Cewek Bertalenta

Cewek Bertalenta
Menjadi Guru Les


__ADS_3

Hari ini Zyva bangun lebih pagi karena ia akan menerima hasil tes semester yang ia kerjakan kemarin. Mengingat sekolahnya dapat ditempuh dengan jalur busway, akhirnya Zyva memutuskan untuk berangkat sekolah menggunakan busway. Baru saja tiba di halte, busway menuju sekolahnya pun tiba.


"Hai Zyva." sapa Dena sambil menepuk bahu Zyva. "Naik busway juga?" tanya Dena.


"Iya Den, kamu gak berangkat sama Miss Auryn?" tanya Zyva sedikit terkejut melihat Dena tidak berangkat sekolah bersama mamanya yang menjabat sebagai kepala sekolah.


"Aku jarang banget berangkat sama mamah, asyik naik busway. Iya kan Dev?" jawab Dena sambil menyenggol lengan saudara kembarnya, Devan yang hanya diam saja.


"Hemmm." jawab Devan singkat tanpa menghiraukan Dena dan Zyva.


"Zyv, jam istirahat temenin ke perpustakaan yuk. Mau cari buku." ajak Dena.


"Oke, siiip." jawab Zyva sambil menautkan ujung ibu jari dan telunjuknya menyimbolkan oke.


Sesampainya di sekolah, Zyva langsung ke ruangan Miss Auryn untuk mengetahui hasil tes semesternya. Ia segera mengetuk pintu ruangan Kepala Sekolah.


"Hai Zyva," sapa Adrian yang membukakan pintu. "Kami sudah menunggumu." ucap Adrian.


"Selamat pagi, Mr. Adrian." sapa Zyva yang langsung masuk ke dalam ruang Kepala Sekolah.


Zyva langsung dipersilahkan duduk tepat di hadapan Miss Auryn dan Mr Adrian.


"Zyva, ini adalah hasil tes semester kamu." ucap Miss Auryn sambil menyerahkan raport Zyva.


Zyva langsung menerima hasil tes miliknya dan membukanya.


"Congratulation, Zyva. Kamu memperoleh hasil yang hampir sempurna. Pertahankan terus nilaimu agar kau bisa terus mendapat beasiswa." ucap Miss Auryn.


"Terima kasih banyak, Miss Auryn." jawab Zyva sambil melihat nilainya.


"Congrats for you, Zyva." ucap Mr Adrian dan Zyva tersenyum sambil mengatakan ucapan terima kasih.


"Oh iya, Zyva. Bisakah kau menceritakan tentang dirimu?" tanya Miss Auryn membuat Zyva menutup raportnya pelan dan menatap ke arah Mr. Adrian.


Mr. Adrian menganggap tatapan Zyva meminta bantuannya untuk menjelaskan kehidupan Zyva sekarang.


"Emmmh, begini Miss Auryn..." belum selesai Mr. Adrian bicara, Miss Auryn langsung memotongnya.


"Mr. Adrian, bisakah anda meninggalkan kami berdua?" tanya Miss Auryn membuat Adrian enggan untuk beranjak. "Ada yang ingin saya bicarakan antar perempuan." jelas Miss Auryn dan mau tidak mau Mr. Adrian pun keluar dari ruang Kepala Sekolah.


Miss Auryn sendiri sebenarnya sangat terkejut setelah melihat biodata Zyva dan mengetahui bahwa Zyva adalah putri dari sahabat dekatnya dulu yang sudah lama tidak ada kabar. Tapi melihat respon dari Zyva tadi membuat Miss Auryn ingin berbicara empat mata dengan Zyva.


"Zyva, kau tidak perlu takut. Ceritakan saja tentang dirimu." pinta Miss Auryn.

__ADS_1


"Apa yang ingin anda ketahui Miss Auryn?" tanya Zyva menundukkan kepalanya.


"Kenapa kau bisa putus sekolah Zyva? Miss Auryn rasa kau pasti sangat berprestasi dulu." ucap Miss Auryn membuat Zyva berfikir haruskah ia bercerita tentang dirinya.


"Percayalah pada Miss Auryn, Zyva." ucap Miss Auryn dan Zyva kini menganggukkan kepalanya.


Akhirnya Zyva menceritakan alasan kenapa ia sampai putus sekolah.


"Lalu, apakah ayahmu sekarang sudah sembuh, Zyva?" tanya Miss Auryn yang berharap dapat segera bertemu sahabatnya.


"Ya, ayah sudah sembuh sekarang." jawab Zyva dengan mata yang berkaca-kaca.


"Oh, syukurlah. Kau tahu Zyva, Ray Pratama adalah sahabat dekatku dan suamiku. Kami sudah lama tidak mengetahui kabarnya. Bolehkah Miss Auryn bertemu dengan ayahmu, Zyva?" tanya Miss Auryn dan Zyva langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak bisa, Miss." jawab Zyva dan bel masuk kelas pun berbunyi.


Zyva langsung berdiri dan hendak permisi dari Ruang Kepala Sekolah.


"Tunggu sebentar saja, katakan pada guru kelasmu nanti jika kau dari ruanganku, Miss Auryn pastikan kau tidak akan dihukum." ucap Miss Auryn mencegah Zyva pergi.


"Begini Zyva, Miss ingin meminta tolong padamu. Bisakah kau menjadi teman belajar untuk putra putri Miss Auryn?" tanya Miss Auryn membuat Zyva mengernyitkan dahinya. "Lebih tepatnya guru les untuk mereka. Miss akan memberimu gaji setiap bulannya. Bagaimana?" tawar Miss Auryn kemudian membuat Zyva menarik bibirnya tersenyum.


"Bukankah putri anda juga satu grade dengan saya?" tanya Zyva dan Miss Auryn mengangguk.


Miss Auryn terhenyak mendengar jawaban Zyva. "Baiklah bagaimana jika tiga kali seminggu?" tanya Miss Auryn. "Aku akan memberimu gaji di atas UMR setiap bulannya."


"Baik Miss Auryn. Terima kasih banyak." ucap Zyva sangat bahagia.


"Sebelum kau kembali ke kelas, bisakah aku dan suamiku menemui ayahmu, Zyva?" Miss Auryn kembali bertanya.


"Ayah sudah meninggal." jawab Zyva membuat Miss Auryn sangat terkejut. Ia langsung berdiri dan memeluk Zyva dengan erat.


Miss Auryn yang mengetahui Zyva tinggal sendirian pun menawarkan Zyva untuk tinggal di rumahnya. Sayangnya Zyva menolak dan mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja. Setelah mendapatkan alamat dari Miss Auryn, Zyva pun kembali ke kelasnya.


...***...


Sore harinya, Zyva datang ke Mansion Miss Auryn dan langsung disambut oleh Dena. Satu jam mereka belajar bersama membuat Dena menjadi paham cara menyelesaikan soal dari pelajaran matematika yang sangat tidak disukainya. Setelah selesai belajar, Dena pun mandi dan meminta Zyva menunggunya.


"Sekarang gantian aku yang belajar." ucap Devan yang tiba-tiba meletakkan bukunya dan duduk di samping Zyva.


Zyva yang sedang meminum jus jeruk jadi tersedak karena Devan yang tiba-tiba mengagetkannya.


"Aku sebenarnya malas belajar denganmu. Jika bukan karena mama yang memaksaku." ucap Devan ketus dan membuat Zyva kesal.

__ADS_1


"Gak usah belajar aja kalo gitu. Dari pada sia-sia." jawab Zyva.


"Aku mau coba aja sekali, mampu gak cewek udik kayak kamu nie jadi guru les aku." ucap Devan sambil membuka buku matematikanya.


Tanpa banyak bicara, Zyva langsung memberi rumus simple pada Devan untuk pelajaran matematika yang memang baru diajarkan Mr. Luki hari ini. Devan yang memang malas belajar pun kini asyik mengerjakan PR Matematikanya sendiri. Hingga tak terasa, kini sudah satu jam Devan belajar dengan Zyva.


Miss Auryn yang baru saja pulang kerja langsung tersenyum melihat baru kali ini putranya belajar. "Bagaimana Devan? Matematika mengasyikkan bukan?" tanya Miss Auryn pada Devan.


"Biasa aja Mah, aku sih memang udah pinter dari sananya." jawab Devan yang masih mengerjakan soal Matematika.


"Yaudah kalau gituh, aku siap-siap pulang deh." ucap Zyva membereskan bukunya.


"Enak aja langsung mau pulang. Duduk dulu." cegah Devan sambil menarik tangan Zyva.


Memegang tangan Zyva membuat jantung Devan berdegub kencang. Devan memandangi Zyva yang berusaha melepaskan genggaman tangan Devan.


"Aduh, kenapa nie jantung pake maraton segala sih cuma pegang tangan Zyva doang." gumam Devan dalam hati.


"Dev, lepasin tangan aku." ucap Zyva pelan dan Devan terus memandangi Zyva hingga Miss Auryn menyunggingkan senyumnya.


"Devan, kasihan ih Zyva. Lepasin tangannya." ucap Miss Auryn.


Devan langsung melepaskan tangan Zyva. "Abis, Devan belum kelar pake acara mau pulang segala." gerutu Devan pelan.


"Lah, katanya udah pinter dari sananya?" tanya Zyva tetap mengemasi bukunya dan memasukkannya ke dalam tas.


"Besok belajarnya bareng aja sama Dena. Gak usah sendiri sendiri gituh." ucap Miss Auryn yang kemudian masuk ke dalam kamarnya.


"Besok gak ada belajar lagi kan sama aku. This is for the last time." ucap Zyva membuat Devan meletakkan alat tulisnya.


"Enak aja. Gak baik kalo makan gaji buta. Besok kita belajar di taman." ucap Devan menutup bukunya.


"Besok libuur tau. Lusa baru kita belajar bareng." ucap Zyva.


"Gak, besok kamu harus tetep dateng. Lusa biar Dena aja yang belajar." jawab Devan.


Devan langsung mengambil kunci motornya. "Ayo aku anter pulang."


"Gak perlu." Zyva langsung memakai tasnya dan keluar dari Mansion Miss Auryn tanpa mempedulikan Devan.


"Bilangin Dena, aku pulang dulu." ucap Zyva.


"Dasar keras kepala." Devan pun meletakkan kembali kunci motornya dan duduk menyelesaikan tugasnya.

__ADS_1


"Zyva memang cerdas, bisa bisanya dia dapet rumus asyik begini." gumam Devan.


__ADS_2