
Bertemu Mas Nur tetangga kontrakan.
Satu bulan lebih Dinda bekerja di Cikarang. Dinda juga sudah mendapatkan gaji pertamanya. Merasa senang dengan apa yang didapatinya, Dinda bersyukur. Gaji Dinda satu bulan penuh hanya 750 ribu saja. Setelah dihitung-hitung, akhirnya Dinda membagi uang gajinya untuk membayar kontrakan, uang untuk di kirim ke orang tua, belanja bulanan dan sisanya untuk ongkos dan makan sampai gaji bulan berikutnya.
Selama hampir dua bulan, jika di kontrakan Dinda belum juga bertemu dengan yang namanya mas Nur. Bahkan untuk sekedar melihat mas Nur seperti apa orangnya, Dinda juga belum tahu. Hanya saja mba Lilis dan tetangga kontrakan bila bertemu dan berbicara dengan Dinda, menyampaikan salam dari mas Nur untuk Dinda.
Karena mba Lilis dan tetangga yang terkadang melihat mas Nur, sedangkan Dinda tidak pernah bertemu, Dinda menjadi penasaran. Seperti apa rupa mas Nur itu. Sebenarnya Dinda tidak ingin memikirkannya, tetapi karena rasa penasarannya terhadap mas Nur, akhirnya Dinda menjadi lebih ingin tahu mas Nur itu bagaimana.
Hari-hari berlalu begitu saja. Suatu hari, di hari Minggu, dan hari itu adalah hari libur kerja. Pada saat Dinda sedang menjemur pakaian di luar kontrakan, ada seseorang diujung kontrakan yang sedang memperhatikannya. Dengan mencuri pandang Dinda melirik seseorang tersebut. Dalam hati Dinda berkata apakah orang tersebut yang bernama mas Nur.
Seorang lelaki sedang duduk di teras kontrakan. Sesekali Dinda bertemu pandang dengan orang tersebut. Namun keduanya hanya saling diam tanpa senyum sedikitpun. Menurut Dinda, dia adalah perempuan merasa malu bila senyum terhadap orang yang belum di kenal. Juga merasa risih apalagi terhadap seorang lelaki yang tidak di kenal.
Setelah selesai menjemur, Dinda duduk di teras kontrakan sambil memotong kuku. Dinda merasa kuku jari tangan dan kakinya mulai terlihat panjang. Tanpa sadar, ada seseorang lelaki yang sedang berjalan menuju kearahnya.
"Assalamu'alaikum, Mba Dinda yaa?". Ucap salam dari seorang lelaki sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"wa'alaikumussalam iya mas, maaf mas siapa ya?". Dinda menjawab salam sambil membalas uluran tangan. Bersalaman lalu bertanya.
"Maaf, ini baru lihat makanya mampir ke sini boleh ga ngobrol?. Aku Nur yang sering nitip salam sama mba Lilis. Jawab lelaki tersebut agak terlihat gugup.
"Oooo,,,, mas Nur yaaa. Maaf aku belum kenal jadi ga tahu. Baru lihat mas Nur juga heehee. Maaf ya mas, salamnya habis buat masak. Lagian mas Nur nitip salam sih sama mba Lilis, ya habis lah." Jawab Dinda sambil bercanda menutupi rasa malu melihat wajah mas Nur yang ganteng.
__ADS_1
"Libur ya Din, tumben di rumah." Ucap mas Nur memulai obrolan dengan Dinda sambil duduk di teras kontrakan Dinda.
"Iya libur mas, kalau minggu aku memang libur. Mas saja yang ga pernah lihat." Jawab Dinda sambil memotong kukunya yang panjang.
"Iya ya, mungkin baru hari ini aku lihat. Karena tiap hari aku berangkat kerja, jadi terkadang lupa hari deh." Jawab Mas Nur sambil memperhatikan Dinda yang masih asik memotong kukunya.
"Iya, mas Nur itu karyawan rajin apa kerajinan, masa tiap hari kerja mas. Apa ga ada liburnya ya mas?." Tanya Dinda sambil meledek.
"Sebenarnya kalau hari Minggu libur Din, tapi di suruh berangkat sama atasan, mau gimana lagi. Lagian libur di rumah juga mau apa, sudah biasa kerja. Ucap mas Nur menjelaskan.
"Iya juga ya mas, kalau kerja terus pengin libur. Tapi kalau libur, gaji kurang banyak ya mas, ga ada lemburan." Sahut Dinda yang sudah mengerti tentang gajian dan lembur.
"Yaa, gitulah namanya manusia. Di kasih kerja terus eh lemburan terus minta libur. Giliran ga ada lemburan libur minta lemburan berangkat kerja." Jawab mas Nur.
Obrolan mereka sangat santai, seperti sudah mengenal lama. Selesai memotong kuku, Dinda memberikan air minum teh manis hangat dan kue cemilan untuk dimakan.
Di sela-sela obrolan mereka, datang mba Lilis dan Tini yang baru pulang dari pasar. Mereka membeli sayur dan tempe serta yang lainnya entah apa yang ada di kantong kresek.
"Ehem ehem, ada yang lagi pedekate nih. Baru di tinggal belum ada sehari eee ada yang nemenin. Siapa tuhh?." Ucap Tini menggoda Dinda.
Dinda yang agak malu di ledek oleh Tini pun menjawab apa adanya.
__ADS_1
"Siapa yang pedekate Tin, ini mas Nur tuh tahu-tahu main. Baru lihat, terus ngajakin ngobrol. Maklum, mas Nur tiap hari kan kerja. Jadi baru lihat aku libur, eehh malah nanya." Jawab Dinda agak malu dan kesal.
"Mas Nur tumben ga kerja, ga lembur ya mas?." Tanya mba Lilis sambil melepaskan sandal di teras kontrakan.
"Iya mba Lilis, sebenarnya lembur. Suruh berangkat kerja sama atasan, tapi hari ini malas, ingin di rumah saja." Ucap mas Nur sambil senyum malu di lihatin sama mba Lilis.
"Malas kerja apa ingin ketemu sama seseorang." Ucap mba Lilis meledek mas Nur.
"Malas kerja iya, mau ketemu sama seseorang iya juga." Balas mas Nur menjawab ledekan mba Lilis.
"Ya sudah lanjutkan ngobrolnya, maaf ya iklan sebentar, heehee." Ucap Mba Lilis meledek Dinda dan mas Nur sekaligus kemudian masuk ke dalam kontrakan.
Dinda terdiam untuk sesaat, malu dan entah ada apa dengan hatinya ketika di tatap oleh Mas Nur. Mas Nur yang tersenyum melihat Dinda hanya bisa diam. Tanpa bicara, masing-masing melihat entah ke arah mana saja yang jelas menghindari saling bertatap muka.
Mba Lilis dan Tini sibuk mencoba untuk memasak sayur dan menggoreng lauk pauk. Tadinya Dinda ingin membantu, tetapi karena mas Nur masih di teras kontrakan, Dinda tidak bisa membantu Tini dan mba Lilis memasak.
Mas Nur mencoba untuk mengobrol kembali dengan Dinda. Dinda pun sudah tidak merasa malu atau canggung lagi. Dinda berusaha menepis apa yang terjadi dalam hatinya.
Hari itu Dinda mengobrol dengan Mas Nur sampai agak siang. Tak terasa sudah tengah hari, cuaca mulai agak panas. Mas Nur pun beranjak pamit kepada Dinda. Sempat berpamitan kepada Tini dan juga mba Lilis. Tini dan mba Lilis mengatakan kepada Dinda untuk mengajak mas Nur makan bersama. Namun mas Nur menolak dengan alasan ada janji bertemu dengan temannya.
Setelah mas Nur pergi, Tini dan mba Lilis meledek Dinda. Dinda agak malu dan tidak tahu harus bagaimana bila ternyata yang dikatakan mba Lilis itu benar adanya. Namun karena Dinda masih teguh dengan niatnya bekerja, maka hal yang menyangkut tentang perasaan atau cinta Dinda tepis.
__ADS_1
"Dinda mas Nur mulai deketin ya, jadi bagaimana jika Mas Nur menyatakan cintanya sama kamu?." Ucap mba Lilis dengan muka agak serius.
Pertanyaan yang membuat Dinda sempat berpikir dan melamun sejenak. Dinda tidak tahu bagaimana nanti saja, karena untuk sekarang Dinda masih ingin fokus bekerja dulu.