
Pagi ini, Zyva dan Devan tidak melewati batasan mereka. Setelah mempersiapkan diri untuk berangkat sekolah, mereka pun turun untuk sarapan pagi. Liza dan Dena sudah siap di meja makan lebih dahulu.
Hari ini, Liza akan mencoba melihat lihat sekolah barunya dan mencoba beberapa tes yang akan diberikan. Setelah sarapan mereka berempat berangkat ke sekolah diantar dengan supir yang sudah dijanjikan oleh Papa Zen tadi malam.
Sesampainya di sekolah, Devan, Zyva dan Dena langsung menuju ke kelas masing-masing. Sedangkan Liza menuju ruangan Miss Auryn.
"Aku ke toilet dulu ya." ucap Zyva setelah meletakkan tasnya di kelas.
"Buruan balik, pagi ini pelajaran sejarahnya Miss Killer loh." pesan Adel dan Zyva hanya mengangguk.
Karena terburu-buru, Zyva tidak melihat Neffy yang berdiri di pintu toilet sampingnya. Neffy masih mencuci mukanya saat ada seorang kakak kelas yang masuk ke dalam toilet yang baru saja dipakainya.
"Aaaarrrrgghhh." teriak Mona, kakak kelas Neffy.
"Ada apa kak?"
Mona langsung membuka pintu kamar mandi dan memperlihatkan testpack ke hadapan Neffy. "Ini punya kamu?" tanya Mona membuat Neffy tercekat.
Ia benar-benar lupa menyimpan alat tes kehamilan yang baru saja dipakainya. "Bukan kak. Aku tadi gak masuk ke toilet yang itu." jawab Neffy.
"Zyva, jangan jangan ini punya anak baru itu. Aku tadi lihat dia baru aja dari toilet." ucap Mona dan Neffy langsung mengedikkan bahunya.
"Aku gak tau kak, aku gak lihat Zyva tadi." ucap Neffy berbohong. "Aku duluan ya kak."
Neffy langsung buru buru melangkah ke arah kelasnya. Suasana hatinya berkecamuk tidak karuan sejak Mona tadi memperlihatkan testpack miliknya.
"Neffy, kok baru dateng sih." celetuk Dena.
"Iyaa, untung aja Miss Killer belum masuk ke kelas." timpal Adel.
Tak lama kemudian guru yang disebut Miss Killer pun datang dan langsung memulai pelajaran. Setelah pelajaran usai, Miss Killer memanggil Zyva untuk menemuinya di ruang Bimbingan Konseling Sekolah.
"Kamu kenapa Zy? Kok dipanggil ke ruang BK?" tanya Neffy.
"Gak tau nih. Aku kesana dulu ya." jawab Zyva santai karena ia memang merasa tidak ada kesalahan apa-apa.
__ADS_1
Sesampainya di Ruang BK, Miss Killer langsung memberikan sesuatu di hadapan Zyva. "Ini punya kamu?"
Zyva langsung menggelengkan kepalanya. "Bukan Miss."
"Jawab jujur, Zyva. Sebelum saya angkat masalah ini ke kepala sekolah dan pemilik sekolah." gertak Miss Killer yang belum mengetahui jika Zyva adalah pemilik sekolah yang sah.
"Saya tidak pernah membeli ini atau menggunakannya Miss. Lagi pula apa kekuatan anda menuduh saya yang memiliki benda ini?" tanya Zyva menunjuk ke alat testpack yang ada di Meja Miss Killer.
"Ada seorang kakak kelas yang menemukan ini di toilet yang bekas kamu pakai."
Zyva tetap saja bersikukuh bahwa alat itu bukanlah miliknya. "Begini saja Miss, bagaimana jika saya akan membuktikan bahwa saya tidak hamil dengan alat testpack yang baru untuk membuktikan bahwa barang itu memang bukan milik saya." ucap Zyva yang kemudian disetujui oleh Miss Killer.
"Saya juga akan mengecek CCTV sekolah, siapa saja yang masuk ke dalam toilet pagi ini untuk memastikan testpack ini milik siapa." ucap Miss Killer.
Berhubung tidak ada alat testpack, Miss Killer akan memanggil Zyva lagi nanti saat alatnya sudah tersedia. Zyva kini keluar dari ruang BK dan langsung disambut oleh teman-temannya.
"Ada apa Zy?" tanya Dena.
"Iya, kamu kenapa?" tanya Adel dan Neffy bersamaan.
Sesampainya di taman, Zyva menceritakan tuduhan Miss Killer padanya dan membuat teman-temannya tercengang. Terlebih Dena yang menduga bahwa Zyva memang beneran hamil.
"Aku akan buktikan dengan alat testpack yang baru untuk memastikan pada Miss Killer, bahwa testpack yang ditemukan kakak kelas itu bukan milikku dan aku tidak hamil." ucap Zyva membuat Neffy yang kini kalang kabut.
"Kapan kamu mau buktikan ke Miss Killer, Zyva?" tanya Neffy was was.
"Belum tahu, dia pasti akan segera menghubungi aku." tukas Zyva. "Dia juga akan mengecek CCTV untuk mengetahui siapa saja siswi yang masuk ke dalam kamar mandi pagi ini."
Kata kata Zyva membuat Neffy pucat pasi. Ia kini merasa sangat terpojok dalam keadaan ini.
Bel masuk kelas pun berbunyi. Kali ini kelas Zyva mendapat jadwal untuk menggunakan perpustakaan. Zyva dan temannya langsung mencari tempat untuk membaca buku.
"Aku lupa, ada keperluan sama ketua OSIS untuk bahas baksos. Aku duluan ya." Neffy meninggalkan teman-temannya dan langsung pergi ke kantor OSIS.
Sesampainya di Kantor OSIS, tampak Yuda sedang merapikan beberapa berkas bersama Angga.
__ADS_1
"Yud, ada yang perlu aku omongin sama kamu." Neffy langsung menarik tangan Yuda menuju lorong sepi.
"Ada apa Neff?" tanya Yuda.
"Aku hamil,"
"Trus? Apa hubungannya sama aku?" tanya Yuda.
"Kamu gak inget udah ngelakuin itu berkali-kali sama aku?"
"Tapi bukan cuma aku kan yang ngelakuin itu sama kamu. Bukannya kamu punya sugar daddy?"
"Om Clovis mandul. Jadi ini jelas anak kamu Yuda." timpal Neffy membuat Yuda mengusap wajahnya kasar.
Yuda dan Neffy memang memiliki hubungan mesra di belakang teman-teman mereka. Keduanya sudah saling mencintai sejak pertama kali bertemu. Yuda menerima Neffy yang terbukti memiliki sugar daddy karena uang dari hasil Neffy menjual diri dirasakan bersama dengannya.
"Gugurkan aja, Neff. Masa depan kita masih panjang." ucap Yuda dan Neffy langsung menampar Yuda.
"Kamu gila ya. Aku gak mau jadi pembunuh." sarkas Neffy tidak terima.
Yuda terdiam sambil melihat ke arah perut Neffy. "Perut kamu belum keliatan kok. Kalo gitu nanti kamu cuti aja mengajukan sekolah online, sampai bayi itu lahir." tukas Yuda santai.
"Masalahnya, Kak Mona tadi nemuin testpack aku di toilet dan melaporkannya sama Miss Killer. Tapi dia mengira Zyva yang punya testpack itu karena Kak Mona memang sempat lihat Zyva masuk toilet."
"Masalahnya Zyva akan membuktikan sama Miss Killer kalau testpack itu bukan miliknya dengan testpack yang baru. Sekarang aku terancam banget Yuda."
Penuturan Neffy kali ini justru membuat senyum di bibir Yuda merekah. Ia pun membisikkan rencana sesuatu pada Neffy untuk membuat Zyva mundur dari pertandingan renang.
"Aku gak yakin ini akan berhasil, Yuda." ucap Neffy kalut.
"Aku akan bantu kamu dan selalu di samping kamu, sayang." ucap Yuda dan Neffy pun akhirnya setuju.
"Pulang sekolah kita bicarakan lagi hal ini." ucap Yuda.
Mereka akhirnya kembali ke tempat masing-masing dengan perasaan berkecamuk dalam diri mereka.
__ADS_1