
Kini Zyva sudah berada di dalam mobil bersama dengan Devan. Selama perjalanan pulang menuju Mansion Ivander, Devan terus saja menggenggam tangan Minerva tanpa melepaskannya sedikit pun.
Zyva pun diam diam terus mencuri pandang ke arah Devan yang sedang fokus mengendarai mobil. Devan memang sangat berbeda dengan saat ia meninggalkan Zyva dulu. Entah kenapa di mata Zyva, Devan semakin tampan dan juga cool.
"Aku makin tampan ya?" tanya Devan membuat Zyva seketika memutar bola matanya malas.
"Diiih, Narsis." jawab Zyva yang kemudian mencoba melepaskan genggaman tangan Devan.
"Gak usah salah tingkah gitu deh, sayang." ucap Devan melepaskan genggamannya dan kemudian mengusap pipi Zyva pelan.
"Siapa juga yang salah tingkah." kilah Zyva sambil melipat tangannya di depan dada. Sedangkan Devan hanya terkekeh melihat sikap Zyva.
Mobil Devan kini mulai memasuki halaman Mansionnya. Setelah berhenti dan mematikan mesin mobilnya, Devan segera turun dan membukakan pintu untuk Zyva.
"Pegang lengan aku dong sayang," pinta Devan dan Zyva justru memukul lengan Devan.
"Jangan lebay deh." ucap Zyva sambil berlalu meninggalkan Devan di belakang..
Melihat Zyva mengacuhkannya begitu saja, Devan pun langsung mengejar langkah Zyva dan memegang pinggangnya.
"Dev!" Pekik Zyva pelan. "Malu dong!" gerutu Zyva menghentikan langkahnya.
"Gak perlu malu, Zyva. Kami juga paham kok." ucap Mama Devan yang sudah berdiri di samping Devan.
"Sekarang kalian buruan mandi deh. Mama udah siapin makanan buat kalian." ucap Mama Devan sambil menepuk bahu putranya. "Gih, buruan! Bentar lagi juga Dena pasti pulang."
Devan dan Zyva pun langsung menuju ke kamar mereka. Selama Devan tidak di rumah, Zyva hanya setahun tiga kali menginap di Mansion Ivander. Selebihnya, Zyva hanya sekedar berkunjung tanpa menginap.
Zyva meletakkan tas kerjanya di sofa dan duduk bersandar sambil melemaskan otot otot di badannya. "Siapa yang mau mandi dulu?" tanya Zyva.
__ADS_1
Bukannya menjawab pertanyaan Zyva, Devan justru mendekat ke arah Zyva dan duduk di sampingnya. "Kamu rindu gak sama aku?" tanya Devan yang makin mendekati Zyva.
"Mama udah nyuruh kita untuk buruan mandi loh. Jangan kayak gini dong!" ucap Zyva sedikit mendorong tubuh Devan.
"Gimana kalo kita mandi bareng aja?" tawar Devan nakal.
"Ck, Jangan Ngaco deh!"
"Zyva," Devan makin mendekat dan kini mereka sudah hampir tidak berjarak.
"Aku sangat merindukanmu. Merindukan istri kecilku yang semakin hari semakin cantik, namun sulit untuk aku gapai."
Tangan Devan mulai mengusap pipi Zyva yang sudah mulai merona dan warnanya hampir menyerupai tomat. Nafas Zyva juga sudah mulai terdengar begitu memburu saat mendapatkan sentuhan dari Devan.
Sudah sangat lama mereka tidak bersua bahkan saling menyapa. Dan sekarang mereka sudah saling berjumpa dengan perasaan rindu yang begitu membuncah dalam diri mereka masing-masing.
Meski bibir Zyva sama sekali tidak mampu mengucapkan kata rindunya, Sorot mata Zyva sama sekali tidak bisa berbohong bahwa ia begitu merindukan sosok yang kini ada di hadapannya.
Cup!
Satu kecupan singkat kini mendarat sempurna di bibir Zyva membuat nafasnya makin memburu.
"Dev," panggil Zyva yang suaranya terdengar sangat seksi di telinga Devan.
Kini Devan kembali mendaratkan bibirnya yang langsung disambut dengan hangat oleh bibir Zyva hingga keduanya saling bertaut dan membelit untuk menumpahkan segala kerinduan mereka yang sudah sangat lama mereka pendam.
Devan melakukannya dengan sangat pelan dan lembut membuat Zyva makin terbuai dengan permainan yang Devan berikan. Devan pun makin memperdalam ciumannya dengan memegang tengkuk leher Zyva, sedangkan tangan Zyva kini terulur melingkar di leher Devan.
"Sangat manis, Zyva." puji Devan saat mereka berdua sama-sama hampir kehabisan nafasnya.
__ADS_1
Zyva kini yang merasa sangat malu justru menyembunyikan kepalanya di dada Devan dan membuat Devan makin gemas melihat istrinya.
"Kamu semakin cantik dan imut jika malu-malu seperti ini." ucap Devan sambil memainkan rambut panjang Zyva.
"Kau tahu, sayang. Selama ini aku begitu sangat menantikan momen ini. Bertemu denganmu dan meluahkan segala rasa rindu."
Tangan Devan pun kembali terulur memegang dagu Zyva dan kini kedua netra mereka saling bertemu. "Dan kali ini aku sangat ingin mendengar kau mengatakan rindu padaku."
Lagi-lagi lidah Zyva kembali kelu untuk mengatakan hal ini. Ia hanya mampu menelan ludahnya kasar saat menyadari bahwa wajah Devan yang semakin tampan itu kini sedang menatapnya dengan penuh rindu.
"Mama sudah menung..."
Belum selesai Zyva meneruskan kalimatnya, Devan kembali mendaratkan ciumannya dan kai ini lebih menuntut dari sebelumnya. Bahkan kali ini tangan Devan sudah mulai berani membuka kancing blouse Zyva satu per satu.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar kamar disertai dengan suara Dena yang memanggil nama Zyva.
"Zyvaaaa." panggil Dena dengan sedikit berteriak. "Mr. Adrian menunggumu di bawah. Ia mau mengambil flashdisk yang kemarin di titipkannya kepadamu." jelas Dena membuat Zyva mendorong tubuh Devan dan buru-buru mengancingkan Blousenya.
"Tunggu Dena." teriak Zyva dari dalam kamar sambil mencari barang yang diminta Dena di dalam tasnya.
"Biar aku saja yang memberikannya pada Dena." ucap Devan yang mengambil flashdisk tersebut dari tangan Zyva dan membuka pintu kamarnya.
"Nih, flashdisk nya." ucap Devan menyerahkan flashdisk tersebut kepada Dena. "Jangan lupa bilang sama mama kalau kita akan turun saat jam makan malam." ucap Devan
"Iya deh, paham." ucap Dena yang kemudian langsung turun menuju ruang tamu.
Devan pun kembali menutup pintu kamarnya dan menuntaskan apa yang tadi sempat tertunda. Sayang nya ia tidak lagi melihat Zyva di dalam kamar. Hanya terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi yang menandakan bahwa Zyva sudah masuk ke kamar mandi terlebih dahulu.
"Ck, Dasar Denaaa. Kau hanya bisa mengganggu saja." gerutu Devan kesal.
__ADS_1
Ia pun mengusap wajahnya kasar sambil menunggu Zyva selesai mandi.