Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )

Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )
Episode 64. Jujur mengenai perasaan.


__ADS_3

Hari ini hari Minggu, Dinda dan Tini libur kerja. Sedangkan mas Heru baru pulang kerja dan langsung duduk di teras kontrakan Dinda.


"Astaghfirullahal'adzim mas Heru, kaget tau mas. Kenapa gak ketuk pintu sih, panggil Aku atau Dinda." Ucap Tini kaget setelah membuka pintu dan mendapati mas Heru duduk di teras bawah jendela.


"Maaf Tin, mataku ngantuk tapi pikiranku nih mikirin Dinda terus. Sama hatiku ga tenang dari semalam. Dinda ga apa-apa kan Tin, sehat kan?." Tanya mas Heru sambil mengerjakan matanya berkali kali karena ngantuk yang sudah tak tertahankan.


"Dinda ada kok mas di dalam ga apa-apa. Ya Allah itu mata kiyip-kiyip sudah seperti lampu lima Watt mau mati heehee." Ledek Tini sambil menjemur baju.


"Iya nih ngantuk banget, kamu mau jemur baju ya Tin?. Maaf ya tolong panggilan Dinda sebentar Tin." Pinta mas Heru.


"Sebentar ya mas, tadi Dinda mau nyuci baju sekalian mandi." Ucap Tini.


Tini kemudian masuk ke dalam kontrakan sekalian membawa ember tempat menaruh baju yang sudah di jemur.


"Din, kamu sedang ngapain." Tanya Tini dari depan pintu kamar mandi.


"Sedang mandi, kenapa?." Jawab Dinda dari dalam kamar mandi.


"Itu di luar ada mas Heru, nyari kamu." Lanjut Tini.


"Semalam sudah ketemu, ini minta ketemu lagi, ada apaan sih, ga sabaran amat. Lagian janjiannya kan habis dhuhur kenapa sekarang di depan nungguin." Pikir Dinda kesal.


"Iya suruh nunggu bentar Tin." Jawab Dinda.


Tini keluar menuju teras depan kontrakan. Tidak ada mas Heru di teras kontrakannya. Terlihat pintu kontrakan mas Heru terbuka setengah. Tini akhirnya ke kontrakan mas Heru untuk memberitahu.


"Mas Heru, kata Dinda nunggu sebentar." Ucap Tini melihat mas Heru yang rebahan di atas kasur gelar di ruang depan kontrakan mas Heru.


"Iya Tin, makasih banyak." Jawab mas Heru sambil memejamkan matanya dan masih menggunakan seragam kerjanya.


Beberapa menit kemudian, Dinda keluar dari kamar mandi. Setelah rapi, Dinda keluar menuju teras kontrakan dan ternyata tidak ada mas Heru di luar. Dinda kembali ke kamar mandi mengambil baju yang sudah di cuci untuk di jemur.


Dinda menjemur baju di teras, namun matanya sesekali menengok ke arah kontrakan mas Heru. Tini yang sedang memotong kuku melihat sikap Dinda yang tengah tengok ke kontrakan mas Heru.


"Udah kerjain dulu baru ke sana tengokin, tadi sih duduk di sini Din. Pas aku mau bilang suruh nunggu bentar taunya mas Heru sudah pulang ke kontrakan." Tutur Tini.


"Iya, lagian kenapa sih. Kan nanti siang habis dhuhur juga mau ketemu." Jawab Dinda keceplosan.


"Cie cie yang janjian mau ketemuan cuma berdua, Aku ga di ajak Din. Biasanya kalau pergi berdua sama Aku ga pernah sama mas Heru. Tumben ini berdua sama mas Heru hayooo mau kemana Din, nonton ya ?. Ikutan dong Din nonton juga, sekali-kali nonton layar tancep eh bioskop." Ledek Tini dan minta ikut.


"Siapa yang mau nonton layar tancep eh bioskop, kita itu mau kondangan. Mas Heru dari bulan kemaren itu ngomong kalau temannya mau nikah. Dia minta di temani, biasanya kalau kondangan sama temannya. Tapi temannya itu sudah nikah jadi mas Heru sendiri." Jelas Dinda.


"Ooo Aku pikir mau nonton taunya kondangan. Terus kamu mau nemenin Din, ikut kondangan?." Tanya Tini.


"Ga tau Tin, sebenarnya Aku malas. Lagian itu acara nikahannya temannya mas Heru. Aku malu, kalau Aku ikut pasti di kira pacarnya atau bahkan malah di bilang calon istrinya." Ungkap Dinda.


"Ga apa-apa Din, memang iya kan. Lagian mungkin mas Heru mau ngenalin kamu ke temannya. Selama ini mas Heru belum punya pacar, pas kan ada kamu bisa buat gandengan heehee." Ucap Tini.


"Truk kali gandengan, ga ah, aku malu. Kalau kamu mau kamu saja apa Tin yang nemenin mas Heru." Enggan Dinda lalu menawarkan ke Tini.


"Kan yang di ajak mas Heru kamu Din, ngapain Aku yang ikut. Mas Heru itu sayangnya, cintanya, itu sama kamu bukan Aku, sudah sana sudah di tungguin." Suruh Tini.


Dinda yang sudah selesai menjemur baju, kemudian menaruh ember di dalam kolam. Setelah itu dia menuju ke kontrakan mas Heru.


"Assalamu'alaikum, mas Heru." Salam dan panggil Dinda.


Mas Heru tidak menyaut, karena pintu terbuka separuh, Dinda membuka pintu kontrakan lebih lebar.


Terlihat mas Heru sedang tidur di atas kasur gelar di ruang depan televisi. Dinda masuk namun ada di dekat pintu duduk dan memanggil mas Heru lagi.


"Assalamu'alaikum, mas Heru tadi panggil Aku ya, ada apaan mas." Ucap Dinda lagi.


"Wa'alaikumussalam, Din kamu di sini." Jawab salam sambil mengerjapkan mata.


Mas Heru bangun dari tidurnya dan duduk sambil menguap namun matanya lalu terpejam lagi.


"Din, boleh ga Aku minta tolong sama kamu?." Tanya mas Heru pelan dengan mata terpejam.


"Apa mas." Tanya Dinda singkat dan agak takut.


"Din tolong nyalain dispenser, kalau sudah panas bikin teh, tehnya di sebelah dispenser. Lalu ambil tolak angin di kotak obat, kemudian campur dengan teh." Pinta mas Heru kemudian tiduran lagi.


Dinda terkejut sekaligus bingung. Pikirannya bertanya mas Heru sakit atau apa. Namun dia diam dan melakukan apa yang di minta mas Heru.


Baru kali ini Dinda masuk ke dalam kontrakan mas Heru. Rapi, bahkan lebih rapi dari kontrakannya Dinda. Tidak ada begitu banyak barang, mungkin karena ngontrak sendiri dan juga laki-laki pikir Dinda.


Sambil menunggu dispenser panas, Dinda melihat-lihat isi kontrakan mas Heru dari kamar mandi, dapur, ruang tengah yang ada kasur busa ukuran satu orang dan di ruang depan tadi.


Begitu bersih dan rapi, padahal seorang pria ngontrak sendiri. Barang tersusun rapi dari belakang hingga depan. Kontrakannya bersih seperti habis di sapu dan di pel padahal mas Heru baru pulang kerja dan belum ngapa-ngapain. Seperti mencerminkan yang ngontrak seorang perempuan padahal pria.


Dispenser telah menyala lampu hijau, Itu tandanya air sudah panas. Dinda mengambil satu buah teh celup kemudian menaruhnya di dalam gelas. Air panas dari dispenser mengalir ke dalam gelas. Teh yang di buat sudah siap. Tak lupa mengambil tolak angin cair lalu di campur dengan teh tadi.

__ADS_1


Dinda berjalan ke arah mas Heru sambil membawa gelas yang berisi teh tolak angin panas. Kemudian menaruhnya di samping mas Heru lalu membangunkannya.


"Mas Heru ini teh tolak anginnya, masih panas mas ." Dinda membangunkan mas Heru.


"Hm." Anggukan kecil mas Heru.


Mas Heru bangun kemudian duduk dan mengambil gelasnya. Meminumnya sedikit demi sedikit karena masih agak panas. Hingga akhirnya habis di minum semua oleh mas Heru.


"Terimakasih Din." Ucap mas Heru singkat lalu tiduran kembali.


Dinda yang sedari tadi memperhatikan akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


"Mas Heru kenapa?. Mas sakit, masuk angin ya ?." Tanya Dinda khawatir.


"Hm." Jawab mas Heru hanya dengan dehemam mulutnya saja.


"Mmm, mas Heru istirahat saja dulu. Aku pulang dulu ya mas." Pamit Dinda.


"Tunggu Din." Cegah mas Heru.


"Boleh minta tolong lagi ga." Ucap Mas Heru lirih.


"Apaan mas." Tanya Dinda khawatir.


"Tolong, kamu mau kerokin aku Din?." Pinta mas Heru.


"Mmm, maaf mas sepertinya ga bisa, Aku takut. Kita cuma berdua di sini, ga enak bila tetangga lihat apalagi ibu atau bapak kontrakan." Jawab Dinda takut dan khawatir.


"Ya sudah kalau ga mau, ga apa-apa. Tapi boleh minta tolong ga, tolong ambilkan sarung yang di lipat di atas kasur." Pinta mas Heru lagi.


Dinda berjalan ke ruang tengah mengambil sarung di tempat yang di tunjuk. Setelah mengambilnya, Dinda menyerahkannya ke mas Heru. Rasa penasaran Dinda akan sakitnya mas Heru mulai membuatnya khawatir.


"Mas, ini sarungnya. Mas badannya panas?." Tanya Dinda penasaran.


"Coba saja pegang, panas apa ga?." Ucap mas Heru memancing.


Agak ragu dan takut serta khawatir terhadap mas Heru. Melihatnya hanya memejamkan matanya tidak banyak bicara seperti biasanya membuat Dinda ingin memegang dahi mas Heru. Mengecek apakah benar panas atau tidak.


Dinda meletakkan telapak tangan kanannya di dahi mas Heru. Ternyata suhu badannya agak panas. Dinda menarik tangannya namun langsung di pegang oleh tangan mas Heru. Dinda ingin melepaskan pergelangan tangannya namun sulit karena mas Heru memegangnya dan tidak melepaskannya.


"Maaf mas, lepaskan tangan Aku." Pinta Dinda sambil menarik tangannya.


"Aku akan melepaskan jika kamu jujur sama Aku." Tolak mas Heru dengan syarat.


"Malu kenapa, kan ga ngapa-ngapain cuma duduk dan Aku tiduran." Ucap mas Heru lirih karena menahan sakit.


"Justru itu mas, kita cuma berdua, malu Aku mas, ga enak." Dinda tetap berusaha.


"Malu itu kalau sedang berdua ada yang ke tiga. Lagian kasihan yang ke tiga, lihat kita berdua. Pasti ngiri mau juga, berdua sama pacarnya." Tutur mas Heru.


"Ini berarti mas ga sakit cuma minta di temenin tok." Ucap Dinda mulai kesal tapi sekaligus khawatir.


"Ya Allah Aku ga bohong Din. Kamu sendiri tadi sudah pegang kening aku kan masih panas." Ucap mas Heru jujur.


"Iya, tapi lepasin dong mas tangan Aku sakit." Pinta Dinda menahan rasa di hatinya.


"Jujur dulu Din." Pintanya.


"Jujur apa mas?." Tanya Dinda bingung.


"Jujur kalau kamu juga sayang dan cinta sama Aku. Iya atau tidak?." Tanya mas Heru paksa.


Dinda terdiam tidak menjawab namun masih berusaha melepaskan tangannya. Semakin Dinda berusaha, semakin kuat pula pegangan dari tangan mas Heru.


"Ayo dong Din ngomong, jujur, apa begitu susahnya ya untuk bilang ya atau tidak." Jelas mas Heru tanya.


Dinda masih terdiam namun tidak lagi berusaha melepas pegangan mas Heru. Mas Heru pun mulai longgar pegang pergelangan tangan Dinda.


"Mas emangnya penting ya harus ngomong iya atau tidak." Ucap Dinda.


"Penting Din, itu ibaratnya seperti pernyataan." Ucap mas Heru masih dengan mata terpejamnya.


"Kenapa mas?." Tanya Dinda.


"Kok tanya kenapa." Tambah pusing mas Heru dengar pertanyaan Dinda.


"Kalau cowo yang kamu suka perhatian dan baik sama kamu tapi tidak menyatakan perasaannya kalau dia itu cinta dan sayang sama kamu, kamu gimana?." Tanya mas Heru menjebak.


"Ya aku bingung mas, seperti di gantung perasaannya ga enak rasanya." Jawab Dinda langsung jujur, seketika langsung terdiam lagi.


"Sama Din, Aku juga, ga enak rasanya. Jadi tolong bisa kan kamu jujur tentang perasaanmu padaku Din." Paksa mas Heru gimana perasaan Dinda.

__ADS_1


Cukup lama Dinda terdiam, mengatur debaran hati dan jantung karena duduk di sebelah mas Heru dengan tangan masih di pegang. Seakan tidak ingin waktu berlalu dengan cepat.


"Mas." Panggil Dinda pelan.


"Hm." Jawab mas Heru dengan deheman.


"Mas, sebenarnya Aku juga." Ucap lirih.


"Juga apa Din." Mas Heru menanti kelanjutannya.


"Apa perlu ngomong ya mas?." Tanya Dinda malu.


Mas Heru tidak menjawab, ia masih menunggu Dinda untuk berbicara.


"Aku juga sayang kamu mas." Ucap Dinda pelan dengan malu menahan semua yang ada di dalam dada.


Suara Dinda yang pelan namun masih bisa di dengar oleh telinga mas Heru. Dalam hati mas Heru senang, ingin rasanya memeluk tubuh Dinda tapi sakit badannya yang membuatnya enggan. Mas Heru tidak bicara apa-apa, dia pura-pura tidak mendengarnya.


"Din, kamu ngomongnya pelan banget, sudah tahu aku sakit. Bisa di kerasin dikit suara kamu Din." Pinta mas Heru yang sebenarnya senang meledek.


"Mas, aku juga sayang kamu." Penuh keberanian Dinda mengungkapkan perasaannya dengan suara agak keras tapi hanya mas Heru saja yang mendengar.


Mas Heru memegang tangan Dinda dengan kedua tangannya hingga membuat badannya mengarah ke samping menghadap Dinda. Pelan tapi pasti matanya menatap Dinda penuh kasih sayang. Dinda tertunduk malu merasa di tatap oleh mas Heru.


"Din, lihat aku Din." Ucap mas Heru lirih.


Dinda melihat mas Heru, tatapan mata mereka bertemu. Ada kejujuran dan ketulusan yang Dinda tangkap dari mata mas Heru. Begitu juga dengan mas Heru merasakan perasaan Dinda dari matanya.


"Din, kalau bisa jujurlah dengan perasaanmu. Apa yang kamu rasa tolong ungkapkan, jadi aku akan paham dan mengerti. Tidak semua bisa di mengerti hanya dengan sikap tapi ucapan juga." Mas Heru mengingatkan.


"Iya mas, maafkan Aku baru bisa ngomong sekarang." Ungkap Dinda lega setelah mengutarakan perasaannya.


"Iya, aduh Din sakit." Tiba-tiba mas Heru pegang kepalanya.


"Apanya yang sakit mas?." Dinda khawatir.


"Kepalaku Din pusing." Jawab mas Heru sambil memijit kepalanya dengan tangannya setelah melepas pegangan tangan Dinda.


Dinda yang khawatir langsung memegang kepala mas Heru lalu memijitnya pelan. Mas Heru yang merasakan pijitan Dinda merasa nyaman dan menatapnya.


"Din." Panggil mas Heru pelan.


"Iya mas." Jawab Dinda kemudian melihat mas Heru. Tatapan mereka kembali bertemu.


Mas Heru terbangun dari tidurnya dan duduk di depan Dinda dengan jarak yang cukup dekat. Tangan Dinda di pegangnya dan mengelusnya lembut. Dinda malu merasakan lembutnya sentuhan tangan mas Heru sambil menundukkan mukanya.


Mas Heru tersenyum bahagia melihat Dinda yang hari ini berbeda, karena biasanya ia akan merasa kesal.


"Din." Panggil mas Heru.


Dinda hanya terdiam menahan perasaan yang entah harus bagaimana. Tangan kanan mas Heru menarik dagu Dinda ke atas pelan agar Dinda menatapnya. Tatapan mereka bertemu, dan mas Heru mendekatkan wajahnya ke wajah Dinda.


Wajah Dinda sudah merah merona menahan semua perasaan yang terasa menyesakkan dada. Debaran jantung yang kian berpacu seiring mendekatnya muka mas Heru sambil menatapnya. Ingin Dinda menghindar tetapi tubuhnya seakan mematung, diam dan tidak menolak sentuhan mas Heru.


Yah mas Heru menyentuh muka Dinda dengan pelan dan halus. Dari dagu ke pipi, kemudian hidung, dan mata. Mata Dinda terpejam seakan terhipnotis dengan sentuhan mas Heru.


Mas Heru teramat senang melihat sikap Dinda. Hatinya sungguh bahagia memberikan sentuhan tanpa penolakan. Melihat mata Dinda yang terpejam seakan menerima dan merasakan sentuhan mas Heru.


Sekejap ada rasa nakal dalam hati mas Heru. Timbul niat untuk memeluk dan menciumnya. Entah kenapa saat Dinda mengucapkan perasaannya, mas Heru ingin sekali memeluk dan mencium Dinda.


"Din." Panggil mas Heru lirih.


"Mm." Saut Dinda.


"Maukah kamu.?" Tanya mas Heru.


Dengan menahan debaran yang tak karuan, Dinda hanya diam dan menunduk sedikit. Mas Heru yang melihat semakin gemas dan ingin sekali melakukannya. Memeluk dan mencium karena merasa mendapat persetujuan yang punya badan.


"Din, nanti habis dhuhur jadi yah ikut kondangan?." Pinta mas Heru dengan suara pelan.


"Iya mas." Jawab Dinda masih menutup matanya merasakan sentuhan lembut dari tangan mas Heru di pipinya.


"Din." Panggil mas Heru lagi mendekatkan wajahnya di depan wajah Dinda.


Mereka saling merasakan nafas yang tak beraturan menahan gejolak masing-masing.


"Din, maukah kamu pulang ke kontrakan. Aku ga bisa nahan kalau kamu lama-lama di sini. Aku juga ngantuk banget, ingin tidur. Mau meluk dan cium kamu di mimpi saja." Ucap mas Heru sambil kembali tiduran.


Dinda membuka matanya kesal karena sedari tadi menahan gejolak yang tidak karuan. Menatap mas Heru yang sudah memejamkan matanya. Tiduran dengan rasa tak bersalahnya membuat debaran jantung Dinda seakan berhenti.


"Ya sudah tidur, ngapain juga Aku di sini. O iya mas tadi dispensernya sudah tak matiin, Aku pulang mas." Pamit Dinda kesal lalu menutup pintu kontrakan mas Heru.

__ADS_1


Mas Heru tersenyum senang mendengar rasa kesalnya Dinda. Ini membuat hatinya merasa bahagia. Tak sia-sia rasa sakitnya membuat Dinda jujur akan perasaannya. Padahal sebenarnya mas Heru hanya ngantuk yang teramat sangat.


Bersambung lagiiii.....


__ADS_2