
Keadaan Zyva masih belum membaik, suhu tubuhnya juga masih naik turun. Meskipun begitu, Zyva tetap memaksakan dirinya untuk makan walau lidahnya terasa sangat pahit. Miss Auryn dan Dena bergantian menjaga Zyva di kamarnya.
Malam ini Miss Auryn memutuskan untuk tidur di kamar Zyva, tapi Zyva menolak untuk ditemani. "Istirahatlah Zyva. Ibu akan mengecek kembali keadaanmu nanti. Lekas membaik yaaa." Miss Auryn mengecup kening Zyva dan merapatkan selimutnya.
Zyva mencoba memejamkan matanya, tapi masalah yang saat ini menimpanya terus menari nari di pelupuk matanya membuatnya susah untuk tidur.
Aku harus menyelamatkan aset milik ayah dan memperjuangkan hak milikku yang selama ini dikuasai oleh ibu yang tak pernah menyayangiku. Tapi kenapa harus dengan syarat yang sangat berat?
Menikah di usia ku yang baru saja menginjak remaja. Jatuh cinta saja belum, masa aku harus menikah?
Aku sangat nyaman berada di dekat Kak Adrian. Bagiku, dia memang sosok penolongku setelah ayah tiada. Tapi, aku hanya menganggapnya kakak, tidak lebih dari itu. Aku tidak dapat membayangkan jika menikah dengan lelaki yang sudah ku anggap seperti kakakku sendiri. Aku takut jika ibu nanti justru akan memanfaatkan aku dan Kak Adrian hingga aku tidak dapat memperjuangkan hak milikku sendiri.
Tapi jika aku tidak menikah dengan Kak Adrian, aku juga sangat tidak ingin menikah dengan Devan. Cowok gila yang sudah mencuri ciuman pertamaku. Hemmm, aku tidak habis fikir saat Devan mengatakan ingin menikahiku.
Apa yang sebenarnya ada di fikirannya?
Apa Devan mencintaiku?
Oh tidak-tidak. Jangan berfikiran gila Zyva. Mana mungkin dia mencintaiku.
Zyva kini bangun dan duduk bersandar ke headbord. Rasa pusing di kepalanya sudah hilang. Tiba-tiba Devan masuk ke kamar Zyva membawakan bubur ayam dan teh hangat.
"Udah baikan?" tanya Devan dan Zyva hanya mengangguk. Devan meletakkan nampan yang ia bawa dan memegang kening Zyva.
"Demamnya sudah turun, kau harus makan agar tubuhmu segera pulih." ucap Devan mengambilkan teh hangat dan diberokan pada Zyva.
__ADS_1
Zyva menerimanya dan langsung meneguknya. Rasa pahit di lidahnya sudah berkurang membuat nafsu makan yang tadinya hilang, kini sudah kembali ada.
"Thanks ya Dev." ucap Zyva meletakkan kembali gelas yang dipegangnya ke atas nakas.
"Sama-sama, mau aku suapin?" tawar Devan sambil menyendokkan bubur ayam ke mulut Zyva. Tanpa menjawab, Zyva langsung membuka mulutnya menerima suapan Devan.
Betapa gembiranya hati Devan saat Zyva menerima suapan pertamanya. Tapi ia tidak mau terlihat salah tingkah di depan Zyva.
"Kamu pasti bertanya - tanya kenapa aku ingin menikahimu, bukan?" tanya Devan dan Zyva memandang ke arah Devan dengan sorot mata yang menginginkan jawaban.
"Yang pertama, kamu harus segera mengambil alih apa yang menjadi hak milikmu, Zyva. Jangan buang buang waktu agar semuanya berjalan sesuai dengan keinginanmu. Yang kedua, kamu pasti merindukan kasih sayang seorang ibu bukan? Saat kita menikah nanti, aku pastikan kau akan mendapatkan kasih sayang seorang ayah dan ibu, juga kau punya teman cerita seperti Dena." jelas Devan masih terus mengemukakan alasan dengan tetap menyuapi Zyva.
Zyva kini mulai berfikir, saat ia menikah dengan Devan berbagai keuntungan akan ia dapatkan.
Devan yang melihat Zyva terdiam sambil terus membuka mulutnya untuk menerima suapannya hanya tersenyum dengan penuh pengharapan Zyva akan menerimanya untuk menjadi suaminya. Hingga suapan terakhir, Zyva masih saja terdiam.
Devan meninggalkan Zyva sambil membawa kembali nampan yang berisi mangkok dan gelas kosong. Zyva menarik kaos Devan dan memanggilnya.
"Devan, duduklah sebentar. Ada yang ingin aku sampaikan padamu." pinta Zyva dan Devan pun kembali duduk di samping Zyva.
"Terima kasih." ucap Zyva.
"Tidak perlu sungkan, Zyva. Oh iya, untuk kata-kataku tadi, coba kau fikirkan baik-baik. Satu lagi, aku pelajar yang memiliki cita-cita. Sama sepertimu. Menikah bukan berarti merusak cita-cita kita berdua, bukan?" ucap Devan dan Zyva pun mengangguk.
Devan pun keluar dari kamar Zyva dan menutupnya kembali. Kata-kata Devan kali ini membuat Zyva sangat tenang. Ia tidak perlu khawatir lagi dengan masalah yang sedang menimpanya saat ini. Kini Zyva mulai memejamkan matanya dan tertidur nyenyak.
__ADS_1
...***...
Sedangkan di lain sisi, Adrian kembali ke Mansion Clovis karena menuruti permintaan Pristina. Kini Adrian sedang berada di ruang tamu bersama mama tirinya, dan Clovis sejak sore belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Adrian, harapan mama hanya padamu, Nak. Tolonglah keluarga kita untuk mendapatkan sekolah yang selama ini kau urus, Adrian." pinta Pristina membuat Adrian makin muak dengan ibu tirinya.
"Selama ini aku hanya jadi kacung papa dan mama bukan? Kalian tidak pernah menganggap aku sebagai anak kalian, melainkan sebagai robot yang dengan seenaknya kalian atur." jawab Adrian kesal.
"Adriaaaan!!" teriak Pristina kencang. "Kau harusnya berterima kasih dapat hidup bergelimang harta seperti ini karena papamu. Jika tidak kau pasti akan menjadi gelandangan di luar sana." ucap Pristina geram.
"Oke mah, aku ucapkan terima kasih banyak untuk kalian berdua." ucap Adrian yang langsung beranjak dan bersiap-siap untuk pergi.
Tak lama setelah kepergian Adrian, Clovis pun tiba di Mansion dengan kondisi yang sangat kelelahan. Pristina sangat heran melihat kondisi suaminya saat ini. Tidak biasanya Clovis pulang larut malam dengan keadaan acak-acakan begini.
"Apa yang terjadi padamu, sayang?" tanya Pristina sambil membantu membuka dasi suaminya.
"Adrian tidak ada di kantor membuat aku kewalahan mengurusi perusahaan." ucap Clovis duduk di sofa dan memijat kepalanya.
"Jangan pinta dia untuk menikahi anak kandungmu yang sialan itu. Aku benar-benar membutuhkan anak pungut itu untuk mengelola perusahaanku." ucap Clovis membuat Pristina terdiam.
Jika Adrian tidak menikahi Zyva, bagaimana caranya merebut aset sekolahan yang selama ini diurusnya? Bagaimana juga jika keinginan Clovis memiliki sekolahan itu gagal karenanya?
"Suruh saja pemuda lain untuk menikahi anakmu itu, setelah itu paksa dia untuk menyerahkan aset yang memang seharusnya menjadi milikku. Kau masih punya hak bukan?" tanya Clovis membuat Pristina bingung hatus menjawab apa.
"Baiklah, aku akan mencari pemuda untuk segera menikahi putriku." ucap Pristina yang kemudian membuatkan minum untuk Clovis.
__ADS_1
Pristina terus memikirkan bagaimana caranya merebut kembali sekolahan yang selama ini diurusnya. Pengacara kepercayaannya ternyata justru mengkhianatinya dan berpaling tadah membela mendiang mantan suaminya dan juga Zyva. Adrian juga berkali-kali menolak untuk bekrrja sama dengannya. Terlebih saat ini perusahaan Clovis sangat membutuhkan kinerja Adrian.
"Kepalaku bisa meledak memikirkan hal gila ini." gumam Pristina sambil membawa minuman yang baru ia buat untuk suaminya ke kamar.