Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )

Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )
Episode 47. Warung mie ayam bakso.


__ADS_3

Dinda masih bergelut dengan hati dan pikirannya. Pikirannya menginginkan untuk segera pulang ke kontrakan. Sedangkan hatinya deg degan merasa senang bisa bertemu dengan mas Nur kembali meskipun tanpa di sengaja.


Sedangkan Tini merasa senang bisa makan bakso sepuasnya mumpung gratis. Tini tahu maksud mas Nur mengajaknya makan bakso. Tak lain dan tak bukan karena sebenarnya ingin mengajak Dinda.


Dalam perjalanan menuju warung mie ayam bakso, Dinda berkali-kali menyenggol lengan Tini. Berharap Tini tidak jadi makan bakso dengan mas Nur. Namun bagaimanapun Dinda memintanya, Tini tetap ingin makan bakso gratis dari mas Nur.


"Tin." Panggil Dinda sambil menyenggol lengan Tini.


"Apa." Sahut Tini.


"Tin." Panggil Dinda lagi sambil menyenggol lengan Tini.


"Apa." Sahut Tini lagi tanpa memperdulikan sikap Dinda.


"Tin, bisa ga jangan makan bakso sama mas Nur." Pinta Dinda dengan wajah memelasnya.


"Maaf ya Din, ga bisa hmmm hmm." Tolak Tini sambil senyum-senyum.


"Kamu mau makan bakso, ya sudah aku yang traktir deh, tapi di Cibitung saja ya, sama aku. Jangan makan bakso di warung bongkok apa lagi sama mas Nur." Rayu Dinda supaya Tini tidak jadi makan bakso dengan mas Nur.


"Beneran Tin, makan bakso di Cibitung, yang mie ayamnya enak. Terus kamu yang bayarin ya, aku di traktir gitu." Ucap Tini antusias.


"Iya beneran aku yang bayarin, aku traktir. Kamu mau makan bakso apa mie ayam, mau nambah juga boleh." Dinda merayu meyakinkan Tini.


"Beneran, ga bercanda kan." Dengan muka serius Tini bertanya ke Dinda.


"Ya iya lah Tini, serius nih, mau yah, makan bakso di Cibitung, jangan di warung bongkok sama mas Nur." Ajak Dinda lebih serius.


"Mau, mau banget lah, beneran yaaaa." Tini menuruti kemauan Dinda.


Pas di pinggir jalan mereka berhenti. Dari pasar Warung bongkok ke arah warung mie ayam bakso yang mereka tuju harus menyeberang terlebih dahulu. Karena ramainya kendaraan yang lewat lalu lalang di tambah daerah tersebut pertigaan jalan, mereka agak sulit untuk menyeberang.


"Kok belum sampai." Tiba-tiba terdengar suara di sebelah Tini yang ternyata suara tersebut adalah suara mas Nur.


"Ya Allah tak kira siapa, ya belum mas, kita kan jalan kaki lama. Mas Nur kan pakai sepeda motor jadi cepet. Ini mau nyebrang susah mas ramai." Jawab Tini sambil menengok sumber suara.


"Ayo nyebrang." Mas Nur mengajak mereka untuk menyebrang jalan di saat mas Nur juga jalan memberhentikan kendaraan yang lewat dengan motornya pelan-pelan.


Mereka menyebrang jalan bersamaan dengan mas Nur sebagai penutup jalan untuk kendaraan yang lewat. Setelah sampai di seberang jalan, Mas Nur jalan lebih dulu.


"Tin, aku duluan ya nanti langsung saja ke warung mie ayam baksonya." Ucap mas Nur mau jalan lebih dulu.


"Iya mas." Jawab Tini singkat sesaat sebelum mas Nur melaju motornya.


"Lho kok iya sih Tin, tadi mau makan bakso di Cibitung. Kenapa sekarang malah setuju gitu dengan mas Nur. Gimana sih yang jelas apa Tin. Sebenarnya mau makan bakso di mana, sama aku apa sama mas Nur. Lagian mas Nur cuma ngajak kamu kan ga ngajak aku." Ucap Dinda bingung dengan ucapan Tini barusan.


"Aku itu lapar Din, sekarang aku mau makan. Jadi sekarang makan bakso di sini dulu ya. Aku mau makan bakso sama kamu juga sama mas Nur. Bakso di warung bongkok, lebih dekat, jadi lebih cepat makan baksonya. Dan perutku lebih cepat terisi dan lebih cepat kenyang. Kalau makan di Cibitung lama Din, bisa-bisa aku kelaparan, nanti pingsan, terus mati. Makan bakso di Cibitung lain kali saja ya, besok deh. Sekarang di sini dulu oke hmm hmm." Terang Tini sambil berjalan memegangi tangan Dinda dan tersenyum menuju warung mie ayam bakso warung bongkok.


"Kok gitu, kalau gitu ga jadi traktirannya. Makan bakso di Cibitung batal, ga ada acara makan bakso gratisan dari aku." Jawab Dinda kesal sambil berjalan dengan tangan kanannya di pegangi oleh Tini untuk tetap jalan dengannya.


Setelah melewati masjid warung bongkok, sampailah mereka di depan warung mie ayam bakso. Dinda nampak melihat sekitar di depan warung mie ayam bakso tidak ada motornya mas Nur.


"Tin, kok ga ada motornya mas Nur." Tanya Dinda setelah memastikan di depan warung mie ayam bakso tidak terlihat motornya mas Nur.


"Iya ya Din, motornya mas Nur ga ada. Harusnya dia sudah sampai duluan kan. Duh terus gimana, masa iya nanti makan bayar sendiri. Kan mas Nur tadi sudah ngomong." Tini mengiyakan setelah lihat di depan warung mie ayam bakso.


"Gimana Tin, pulang saja yuk." Ajak Dinda untuk pulang.


"Masuk saja Din, sudah sampai sini. Yang penting duduk dulu, pesen, makan, bayar terus pulang. Mau mas Nur ada atau ga ada, judulnya lapar." Ucap Tini yang sedang lapar.


Mereka kemudian masuk ke warung mie ayam bakso tersebut. Suasana warung cukup ramai. Karena siang hari dan cuaca agak panas, warung mie ayam bakso jadi pilihan bagi mereka yang ingin makan makanan panas.

__ADS_1


Dinda dan Tini duduk di bangku yang berada di depan tembok dengan bangku yang memanjang dan mejanya menempel di tembok. Mungkin ini untuk menghemat tempat mengingat warungnya tidak terlalu besar. Sehingga bisa muat pengunjung banyak.


Dinda dan Tini saling pandang untuk sesaat ketika mendapati tidak ada mas Nur di warung tersebut. Setelah masuk dan melihat pengunjung warung yang sedang menikmati makan bakso dan mie ayam.


"Tin beneran kan mas Nur ga ada." Ucap Dinda sambil melihat orang sekitar.


"Iya Din, motornya saja ga ada apa lagi orangnya." Jawab Tini setelah memastikan di dalam warung mie ayam bakso tidak ada mas Nur.


"Gimana mau pesen sekarang, apa nanti?." Tanya Dinda mau pesen apa tidak.


"Pesen deh, tanggung sudah di sini juga. Aku mau pesen mie ayam ceker plus bakso ya Din, soalnya aku lapar banget." Jawab Tini yang sudah lapar.


Dinda beranjak dari duduknya, kemudian berjalan ke bapak penjual mie ayam bakso yang sedang meracik bumbu mie ayam di mangkok.


"Pak, mie ayam ceker dua ya, tapi yang satu di kasih bakso." Ucap Dinda pesan mie ayam.


"Di makan di sini apa di bungkus mba?." Tanya bapa penjual bakso sambil menaruh mie dan sayur di mangkok yang sudah ada bumbunya.


"Di makan di sini pak." Jawab Dinda singkat.


"Minumnya apa mba." Bapak penjual mie ayam bakso bertanya lagi.


"Tin, minumnya apa." Ucap Dinda setelah mendekati Tini.


"O iya lupa, minumnya es teh manis." Jawab Tini menengok ke arah Dinda.


"Teh manis hangatnya satu dan es teh manisnya satu pak." Ucap Dinda ke bapak penjual mie ayam bakso.


"Tunggu ya mba." Jawab Bapak penjual mie ayam bakso setelah dengar pesanan Dinda.


Dinda kembali duduk di sebelah Tini. Tini melihat ke arah pengunjung warung yang sedang menikmati makanan dan minumannya sekilas. Mereka berdua menunggu pesanan datang. Sambil menunggu, sesekali Dinda melihat ke arah luar warung hanya ingin memastikan keberadaan mas Nur apakah akan datang atau tidak.


"Mba ini teh manis hangatnya satu, dan ini es teh manisnya satu. Silahkan mba." Ucap pelayan setelah menaruh dua gelas teh manis yang berbeda di meja depan Dinda.


"Nih Tin, es teh manis pesanan kamu." Ucap Dinda sambil menggeser gelas berisi es teh manis ke arah depan Tini.


"Terimakasih Din. Kamu kok tehnya ga ada esnya." Ucap Tini ketika melihat gelas Dinda yang berisi teh manis tanpa es.


"Iya ga ada esnya, kan aku ga pesan es." Jawab Dinda setelah minum seteguk teh manis hangatnya.


"Emang kamu pesan minumnya apa Din." Tanya Tini dengan tampang ga tahu.


"Aku pesannya teh manis hangat Tin. Mana ada teh manis hangat di kasih es." Jawab Dinda agak kesal, karena Tini pura-pura tanya hanya untuk basa-basi ngobrol saja menunggu makanan yang mereka pesan.


"Ini mba pesanannya, mie ayam ceker satu. Dan ini mie ayam ceker tambah bakso satu. Silahkan dinikmati." Tiba-tiba suara pelayan ada di samping Dinda sambil memberikan pesanan mereka.


"Terimakasih mas." Ucap Dinda dan Tini bersamaan.


Dinda menggeser mangkok berisi mie ayam ceker di tambah bakso di depan Tini. Mereka berdua mulai menikmatinya. Tanpa sadar sosok orang yang telah janjian dengan mereka sudah berada di warung tersebut.


Dia melihat Dinda dan Tini sedang menikmati makanan dan minuman mereka tanpa menoleh ke arah manapun. Hingga membuat Dia langsung memesan makanan dan minuman ke bapak yang berada di depan gerobak yang sedang melayani pembeli.


"Pak, pesan mie ayam bakso satu dan es teh manis satu ya pak." Ucap orang tersebut.


"Iya mas, tunggu ya." Jawab bapak penjual.


Orang tersebut berjalan ke tempat duduk Tini dan Dinda. Melihat mereka berdua makan, orang tersebut hanya bisa senyum dalam hati.


"Enak ya, sampai aku pengin juga, boleh duduk sini." Ucap orang tersebut sambil duduk di bangku yang kosong di sebelah Dinda.


"Kaget aku, untung ga kesedak. Kenapa baru nyampe mas, kirain sudah nungguin. Pas aku sama Dinda sampai mas Nur ga ada. Kirain ga datang, maaf ya mas kita duluan. Habisnya aku sudah lapar heehee." Tini sesaat menengok ke arah sumber suara yang ternyata suara mas Nur. Setelah menelan makanan yang ada di mulutnya, dan minum dua teguk es teh manis, Tini berucap.

__ADS_1


"Maaf Tin, tadi pulang ke kontrakan dulu. Aku lupa bawa uang, ga lucu kan dompet ga ada uangnya. Mau bayarin makan kalian ee masa dompetnya kosong heehee. Sekalian naruh motor di kontrakan. Jadi ke sini jalan kaki, kan lumayan irit bensin. O iya kalian makan dulu ga apa-apa, aku nyusul, tadi sudah pesan." Jawab mas Nur beralasan.


"Ini mas minumnya es teh manis." Ucap seorang pelayan.


"Terimakasih mas." Jawab mas Nur singkat kemudian langsung meminumnya.


"Haus ya, setengah gelas langsung habis." Ucap Tini ketika melihat mas Nur langsung minum sesaat setelah minuman yang di pesan tiba.


"Iya nih Tin, maklum panas." Jawab mas Nur yang merasa kepanasan.


"Panas karena duduk di sebelah Dinda." Jawab Tini meledek.


"Aaawww." Suara Tini setelah mendapatkan cubitan kecil dari Dinda.


"Ga juga, tadi kan jalan kaki lumayan berasa panas juga, kalau naik motor kan agak kena angin sedikit. Eeh kenapa Tin, wah di cubit Dinda ya. Cubit saja Din yang kencengan biar ga ledekin kamu terus." Jelas mas Nur beralasan, lalu meledek Tini dan Dinda.


"Ini mie ayam bakso mas." Ucap pelayan sambil menaruh mangkok di depan mas Nur.


Tiba-tiba seorang pelayan datang membawa mangkok berisi mie ayam bakso di taruh di depan mas Nur. Setelah menaruh mangkok tersebut, pelayan itupun pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Iya mas, terimakasih." Jawab mas Nur sesaat sebelum pelayan itu pergi.


Dinda hanya diam dan hanya menikmati makan dan minumnya dengan perasaan yang tidak menentu. Bagaimana tidak mas Nur duduk di sebelah Dinda. Sambil makan dan minum, mas Nur sesekali melihat Dinda. Dinda yang merasa seperti di lihat oleh mas Nur hanya bisa menahan rasa tak karuan yang ada di dalam dada yang menimbulkan rasa panas dingin di tubuh.


"Mas Nur, lagi makan mie ayam bakso di sini. Kebetulan, aku juga mau makan bakso sama Teh Dewi. Bisa geser ga mba, aku mau duduk di sini sebelah mas Nur." Dengan tiba-tiba suara seorang perempuan mengagetkan mereka yang sedang makan.


Mereka bertiga menengok bersamaan ke arah suara perempuan tersebut. Setelah mendengar kata-katanya, Tini dan Dinda langsung bergeser duduknya. Karena merasa tidak enak dengan pembeli lain dan juga daripada menolak, atau akhirnya ribut dengan perempuan tersebut. Dinda dan Tini akhirnya mengalah bergeser duduknya setelah orang yang berada di samping Tini bangun dan pergi setelah selesai makan.


*


"Teh, nanti aku main ke kontrakan teteh Dewi ya." Ucap Indah ke Teteh Dewi dalam perjalanan pulang setelah belanja di Ramayana Cikarang.


"Indah, aku sih ga apa-apa kamu main. Tapi masalahnya kamu main ke kontrakan aku kan cuma mau ketemu mas Nur. Sudahlah Indah, mas Nur itu sudah ga sayang dan cinta sama kamu. Tapi kenapa kamu masih tetep saja berharap dia mau balikan lagi."


"Pokoknya sebelum mas Nur menikah aku tetep mau berjuang Teh. Aku ga mau orang sebaik mas Nur ga jadi nikah sama aku. Aku malu Teh, sudah bilang ke teman-teman satu grup aku mau di nikahi sama mas Nur." Ucap Indah dengan keegoisan cintanya.


"Indah aku tahu kamu sayang dan cinta banget sama mas Nur. Tapi kamu juga harus sadar, mas Nur seperti itu ya karena kamu sendiri. Aku tahu dari tetangga kontrakan, kenapa mas Nur pilih putus sama kamu. Aku sudah pernah cerita kan sama kamu. Jadi sudahlah, kamu cantik, kerja, pasti kamu akan dapat laki-laki yang lebih dari mas Nur." Jelas Teteh Dewi saat hanya mereka berdua yang naik angkutan k 39 c dari Ramayana Cikarang ke arah warung bongkok.


"Pokoknya aku mau mas Nur Teh, Aku sudah terlanjur malu karena di tanya kapan nikah sama mas Nur oleh teman-teman satu grup di pabrik." Ucap Indah pada pendiriannya.


"Ya sudah terserah kamu, aku sih sudah sering kasih tahu kamu ya. Bang kiri bang di depan." Ucap Teteh Dewi, kemudian menyuruh abang supir angkutan untuk memberhentikan laju mobilnya setelah Teteh Dewi tahu ternyata sudah sampai di tujuan.


Teteh Dewi dan Indah turun dari angkutan umum menuju ke kontrakan. Mereka berjalan beriringan sambil menenteng kantong plastik belanjaan yang mereka bawa.


"Teh, bukannya itu mas Nur ya." Ucap Indah sesaat ketika melihat mas Nur menyeberang jalan dan masuk ke warung mie ayam bakso.


"Mana, aku ga lihat." jawab Teteh Dewi sambil melihat ke arah yang di lihat Indah


Karena jarak Teteh Dewi dan Indah agak jauh, maka tampak tidak begitu jelas orang yang berjalan di pinggir jalan. Namun dengan keyakinan penglihatannya, Indah merasa bahwa orang yang berjalan menyeberang dan masuk ke warung mie ayam bakso adalah mas Nur.


"Tadi yang jalan menyebrang terus masuk ke warung mie ayam bakso itu mas Nur Teh." Ucap Indah yakin.


"Aku ga lihat Indah, mungkin kamu salah orang kali. Karena sudah lama ga ketemu mas Nur, jadi mata mulai rabun. Salah lihat orang jalan, bukan mas Nur di bilang mas Nur." Jawab Teteh Dewi ragu karena dia sendiri tidak melihat.


"Ya sudah kita buktikan saja, langsung yuk ke warung bakso biar Teh Dewi yakin aku tuh ga salah lihat orang." Ajak Indah memaksa Teh Dewi memastikan.


"Ini belanjaan taruh dulu di kontrakan. Lihat dulu mas Nur di kontrakan apa ga. Kalau ga ada, baru kita ke warung mie ayam bakso. Kita pastikan penglihatan kamu salah atau ga sekalian makan siang." Jawab Teteh Dewi mengajak Indah untuk pulang dulu ke kontrakan.


Teteh Dewi dan Indah berjalan menuju kontrakan Teteh Dewi. Hanya sekedar menaruh barang belanjaan dan memastikan mas Nur di kontrakannya atau tidak.


Lanjut lagi di episode berikutnya. Sampai jumpa semoga tetap sehat semuanya aamiin🤲🤲🤲.

__ADS_1


Tetap semangat 💪💪💪🤭☺️🥰🥰🥰.


__ADS_2