Cewek Bertalenta

Cewek Bertalenta
Apes kan?


__ADS_3

"Lalu kenapa kalian semua datang dari pintu darurat?" tanya Devan saat Zyva dan Dena selesai bercerita.


"Adel yang mengarahkan para penata rias dan asisten rumah tangga untuk membawa Liza ke atas atap. Di atas sana Liza kami desak untuk mengatakan apa alasannya memberikan orange juice pada Zyva." jelas Dena.


"Awalnya dia tidak mengaku, akhirnya kita buka kartu Liza yang sudah berpacaran sembunyi-sembunyi dengan Yuda sampai ia rela meminjam uang untuk membayar pengacara untuk Yuda. Akhirnya Liza mengaku dan meminta maaf." timpal Dena sambil mengunyah makanannya.


"Kalian ke atas atap dengan pakaian seperti ini?" tanya Nino.


Zyva dan Dena pun sama-sama meringis dan menganggukkan kepalanya.


"Lalu, dimana Liza sekarang?" tanya Papa Zen.


Zyva dan Dena tidak langsung menjawab pertanyaan papa Zen. Mereka berdua justru saling melemparkan pandangan satu sama lain.


"Dena, Zyva." panggil papa Zen. "Kok malah diem sih kalian ini. Liza dimana sekarang?" papa Zen mengulangi pertanyaannya.


"Emmmh, diikat di tiang atas atap pa. Tapi tetap dipayungi sama asisten rumah tangga kita kok pa." jawab Zyva.


"Asisten rumah tangga kita juga bawain makanan kok buat Liza." timpal Dena membuat papa Zen langsung tepuk jidat.


"Yaaa Ampuuuun. Kalian ini yaaa. Ada ada aja sih." tukas papa Zen yang langsung meninggalkan meja makan.


"Papa gak marah kan Ma?" tanya Zyva dan Mama Auryn pun langsung menggelengkan kepalanya.


"Papa gak marah, Zy. Cuma ya gak habis fikir aja sama kalian ini." jawab mama Auryn.


Mereka pun kembali melanjutkan makan mereka sampai papa Zen datang membawa Liza untuk ikut bergabung.


Muka Liza tampak memerah karena sudah kepanasan di atas atap membuat make up nya juga mulai tidak beraturan.


"Sekarang jelasin sama papa, apa persoalan yang ada antara kalian semua?" tanya papa Zen.


"Liza mau cerita, atau aku aja yang akan ceritain semuanya sama papa?" tanya Dena dengan nada mengancam.


Akhirnya Liza pun menceritakan semua masalah yang terjadi tanpa ditutupi sedikit pun. Ia juga mengakui terpaksa menuruti permintaan Yuda untuk meracuni Zyva agar Devan tidak bisa memiliki Zyva dan agar dendamnya terbalaskan.


Cerita Liza kali ini membuat papa Zen dan Mama Auryn sangat terkejut. Meskipun begitu, ia tetap menghargai Liza yang sudah mau berbicara dengan jujur.


"Zy, maafin aku ya. Aku nyesel udah berniat jahat sama kamu hanya gara-gara ikutin kata Yuda." ucap Liza mengulurkan tangannya ke arah Zyva.


Zyva pun menerima uluran tangan Liza dan memaafkan Liza dengan hati yang terbuka.


"Tapi papa akan tetap kasih hukuman untuk Liza. Tidak hanya dengan minta maaf saja urusan kamu jadi selesai. Kamu itu hampir aja ngilangin nyawa Zyva." gertak papa Zen marah.

__ADS_1


"Liza terima kok hukumannya, apapun itu asal jangan diserahin ama polisi pa." jawab Liza sambil menundukkan kepalanya.


"Kamu akan papa pulangin ke kampung dan papa jodohin di sana." ucap papa Zen dan kini Liza hanya menganggukkan kepalanya pasrah.


Setelah semuanya selesai makan, Devan pun langsung mengajak Zyva ke kamar yang sudah disiapkan oleh Devan sebelumnya. Begitu pula dengan Nino. Kebetulan juga kamar mereka pun berdekatan.


"Masih siang begini udah mau masuk kamar aja sih kalian." celetuk papa Zen. "Udah gak sabaran ya?"


"Oh, enggak kok Om. Emm, cuma Dena kayaknya udah capek aja tuh." jawab Nino yang masih merasa sangat canggung dengan mertuanya.


"Emang papa ini om kamu apa?" balas papa Zen membuat Nino semakin salah tingkah.


"Eh, iya. Papa." timpal Nino lagi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ini udah sore kali pa." celetuk Devan yang sudah menggenggam tangan Zyva. "Papa ini kayak gak pernah muda aja sih."


Kali ini Devan langsung menarik tangan Zyva untuk meninggalkan meja makan tanpa ada rasa malu lagi dengan candaan papanya.


Jika dibilang tidak sabar, tentu saja ia tidak sabar karena Devan sudah menunggu tahun lamanya untuk momen berharga ini.


Dan jauh berbeda dengan Nino yang tentunya masih sangat malu untuk bertindak seperti Devan yang langsung menarik tangan istrinya ke kamar. Meskipun Nino juga sama tidak sabarnya dengan Devan, tapi ia tidak ingin dikatakan sebagai menantu yang tidak sopan.


Terlebih beberapa sanak saudara Nino masih banyak berkumpul di ballroom hotel.


"Kamu temani papa dulu untuk menemani para tamu yang belum pulang bisa kan Nino?" tanya papa Zen dan cepat-cepat Nino menganggukkan kepalanya.


"Nino, aku ke kamar dulu yaa. Udah gerah nih pingin mandi." ucap Dena sambil menarik tangan mamanya.


"Ma, bantuin Dena yuk lepasin gaunnya." pinta Dena dan Mama Auryn pun langsung mengantar Dena ke kamarnya.


"Oh iya, Dena." jawab Nino sambil menatap kepergian istrinya.


'Bukannya kalo udah nikah itu biasanya suaminya ya yang bukan gaun pesta istrinya?' tanya Nino dalam hati.


'Dena kok malah minta tolong sama mama sih?' batin Nino sambil mengikuti langkah papanya untuk menyapa para tamu yang belum pulang.


'Ini tamu juga kenapa masih pada betah di sini? Gak punya perasaan banget. Gak ngerti apa kalo aku itu udah pingin nyusul Dena ke kamar.'


Nino terus saja menggerutu dalam hati. Sampai ia beberapa kali salah menjawab ucapan tamu yang mengucapkan selamat padanya.


"Selamat ya atas pernikahannya Mas Nino. Udah berapa lama kenal sama Mba Dena?" tanya salah satu tamu undangan.


"Baru saja kok." jawab Nino sambil memaksakan senyumannya.

__ADS_1


"Baru saja?" tanya tamu undangan sedikit terkejut.


Tidak hanya tamu undangan yang terkejut, papa Zen pun juga terkejut dengan jawaban Nino barusan.


"Iya, baru saja masuk kamar. Sepertinya Dena sudah lelah." jawab Nino membuat papa Zen membelalakkan matanya.


'Duh, sejak kapan sih Nino jadi gak nyambung begini? ditanya apa jawabnya kemana-mana.' gerutu papa Zen dalam hati.


"Emmmh, sebenarnya mereka sudah lama kenal dan menjalin hubungan saat masih SMA." jelas papa Zen menjawab pertanyaan tamunya membuat Nino langsung salah tingkah.


"Nino salah jawab lagi ya Pa?" tanya Nino dengan wajah tidak merasa bersalah.


"Ck, kamu ini pikirannya udah ngelantur aja ke kamar Dena terus." timpal papa Zen dengan berbisik.


"Dah sana istirahat nyusul Dena sekalian panggilan Mama ya kesini suruh nemenin papa." ucap Papa Zen memberi perintah.


"Oke Pa." jawab Nino dengan senang hati yang langsung melangkahkan kakinya menuju kamar Dena.


"Kenapa gak dari tadi sih nyuruhnya, pa?" gerutu Nino saat sudah jauh dari papa Zen. "Waah, Devan udah selangkah lebih maju nih dari aku. Gak bisa dibiarkan begitu saja." gumam Nino.


Sesampainya di depan kamar Dena, Nino pun memencet bel pintu kamar berkali-kali. Namun pintu kamar tidak kunjung terbuka. Akhirnya Nino pun nekat membuka kamar tersebut meski ada ibu mertuanya di dalam kamar.


Sesampainya di dalam kamar, Nino langsung terduduk lemas saat mendapati Dena yang sudah tertidur bersama ibu mertuanya dan berselimut di atas kasur. Nino kali ini tidak berani membangunkan Dena, terlebih istri dan ibu mertuanya nampak sangat lelah.


...🍀🍀🍀...


Apes banget ya Nino, Naah sambil nunggu mereka unboxing, mendingan mampir dulu yuk ke Novel mama Reni. Udah pada kenal kaaan? Karyanya keren banget loh.



Judul novel CINTA TANPA KATA


Karya Mama Reni


Blurb.


Diandra Zivana Athalla seorang gadis yatim piatu yang mencari nafkah dengan berjualan di taman kota setiap malamnya.


Diandra memiliki seorang sahabat yang bernama Galen Baim Pratama Syahputra. Galen sering menemani Diandra berjualan.


Suatu malam, Galen ada acara sehingga tidak bisa menemani Diandra. Gadis itu pulang dengan sepedanya.


Di tengah perjalanan seorang pria menghentikan sepedanya. Diandra diberi obat bius hingga pingsan. Setelah itu Diandra diperkosa. Trauma karena perkosaan membuat Diandra menjadi bisu.

__ADS_1


Merasa bersalah dan juga kasihan dengan nasib Diandra, Galen menikahi Diandra.


Saat ijab kabul berlangsung, Diandra mengetahui jika pria yang memperkosanya itu adalah kakak dari Galen yang bernama Adyatma Mahavir Alister Bagaskara.


__ADS_2