
Di tempat yang lain, Pristina terus dalam keadaan gelisah mengingat hari ini pasti keputusan sudah ditetapkan bahwa ia sudah bukan lagi pemilik Gelora Internasional. Bahkan ia juga tidak mendapatkan saham sebesar tiga puluh persen seperti yang dituliskan dalam berkas kepemilikan tersebut.
Ia terus berjalan mondar mandir di ruang tamu sambil menunggu Clovis yang sudah dua malam ini tidak pulang ke rumah. Terdengar suara deru mobil dari luar membuat Tina langsung berlari keluar dan menyambut kedatangan suaminya.
"Papa dari mana saja, dua malam papa tidak pulang?" tanya Pristina sambil membantu membawakan tas kerja suaminya.
"Setelah Adrian mengundurkan diri, aku benar-benar kewalahan mengurus perusahaan. Bahkan meeting di luar kota pun jadi berantakan." jawab Clovis membuat Tina memandang suaminya iba.
"Bagaimana sekolahmu? Apa asetnya sudah bisa kita miliki? Perusahaanku sedang pailit dan membutuhkan banyak dana." tanya Clovis. Kini Pristina terdiam tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan suaminya.
"Kau bisu ya?" gertak Clovis geram.
"Maafkan aku." ucap Tina gemetar.
"Apa maksud dari permintaan maafmu, Tina?" tanya Clovis dengan nada yang tinggi.
Akhirnya Pristina menceritakan bahwa sejak Clovis tidak pulang ke rumah, ia sudah mengalami kalah telak dengan putri kandungnya sendiri. Kini Gelora Internasional tidak dapat ia kuasai karena kuasa hukum jelas berpihak pada putri kandungnya.
"Apaaaa?!!! Aaaarrrrgghhh!! Kau memang pembuat sial." teriak Clovis yang kemudian masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu dengan keras.
Sedangkan Tina benar-benar sudah tidak dapat melakukan apa-apa lagi selain terduduk lemas di sofa ruang tamu. Tak berapa lama, Clovis keluar dengan melemparkan beberapa barang milik Tina hingga berserakan di ruang tengah.
"Kemasi barang - barangmu dan angkat kaki dari rumah ini! Mulai sekarang, kau bukanlah istriku lagi." pekik Clovis membuat Pristina bertekuk di lutut Clovis dan terus memohon agar Clovis tidak mengusirnya.
"Aku mohon maafkan aku, bukankah selama ini aku sudah berbuat baik padamu paah. Aku rela memilihmu dan meninggalkan Ray dan putriku. Kenapa kau tega menghempaskan aku begitu saja?" isak Pristina terus berlinangan air mata.
Clovis yang sudah lelah, ditambah lagi mendengar berita kekalahan istrinya untuk menguasai Gelora Internasional makin menjadi jadi amarahnya. Tapi ia masih dapat berfikir jernih setelah Pristina terus mengiba.
"Baiklah. Kau tidak aku usir dari Mansion ini. Tapi kau tetap bukan lagi istriku melainkan asisten rumah tangga di mansionku. Ambil barang barangmu dan bawa ke kamar barumu di belakang sana." ucap Clovis menunjuk ke arah dapur.
"Cepat lakukan sebelum aku berubah pikiran!!!" gertak Clovis meradang membuat Pristina tergopoh gopoh memunguti barang barangnya dan memindahkan ke kamar pembantu.
Kini Pristina benar-benar sangat menyesal atas perbuatannya yang meninggalkan Ray dan Zyva delapan tahun yang lalu.
__ADS_1
...***...
Sedangkan Adrian dan pengacara Rudi kini berkunjung ke Mansion Miss Auryn, setelah menyelesaikan berkas kepemilikan sekolah menjadi atas nama Zyvanna Ray. Zyva, Devan, dan Dena pun menyambut kedatangan mereka berdua di ruang tamu, karena kebetulan Miss Auryn juga belum pulang dari sekolah.
Dengan senang hati Zyva mempercayakan segala urusan sekolah kepada Adrian dan menganggap Adrian sebagai orang kepercayaan Zyva. Sayangnya Adrian menolak tawaran Zyva dengan berat hati karena sejak kemarin Papa Clovis terus meminta dirinya untuk lembali mengurus perusahaan milik Clovis yang mengalami pailit.
Akhirnya Zyva memilih ibu perinya, Miss Auryn untuk menduduki jabatan Adrian sebagai wakil pemilik sekolah Gelora Internasional. Meski demikian, Zyva tetap masih berharap Adrian tidak melepaskan sekolah itu begitu saja dan Adrian menyetujui permintaan Zyva.
"Oh iya Zyva. Bagaimana keadaanmu sekarang?." tanya Adrian yang kemarin memang belum sempat mengetahui keadaan Zyva.
"Lain kali jangan sampai terlambat untuk sarapan." pesan Adrian membuat Zyva tersenyum lebar.
"Iya kak. Thanks yaaa udah perhatian. Aku juga udah gak papa kok." jawab Zyva.
Mendengar percakapan Zyva dan Adrian yang sangat hangat membuat Devan merasa sangat panas. Api kecemburuannya berkobar dalam hatinya membuatnya kemudian pergi dari ruang tamu.
"Aku permisi dulu." ucap Devan yang kemudian pergi ke kamarnya.
"Devan kemana? Kok gak kelihatan?" tanya papa Zen.
"Ke kamar tadi pah, gak tau tuh kayaknya jelous ama Mr Adrian." jawab Dena yang langsung mendapat cubitan dari Zyva.
"Coba deh Zyva, kamu panggil suami kamu." ucap Papa Zen dengan nada sedikit menggoda Zyva.
"Cieeeee, suamiii." Dena justru menggoda dengan terang terangan membuat pipi Zyva langsung merona.
"Baik ayah." ucap Zyva yang langsung naik ke kamar Devan.
Setelah kepergian Zyva, Miss Auryn dan Papa Zen bertanya kepada Dena tentang bagaimana Zyva dan Devan saat tadi ditinggal di rumah. Dengan semangat, Dena menceritakan tentang apa yang dilihatnya di kamar Devan dan juga keputusan Zyva yang tetap ingin tidur di kamar yang berbeda dengan Devan.
Mendengarkan cerita dari Dena, orang tua Dena menyimpulkan jika Zyva benar-benar belum memiliki rasa dengan Devan.
"Biarin deh, mereka masih anak-anak. Mereka juga harus fokus untuk sekolah bukan?" timpal Miss Auryn.
__ADS_1
"Tapi kapan-kapan waktu weekend, biarin aja mereka sekamar. Toh mereka juga udah nikah. Kasihan Devan juga." papa Zen kini angkat bicara.
"Tapi kan kalo weekend Devan sama Zyva kerja pah." tukas Dena.
"Zyva papa pecat aja ntar. Gak baik biat dia kerja malem di bar meskipun ada Devan yang jagain. Lagipula dia juga udah gak butuh uang lagi kan." jelas papa Zen yang diangguki oleh anak dan istrinya.
Sedangkan Zyva yang sudah di kamar Devan, kini duduk di sofa sambil menunggu Devan yang sedang mandi. Saat pintu kamar mandi terbuka, Zyva tercekat melihat tubuh Devan yang hanya berbalut handuk. Di usia Devan yang baru menginjak tujuh belas tahun, tubuh sixpack Devan mampu membuat Zyva sangat terpukau dan menelan ludahnya kasar.
"Zyva." panggilan Devan membuyarkan lamunan Zyva.
Zyva pun langsung salah tingkah dan menutupi wajahnya dengan majalah yang ada di hadapannya.
"Kamu dipanggil ayah." ucap Zyva yang masih menyembunyikan wajahnya dengan majalah Devan.
Bukan memakai pakaiannya, Devan justru sangat ingin menggoda Zyva yang sedang duduk menunggunya di sofa.
"Kamu pasti shock ya setelah lihat gimana machonya aku?" tanya Devan yang terus berjalan ke arah sofa kamarnya.
"Mana ada shock. Biasa aja tuh." jawab Zyva salah tingkah.
"Oh yaaaa?" Devan kini duduk tepat di samping Zyva. "Trus sekarang kamu ngapain?" tanya Devan membuat Zyva makin kalang kabut.
"Baca buku lah. Buruan ganti baju. Ayah udah nungguin di bawah."
Devan langsung mengambil buku yang dipegang Zyva dan membaliknya. "Gini dong kalo baca buku tuh,"
Bluusshh. Lagi lagi Zyva harus menahan malunya. Dia benar-benar tidak menyangka jika majalah yang dipegangnya dari tadi ternyata terbalik.
Devan terus mengulum senyumnya mendapati Zyva yang salah tingkah di depannya. Ia pun berjalan ke lemari pakaiannya dan memakai bajunya.
"Udah selesai, yuk ke bawah." ajak Devan sambil memegang pergelangan tangan Zyva.
Keduanya turun dengan bergandengan tangan membuat papa Zen, Mama Auryn, dan Dena saling melemparkan pandang melihat Zyva dan Devan.
__ADS_1