
Teteh Dewi dan Indah sampai di depan kontrakan. Teteh Dewi membuka kunci pintu kontrakannya, kemudian masuk ke dalam. Indah mengikutinya dari belakang. Setelah menaruh barang belanjaannya, Teteh Dewi dan Indah keluar dari kontrakan dan tidak lupa mengunci pintu.
Mereka berdua berjalan ke arah kontrakan mas Nur. Terlihat tampak sepi, Indah mendekati sampai depan pintu kontrakan. Indah sempat ragu untuk mengetuk pintu atau tidak. Namun demi memastikannya, akhirnya Indah mengetuk pintu kontrakan.
Tok
Tok
Tok
"Assalamu'alaikum." Indah mengetuk pintu sambil mengucap salam.
"Indah, sepertinya sepi, mas Nur tidur apa keluar ya." Tanya Teteh Dewi setelah melihat kontrakan mas Nur terasa sepi.
"Assalamu'alaikum." Indah berucap salam lagi.
"Mungkin mas Nur tidur Teh, itu ada motornya di dalam kontrakan." Jawab Indah setelah menerawang melihat ke dalam kontrakan dari jendela kaca sesaat setelah mengucap salam.
"Coba ketuk pintunya agak keras dikit, biar suaranya kedengaran dari dalam." Teteh Dewi menyarankan.
"Iya Teh." Indah setuju.
Tok
Tok
Tok
"Assalamu'alaikum, mas Nur." Ucap salam Indah dengan suara agak keras setelah mengetuk pintu yang cukup keras juga.
Masih tidak terdengar ada jawaban salam dari dalam kontrakan. Beberapa kali Indah mengetuk pintu dan sambil mengucap salam, beberapa kali juga tidak ada sahutan. Teteh Dewi akhirnya melihat sekitar untuk memastikan mungkin mas Nur sedang main di tetangga kontrakan.
"Indah mungkin mas Nur tidak tidur, tidak di dalam kontrakan. Mungkin sedang keluar, barangkali main ke tetangga. Tapi kok terlihat sepi sih. Gimana kalau kita tanya saja, siapa tahu ada yang lihat." Teteh Dewi seperti yakin mas Nur tidak ada di kontrakannya.
"Iya Teh soalnya ga ada suara jawaban salam. Sepi nih kontrakan, cuma ada motornya doang. Nah itu ada Aa Amin, coba tanya ke Dia Teh." Indah sepertinya sudah yakin kalau mas Nur tidak ada di dalam kontrakan.
"Hayo lah kalau begitu, daripada nunggu lama." Sahut Teteh Dewi.
"Permisi Aa Amin." Ucap Teteh Dewi.
"Iya Teh Dewi." Jawab Aa Amin.
"Maaf, Aa Amin lihat mas Nur ga." Tanya Teteh Dewi langsung.
"O mas Nur, tadi pulang, terus keluar lagi. Dia pulang cuma taruh motor saja Teh. Pas aku tanya, tadi sih bilangnya mau makan." Jawab As Amin.
"O gitu ya A, ya sudah A hatur nuhun." Ucap Teteh Dewi dengan logat sundanya.
"Gimana Indah mas Nur ga ada, katanya mau makan." Terang Teteh Dewi.
"Ya sudah Teh, hayo langsung ke warung mie ayam bakso depan. Aku tadi lihat dia masuk ke warung tersebut. Kalaupun ada mas Nur di situ ya berarti aku beruntung. Kalau ga ada mau gimana lagi ga tahu dia ke mana. Daripada ga ngapa-ngapain, tinggal duduk makan bakso sekalian saja di situ." Indah langsung mengajak Teteh Dewi ke warung mie ayam bakso bukan hanya untuk mastikan, tetapi makan bakso juga.
"Ya sudah hayo atuh." Jawab Teteh Dewi singkat.
Mereka berdua berjalan menuju warung mie ayam bakso di seberang gang kontrakan. Indah benar-benar merasa penasaran bahwa orang yang di lihatnya itu beneran mas Nur. Indah bukan orang yang menderita rabun dekat atau rabun jauh. Matanya masih normal untuk melihat objek dengan jarak sekitar kurang lebih 7 meter.
Setelah menyeberang jalan dan mulai masuk ke dalam warung mie ayam bakso, tatapan Indah langsung menuju ke dalam warung. Matanya mencari sesosok orang yang dilihatnya dan di yakini dia adalah mas Nur. Sedangkan Teteh Dewi langsung memesan dua mangkok bakso komplit dan dua gelas es teh manis.
Ketika matanya menangkap seseorang yang tadi di lihatnya sebagai mas Nur, dan ternyata itu adalah Dia, Indah langsung menghampirinya. Indah meninggalkan Teteh Dewi yang sedang memesan makanan dan minuman.
"Mas Nur, lagi makan mie ayam bakso di sini. Kebetulan Aku juga mau makan bakso sama Teh Dewi. Bisa geser ga mba, Aku mau duduk di sini sebelah mas Nur."
*
**
Setelah Tini dan Dinda bergeser duduk beserta mangkok dan gelas minumnya, mas Nur melihat mereka seakan ingin bicara kalau kalian jangan geser. Namun terlambat hal itu sudah terjadi.
"Mas Nur geser juga dong, biar Aku duduk di samping mas Nur dan Teh Dewi sebelah Aku. Muat kok mas, biar bisa makan bareng." Ucap Indah memaksa mas Nur ikutan bergeser.
Dengan menghela napas setelah menelan mie ayam baksonya, kemudian minum es teh manisnya, mas Nur akhirnya ikutan bergeser juga. Sambil memegang mangkok, kemudian mengambil gelas minumnya, mas Nur lanjut makan tanpa menghiraukan Indah.
__ADS_1
"Sepertinya Aku pernah lihat mba deh, oo mba yang tinggal di kontrakan mba Lilis kan." Tanya Indah memastikan setelah tahu di samping mas Nur adalah Dinda dan Tini.
"Iya mba eh Teh, kami yang ngontrak bareng mba Lilis." Jawab Tini agak canggung.
Dinda hanya diam dan makan menikmati makanannya tanpa menghiraukan kehadiran Indah. Meskipun dalam hati berbicara.
"Kenapa bisa pas begini sih. Aduuuuhh, makan enak jadi ga berasa enak nih. Kenapa ketemu dia di sini, seperti sudah di atur. Ya Allah tolong hamba dalam situasi ga enak gini." Ucap Dinda dalam hati sambil berdo'a.
Setelah mas Nur bergeser duduk, dan Indah bertanya memastikan itu Dinda dan Tini karena melihatnya, Indah akhirnya duduk di sebelah mas Nur. Teteh Dewi duduk menyusul setelah memesan makanan dan minuman.
"Ini mba, pesanannya. Dua mangkok bakso komplit dan dua gelas es teh manis." Ucap pelayan warung kepada Teteh Dewi sambil menaruh pesanannya tersebut.
"Maaf mas, Teteh bukan mba." Indah menyebut dengan agak ketus.
"O maaf Teh bukan mba." Jawab pelayan warung tadi masih sambil dengan menaruh pesanan.
"Teteh mas, bukan Teh." Lagi Indah bicara dengan agak ketus.
"Iya Teteh bukan teh." Jawab mas pelayan tadi karena masih di jawab oleh Indah mungkin karena salah.
"Sudah Indah, nih pesanannya." Teteh Dewi menghentikan perdebatan yang tidak jelas.
"Ughuk ughuk ughuk." Suara batuk Dinda yang tersedak makan bakso.
"Minum Din, pelan-pelan, emang mau kemana sih makan cepet amat." Ucap mas Nur sambil menyodorkan minuman Dinda karena tersedak.
"Haa haa haa, Teh ini Teh, tapi yang ini manis, dan sejuk lagi. Kalau yang di situ ga manis, panas, dan asem." Tini tertawa setelah menelan makanannya takut tersedak seperti Dinda kemudian minum es teh manisnya.
Mas Nur tersenyum mendengar kata-kata Tini yang ditujukan untuk Indah. Sebenarnya ingin tertawa seperti Tini, tapi ga enak sama Dinda di kiranya nanti ikutan meledek Indah yang sudah membuat Dinda tersedak. Padahal Dinda sendiri tersedak karena ga bisa menahan tertawa karena kata-kata mas pelayan warung tadi. Sama halnya dengan Tini, namun ia balas dengan candaan.
"Terimakasih mas." Ucap Teteh Dewi sesaat sebelum pelayan pergi.
Teteh Dewi memberikan mangkok dan gelas ke Indah. Mereka berlima duduk beriringan dalam satu bangku penuh menghadap meja yang menempel tembok. Terlihat mungkin sekilas aneh di mata pengunjung warung mie ayam bakso lainnya. Karena dari belakang terlihat sebelah kiri dua perempuan, di tengah-tengah satu laki-laki, dan di sebelah kanan dua perempuan.
Sampai sepasang suami istri yang sedang makan bakso memperhatikan kejadian dari mulai mas Nur datang. Bukannya sengaja, tapi karena kursi mereka di belakangnya menghadap ke arah mereka berlima. Secara tidak langsung mereka tahu kejadian dari saat mas Nur datang di susul kemudian Indah dan Teteh Dewi.
"Senangnya dalam hati, kalau beristri empat. Makannya di temani, kanan dan kiri." Suara suami yang sedang duduk menunggu istrinya yang sedang makan bakso belum selesai dengan nada lagu penyanyi dewa sembilan belas.
Mas Nur yang mendengar suara yang bernada seperti lagu punya band pentolan Indonesia, langsung menengok ke belakang. Di lihatnya sepasang suami istri tersebut, mas Nur hanya tersenyum kecil. Mas Nur merasa suaminya mendapat hadiah dari sang istri karena meledek seorang pria yang sedang kasihan. Kasihan karena harusnya makan enak malah jadi ga enak.
Situasi amat sangat canggung sekali, apalagi setelah Indah melihat sedikit perhatian dari mas Nur kepada Dinda. Pada saat Dinda tersedak, dan mas Nur memberikan gelas minumannya, Indah mulai menunjukkan gelagat yang tidak nyaman.
Dinda minum teh manis yang sudah adem. Masih dengan mengatur nafas dan sambil menenangkan perasaan yang tidak karuan, Dinda kembali lagi ingin tertawa mendengar suami istri di belakang tempat duduknya.
"Sakit yaaangg." Ucap sang suami sambil mengelus elus pahanya yang habis di cubit oleh istrinya.
"Lagian ngapa nyanyi begitu, istri satu aja masih begini, malah nyanyi senang punya istri empat." Dengan nada kesal sang istri menyahut.
"Ga yaang, bukan gitu, sumpah yaaanngg mana ada pikiran begitu. Udah yaaanggg jangan marah ya, sakit nih yaaannggg." Ucap sang suami melihat sang istri masih dengan mode marahnya.
"Beneran ya, awas lu. Jangan coba-coba mikir punya istri empat, mikir punya istri dua aja, gue potong burung lu bang." Geram sang istri dengan tingkah suaminya.
"Kaga yaaangg beneran deh, cuma neng doang yang ada dalam hati abang, sumpah neng." Ucap sang suami sambil memegang tangan sang istri.
Sang istri yang masih mode marah mulai tenang dan melanjutkan makan baksonya. Mendengar hal tersebut, mas Nur sedari tadi senyum-senyum sambil menikmati makanannya.
Indah yang merasa dirinya tidak dihiraukan oleh mas Nur mulai mencari alasan agar mendapat perhatiannya. Memperhatikan mas Nur tanpa ada timbal balik. Malah mas Nur memperhatikan Dinda. Rasa cemburu merasuki hati Indah. Dia Tidak rela kalau mas Nur sampai jatuh cinta kepada Indah.
"Aduh maaf mas tumpah." Indah dengan sengaja menyenggol mangkok kecil berisi sambal agar tumpah di depan tangan mas Nur.
Mendadak mas Nur melihat tumpahan sambal dari mangkok. Kemudian dia melihat Indah yang sibuk mengelap tumpahan sambal dengan tisu. Mas Nur tahu kalau itu bentuk dari cara Indah untuk diperhatikan olehnya.
"Maaf mas aku ga sengaja, mau ambil botol caos malah nyenggol mangkok sambal. Tangan mas Nur kena sambal ga, sini aku bersihin sekalian." Indah beralasan untuk mendapatkan perhatian mas Nur.
"Ga ko Indah, tanganku ga kena tumpahan sambal. Awas, bersihin tumpahan sambal jangan seperti itu, nanti tanganmu berasa panas karena sambal." Jawab Mas Nur sambil memberikan tisu yang agak banyak ke Indah lalu membantu membersihkan tumpahan sambal.
Untungnya sambalnya tinggal sedikit, jadi mas Nur hanya mengelap sisa-sisa sambal di depannya. Indah yang tadinya mau memegang tangan mas Nur ga jadi karena tidak terkena tumpahan sambal. Sementara itu, Dinda dan Tini sudah menghabiskan semangkok mie ayam dengan tambahan topingnya. Gelas yang berisi teh manis juga tinggal sisa sedikit.
"Tin sudah habis, pulang yuk." Ucap Dinda berbisik.
"Bentar apa Din, itu mas Nur sedang lap meja yang kena tumpahan sambal." Jawab Tini dengan berbisik juga.
__ADS_1
"Apa hubungannya." Tanya Dinda heran.
"Ada lah hubungannya, lha dia kan yang mau bayarin makanan kita." Jawab Tini dengan senang, karena ga jadi bayar mie ayam sendiri.
"Ya sudah kamu ngomong ke mas Nur sekarang, ga enak tuh ada mantan pacarnya." Suruh Dinda.
"Kamu dong yang ngomong gantian. Aku tadi ngomong minta di traktir, sekarang kamu yang ngomong minta mas Nur bayar." Ucap Tini berbalik suruh.
"Kok gitu, kamu yang ngomong traktir kamu juga dong yang ngomong bayar." Ucap Dinda enggan ngomong ke mas Nur.
"Kamu mau cepet pulang, ya sudah kamu yang ngomong, orangnya kan di sebelah kamu." Ancam Tini sambil matanya melirik lirik ke orang yang berada di sebelah Dinda.
Dinda ingin segera pulang setelah menghabiskan semangkok mie ayam dan segelas teh manis. Tapi Dinda enggan ngomong sama mas Nur.
"Kenapa Din dari tadi bisik-bisik sama Tini." Tanya mas Nur yang sedikit mendengar pembicaraan Dinda dan Tini meskipun tidak jelas.
"Mau nambah mie ayamnya atau mau makan bakso, apa mau bungkus buat di kontrakan. Ga apa-apa Din, biar sekalian ga usah malu-malu." Tanya mas Nur menawarkan.
"Siapa yang mau nambah, mau pulang iya." Jawab Dinda sedikit kesal karena menahan gejolak perasaannya sedari tadi yang tidak enak yang membuat tubuhnya tidak nyaman juga dan akhirnya keceplosan juga.
Tini tertawa kecil mendengar jawaban Dinda atas pertanyaan mas Nur. Sungguh kalau Tini berada di posisi Dinda mungkin dia akan langsung pulang. Daripada menahan perasaan yang tidak enak hingga membuatnya tidak nyaman makan. Dan akhirnya makanan yang seharusnya dinikmati dengan nyamannya dan enaknya berganti menjadi makan tak nyaman dan tidak enak.
"O mau pulang, sudah kenyang." Tanya mas Nur bercanda.
"Bukan kenyang makan, tapi kenyang perasaan." Jawab Tini menyambar.
"Apaan sih Tin." Ucap Dinda kesal sambil menyenggol lengan Tini.
"Mas Nur aku ga di tawarin, biasanya mas Nur nawarin aku. Kadang juga mas Nur belum nawarin, sudah minta di bungkus. Karena mas Nur tahu yang di bungkus buat makan nanti sore sekalian. Jadi ga usah keluar lagi beli makanan." Ucap Indah seketika tidak mau ketinggalan obrolan mereka bertiga.
Mas Nur merasa ga enak dengan Dinda mendengar ucapan Indah barusan. Ucapan Indah seakan mengingatkan kejadian yang lalu saat mereka masih berpacaran dulu. Mas Nur hanya melirik Indah tanpa berbicara sedikitpun.
"Mas Nur kok diam, mas Nur ga mau bungkus buat makan nanti sore sekalian." Tanya Indah seakan memaksa mas Nur untuk ngobrol dengannya.
"Indah, bisa tidak untuk tidak mengungkit hal-hal menyangkut kita dulu. Ini di warung ga enak sama yang lain." Jawab mas Nur yang akhirnya mau ngobrol juga.
"Kenapa, emang aku salah cuma ngomong gitu doang. Lagian ga enak sama siapa?. Ga enak sama sebelahnya mas Nur." Ucap Indah yang sudah tidak bisa menahan rasa cemburunya terhadap Dinda.
"Kok kita jadi di bawa-bawa sih. Maaf ya neng urusan rumah tangga tolong ya di bicarakan di rumah jangan di warung nanti banyak gosip." Ucap Tini yang mulai tidak bisa lagi menahan rasa kesalnya dengan sikap Indah sejak datang.
"Sudah Tin, jangan ikutan ga enak sama yang punya warung." Dinda mengingatkan.
Tini bangun dari duduknya dan langsung mengajak Dinda dengan kode anggukan kepala untuk ikut bangun juga. Mereka berdua berdiri siap-siap untuk pulang.
"Mas Nur kita pulang duluan ya." Ucap Tini permisi.
"Mas dua mie ayam ceker, tapi satunya tambah bakso. Minumnya es teh manis satu sama teh manis hangat satu, berapa mas semuanya." Ucap Tini setelah pamitan sama mas Nur dan berpapasan dengan bapak pemilik warung.
"Semuanya jadi 23 ribu mba." Jawab bapak pemilik warung setelah menghitung pesanan Dinda dan Tini.
"Pak Saya sekalian, satu mie ayam bakso sama es teh manis berapa." Mas Nur langsung menyela setelah bapak warung menjawab berapa harga makanan Dinda dan Tini.
"Jadi 13 ribu mas." Jawab bapa pemilik warung.
"Ini pak sekalian sama mba ini." Mas Nur mengeluarkan uang 50 ribuan dan memberikannya ke pemilik warung.
"Mas jangan bayarin, aku mau bayar sendiri." Ucap Tini pura-pura mau ambil duit di dalam tasnya.
"Ga apa-apa Tin kan tadi mas sudah bilang mau traktir." Jawab mas Nur menjelaskan.
Hati Tini senang karena mas Nur ngomong sendiri, di depan Indah. Tini merasa berhasil menambah rasa penyakit cemburunya Indah terhadap Dinda.
"Pak punya kami juga di hitung sekalian biar di bayar juga sama mas Nur." Ucap Indah tiba-tiba ke bapak pemilik warung.
"Lho mba, ini kembaliannya kalau buat bayar punya mba berdua ya kurang." Jawab bapak pemilik warung ketika hendak memberikan uang kembalian kepada mas Nur.
"Maaf pak, mereka bayar sendiri. Uang Saya kurang, ga cukup. Terimakasih ya pak." Jawab mas Nur langsung sambil menerima uang kembalian.
Indah yang mendengar hal tersebut seketika marah dan malu. Namun dia memendamnya dalam hati. Di tambah rasa cemburu yang semakin menjadi karena perlakuan mas Nur tadi, membuat Indah semakin tidak terima.
Bersambung,,,,,,,,,,
__ADS_1