
Sejak pulang dari kontrakan mba Lilis, Dinda hanya diam. Tini yang melihatnya hanya membiarkannya saja tanpa bertanya. Seandainya Tini berada di posisi Dinda mungkin ini akan sulit rasanya.
Baru pertama kali mengenal sosok pria dalam hidupnya selain ayahnya, ia harus merasakan sakit terlebih dahulu sebelum merasakan indahnya rasa itu. Yah rasa cinta yang pertama kali Dinda rasakan.
Mengingat cerita mba Lilis, membuat Tini seakan tak percaya. Bagaimana bisa mas Nur bisa seperti itu. Orang yang terlihat baik dan alim nyatanya tak bisa membendung hasrat kelakilakiannya.
Seperti pepatah kucing di kasih ikan ya di makan mungkin itu perumpamaannya. Bila tak kuat iman maka akan hancurlah.
*
**
"Din, sebenarnya mba mau tanya. Maaf kalau boleh tahu, sebenarnya mas Nur sudah mengatakan cinta belum. Lalu kamu, bagaimana perasaanmu pada mas Nur. Jika kamu jawab jujur, maka mba akan jujur bagaimana mas Nur sekarang." Tanya mba Lilis seakan mengintrogasi penjahat.
"Glek." Dinda menekan ludah.
"Apa maksudnya mba?." Tanya Dinda sebelum menjawab.
"Ya kamu jujur dulu baru mba akan ngomong." Tutur mba Lilis.
"Sebenarnya mas Nur sudah bilang mba, waktu Dinda mau pulang kampung. Tapi Dinda belum menjawabnya sampai sekarang. Dan tadinya sejak pertama Dinda lihat mas Nur sudah mulai suka, sampai rasa itu ada dan itu jelas terasa ketika di kampung."Jawab Dinda jujur.
"Terus sekarang gimana?." Tanya Tini penasaran memotong Dinda bicara.
"Setelah kejadian waktu itu, Dinda sih sudah ingin tepis rasa itu mba, karena sakitnya bikin dada sesak." Ungkap Dinda tentang perasaannya.
"Kejadian apa dan kapan?." Tanya mba Lilis tidak mengerti.
"Bulan kemarennya, waktu itu kita cari kontrakan di dekat kontrakannya mba Erna. Ga sengaja ketemu mas Nur. Terus kita janjian makan bakso di depan. Tahunya ketemu sama Teteh Indah dan dia marah-marah. Aku malu mba, terus lihat mas Nur juga. Yaaa kecewa lah, sudah cuma itu saja mba." Jelas Dinda.
"Ya mba, bikin malu tuh si Teh Indah. Mana di pinggir jalan narik mas Nur sambil nangis lagi, iiiiihhhhh kaya ga ada cowo lain." Ucap Tini kesal mengingat kejadian waktu itu.
"Berarti kalian sempat ke warung bongkok eh warung mie ayam bakso depan. Kenapa ga mampir ke sini." Kesal mba Lilis.
"Ga sempat mba, udah keburu malu, mau pulang juga sudah siang." Jawab Tini langsung.
"Berarti kamu dan mas Nur belum sempat jadian kan Din?." Tanya mba Lilis memastikan.
"Belum mba, tapi untungnya belum sih. Jadi Aku ga merasa bersalah sama Teh Indah." Ucap Dinda.
"Eh tapi syukur lho Din, belum. Soalnya mas Nur balikan lagi sama Indah. Bahkan mau nikah. Parahnya lagi ada yang lihat mereka pelukan sama ciuman." Terang mba Lilis.
"Hah." Ucap Dinda dan Tini bersamaan.
"Masa sih mba, beneran?." Tanya Tini seakan tak percaya.
"Sekarang gini deh berdua di kontrakan, lama ngapain coba?. Dah gitu yang lihat tetangga depannya pas pulang kerja, pas pintu kontrakan mas Nur terbuka pas lihat mas Nur pelukan sambil ciuman." Ungkap mba Lilis jelas tanpa jeda.
"Waaahhh, ternyata diam-diam menghanyutkan." Ucap Tini sambil geleng-geleng kepala tak percaya.
"Tadinya mba saja ga percaya Tin, tapi lihat Indah kok berasa ada yang aneh. Seperti dia itu agak gemukan." Tuturmba Lilis lanjut.
"Yaa mungkin karena makannya banyak mba jadi gemuk." Ucap Dinda asal.
"Udah ahh jangan gosip. Lagian itu urusan mas Nur. Paling tidak Dinda kamu aman ga jadi perebut cowo orang." Ucap Tini senang.
*
**
__ADS_1
"Din, kamu ga apa-apa kan." Tanya Tini agak khawatir.
"Ga kok Tin, sekarang sudah lega. Apa yang ada di pikiranku semuanya sudah Aku ungkapkan sama mas Nur. Toh sekarang dia memilih Indah pilihan dari awal. Dia harus bertanggung jawab atas sikapnya pada Indah dan orangtuanya." Ucap Dinda tulus.
"Syukurlah kalau begitu. Eh tapi ngomong-ngomong kamu cepet lupa sama mas Nur apa resepnya. Maksudnya perasaan gitu heehee." Tanya Tini yang entahlah.
"Resepnya gampang, tinggal kerja, pikirin kerjaan. Beresin kontrakan, sama main time zone heeehee." Jawab Dinda sekenanya.
"Sialan kamu Din, aku kira karena ada gantinya. Itu tuh si cowo sebelah yang suka curi-curi pandang ke kamu." Ucap Tini meledek.
"Ngaco kamu Tin, eh mana ada ya masih sakit belum jadian sudah putus duluan. Sekarang sudah nempel cowo lain, hatiku terbuat dari apa coba. Mudah banget nrima orang baru, heran deh ahh." Dinda mulai kesal di ledek Tini.
"Kali gara-gara dia sakit hati kamu hilang Din. Lumayan kan, setidaknya dia ga diam-diam menghanyutkan seperti mas Nur." Ungkap Tini.
"Eits, kan ga tahu, kita baru kenal lho Tin. Mba Lilis saja yang lama tetanggaan sama mas Nur bisa tertipu weee." Terang Dinda.
"Iya ya." Tini dengan tampang bodohnya.
"Nah makanya jangan nilai orang dari luarnya, belum tentu sama kan." Ucap Dinda mengingatkan.
"Au ahh, cape, ngantuk, mau tidur. Besok berangkat pagi, belum gosok seragam Din." Tini mulai ngantuk sambil mata mulai terpejam.
"Iya Aku gosokin sekalian bajunya."Jawab Dinda sambil menyiapkan alas gosokan dan juga setrika.
Dinda sebenarnya juga sudah ngantuk, tetapi pikirannya enggan di ajak tidur. Meskipun mata mulai sayup-sayup sambil tangan menggosok baju seragam kerja, Dinda masih berpikir.
"Apakah mas Nur dan Indah sudah melakukannya sebelum nikah." Pikiran Dinda melayang ke arah sana.
"Aahh ga mungkin, masa iya mas Nur bisa seperti itu." Lanjut dengan pikirannya.
"Astaghfirullahal'adzim, Ya Allah kok Aku jadi mikirin mas Nur sih. Biarin lah itu urusan mereka, urusan dengan Aku yang penting sudah selesai." Ucap Dinda dalam pikirannya.
Jam menunjukkan pukul 11 malam lewat sedikit. Harusnya Dinda sudah tertidur, tetapi dia tidak bisa memejamkan matanya. Karena merasa perutnya lapar, Dinda ke belakang dan merebus mie goreng kesukaannya.
"Tok."
"Tok."
"Tok."
Suara pintu di ketuk pelan dari luar. Dinda sesaat terdiam menyimak suara ketukan pintu kontrakannya. Yang mungkin barangkali suara ketukan pintu bukan dari pintu kontrakannya.
"Tok."
"Tok."
"Tok."
Suara ketukan terdengar pelan namun cukup jelas di telinga Dinda karena suara televisi sebelumnya sudah dikecilkan volumenya.
Dinda berdiri lalu menatap ke jendela, karena jendela kaca bening dan tirainya tipis, maka dengan mudah mengetahui orang yang berdiri di teras mengetuk pintu.
"Mas Heru." Pikir Dinda
"Kenapa malam-malam main, ga salah." Galau Dinda.
"Ga apa-apa kali ya, soalnya di luar kontrakan." Ucap pikiran Dinda.
Dinda membuka pintu kontrakan, dan terlihat sosok mas Heru yang sudah ada di depan pintu dengan senyumnya.
__ADS_1
"Iya, ada apa ya mas." Tanya Dinda berusaha bersikap biasa.
"Ga ada apa-apa, cuma tadi pas pulang kerja kok tumben lampu masih menyala dan televisi juga, belum tidur Din." Basa basi kemudian tanya.
"Belum mas." Jawab Dinda singkat.
"Kenapa." Tanyanya lagi.
"Tadi habis gosok seragam, terus lapar, bikin mie goreng, terus makan sambil nonton televisi." Jelas Dinda.
Mas Heru melongok ke dalam ruang depan. Terlihat piring yang masih ada mie gorengnya. Mas Heru jadi tergoda untuk makan. Karena dia baru pulang kerja, jadi lapar perutnya.
"Din, tolong buatin teh manis hangat ya." Pinta mas Heru sambil duduk di teras depan pintu.
"Mas kan punya dispenser sendiri, punya teh sama gula kan, bikin sendiri lah." Ucap Dinda agak kesal entah kenapa dan masih duduk di dalam dekat pintu.
"Kan Aku minta tolongnya sama kamu Din." Pinta mas Heru lagi.
"Ga mau ahh, Aku lagi makan." Tolak Dinda agak ketus karena tidak mau mas Heru salah paham termasuk dirinya sendiri.
"Oooo ga mau yaa sudah, nanti kalau minta tolong sama mas, gantian mas ga mau bantuin." Ancam mas Nur.
"Ya sudah kalau ga mau, ada orang lain weee." Ucap Dinda di kesel-keselin mimik mukanya.
Mas Heru hanya terdiam sambil menatap Dinda. Ada sikap yang di tangkap oleh mas Nur dari Dinda. Bagaimana cara bicaranya, saat menatap mas Heru, bahkan sikapnya kini sambil makan mie. Semua tak luput dari perhatian mas Heru.
Dinda yang tahu sedang di perhatikan oleh mas Heru berusaha bersikap biasa-biasa saja. Meskipun dengan susah payah menahan debaran jantung yang tidak beraturan.
Menikmati sepiring mie goreng telah habis tak bersisa. Dan minum segelas teh manis hangat untuk mengganjal perut yang lapar sebelum tidur. Semua itu membuat Dinda agak tenang pikirannya yang galau terhadap mas Nur dan Indah.
Sadar mas Heru masih duduk di teras dan terdiam menutup matanya, Dinda akhirnya membuatkan teh manis hangat untuknya. Saat gelas teh terletak di depan kakinya, mas Heru tersenyum pada Dinda.
"Terimakasih." Ucap mas Heru singkat setelah membuka matanya.
"Minum mas, setelah habis pulang ya. Kontrakan mas Heru itu tuh di situ bukan di sini. Sudah malam Aku mau tidur." Ucap Dinda tanpa melihat mas Nur dan hanya duduk di dalam dekat pintu.
"Glek."
"Glek."
"Glek."
"Alhamdulillah, manis banget kaya yang bikin hmm." Ucap mas Heru sambil senyum setelah meminum habis teh manis hangatnya.
"Terimakasih Din, Aku pulang ya. Met malam, tidur, besok kesiangan lagi. Aku juga mau tidur, biar bisa ketemu kamu lagi di mimpi heehee." Ucap mas Nur sambil pulang ke kontrakannya.
Dinda diam mendengar ucapan mas Nur yang menurutnya apaan sih. Terlihat dekat banget, seakan ada hubungan antara mereka. Padahal sebenarnya menurut Dinda mereka hanya tetangga dekat saja.
Dinda berusaha menepis semua itu setelah menutup pintu dan menguncinya. Mematikan televisi dan saklar lampu ruang depan. Dinda akhirnya berangkat tidur.
Dinda berharap semua akan baik-baik saja di kontrakan yang sekarang. Termasuk juga tentang perasaannya, hatinya. Sadar Dinda harus menata hatinya sendiri untuk pulih dari luka yang ia sendiri bingung padahal belum mulai tapi sudah terluka.
*
Gimana kelanjutannya, Dinda dengan mas Heru. Ayo untuk readers masih semangat kaaan.
Like, vote, dan komennya yaaa. Terimakasih masih setia membaca karyaku ini. Mohon maaf bila masih ada penulisan yang salah dan kurang.
Author hanya manusia biasa, semoga semuanya selalu sehat, semangat, dan bahagia selalu aamiin.
__ADS_1
Bersambung kembali di episode berikutnya.
Salam bahagia.......