
Setelah mengunjungi Yuda di kantor polisi, kini Liza kembali ke sekolah dengan keadaan yang sangat kacau. Kali ini kepalanya benar-benar dipenuhi bagaimana mendapatkan uang untuk menyelamatkan Yuda dari penjara.
Bahkan Liza pun berulang kali salah dan tidak fokus saat mengajar, sampai ada beberapa siswa yang protes karena Liza terus saja melakukan kesalahan. Bahkan kelas yang sedang diajar oleh Liza pun sampai gaduh dan terdengar sampai luar kelas.
Kebetulan Dena yang sedang berkeliling di selasar sekolah pun terpaksa harus menggantikan Liza mengajar. Kelas pun kembali tenang, sedangkan Liza kini menenangkan dirinya di ruang guru.
"Miss Liza," penggil Dena saat telah selesai mengajar. "Ikut ke ruangan saya sebentar ya."
"Baik Miss Dena," jawab Liza yang langsung berdiri dan mengikuti langkah kaki Dena.
♦️♦️♦️
"Liza, apa yang sebenarnya terjadi padamu?" tanya Dena.
"Maaf Dena, aku memang sedang tidak bisa konsentrasi tadi saat mengajar. Pikiranku kacau." jawab Liza.
"Tapi kenapa Liza?" tanya Dena sedikit mendesaknya untuk bicara.
"Aku gak bisa cerita Dena," kali ini Liza menutup wajahnya dan menangis. "Aku merasa masalahku sangat rumit."
Dena kini mulai merasa iba dengan Liza. Ia pun mendekati Liza dan memeluknya.
"Katakan saja padaku, aku berjanji akan menjaga apa yang menjadi masalahmu saat ini." ucap Dena.
Liza memandang ke arah Dena, dalam lubuk hatinya ia sangat ingin meluahkan segala beban yang ada dalam fikirannya. Namun keinginannya langsung ia tepis begitu saja.
"Kau sebentar lagi akan menikah, Dena. Dan aku tidak mau menjadi beban fikiranmu saat ini. Aku hanya ingin meminta izin besok pagi untuk mengurus masalah ini." ucap Liza.
Dena pun menghela nafasnya pelan dan akhirnya menganggukkan kepalanya. "Baiklah, semoga masalahmu cepat selesai ya."
"Thanks, Dena."
Liza pun kini menghubungi Angga yang bekerja di Firma hukum untuk membantunya mengenalkan dengan pengacara yang handal.
Mereka pun akhirnya memutuskan untuk bertemu setelah selesai bekerja untuk membahas permasalahan yang kini sedang menimpa Yuda.
🍁🍁🍁
Sedangkan di sisi lain, kini Zyva dan juga Devan sedang menikmati makan siang mereka. Zyva tampak sangat lahap menikmati makan siangnya dan Devan hanya tersenyum melihatnya.
"Aku makannya malu-maluin ya sayang?" tanya Zyva sambil meraih tissue dan mengelap ujung bibirnya yang sedikit belepotan.
Kepiting saus padang, udang saus tiram sampai cumi Crispy sudah habis dinikmati oleh Zyva. Sedangkan Devan baru setengah piring nasi goreng seafood sudah merasa sangat kenyang.
"Aku justru sangat suka melihatnya. Kau tahu kenapa?" tanya Devan dan Zyva langsung menggelengkan kepalanya.
"Emang kenapa?"
"Nanti aku kasih tahu alasannya kalo udah di mobil." ucap Devan sambil mengusap kepala Zyva. "Yuk kita jalan lagi." ajak Devan saat Zyva sudah selesai mencuci tangannya.
"Aku baru kali ini loh Devan makan sebanyak itu." ucap Zyva sambil terus mengelendot di tangan Devan.
"Itu memang efek dari obat perangsang tadi Zyva sayang dan itu sangat wajar. Jujur aku sangat suka melihatmu makan selahap tadi." timpal Devan.
__ADS_1
"Kenapa sih emangnya? Aku tuh malah malu tauuu."
"Biar makin semok." bisik Devan dan seketika Zyva langsung memukul mukul dada Devan.
"Kamu nih ngaco aja sih." gerutu Zyva kesal.
Devan hanya terkekeh sambil membukakan pintu untuk Zyva. "Abis dari sejak aku tinggal sampe sekarang kamu masih imut aja kayak anak SMA. Nanti dikira aku nikahin anak SMA lagi."
Devan menutup pintu mobil dan beralih ke arah kemudi.
"Sayang, kamu kan emang nikahin anak SMA. Gimana sih?" gerutu Zyva saat Devan mulai menjalankan mobilnya.
"Tapi sampai sekarang kamu beneran gak berubah Zyva sayaaang. Meski tambah cantik dan menawan, tapi volume tubuh kamu sama sekali gak berubah." tukas Devan.
"Wanita itu berubah kalo sudah hamil dan melahirkan anak Devan. Jangan-jangan nanti kalo aku berubah, kamu jadi gak suka lagi sama perubahan aku."
"Yaa gak mungkin dong sayang. Jangan mikirin yang enggak-enggak deh." tukas Devan. "Kita mau kencan kemana sekarang?" tanya Devan kemudian.
"Mata aku berasa ngantuk banget nih, gimana kalo kita pulang aja?" pinta Zyva dan Devan pun langsung setuju.
"As you wish sayang." jawab Devan sambil mengarahkan mobilnya ke Mansion.
Zyva yang sudah benar-benar mengantuk pun akhirnya memejamkan matanya di mobil saat perjalanan pulang.
Sesampainya di mansion pun Devan langsung membawa Zyva yang sudah tertidur ke kamar. Devan membawa Zyva dengan terus memandangi Zyva yang makin cantik saat tertidur.
Zyva yang sudah terlelap sedikit menggeliat saat Devan hendak menidurkannya di atas tempat tidur. Tangan Zyva terulur di leher Devan dan memeluknya seperti guling.
Akhirnya Devan turut merebahkan tubuhnya di samping Zyva. Tangan Zyva semakin erat memeluk leher Devan hingga wajah Devan kini berhadapan tepat dengan dada Zyva yang lampak sangat menggiurkan.
"Jangan ganggu dong sayang,." rengek Zyva saat Devan mulai menyentuh kulit sensitifnya.
"Emang kenapa gak boleh?" bisik Devan. "Yang saat ini bisa aku eksplor kan cuma ini Zyva sayang."
Bisikan Devan kali ini membuat Zyva seketika kehilangan rasa kantuk nya. Devan perlahan dengan sangat lembut menyentuh titik sensitif d tubuh Zyva yang belum terbuka semuanya.
"Apa kamu menyukainya, Zyva?" tanya Devan dan Zyva mengangguk malu.
Sayangnya permainan mereka siang ini harus terganggu dengan bunyi dering ponsel Zyva.
"Aku mau angkat telfon dari Dena dulu sayang." pinta Zyva saat mengetahui Dena yang kini sedang menghubunginya.
"Silahkan saja dan aku akan tetap bermain di sini." ucap Devan yang jarinya masih terus bergerilya di bagian tubuh Zyva yang paling ia suka.
"Halo Dena, emmh."
"..."
"Aku sedang, engh.. Aku sudah sampai d Mansion." jawab Zyva sambil menahan suaranya.
"..."
"Tentu saja tidak, Devan sedang sibuk dengan pekerjaan barunya."
__ADS_1
"..."
"Benarkah? Nanti kita bicarakan saat kau sudah pulang saja."
"..."
"Hati-hati di jalan yaa."
Setelah Zyva menutup panggilannya, ia pun menepis tangan Devan yang semakin nakal.
"Ada apa sayang? Kenapa kau mengganggu kesibukanku yang sedang berkutat dengan pekerjaan baruku?" tanya Devan sambil mengedipkan matanya.
"Liza sepertinya sudah menjenguk Yuda di kantor polisi."
"Biarkan saja, kita akan membahas masalah ini setelah Dena pulang bukan? sekarang biarkan aku menyelesaikan kesibukanku." jawab Devan.
Zyva yang sangat menikmati sentuhan Devan pun akhirnya mengizinkan Devan kembali mengekspor tubuhnya. Terlebih saat ini mereka pun saling menempelkan bibir mereka dan hanyut dalam permainan yang telah mereka ciptakan. Hingga pada akhirnya Devan harus berlari ke kamar mandi untuk menuntaskannya karena Zyva masih berpalang merah.
🍁🍁🍁
Hai Readers setia Author, mampir juga yuk ke karya teman aku.
Judul : HASRAT CINTA PERTAMA
Nama pena : LYTIE
FB : Lytie
#Noveltoon
#Promosi_Novel
Blurb:
"Kita cerai!" ucap Dian sambil menyerahkan surat cerai yang sudah ditanda tangan olehnya ke Stefan.
"Kamu tidak perlu memberiku tunjangan dan semua uang ini kukembalikan padamu," lanjut Dian.
Dian membuka lebar tas koper dokumen yang berisi semua uang jajan yang diberikan oleh Stefan setiap bulan. Selama sebelas bulan ini Dian tidak pernah menggunakan satu rupiah pun.
Stefan mengambil pulpen dari atas meja dan menandatangani surat cerai itu tanpa ragu.
"Aku akan meninggalkan Mansion Bramasta," ujar Dian sambil berdiri dari atas kursi.
"Kenapa?" tanya Stefan sambil menatap tajam Dian.
"Belum satu tahun," batin Stefan.
"Karena hatimu bukan milikku. Aku mundur untuk merestui hubunganmu dan Gisel," jawab Dian sambil melangkahkan kaki meninggalkan Stefan.
Semua orang bersuka cita dengan kabar perceraian. Dian hanyalah anak yatim piatu dan koki biasa, sangat tidak sepadan dengan Stefan, CEO muda Perusahaan Bramasta. Mereka semua tidak tahu Dian adalah pemilik Perusahaan Jayanata dan juga putri dari salah satu pengusaha sukses.
__ADS_1
Kecantikan, kecerdasan dan kehebatan Dian setelah bercerai membuat semua orang yang pernah menghinanya mati kutu. Bahkan Stefan baru menyadari dirinya sama sekali mengenal jelas siapa sebenarnya Dian, istri di atas kertas selama sebelas bulan ini.
Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, HASRAT CINTA PERTAMA, di sini dapat lihat: https://noveltoon.mobi/id/hasrat-cinta-pertama?content\_id\=2298275