
Mengirimkan surat lamaran pekerjaan di kantor pos.
Pagi telah tiba kembali, seperti biasa orang-orang melakukan aktifitasnya. Bekerja di pagi hari, ada juga yang baru pulang kerja karena masuk malam. Setiap hari tidak pernah sepi, banyak orang yang lewat entah itu jalan kaki maupun dengan kendaraan.
Warung bongkok, salah satu tempat di Cikarang. Di Warung bongkok ada pabrik yaitu PT. Sandang dan ada pabrik baja. Setiap hari jalanan tidak pernah sepi. Apalagi waktu berangkat dan pulang kerja. Jalanan sungguh ramai, oleh lalu lalang kendaraan dan orang-orang yang akan berangkat dan pulang kerja.
Pagi itu Dinda dan Tini bersiap-siap untuk pergi ke kantor pos. Mereka berjalan sampai di dekat tugu bambu. Di situlah mereka menunggu mba Erna untuk bersama-sama pergi ke kantor pos. Tidak berapa lama kemudian mba Erna datang. Akhirnya mereka naik angkutan umum pergi ke kantor pos.
Setibanya di kantor pos di daerah Cibitung, ternyata banyak juga orang-orang yang berada di kantor pos. Rata-rata dari mereka akan mengirimkan surat lamaran pekerjaan. Di sela-sela menunggu antrian, Dinda melihat papan pengumuman. Di papan tersebut banyak di tempel selembar kertas yang berisi tentang informasi lowongan pekerjaan.
Karena membawa pulpen dan buku catatan, Dinda menulis beberapa alamat pabrik yang membuka lowongan pekerjaan yang sesuai dengan kriteria persyaratannya. Dinda merasa bahwa yang terpenting adalah melamar pekerjaan dimanapun adanya. Tidak memilih pabrik-pabrik tertentu karena yang penting melamar dan mendapat pekerjaan.
Tini melihat Dinda menuliskan beberapa alamat pabrik yang sedang membuka lowongan pekerjaan. Tini pun merasa Dinda tidak menyia-nyiakan kesempatan. Akhirnya Tini dan mba Erna maju ke depan menuju ke meja pegawai kantor pos. Memberikan amplop coklat besar yang berisi berkas surat lamaran kepada pegawai kantor pos.
Setelah membayar administrasi, mereka pergi meninggalkan kantor pos. Jam menunjukkan pukul 9 lewat 15 menit. Mereka berbincang di dalam angkutan umum. Hendak melamar pekerjaan di mana, mereka bingung karena belum mendengar informasi lagi. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke kontrakan.
__ADS_1
Hari itu Dinda dan Tini hanya pergi ke kantor pos saja bersama mba Erna. Setelah sampai di kontrakan, mereka beristirahat sebentar sambil menonton televisi. Mereka menulis lagi beberapa surat lamaran pekerjaan untuk dikirimkan ke alamat pabrik yang ditulis Dinda pada saat di kantor pos. Sudah hampir seminggu mereka mencari pekerjaan tapi belum ada hasilnya.
Hari-hari mereka lalui hanya sibuk dengan mencari pekerjaan dari pabrik yang satu ke pabrik lainnya. Namun seminggu belum juga berhasil untuk mendapatkan pekerjaan. Ternyata mencari pekerjaan tidak semudah dibayangkan. Tadinya Dinda berpikir di Cikarang banyak peluang untuk mendapatkan pekerjaan. Walaupun hanya satu saja kesempatan untuk memperoleh pekerjaan tersebut. Namun, kenyataan tidak seindah yang dipikirkan. Banyaknya lowongan pekerjaan, namun hanya beberapa yang sesuai dengan syarat yang diminta oleh perusahaan tersebut.
Lowongan untuk karyawan dan karyawati lulusan SMA dan sederajat, umur, pengalaman kerja, itu merupakan diantaranya. Dinda berharap tidak akan lama untuk mendapatkan pekerjaan. Karena uang sakunya kian hari kian menipis. Bagaimana nanti Dinda harus mengatakan kepada kedua orangtuanya jika sampai pulang sebelum mendapatkan pekerjaan. Sungguh Dinda tidak menginginkannya, yakni pulang tanpa hasil.
Tiap waktu, terutama sholat 5 waktu, Dinda selalu berdoa untuk dimudahkan agar cepat mendapatkan pekerjaan. Sholat malam pun Dinda lakukan, karena di samping memang sudah kebiasaannya, itu merupakan hal yang mesti dilakukan apalagi ada suatu keinginan. Dinda percaya dengan begitu Allah pasti akan memudahkan jalannya.
Seminggu sudah dilalui tanpa kabar berita adanya lowongan pekerjaan. Kalaupun mendengar ada lowongan pekerjaan itu melalui orang dalam. Yakni melalui orang yang bekerja di lingkup pabrik dan ada juga yang melalui beberapa orang luar tapi harus membayar sejumlah uang.
Sungguh ironi bukan?, disaat orang susah mencari lowongan kerja untuk mendapatkan pekerjaan, dan juga penghasilan. Ada beberapa orang yang memanfaatkan kondisi tersebut. Orang yang mau menolong seseorang untuk mendapatkan pekerjaan tetapi meminta bayaran beberapa lembar uang.
Dinda dan Tini terkadang menanyakan Ibu kontrakan atau bapak kontrakan, barangkali ada telephon panggilan untuk tes di sebuah perusahaan yang lamaran kerjanya melalui kantor pos. Pada waktu itu hp belum seperti sekarang tiap orang punya. Masih menggunakan telephon umum dan telephon rumah. Hp masih dianggap barang mahal, karena itu tidak semua orang punya.
Seminggu berlalu hari Senin tiba, Dinda dan Tini bersiap-siap berangkat ke salah satu pabrik di kawasan Jababeka satu. Mereka berangkat untuk melihat pengumuman atas lamaran pekerjaan yang mereka berikan minggu lalu. Bersama dengan mba Erna, mereka berangkat bersama-sama.
__ADS_1
Sesampainya di depan pabrik yang mereka tuju, ternyata di pabrik tersebut sudah banyak orang yang menunggu pengumuman. Tidak berapa lama kemudian selembar kertas di tempel di dinding sebelah gerbang. Satu persatu orang membaca pengumuman tersebut. Yang lulus seleksi awal mereka masuk ke dalam melewati pintu gerbang. Dan bagi mereka yang tidak lulus langsung pulang.
Dinda dan Tini serta mba Erna ternyata lulus seleksi awal. Mereka masuk kemudian menunggu di panggil untuk melakukan tes tertulis. Ada begitu banyak orang, namun di bagi beberapa kelompok. Diantara mereka masing-masing saling mengobrol satu sama lain. Saling bertanya dan menjawab dan berkenalan. Sama-sama pelamar kerja, tapi tetap mereka adalah saingan untuk mendapatkan pekerjaan.
Setelah lulus seleksi awal tahap selanjutnya adalah tes tertulis. Beberapa orang mulai di panggil oleh pak satpam. Mereka terdiri dari 6 orang per kelompok. Yang lainnya masih tetap menunggu untuk di panggil. Tiba giliran Dinda, Tini dan mba Erna di panggil untuk tes berikutnya.
Mereka masuk ke dalam langsung naik keatas yaitu lantai 2 karena di sana tempat melakukan tes tertulis. Mereka duduk di kursi depan meja di depan 3 orang yang sudah menunggu. Salah satu mulai berbicara kepada para pelamar kerja. Salah satunya memberikan selembar kertas yang bertuliskan soal matematika. Ada 15 soal matematika yang terdapat dalam lembar tersebut. Dan satunya hanya memperhatikan para pelamar kerja. Mereka adalah personalia, dan Supervisor dari perusahaan tersebut yang akan menyeleksi para pelamar kerja.
Dalam waktu 10 menit, mereka diminta mengerjakan 15 soal. Dinda, Tini dan yang lain termasuk mba Erna bersiap-siap untuk mengerjakannya. Rasa gugup, deg-degan dan tegang yang dirasakan oleh Dinda membuat tangannya basah oleh keringat. Dengan doa di dalam hati, Dinda mulai mengerjakan soal tanpa merasa ada kesulitan.
Kini waktu 10 menit telah habis, satu per satu soal diambil kembali oleh Pak Supervisor. Dan langsung di cek dan di beri nilai. Masing-masing pelamar kerja melihat nilai yang di berikan oleh Pak Supervisor. Di sela-sela memperhatikan nilai yang di beri, salah satu personalia mengatakan bahwa mereka telah selesai untuk hari ini. Dan boleh pulang kembali, pengumuman tes hari ini adalah hari Rabu dua hari kemudian jam 9 pagi.
Para pelamar kerja pun akhirnya keluar satu persatu. Mereka langsung pergi meninggalkan pabrik tersebut termasuk Dinda dan Tini serta mba Erna. Dalam perjalanan pulang, mereka mengobrol kan tentang tes matematika yang bagi mereka sebenarnya sulit. Dengan 15 soal waktu 10 menit rata-rata hanya bisa mengerjakan 10 soal saja itupun tidak tahu jawabannya benar atau salah. Mereka hanya melihat Pak Supervisor memberi nilai yang nilainya tidak terlihat jelas bagi mereka.
Hanya doa yang akhirnya mereka panjatkan bahwa mereka bisa lulus dalam tes tertulis dan bisa lanjut untuk tes berikutnya. Dinda dan Tini merasa tidak tahu apakah lulus atau tidak. Mereka merasa jawaban soal tes tertulis yang dikerjakan tidak memuaskan. Saling mengobrol hingga sampailah mereka di pertigaan tugu bambu.
__ADS_1
Mereka berpisah, mba Erna langsung pulang ke kontrakannya dan Dinda serta Tini juga langsung pulang ke kontrakan mba Lilis. Hari yang mungkin melelahkan bagi mereka berdua. Malam pun tiba, Dinda dan Tini seperti biasa mengobrol dengan mba Lilis. Hari ini mba Lilis tidak lembur, jadi masih bersantai di depan televisi. Waktu sudah begitu malam, akhirnya mereka beristirahat.
Masih lanjut dengan kisah Dinda tunggu di episode berikutnya. Apakah Dinda berhasil lulus tes tertulis?. Simak terus ceritanya dan jangan lupa like, vote, dan komentarnya masih ditunggu. Terimakasih sudah membaca karyaku, tetap semangat dan sehat selalu untuk semuanya. 🙏🙏💪💪😊😊🌻🌻