk di sofa ruang tamu.
"Mau kemana sih kamu. Buru buru banget." Liza mendudukkan Devan di sofa ruang tamu. "By the way, selamat ya atas pernikahan kamu sama Zyva."
Devan menatap ke arah Liza, "Thanks ya." jawab Devan singkat.
"Tapi kamu belum buka segel Zyva kan? Soalnya kelihatan tuh Zyva masih santai aja jalannya." celetuk Liza membuat Devan mengerutkan dahinya.
"Kamu ngomongin apa sih." balas Devan yang tidak suka arah pembicaraan Liza.
Devan langsung berdiri dan meninggalkan Liza sendiri di ruang tamu.
Sejak kelas 1 SMP, Oma dan Opa Devan mengambil hak asuh Liza karena orang tua Liza meninggal. Meninggalnya orang tua Liza juga karena kecelakaan yang disebabkan oleh tante Muna, adik bungsu papa Zen Ivander.
Saat ini Tante Muna sedang memiliki baby dan merasa kerepotan jika harus mengasuh Liza. Akhirnya Liza dititipkan di Mansion Papa Zen karena ada Dena dan Devan yang seusia dengan Liza.
Sejak awal bertemu Devan, Liza memang terang terangan menyatakan cinta pada Devan dan terus mengejar ngejar Devan. Ini juga sudah menjadi rahasia umum di keluarga Ivander jika Liza mencintai Devan sejak kelas Satu SMP.
Opa dan Oma sebenarnya sudah mengingatkan Liza berkali-kali untuk menjaga sikapnya, tapi Liza tidak pernah mengindahkan nasihat Oma dan Opanya. Tapi Opa dan Oma sangat lega saat mendengar Devan sudah terikat pernikahan dengan Zyva. Dan mereka mantap untuk menitipkan Liza di Keluarga Zen.
Liza mengantongi beberapa nasihat dari Opa, Oma, dan Tante Muna untuk tidak mengganggu Devan dan membuat Uncle Zen dan Aunty Auryn kerepotan.
Kini Liza kembali duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi. Tak lama kemudian Auryn dan Dena sampai di Mansion dan langsung disambut oleh Liza.
"Kamu serius mau pindah di sekolah Dena?" tanya Auryn dan Liza langsung menganggukkan kepalanya.
"Tapi kan harus test dulu Liza sayang, gak bisa asal masuk gituh aja." ucap Mama Auryn membuat Liza terdiam.
"Liza coba tesnya dulu deh Aunty, kalau memang gak bisa masuk di sekolah Dena, ke sekolah lain juga gak papa." tukas Liza yang memang sebenarnya sudah malas untuk bersekolah.
__ADS_1
Kasus di sekolah lamanya, Liza terlampau sering membolos. Entah ada suatu masalah apa yang membuat Liza keluar dari sekolahnya. Kini Liza mengobrol dengan Dena sampai Zyva turun dan bergabung di ruang keluarga.