
Setelah menghabiskan weekend bersama Dena, kini waktunya Zyva kembali beraktivitas seperti biasanya. Pagi ini ia berangkat menuju sekolah lebih pagi dari biasanya. Tujuan Zyva tidak lain adalah untuk mengecek Gedung olahraga yang akan digunakan untuk pertandingan basket antar sekolah hari ini.
Ternyata sesampainya di sekolah, Zyva bukalah orang yang pertama datang karena sudah ada satu orang yang sedang bermain basket di lapangan. Zyva yang sudah mengenakan baju olahraga pun langsung menghampiri laki-laki yang sedang bermain basket.
"Pertandingan agar dilaksanakan hari ini. Seharusnya lapangan basket sudah bersih dan tidak digunakan untuk berlatih lagi meskipun dengan siswa Gelora Internasional." tegur Zyva.
Laki-laki tadi berbalik dan mendribel bolanya ke arah Zyva. "Bagaimana jika saya bukan siswa dari Gelora Internasional Miss Zyva?" tanya pria tadi.
"Guru dari sekolah mana pun itu juga dilarang." jawab Zyva dingin membuat laki laki yang di hadapannya makin mendekat ke arah Zyva.
"Anda jangan macam-macam ya!" ancam Zyva yang sudah siap melayangkan pukulannya.
"Apa kau tidak mengenalku?" tanya laki-laki tadi yang tidak takut dengan ancaman Zyva dan terus saja mendekati Zyva hingga Zyva berjalan mundur ke belakang.
"Tidak!" jawab Zyva tegas sambil mendorong tubuh laki-laki yang ada di hadapannya. Zyva pun segera berbalik dan berlari memanggil satpam sekolah dengan berteriak.
"Pak Satpaaam!" teriak Zyva dan Pak Satpam pun berlari tergopoh gopoh menemui Zyva.
"Iya Miss Zyva." ucap Pak Satpam.
"Bersihkan Gedung Olahraga dan tidak boleh ada satu orang pun di sana sebelum pertandingan dimulai!" perintah Zyva.
"Termasuk..." belum selesai satpam tadi meneruskan kalimatnya, Zyva sudah langsung memotongnya.
"Siapa pun itu." ucap Zyva yang kemudian berlalu dari Pak Satpam dan menuju ke ruangannya.
Setelah kejadian tadi pagi, Zyva tidak lagi bertemu dengan laki-laki yang bermain basket di lapangan. Bahkan saat ia membuka acara pertandingan basket pun sama sekali tidak melihat pelatih atau pun pemain basket yang bermain di lapangan tadi pagi.
__ADS_1
Kini Zyva kembali lagi ke ruangannya setelah menonton satu babak pertandingan untuk menyicil mengerjakan tugas disertasinya. Saat di tengah-tengah mengerjakan tugasnya, Dena pun mengetuk pintu ruang kerja Zyva dan masuk ke dalam.
"Pagi Miss Zyva, bagaimana acara pembukaan lomba tadi?" tanya Dena sambil membawa sesuatu untuk Zyva.
"Seperti biasanya, tidak ada yang spesial." jawab Zyva tanpa mengalihkan pandangannya dari layar macbooknya.
"Benarkah?" tanya Dena dengan nada yang tidak percaya.
"Ck, kalo tidak percaya ya sudah. Kau bisa melihatnya sendiri ke gedung olahraga." ucap Zyva datar.
"Oke. Oh iya. Ini ada titipan dari Mama. Sarapan buat menantu kesayangan." ucap Dena memberikan bekal makanan kepada Zyva.
"Makasih banyak Miss Dena." balas Zyva dengan mata berbinar. Ia pun segera membuka bekal makanan yang disiapkan oleh ibu mertuanya dan melahap nya karena kebetulan perutnya juga sudah sangat lapar.
...🍀🍀🍀...
Di sisi lain kini Devan yang baru saja selesai melakukan tindakan pada pasien yang kejang langsung kembali ke ruangannya sambil memijat kepalanya. Ya, Devan sudah kembali ke Indonesia tiga minggu yang lalu dan langsung disibukkan dengan beberapa pekerjaan di rumah sakit.
Point of View Devan Ivander
Aku sudah tidak sanggup menahan rasa rinduku, Zyva. Tiga minggu ini begitu menyiksaku. Aku mampu memandangmu dari jauh, namun aku tidak mampu untuk menggapaimu. Kau membangun dinding yang tinggi di antara kita hingga aku tidak mampu untuk melompatinya.
Aku yang menyebabkan semua ini terjadi. Seharusnya aku tidak gegabah memutuskan untuk meninggalkanmu, dulu. Aku yang bersalah atas semua ini, tapi kini aku sangat ingin menebus semua kesalahanku padamu, Zyva.
Semalaman aku benar-benar tidak mampu memejamkan mata karena hanya ingin bertemu denganmu. Bahkan aku sudah berada di lapangan basket sebelum fajar menyingsing hanya untuk bertemu denganmu di tepat 8 tahun kita berpisah.
Sayangnya kau sama sekali tidak mengenali suamimu sendiri. Hatiku seperti teriris pisau yang sangat tajam melihatmu yang tidak mengenaliku sama sekali.
__ADS_1
Kau masih yang secantik dulu Zyva, bahkan sekarang makin cantik. Tapi kau sangat berubah menjadi dingin dan ketus terhadap semua lelaki, tanpa terkecuali meskipun terhadap suamimu sendiri. Benar laporan dari Dena yang selalu dikabarkan padaku setiap harinya.
Kau hanya fokus dengan karir dan pendidikan saja tanpa memikirkan aku. Aku sangat ingin memeluk dan Mengejar mu tadi saat kau berlari memanggil satpam. Sayangnya panggilan tugas memanggilku karena ada pasien yang kejang yang harus aku tangani.
Apapun keadaanmu saat ini, izinkan aku untuk menebus kesalahanku padamu, Zyva. Aku mohon.
Aku menutup mukaku dengan kedua tanganku. Bayangan Zyva selalu saja menari di depan mataku dan tak mampu aku tepis sama sekali. Siang ini aku akan kembali menemuimu dan aku pastikan kau tidak bisa lagi untuk mengelak bertemu denganku.
...****************...
Siang harinya, pintu ruang kerja Zyva diketuk tepat saat Zyva menutup macbooknya. Zyva pun melangkahkan kakinya untuk membukakan pintu untuk tamunya kali ini.
Saat pintu terbuka, Zyva kembali melihat sosok laki-laki yang bermain basket tadi pagi. Tapi saat ini laki-laki di hadapan Zyva tidak lagi memakai baju olahraga, melainkan memakai kemeja dengan sangat rapi.
"Apa tujuan anda datang kemari?" tanya Zyva datar tanpa mempersilahkannya masuk ke dalam.
"Jika anda datang hanya untuk minta maaf, lebih baik meminta maaf saja kepada Pak Satpam dan OB yang harus membersihkan kembali lapangan basket karena ulah anda." ucap Zyva dengan nada bicara yang ketus.
"Ya, saya datang untung meminta maaf kepada anda atas segala kesalahan saya dalam delapan tahun ini. Saya benar - benar merasa sangat bersalah dan menyesal telah meninggalkan anda hingga membuat anda sama sekali tidak mengenali saya sedikit pun." ucap Devan membuat Zyva langsung menjatuhkan pena yang ia pegang.
Perlahan Zyva melangkahkan kakinya ke belakang dan Devan pun mendapat kesempatan untuk masuk ke dalam ruang kerja Zyva dan menutup pintunya.
Zyva terus mengamati laki-laki yang kini ada di hadapannya. Ia benar-benar tidak mengenali wajah di depannya itu.
"Devan." satu kata keluar dari mulut Zyva dan Devan pun langsung menganggukkan kepalanya.
"Ya, Aku Devan, suami kecilmu." ucap Devan. "Hari ini sudah tepat delapan tahun Zyva. Izinkan aku meluahkan rasa rindu ini padamu."
__ADS_1
Sayangnya Zyva langsung menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Jangan mendekat dan tetap berdiri di situ." pinta Zyva.
"Aku akan menghubungi Dena." ucap Zyva yang kemudian menekan nomor ponsel milik Dena.