
Zyva belajar bersama Dena selama satu jam lebih, setelah itu Zyva tidak langsung berkemas melainkan duduk terdiam memandangi buku sainsnya.
"Ada masalah, Zy?" tanya Dena dan Zyva langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku cuma sedikit lelah aja." jawab Zyva mulai membereskan buku-buku nya dan memasukkan ke dalam tas.
"Udah cerita aja. Kayak sama siapa aja Zy." desak Dena dan Zyva terdiam memandangi temannya.
"Aku tidak ada masalah apa apa Denaku sayang." ucap Zyva yang memang tidak ingin bercerita dengan Dena.
"Zy, aku mau minta tolong nih." ucap Dena. "Kamu bisa bantuin aku gak?" tanya Dena kemudian.
"Kenapa emang?" Zyva tanya balik.
"Aku suka sama Yuda," bisik Dena. "Kamu kan kadang latihan bareng sama Yuda, titip salam ya buat Yuda." Dena terlihat malu malu mengungkapkan perasaannya kepada Zyva.
Kali ini Zyva bingung harus menjawab apa. Di sisi lain, Adel juga menyukai Yuda. Tapi ia tidak ingin membuat Dena kecewa.
"Lah Yuda kan rumahnya deket sini. Lagi pula dia temen deketnya Devan kan? Kenapa gak minta tolong ama Devan aja." jawab Zyva memberi saran.
"Diiiih, Devan mah gak asyik orangnya." jawab Dena. "Bantuin ya Zy. Titip salam doang kok. " pinta Dena.
"Hemmm, oke deh." jawab Zyva. "Aku pamit dulu ya. Daaah Dena." Zyva langsung melangkahkan kakinya keluar Mansion Dena.
Zyva duduk di teras dan memakai sepatunya, tepat saat Devan baru saja sampai dari berlatih basket. Kini Devan sengaja duduk di samping Zyva.
"Mau dianter pulang gak?" tawar Devan memandangi punggung Zyva yang membelakanginya.
"No, Thanks." jawab Zyva.
Dena yang memperhatikan Devan dan Zyva dari dalam mansion langsung bisa menebak kalo saudara kembarnya pasti naksir sama Zyva. Dena mulai terkekeh ketika melihat Zyva melenggang begitu saja meninggalkan Devan.
Devan langsung masuk ke dalam Mansion dan disambut oleh Dena.
"Naksir sama Zyva?" tanya Dena mengejutkan Devan.
__ADS_1
"Ngaco aja kalo ngomong." jawab Devan yang melewati Dena begitu saja dan berjalan ke arah kamarnya.
"Diiiih, gak mau jujur yaaaa." Dena terus mengikuti langkah kaki Devan. "Zyva tuh udah cerdas, cantik lagi." goda Dena membuat Devan menghentikan langkahnya.
"Gak tertarik." jawab Devan. "Eh iya. Bentar lagi Yuda sama Nino mau main ke rumah. Ntar kalo dia dateng suruh tunggu di taman ya. Aku mau mandi." ucap Devan.
Mendengar Yuda mau datang, Dena langsung mendahului langkah Devan menuju kamarnya.
"Iya, nanti aku bilang. Awas minggir." Dena langsung masuk ke dalam kamarnya.
Dena berdiri di depan meja rias, merapikan rambutnya dan mencari baju yang pas agar terlihat memukau di hadapan Yuda.
...***...
Sedangkan Zyva sudah diantar pulang ke kost oleh Adrian. Keduanya tidak jadi melanjutkan pembicaraan mereka yang tertunda karena Adrian harus segera kembali pulang ke Mansionnya karena ada urusan yang harus ia selesaikan.
"Aku harus segera pulang. Aku akan menelfonmu nanti malam setelah urusanku selesai." ucap Adrian.
"Baiklah, hati hati ya kak." jawab Zyva melambaikan tangannya.
"Nah, itu Adrian." ucap Mama Tina menunjuk ke pintu. Tampak oleh Adrian ada seorang pengacara yang biasa dipanggil mama tirinya duduk di samping Papanya.
"Kemarilah Nak, ada yang ingin papa sampaikan." panggil papa Clovis.
Adrian pun duduk di hadapan pengacara tersebut dengan penuh pertanyaan dalam benaknya.
Akhirnya pengacara Mama Tina menjelaskan kepada Adrian tentang status kepemilikan Gelora Internasional yang sebelumnya sudah diketahui oleh Adrian. Meskipun tertulis atas nama Zyvanna Ray sebagai pemilik Gelora Internasional, tetap saja Zyva belum dapat memegang dan mengelola sekolah tersebut di usianya yang masih sangat belia.
Pengacara itu kemudian mengusulkan agar Adrian menikahi Zyva untuk memudahkan pengalihan aset Gelora Internasional. Dan pernikahan bisa dibatalkan jika aset tersebut sudah menjadi hak milik Clovis, jika Adrian memang sudah memiliki tambatan hati yang lain.
Mendengar ucapan pengacara mamanya, Adrian langsung mengepalkan tangannya dan meninju wajah pengacara tersebut. "Aku tidak mau ikut dalam permainan gila kalian!" pekik Adrian yang langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Adriaaaaaaan." teriak papa Clovis geram. Sedangkan Mama Tina langsung mengambil kotak P3K dan memberikan pada pengacaranya.
"Tenang pah, aku akan mengajak bicara Adrian." ucap Mama Tina menenangkan suaminya.
__ADS_1
Papa Clovis dan Mama Tina meminta maaf pada pengacara tersebut karena perbuatan Adrian dan akhirnya pengacara tersebut undur diri.
Adrian terdiam di kamarnya. Ia memang sangat mencintai Zyva dan berharap masa depannya akan indah bersama Zyva. Tetapi ia tidak ingin memanfaatkan Zyva terlebih untuk kegilaan papa dan mama tirinya.
Kali ini Adrian harus segera menemui Miss Auryn untuk membantunya menemukan jalan keluar dari semua ini. Adrian segera membersihkan tubuhnya dan menghubungi Miss Auryn jika ia ingin bertamu malam ini.
Setelah mendapat balasan dari Miss Auryn, Adrian bersiap-siap untuk pergi.
"Tunggu Adrian, mama ingin bicara." panggil Mama Tina saat Adrian melewatinya begitu saja di ruang tamu.
"Jika mama masih ingin membicarakan hal gila tadi, aku sangat tidak berminat." jawab Adrian.
"Mama tahu kamu pasti menyimpan perasaan khusus untuk putri kandung mama. Berkali-kali mama melihat kamu mengantar Zyva. Bukankah kamu juga yang berupaya agar mama menyetujui permohonanmu untuk siswa beasiswa?" kata kata Mama Tina membuat Adrian makin kesal.
"Aku hanya bersimpati terhadap Zyva karena ayahnya sudah meninggal dunia. Gadis belia yang kini berjuang sebatang kara. Aku masih punya hati, tidak seperti mama yang memang hatinya sudah mati." ucap Adrian membuat Mama Tina terdiam dan mengepalkan tangannya.
Adrian langsung melangkah pergi meninggalkan Mama Tina sendirian.
"Si*l. Adrian benar-benar tidak bisa diajak kerja sama." gerutu Mama Tina memegang kepalanya yang mulai pusing.
Adrian segera menjalankan mobilnya ke Mansion Miss Auryn. Adrian pernah mendengar bahwa kepala sekolah itu adalah sahabat mantan suami mama tirinya. Sesampainya di Mansion Miss Auryn, terlihat Devan dan Dena sedang berkumpul dengan temannya di taman.
Adrian melambaikan tangannya menyapa murid Gelora Internasional dan segera menemui Miss Auryn yang sudah menunggunya di ruang kerja bersama Zen Ivander, suami Miss Auryn.
Adrian langsung menceritakan tentang apa saja yang ia ketahui tentang kegilaan Mama Tina dan cerita Adrian tidak membuat Zen dan Auryn terkejut karena Tina sempat menceritakannya pada Auryn.
"Aku meminta tolong pada Miss Auryn dan Om Zen untuk membantuku agar Gelora Internasional jatuh di tangan yang tepat." pinta Adrian.
"Kami akan mempertahankan aset milik putri sahabat kami. Hanya saja permasalahannya adalah Pristina masih tertulis memiliki saham sebesar tiga puluh persen." ucap Auryn.
"Berarti Zyva berhak untuk aset miliknya sendiri?" tanya Adrian dengan mata berbinar.
"Tidak semudah itu Adrian, selama semua berkas masih di tangan Pristina. Yang paling penting saat ini adalah keselamatan Zyva." ucap Zen kemudian.
Mereka bertiga pun akhirnya membuat beberapa perencanaan gar Zyva aman dan selamat.
__ADS_1