
Pagi hari, Dinda bersiap-siap akan berangkat pulang ke kampung. Mba Lilis sudah berangkat kerja. Setelah mengemas apa yang di bawa, Dinda keluar kontrakan dan mengunci pintu.
Saat hendak pergi, dari arah belakang ada yang memanggil namanya. Dinda menengok, terlihat seseorang dengan senyumannya.
"Dinda, jadi berangkat pulang ke kampung?." Seseorang yang dari arah belakang langsung menyapa Dinda setelah sebelumnya tersenyum.
Ternyata orang tersebut adalah mas Nur. Dinda merasa tidak enak, terlihat sepertinya mas Nur benar-benar hendak mengantarnya.
"Iya mas, kenapa mas Nur di sini?. Dinda bertanya, yang sebenarnya Dinda sendiri sudah tahu maksud kedatangan mas Nur.
"Mau nganter Dinda sampai ke pul Cibitung. Tolong Din, biarkan aku mengantarmu. Jangan nolak bantuan, itu sama saja menolak rezeki." Mas Nur meminta agar Dinda mau di antar sampai ke pul Cibitung.
"Tapi mas,,,." Ucap Dinda belum selesai bicara.
"Ga usah tapi-tapi, sudah tinggal naik, ayo naik. Nih helmnya pakai, nanti terlambat ga kebagian tiket bus gimana?. Terus ga jadi pulang, ga jadi lamar kerja. Kalau gitu tak lamar aku saja ya." Mas Nur langsung memotong Dinda bicara sekaligus memberikan helm.
Mendengar mas Nur berbicara seperti itu, Dinda langsung menerima helm. Memakainya kemudian naik membonceng mas Nur. Agak kesal, tapi mau bagaimana lagi sudah agak terlambat.
Dinda merasa agak deg-degan membonceng mas Nur. Entah apa yang dirasakan dalam hatinya. Ingin bicara tapi takut salah, akhirnya sepanjang jalan Dinda hanya diam saja.
"Kenapa diam saja Dinda?, ngomong dong?, apa gitu?. Aku bukan tukang ojek lho ya." Mas Nur mencoba untuk mengajak Dinda mengobrol dalam perjalanan.
"Ini lagi di jalan mas, makanya diam." Dinda mencoba menghindari obrolan.
"Iya aku tahu ini di jalan Dinda, siapa bilang ini di mall." Jawab mas Nur hanya ingin ngobrol saja dengan Dinda.
Dinda tidak menjawab, dia hanya fokus memperhatikan jalanan dari arah kontrakan ke pul Cibitung. Karena ini baru pertama kalinya Dinda naik motor dari kontrakan ke pul Cibitung.
Tidak lama waktu yang dibutuhkan dari warung bongkok ke pul Cibitung. Motor yang dinaiki oleh mas Nur dan Dinda akhirnya sudah terparkir di parkiran motor pul Cibitung. Dinda memperhatikan pul Cibitung dengan seksama.
__ADS_1
Mas Nur mengajak Dinda ke tempat loket tiket berada. Dinda merasa ini baru pertama kalinya membeli tiket di pul Cibitung. Di pul Cibitung terlihat beberapa bus Sinar Jaya berbagai jurusan.
Mas Nur menyuruh Dinda untuk duduk dan menunggu saja. Sedangkan mas Nur mengantri di loket tiket. Mas Nur membeli tiket bus jurusan Slawi Tegal.
Setelah mendapatkan tiket bus, mas Nur mendekati Dinda. Mas Nur memberikan tiket bus tersebut kepada Dinda.
"Dinda ini tiket busnya." Ucap mas Nur sambil menyodorkan tiket bus.
"Terimakasih mas, ini duitnya." Dinda menerima tiket bus tersebut dan memberikan uang kepada mas Nur.
"Ga usah, udah di bayar, yuk cari busnya." Mas Nur menolak uang yang di berikan Dinda untuk membayar tiket bus.
"Tapi mas, ini uangnya, siapa yang bayar tiketnya, mas Nur ya?. Ucap Dinda yang masih ingin memberikan uang tiket bus sambil beranjak dari duduknya.
"Udah ga usah, itu uangnya kamu simpan buat beli makanan apa minuman, atau buat yang lain." Jawab mas Nur sambil berjalan melihat-lihat plat bus yang sesuai dengan tiket bus yang dibelinya.
Dinda merasa tidak enak karena tiket bus dibeli oleh mas Nur dan pakai uangnya. Dinda berjalan dan sambil melihat plat bus yang sesuai dengan tiket yang di beli mas Nur.
Dinda melihat bus yang ditunjuk mas Nur. Berjalan mengikuti mas Nur menuju bus yang di tunjuk tadi. Dinda hanya terdiam tidak tahu harus ngomong apa. Bingung sekaligus merasa tidak enak dengan sikap mas Nur.
Mas Nur naik ke dalam bus diikuti oleh Dinda. Setelah menemukan bangku yang kosong yang posisinya berada di baris ke tiga dari depan. Bangku dua, satu telah diduduki oleh perempuan masih muda dan sebelahnya kosong.
"Permisi mba, maaf ini bangkunya masih kosong apa ada orangnya mba?." Mas Nur menanyakan bangku yang kosong kepada perempuan yang duduk di sebelah bangku kosong tersebut.
"Masih kosong mas." Jawab perempuan tersebut singkat sambil melihat mas Nur kemudian Dinda.
"Din, mana tas kamu." Mas Nur meminta tas Dinda.
Dinda menyerahkan tas ransel yang dibawanya kepada mas Nur. Oleh mas Nur, tas ransel tersebut di taruh di tempat yang buat menaruh barang di atas tempat duduk.
__ADS_1
"Mba, ini pacar saya mau pulang kampung, tolong ya mba nitip." Ucap mas Nur kepada perempuan tadi lalu tersenyum sambil melihat ke arah Dinda.
Dinda kaget di bilang mas Nur sebagai pacarnya. Mau ngomong tapi bingung sekaligus malu. Dinda hanya bisa tersenyum saat di lihat oleh perempuan yang duduk di sebelah kursinya.
"Mas, terimakasih." Ucap Dinda kepada mas Nur sambil duduk di kursi bus.
Dinda terlihat malu dan mukanya sedikit menunduk ketika di lihat oleh mas Nur. Mas Nur hanya tersenyum setelah mendengar ucapan terimakasih dari Dinda.
"Iya, sama-sama. Kamu hati-hati di jalan. Nanti kalau sampai di rumah atau ada kabar tentang kerjaan tolong kasih tahu mba Lilis lewat telphon ibu kontrakan. Supaya aku dengar kabar kamu di kampung dan lebih tenang di sini." Mas Nur mengatakan seakan-akan tidak ingin Dinda jauh, dan ingin mendengar kabarnya karena pulang kampung.
Dinda tersenyum bingung harus jawab bagaimana karena malu terdengar oleh orang lain. Terlebih mas Nur sudah mengatakan kalau Dinda adalah pacarnya.
"Insyaallah mas, mas mau pulang apa di sini terus." Dinda hanya bisa menjawab seperti itu saja. Dan mencoba menyuruh mas Nur untuk pulang meskipun bahasanya bertanya.
"Inginnya ikut pulang kampung bareng kamu heehee, tapi entar saja. Yaaa aku pulang Din, nunggu bus mau berangkat baru turun." Bukannya langsung pulang, mas Nur malah masih berdiri di sebelah kursi yang di duduki Dinda.
Dinda menarik nafas agak dalam karena malu sekaligus deg-degan. Hati Dinda merasa tidak enak karena mas Nur sudah mengantarnya, membeli tiket, dan menemani sampai waktunya bus akan berangkat.
Para penumpang bus sudah naik semuanya. Bus sudah penuh oleh penumpang yang akan pulang kampung. Supir bus dan kernetnya juga naik ke dalam bus. Bus di cek oleh petugas, memastikan jumlah tiket yang terjual dan penumpangnya sama.
Mas Nur akhirnya pamitan untuk pulang. Turun dari bus, mas Nur masih berada di samping bus. Melihat Dinda dari kaca bus di bawah di luar bus. Mas Nur menatap Dinda, dan terus melihatnya.
Dinda yang sadar akan dirinya yang di lihat oleh mas Nur akhirnya melihat juga. Dinda hanya bisa tersenyum dan mencoba melambaikan tangannya saat bus akan segera berangkat.
Mas Nur yang melihat Dinda melambaikan tangan kemudian membalasnya. Melambaikan tangan kepada Dinda saat tahu bus mulai bergerak ke depan.
Bus berjalan keluar pul Cibitung. Dinda sudah tak terlihat lagi oleh mas Nur. Mas Nur akhirnya pulang kembali ke kontrakan. Sedangkan Dinda yang sudah tahu mas Nur pulang, hanya bisa terdiam memikirkan sikap dan ucapan mas Nur sebelum bus berangkat.
Bus mulai masuk tol, dan akhirnya melaju di jalan tol menuju tujuan kota Slawi Tegal. Dalam bus, Dinda terdiam sambil melihat jalanan. Namun di dalam pikirannya masih terbayang wajah dan ucapan mas Nur.
__ADS_1
Perjalanan dari Cikarang, Cibitung ke Slawi Tegal cukup memakan waktu setengah hari lebih. Sekitar 6 sampai 7 jam baru sampai di kota Slawi Tegal. Ini pertama kalinya Dinda pulang kampung setelah bekerja dan habis kontrak. Dinda berharap kepulangannya untuk melamar kerja lagi dan bisa mendapatkan pekerjaan.
Bagaimana kisah Dinda selanjutnya yuk simak di episode berikutnya. Akankah Dinda mendapatkan pekerjaan lagi?, dan bagaimana dengan mas Nur?. Terus baca karyaku yaaa, terimakasih buat yang sudah baca. Salam sehat dan tetap semangat selalu🙏🙏💪💪☺️☺️.