
Hari Minggu telah tiba, Dinda dan Tini bersiap-siap untuk pergi. Sesuai rencana Minggu kemaren, hari ini mereka akan mencari kontrakan baru.
Hari sebelumnya, Dinda dan Tini menanyakan kontrakan kosong ke beberapa teman yang satu jemputan. Bus jemputan arah Cibitung, yang membawa mereka berangkat dan pulang kerja.
Dari beberapa orang yang mereka tanya selama seminggu, ada yang mengatakan kalau di dekat kontrakannya ada yang kosong. Dari informasi tersebut, Dinda dan Tini mencari ke tempat yang ditujukan oleh beberapa temannya.
Meskipun daerahnya sama Cibitung tapi tempatnya berbeda. Ada di belakang Tunggal dara, kantor pos Cibitung, klinik Adam Thalib, Ramayana, jalan Andini.
Dinda dan Tini mulai dari yang terdekat terlebih dahulu. Karena kontrakan Dinda dan Tini di daerah grandong Cibitung, maka mereka mulai dari belakang tunggal dara.
Mereka berjalan dari jalan raya masuk ke dalam gang sebelah tunggal dara. Menyusuri kontrakan demi kontrakan. Dari awal masuk gang kontrakan depan, Dinda dan Tini bertanya bila bertemu dengan seseorang.
"Maaf mas permisi, boleh numpang tanya." Tanya Dinda pada seseorang yang sedang duduk di teras kontrakan.
Sementara Dinda bertanya, Tini melihat-lihat sekeliling barangkali ada orang yang bisa di tanya-tanya mengenai kontrakan kosong di sekitar daerah tersebut.
"O iya mba mau tanya apa ya." Jawab orang tersebut.
"Maaf mas, di sekitar sini ada kontrakan kosong ga ya." Tanya Dinda.
"Kurang tahu ya mba, biasanya kalau ada kontrakan kosong ada tulisannya di pintu. Kontrakan ini kosong, biasanya begitu mba tulisannya." Terang orang tersebut menjawab.
"Oo gitu ya mas, ya sudah mas terimakasih." Setelah berucap terimakasih, Dinda menghampiri Tini.
"Bagaimana Din, ada ga kontrakan yang kosong." Tanya Tini setelah Dinda mendekat.
"Kata mas tadi kurang tahu. Tapi katanya kalau ada biasanya di pintu kontrakan ada tulisannya. Kontrakan kosong, mungkin begitu kali Tin tulisannya." Dinda menjelaskan perkataan orang yang di tanya tadi.
"Ooo begitu ya Din, ya sudah kita tinggal lihatin pintu kontrakan. Kalau ada tulisannya berarti tinggal nanya siapa yang punya kontrakan." Tini tahu maksud Dinda.
"Iya Tin, tapi kalaupun ga ada tulisannya tetep nanya barangkali belum di kasih tulisan, atau orangnya mau pindah." Dinda memberi saran.
Mereka berdua berjalan menyusuri gang yang sisi kanan kirinya adalah kontrakan dan ada rumah yang agak besar. Sambil ngobrol sesekali dan menyapa beberapa orang yang berada di luar kontrakan dan berjalan berpapasan.
"Din, itu rumah gede sendiri di blok ini. Mungkin itu rumah yang punya kontrakan kali ya." Tini mengajak ngobrol Dinda saat melihat rumah agak besar sendiri bangunannya di salah satu blok.
"Iya ya Tin, mungkin yang punya kontrakan. Tin enak kali ya kalau nikah sama juragan kontrakan. Ga usah kerja tiap bulan dapat duit. Apalagi kalau kontrakannya banyak sudah pasti jadi juragan kontrakan nih." Ucap Dinda menghayal di sela-sela mencari kontrakan kosong.
"Ini menghayal apa berharap, maaf ya Din kalau orang Cikarang bilang mah ed dah bocah lu jangan ngarep yang kaga-kaga dah. Udeh kerja aje lu kaga usah menghayal, ngimpi, entar kalo jatuh baru nyaho. Sudah oke kan jadi orang Cikarang heehee." Tini mengajak Dinda bercanda dengan bahasa Cikarang.
"Yaaa kalau boleh nanya menghayal sama berharap apa bedanya Tin, toh sama arti dan maksudnya iya kan. Ga apa-apa menghayal atau berharap, hal itu diperbolehkan bahkan dianjurkan mumpung masih jomblo." Dinda malah menimpali candaan Tini.
"Cieee ciee pede banget masih jomblo, padahal sudah ada yang nungguin. Ehh Din ingat yaaa boleh memang menghayal atau berharap tapi ingat Din sadar diri itu penting." Tini mengingatkan.
"Tini sahabatku tumben kasih petuah. Iya lah yang sudah jadi ibu dosen dengan title sarjana jomblowati." Dinda malah asik menyahut obrolan Tini.
"Din, sekarang kamu agak beda deh. Sudah ga jadi pendiam amat, eh maksudnya kalau ngomong itu ga cuma yang penting saja. Baguslah aku senang, paling tidak bertambah orang yang hampir mirip sama aku heehee, mirip koplaknya" Tini senang dengan Dinda yang mau bercanda.
"Terimakasih, ini juga karena aku berteman sama kamu, tapi tetep yaaa aku ga mau ikutan koplak kaya kamu." Dinda menimpali.
Karena asik ngobrol sambil melihat-lihat kontrakan, sampailah mereka berdua di ujung gang yang ternyata gang tersebut keluar gang juga tapi dari arah yang berbeda.
Karena agak merasa lelah mencari kontrakan baru, Dinda dan Tini mampir ke warung sebentar untuk membeli minuman dan roti. Sambil minum dan makan roti duduk di trotoar pinggir jalan, Tini mengajak Dinda untuk main ke kontrakan mba Erna di Bojong Koneng.
"Din, masih ingat ga sama mba Erna." Tanya Tini.
"Mba Erna yang waktu kita kerja bareng di PT MMI yang ngontrak di Bojong Koneng." Dinda memastikan.
"Iya, masih ingat ga kontrakannya Din." Tini kemudian bertanya tentang kontrakannya mba Erna.
"Masih, waaah jangan-jangan kamu lupa nih makanya nanya." Dinda bertanya.
__ADS_1
"Ga maksud aku tuh, gimana kalau kita mampir ke kontrakan mba Erna. Coba nanya atau nyari di sekitar kontrakan mba Erna. Siapa tahu ada yang kosong terus kita cocok. Gimana Din mau ga?." Tini coba bernegosiasi.
"Boleh juga Tin, ayo ke kontrakan mba Erna. Ehh tunggu dulu, tapi bener kaaann kamu lupa kontrakannya mba Erna. Alasan nyari kontrakan, padahal ingin main tapi lupa malah nanya. Tapi ga apa-apa sih. Siapa tahu ada sekalian main lah, aku juga mau tahu gimana kabar mba Erna. Sudah kerja atau belum ya." Dinda akhirnya mau juga.
"Iya sih Din, lupa, tahu sendiri aku gimana, tapi kalau sudah di jalannya pasti aku ingat. Ya sudah naik angkutan." Tini mengiyakan, selanjutnya mereka menunggu angkutan lewat sambil berdiri di pinggir jalan.
Tidak berapa lama kemudian, angkutan yang mereka nantikan datang juga. Angkutan dengan nomor 39 c lewat di depan mereka. Mereka berdua menyetop angkutan tersebut lalu naik ke dalam dan duduk. Angkutan tersebut berjalan menuju ke arah warung bongkok.
Sampailah mereka di pertigaan Warung bongkok. Setelah membayar ongkos angkutan, mereka turun, kemudian berjalan melewati kios-kios yang ada di pasar Warung bongkok.
Akhirnya mereka berdua sampai juga di kontrakan mba Erna. Sebenarnya kontrakan mba Erna berada tidak jauh dari pasar Warung bongkok. Kontrakannya berada di belakang pasar Warung bongkok tapi menyeberang sungai. Ada mushola dan kontrakan mba Erna berada di depan mushola. Di situ ada beberapa deret pintu kontrakan.
Di depan pintu kontrakan mba Erna, Dinda mengetuk pintu sambil mengucap salam.
Tok
Tok
Tok
"Assalamu'alaikum." Ucap salam Dinda dan Tini bersamaan.
Tok
Tok
Tok
"Assalamu'alaikum." Tini dan Dinda bersamaan mengucap salam lagi.
"Wa'alaikumussalam." Jawab mba Erna dari dalam kontrakan sambil membuka pintu.
"Alhamdulillah sehat mba Erna, mba apa kabar ?." Jawab Dinda sambil masuk ke dalam kontrakan di susul oleh Tini.
Mereka bertiga saling bersalaman dan bercipika cipiki atau cium pipi kanan dan cium pipi kiri. Karena lebih dari tiga bulan mereka tidak bertemu. Dinda yang masuk duluan lalu duduk, kemudian Tini langsung tiduran di lantai ruang depan.
"Alhamdulillah sehat, sudah lama ga ketemu ya." Ucap mba Erna setelah duduk di dekat pintu ruang tengah.
"Ya lumayan mba, tiga bulan ada kali ya. Mba maaf ya aku tiduran habisnya cape, kepanasan lagi tadi." Jawab Tini seadanya tanpa risih dan malu.
"Tak buatin es teh manis ya, biar adem." Ucap mba Erna menawarkan.
Mba Erna kemudian langsung masuk ke dalam ke ruang dapur untuk menyalakan dispenser. Lalu menyiapkan gelas yang kemudian di beri teh celup dan gula.
"Maaf mba Erna ga usah repot-repot." Dinda menjawab yang tidak ingin membuat repot mba Erna.
"Waaahhh pas banget mba, makasih mba mau buatin es teh manis. Tapi bener sih kata Dinda, maaf mba ga usah repot-repot. Maksudnya repot-repot bikinin es teh manis sama beli cemilan heeehee." Tini meledek mba Erna.
"Ada nih cemilan di toples, jadi ga repot-repot beli." Mba Erna menyahut.
"Mba maaf nih Tini emang begitu padahal sama aku juga mba." Dinda ikut-ikutan.
"Cieee sama, jurus aku sudah tersalurkan." Tini senang Dinda ikutan juga ternyata seperti Tini.
"Jurus apaan Tin, kok Dinda di bilang sama." Tanya mba Erna di ruang tengah sembari membuat teh celup manisnya.
"Jurus koplak mba haahaa. Uuuppsss aw." Seketika mendengar jawaban Tini, seketika pula Dinda mengambil bantal yang sedang di pakai buat alas kepala yang di tiduri Tini kemudian melemparnya ke arah tubuh Tini.
"Ga mba, bercanda. Kamu saja yang koplak aku ga mau ikutan ya." Ucap Dinda ke mba Erna kemudian ke Tini langsung.
"Ngomong-ngomong gimana kabar kalian, sudah kerja lagi. Ini es teh manis sama cemilannya. Di minum Din, Tin, sama di makan." Tanya mba Erna sambil memberikan es teh manis dan cemilan dalam toples.
__ADS_1
"Terimakasih mba." Jawab Dinda dan Tini bersamaan.
"Mak nyesss ini mba, seger tenggorokanku." Ucap Tini setelah minum es teh manisnya langsung.
"Alhamdulillah sudah mba, kebetulan kami kerja di pabrik yang sama, sudah gitu satu leader mba. Jadi berangkat bareng pulang bareng juga." Jawab Dinda setelah minum terlebih dahulu.
"Wah enak dong Din, bisa bareng-bareng terus. Jadi ga kesepian kalau di kontrakan." Ucap mba Erna sambil mengganti Chanel televisi yang mereka tonton.
"Mba Erna sendiri gimana sudah kerja lagi." Tanya Tini sambil makan kacang koro yang diambil dari dalam toples.
"Alhamdulillah sudah, di pabrik Sank** tapi ya gitu lewat yayasan. Kalau kalian di pabrik apa?. Waktu itu aku sempat main ke kontrakan mba Lilis, kata mba Lilis kalian pulang kampung. Aku ga tanya-tanya lagi, terus langsung pulang. Dari sejak itu aku belum sempat main lagi karena sudah kerja." Terang mba Erna menjelaskan.
"Kita kerja di pabrik Toyo*** mba, lewat BKK sekolah di kampung." Jawab Tini langsung.
"Ooo, syukur deh. Aku waktu itu sebenarnya mau kasih tahu kalian kalau ada lowongan kerja di Pabrik Epson. Tapi di pabrik tersebut buka lowongannya lewat Depnaker sini. Berhubung kalian ga ada ya sudah ga jadi kasih tahunya." Tutur mba Erna.
"Belum rezekinya mba, rezekinya lewat BKK sekolah." Ucap Dinda sambil memakan kacang koro.
"Mba maaf mau tanya, di sekitar sini ada kontrakan kosong ga ya mba." Tini seketika langsung bertanya tujuan main ke kontrakan mba Erna.
"Iya mba barangkali mba Erna tahu ada kontrakan kosong." Lanjut Dinda bertanya.
"Memangnya sekarang kalian tinggal di mana?. Ga tinggal bareng sama mba Lilis ya, kok nyari kontrakan. Apa mau ngontrak sendiri." Jawab mba Erna.
"Kita tinggal di mess mba, kontrakan pertama kali kita kerja itu yang dari BKK sekolah. Kontrakannya di Cibitung. Kita ga ngontrak sama mba Lilis." Dinda menjelaskan.
"Ooo jadi kalian mau pindah dari situ. Kenapa ga gabung lagi saja ngontrak di kontrakan mba Lilis." Saran mba Erna.
"Sebenarnya mba Lilis juga sudah nawarin mba, tapi kita masih rembugan, yaaa barangkali di sekitar sini ada yang kosong." Jawab Dinda.
"Kalau kontrakan kosong sepertinya ga ada, tapi kalau ada yang mau pindah ada. Jadi itu yang ngontrak diujung mba, katanya mau pindah bulan depan ke perumahan. Namanya mba Novi dia sudah menikah dua bulan yang lalu. Nah suaminya itu ambil perumahan di perumahan Telaga murni. Kalau mau nanti mba antar nanya-nanya dulu boleh." Mba Erna memberitahu soal tetangganya yang mau pindah.
"Sebenarnya bukan rembugan mba, tapi si Dinda tuh ada sesuatu, makanya belum eehh ga ikut ngontrak lagi di mba Lilis." Tini menjelaskan sambil melirik Dinda yang makan kacang koro sambil nonton televisi.
"Oooo Dinda ada sesuatu, pantesan mau nyari kontrakan." Ucap mba Erna tersenyum kepada Dinda.
"Bukan begitu mba, Tini apaan sih. Jangan bilang sama mba Erna. Malu tahu Tin, lagian itu masalah pribadi." Dinda seketika mengelak sambil melihat mba Erna yang senyum dengan tingkahnya.
"Jangan bilang, malah sendirinya yang ngomong hmmm, gimana sih mba Erna. Maklum mba masih baru belum berpengalaman." Tini menjawab sambil meledek tapi ke arah mba Erna.
"Ya sudah Tin, maklum. Mba Erna juga dulu begitu. Ga apa-apa Din, buat pelajaran dan pengalaman." Mba Erna memaklumi sikap Dinda dan Tini.
Setelah asik mengobrol tak terasa waktu menjelang siang. Mba Erna mengajak Dinda dan Tini ke kontrakan mba Novi yang letaknya di ujung kontrakan mba Erna.
Dinda melihat ada sebuah sepeda motor persis sama seperti sepeda motor milik mas Nur yang terparkir di depan kontrakan mba Novi.
"Tin itu sepertinya motornya mas Nur ya." Tanya Dinda ke Tini sambil menunjuk sepeda motor yang terparkir depan kontrakan mba Novi.
"Hmmm, kalau kangen orangnya ngomong, tapi jangan sama sepeda motornya juga. Emang sih mirip, tapi motor kaya gitu kan banyak Din, yang punya bukan cuma mas Nur saja. Motor itu punya yang ngontrak di situ kali Din." Ucap Tini setelah melihat sepeda motor yang di maksud Dinda.
"Iya juga, iya kali punya yang ngontrak di situ." Dinda juga berpikir mungkin motor tersebut bukan punya mas Nur.
"Tapi kok mirip banget ya, apa mas Nur ada di sekitar sini. Ahh mungkin sama merk dan modelnya. Aku harap semoga ga ketemu mas Nur di sini. Kalau ketemu sama mas Nur gimana." Dinda berpikir dan berkata dalam hati.
Mereka bertiga berjalan menuju ke kontrakan paling ujung. Ketika hampir sampai terdengar beberapa suara orang yang sedang mengobrol.
"Kok seperti suara mas Nur ya. Apa jangan-jangan beneran ini motor mas Nur. Kalau beneran mas Nur, Kok mas Nur ada di sini. Ya Allah gimana nih, kok jantungku berdebar ga karuan." Ucap Dinda dalam hati sambil meremas jemarinya sendiri karena keluar keringat dingin akibat jantungnya berdebar-debar tidak karuan.
Semakin dekat dan semakin dekat hingga berada di depan pintu kontrakan. Dinda dan Tini seketika terbengong. Yang paling terkejut adalah Dinda.
Penasaran bagaimana, ikuti terus di episode berikutnya. Salam sehat selalu dan bahagia buat semuanya.🥰🥰🥰🌹🌹🌹
__ADS_1