
Dinda dan Tini berjalan ke arah kontrakan mas Heru. Di ketuknya pintu kontrakan mas Heru sambil mengucap salam.
"Assalamu'alaikum." Ucap salam Dinda dan Tini bersamaan.
"Wa'alaikumussalam, bentar." Jawab mas Heru.
Tidak lama kemudian pintu dibuka oleh mas Heru. Mas Heru tersenyum ketika melihat Dinda yang berada di depan pintu setelah di bukanya. Senyum yang membuat Dinda selalu ingin melihatnya. Namun senyum itu pula yang membuat Dinda takut adanya perempuan lain selain dirinya.
"Ciee bengong lihat senyum mas Heru tamfan. Masuk sana buruan, entar keburu malam." Ucap Tini membuyarkan lamunan Dinda melihat senyum mas Heru.
"Dinda, Tini, masuk saja kenapa masih di depan pintu. Ada apaan tumben berdua datang, biasanya sendiri." Ucap mas Heru meledek Dinda.
"Iya mas, ini nih Dinda minta ditemenin. katanya mau ngomong, tapi ga enak berdua terus takut." Ucap Tini sembari masuk kontrakan mas Heru di susul Dinda.
"Ga juga sih mas, cuma ini kan habis isya, ga enak sama tetangga. Takut juga, takut ada yang fitnah heehee, entar di katain Aku deketin mas Heru terus." Ucap Dinda beralasan sambil duduk di sebelah Tini.
"Ooo, bukan takut sama mas kan?. Ucap mas Heru ledek.
"Takut sama mas Heru juga tuh, takut di gigit." Jawab Tini nyamber sambil cengengesan.
"Gigit emangnya mas dogi. Tumben nih mau ngomong apaan?." Lanjut mas Heru.
"Din, ngomong, kok diam. Entar Aku tinggal nih." Ucap Tini menyuruh Dinda.
"Iya, ini mau ngomong. Gini mas, Aku sama Tini sudah habis kontrak. Rencananya besok mau pulang kampung. Yaa mau ketemu orang tua sekalian nyari kerja lewat BKK lagi." Jelas Dinda berucap.
"Kok mendadak, langsung nih. Ga nunggu besok Minggu. Kalau ga nyari-nyari dulu di sini Din. Siapa tahu ada lowongan kerja." Ucap mas Heru kaget.
"Lebih cepat lebih baik mas, biar ga kelamaan jadi pengangguran. Mau minta restu eh doa juga mas maksudnya." Ucap Tini melanjutkan.
"Begini mas, kontrakan kan harus tetap bayar. Biaya hidup juga terus berjalan. Sedangkan kita menganggur jadi untuk berhemat sementara kita langsung pulang dulu. Kalau di sini sih kemaren-kemaren sudah cari info. Dan ternyata kebanyakan lowongan kerja lewat yayasan. Kalaupun bisa masuk yaaa nunggu ada panggilan." Jawab Dinda memberi alasan yang sebenarnya ingin menghindar dulu dari mas Heru.
"Oo, ya sudah kalau begitu. Terus kapan ke sini lagi Din?." Tanya mas Heru.
"Berangkat saja belum sudah nanya kapan ke sini. Ga mau di tinggal yaaaa. Belum pisah sudah kangen ciee cieee." Ucap Tini meledek mas Heru.
Mas Heru senyum-senyum di ledek Tini. Terlihat jelas dari tatapan matanya ke Dinda. Dinda yang di tatap merasa malu juga, namun kesal mengingat mas Heru tidak mengatakan siapa perempuan yang waktu itu di boncengnya.
"Bisa saja sih Tin becandanya, suka bener deh. Kalau bisa jangan lama-lama di kampung Din. Entar kalau kamu kangen mas gimana?." Ucap mas Heru ikutan meledek tapi ini yang di ledek Dinda.
"Apaan sih mas Heru. Ke sininya ga tahu kapan?, mungkin sebelum kontrakan habis. Kalaupun habis yaa tolong talangin dulu ya mas heehee, biar kalau Aku ke sini masih punya tempat buat tinggal." Jawab Dinda asal sampai ke bayar kontrakan segala karena bingung mau jawab gimana.
"Cakep itu Din, Aku yang kaya gini senang. Tolong ya mas nitip kontrakan. Kalau bisa bayarin dulu lah satu bulan ke depan. Mas Heru kan lembur terus tuh, gajinya pasti banyak kan. Nah bayarin lah buat kita eh buat Dinda heehee." Jawab Tini ikutan minta di bayarin kontrakannya.
__ADS_1
"Hemmmm, ujungnya minta di traktir. Kalau traktir makan sama minum sih masih bisa lah. Lhaaa ini traktir bayar kontrakan, yang benar saja Din, Tin, tega banget ya." Ucap mas Heru yang merasa di palak oleh Dinda dan Tini.
"Kan sebulan ke depan doang mas, biar kalau Dinda ke sini ada tempat tidur." Rayu Tini ke mas Heru.
"Kalau gitu sih tinggal di sini saja, kontrakan mas mau?. Tak kasih gratis, yang bayar mas, tak jamin seratus persen." Ucap mas Heru sekalian.
"Ini sama saja bohong mas, Enak di mas Heru ga enak di kita eh di Aku. Mas Heru enak tiap hari ketemu Dinda berdua, lha Aku ga ada temennya mas, masa ketemunya nyamuk sama lalat." Ucap Tini mulai ngobrol ga tau ke mana arahnya.
"Tadi minta di bayarin sebulan ke depan. Sudah dibayarin ga mau gimana sih Din teman kamu?." Ucap mas Heru seneng berhasil meledek Tini.
"Mas Heru yang baik, jadi kontrakan yang minta dibayarin itu yang sebelah itu mas, bukan yang ini. Ini sih kontrakannya mas Heru bukan kontrakannya kita ya ga Tin." Mulai Dinda kesal mau ngomong serius jadi merembet ke mana-mana.
"Kan yang penting di bayarin Din heehee." Ucap mas Heru senang akhirnya bisa melihat Dinda yang mulai kesal karena candaannya.
"Tau ahh, maaf Din, lama-lama kesel sama mas Heru. Aku tinggal dulu ya, permisi mas, Din. Mendingan berdua tuh ngobrol serius, mau mesra, mau bercanda, mau marahan terserah yaaaa, Aku ga mau ikutan." Ucap Tini lalu keluar dari kontrakan mas Heru meninggalkan mas Heru dan Dinda berdua.
"Ya sudah mas, Aku juga ikutan pulang ya." Ucap Dinda lanjut.
"Tunggu Din, Aku mau ngobrol sama kamu. Bisa ga di sini dulu, Aku kangen."Ucap mas Heru pelan.
Seketika Dinda terdiam dan tertunduk malu. Meskipun kesal, tak dapat di pungkiri dia juga sebenarnya kangen kepada mas Heru. Kangen dengan obrolannya, kangen dengan tatapannya, dan senyumnya yang membuat Dinda lupa segalanya jika sudah berdua.
"Kamu ga kangen sama mas Din?." Tanyanya pelan.
Ingin sekali mas Heru menjelaskan semuanya kepada Dinda, namun mas Heru takut Dinda akan salah paham terhadapnya. Satu-satunya jalan yang terpikirkan adalah membawa Dinda ke acara syukuran nikahan Ayu dan Wawan.
Namun sepertinya rencana tersebut akan gagal di karenakan Dinda akan pulang kampung dan mungkin tidak bisa hadir pada saat acara syukuran nikahan Ayu dan Wawan.
"Mas, aku takut dan malu."Ucap Dinda dengan wajah yang bersemu merah.
"Takut dan malu karena apa Din?." Tanya mas Heru mencoba mengobrol dari hati ke hati.
"Takut karena di sini cuma berdua, sudah jam 8 lewat. Takut di lihat tetangga dan bapak atau ibu kontrakan. Malu karena dilihatin terus sama mas." Ucap Dinda mulai berbicara yang sebenarnya bukan itu juga yang ingin dibicarakan.
"Din, Din, mereka semua sudah tahu kalau mas sama kamu punya hubungan, kita sudah pacaran. Bapak dan ibu kontrakan juga sudah tahu. Lagian mas kan ga ngapa-ngapain, cuma duduk lihatin kamu dan cuma ini pegang tangan kamu. Terus nih mas di sini ngontrak sudah lama, sudah hampir empat tahun Din. Bapak sama ibu kontrakan sudah seperti orangtua mas sendiri. Kamu ngerti, terus kenapa takut dan malu?, apa sebenarnya mau ngomong yang lain tapi yang diomongin yang keluar kata-kata tadi barusan?." Tutur mas Heru menjelaskan.
"Mmmm, sebenarnya itu mas, mau tanya mas punya pacar lain selain Dinda." Dengan penuh keragu-raguan dan keberanian serta ada rasa kecewa akhirnya Dinda bertanya.
"Sebelum Dinda pulang kampung, Dinda ingin penjelasan dari mas. Tentang cewek yang waktu itu Dinda lihat, yang dibonceng sama mas. Ada yang bilang itu cewek baru mas Heru. Sebenarnya Dinda ga percaya, tapi Dinda takut kalau itu benar. Dinda,..." Ucap Dinda lirih mencurahkan pertanyaan yang ada selama ini dalam hatinya yang membuatnya ragu kepada mas Heru.
Mencoba menahan air matanya yang terbendung agar tidak jatuh. Teringat akan rasa kecewanya dulu terhadap mas Nur. Masih dengan kesadarannya menahan rasa emosi, Dinda berusaha tetap tenang dan sabar akan rasa kecewa tersebut.
"Din, percaya sama mas. Di hati mas cuma ada kamu Din. Mas ingin mengatakan semuanya, mas ingin cerita, tapi mas tidak ingin membuat kamu salah paham." Jelas mas Heru.
__ADS_1
Dinda terdiam mendengar kata-kata mas Heru yang membuat hatinya sakit entah karena apa. Dinda sendiri tidak mengerti perasaannya saat ini. Ingin percaya tapi sulit, tapi jika tidak percaya hatinya masih sayang dan cinta dengan mas Heru.
"Kamu berangkat ke sini kapan Din?. " Tanya mas Heru lanjut.
"Entahlah mas, mungkin sebelum bayar kontrakan. Kenapa?." Tanya Dinda balik.
"Kalau kamu mau tahu dia siapa, bisa tidak berangkat ke sini sebelum akhir bulan?." Pinta mas Heru.
"Aku ga bisa jawab mas, karena Aku ga tahu nanti di kampung ada lowongan kerja atau gimana?. Memangnya mas ga bisa cerita sekarang?."
"Din, ga bisa, tapi yang jelas, mas minta, tolong percaya sama mas. Yakin sama mas, mas ingin cerita sekaligus memberi bukti bukan sekedar cerita dia siapa." Ucap mas Heru sambil memegang tangan Dinda dengan lembut dan tatapannya yang terlihat jelas kejujurannya.
Dinda menatap mas Heru dengan yakin. Terlihat jelas tatapan matanya menunjukkan kejujuran karena tidak ada keraguan di setiap kata-katanya.
"Begini saja, kamu pulang sama mas malam Minggu ya naik motor. Mas antar, sekalian mas mau minta izin sama orang tua kamu. Biar kamu percaya mas itu serius sama kamu dan ga ada cewek lain." Ucap mas Heru langsung.
"Lho kok malah mas yang mau anterin pulang. Aku pulang besok mas sama Tini. Memangnya mas ga kerja?. Terus mas mau izin ke orangtua Aku izin apa mas?." Tanya Dinda malah bingung.
"Yaaa mas bisa cuti atau izin ga masuk kerja. Kalau kamu mau mas anterin pulang tapi naik motor. Sekalian mas izin mau lamar kamu mau mas jadiin calon istri, atau sekalian nikah saja mau?." Ucap mas Heru tentang tujuannya.
"Mas Heru apaan, kita baru berapa bulan mas pacaran. Emangnya mas sudah yakin mau nikah sama Aku. Umur Aku belum genap 20 tahun mas. Terus orang tuaku ga tahu Aku pacaran, kalau tiba-tiba minta nikah pasti nanti di kira ada apa-apa atau sudah hamil duluan, ga mau." Jawab Dinda langsung tanpa jeda.
"Jadi ga mau nih nikah sama mas?. Oke kalau begitu mas nikah sama yang lain saja ya?." Ucap mas Heru yang sebenarnya cuma menakut-nakuti.
"Ya sudah sana kalau mau nikah sama yang lain. Berarti mas sudah ga cinta dan sayang sama Aku." Pecah sudah air mata yang sedari tadi di tahan entah karena apa. Yang jelas rasa kecewanya sudah tak bisa di bendung lagi. Entah karena teringat mas Nur atau ucapan mas Heru barusan. Dinda meluapkan rasa kesalnya dengan tangisan.
"Jangan nangis Din, sudah malam, ga enak sama tetangga. Entar di kira mas ngapa-ngapain kamu lagi. Sudah, ssssstttttt, jangan nangis. Tuh kan cantiknya jadi hilang, nih muka sudah cantik kehapus cantiknya sama air mata yang asin." Ucap mas Heru berusaha menenangkan meskipun bingung karena apa.
"Din, mas itu maunya nikah sama kamu. Tapi tadi kamu di ajak nikah ga mau. Terus gimana coba. Sekarang nangis, kenapa?, jangan buat mas bingung Din?." Ucap mas Heru bingung sendiri.
"Mas, maaf, tapi Aku belum siap. Aku belum bilang sama ibu dan bapak. Dan, ....." Dinda bingung ingin melanjutkan jawabannya sendiri.
"Aku mengerti Din. Sudahlah, maaf Aku terlalu mendadak. Tidak seharusnya Aku memaksamu, apalagi mengenai pernikahan. Sudah malam, sudah jam 9 lewat. Pulanglah, besok berangkat pulang ke kampung kan. Aku juga sudah lelah dan ngantuk. Aku mau tidur, makasih sudah memberitahuku. Oh iya besok Aku sudah berangkat habis subuh. Jadi besok ga usah pamitan lagi." Ucap mas Heru tidak mau memaksa.
"Iya mas, maaf, Aku pulang." Ucap Dinda langsung keluar dari kontrakan mas Heru tanpa melihat wajahnya.
Mas Heru menutup pintu kontrakan dan menguncinya setelah memasukkan sepeda motornya.
Dinda yang mengetahui pintu di tutup sebelum dirinya masuk kontrakan membuatnya terkadang kesal, dan bingung akan sikapnya dan sikap mas Heru.
Bagaimana selanjutnya simak terus di episode berikutnya.
Bersambung lagiiii......
__ADS_1