
Setelah melakukan beberapa tes, akhirnya para pelamar kerja beristirahat di tempat yang telah disediakan. Sambil menunggu pengumuman hasil tes kesehatan, beberapa diantara para pelamar kerja saling mengobrol. Termasuk Tini dan Dinda.
"Din, kira-kira gimana ya hasil tes tertulis tadi?." Tanya Tini membuka obrolannya.
"Berdoa saja Tin, kita bisa lulus tes kesehatan." Jawab Dinda setelah minum air putih dari botol yang dibawanya.
"Masalahnya kok aku jadi ragu nih Din, kalau aku lulus tes kesehatan. Ucap Tini sambil membuka tutup botol air putih yang di ambilnya dari dalam tasnya.
"Memangnya kenapa Tin, kok kamu ragu. Ada yang salah ya tadi pas tes kesehatan. Dinda bertanya menyelidik.
"Jelaslah ada yang salah. Pertama, saat tes mata, itu huruf yang paling bawah sama nomor dua dari bawah aku salah sebut Din." Tini menjelaskan salahnya pada saat tes tertulis.
"Ada lagi, kok pertama, memangnya ada yang kedua, apa masih ada juga yang lainnya. Kamu matanya minus ya Tin?." Tanya Dinda memastikan.
"Ga tahu Din, aku kan belum pernah cek mata. Habis itu nih, pas cek anus, aku ngeden ga bisa-bisa Din. Coba bayangin seumur-umur aku baru, malunya minta ampun. Anus aku dilihatin sama orang lain." Tini menjelaskan sambil menutup mukanya karena malu.
"Memangnya cuma kamu, aku juga pertama kalinya. Bukan bayangin lagi, memang nyata Tin. Suruh plorotin celana, aku bingung ini tes apaan yaaa?. Mikir dalam hati bukan diotak lagi. Ga lakuin di suruh, di lakuin malu, tapi ini tes. Habis itu suruh nungging ngeden kan ga bisa. Yang ada jongkok ngeden iya bisa." Dinda jelasin dengan rinci mengingat tes kesehatannya.
"Ternyata kita senasib dan sepenanggungan ya Din. Nasib cari kerjaan, melamar kerja ternyata baru tahu ada tes kesehatan begini. Semoga lulus sajalah, sudah sampai sejauh ini." Harapan Tini setelah semua tes di laluinya.
"Semoga Tin, apalagi aku. Berharap tes ini lulus, dan dapat pekerjaan. Bukan hanya kamu aku juga tadi pas tes mata, salah sebut. Huruf yang paling bawah sama yang kedua dari bawah, itu yang salah. Hurufnya apa bilangnya apa, salah kan. Belum tes tinggi badan, kamu tahu sendiri tubuhku semampai, semeter tak sampai heehee." Ucapan Dinda membuat dirinya tertawa sendiri.
"Heehee, iya ya Din. Aku baru sadar ternyata kamu pendek." Tini membalas candaan Dinda yang membuat dirinya mendapat pukulan kecil dari tangan Dinda di lengan tangan kanannya.
__ADS_1
"Sudah tahu pendek ga usah di sebutin juga kali Tin. Kan malu, lihat dari sekian pelamar kerja, kayanya cuma aku yang pendek." Dinda sadar akan tinggi badannya sendiri.
"Ga juga Din, lihat tuh masih ada yang pendek seperti kamu." Ucap Tini sambil menunjuk beberapa orang yang terlihat pendek diantara pelamar kerja.
"Situ juga ga sadar ya kalau semampai, semeter tak sampai heeheee." Ucap Dinda menunjuk Tini sambil tertawa.
"Udah ah sesama orang semampai jangan saling nyindir tahuuuuu, tuh pengumuman sudah keluar ga penasaran lihat hasilnya." Balas Tini kemudian menyudahi bercandaan mereka ketika melihat seseorang membawa selembar kertas di tempel di papan pengumuman hasil tes kesehatan calon karyawan.
Melihat hal tersebut, para calon karyawan yang sudah mengikuti tes mulai berkerumun membaca hasil tes kesehatan. Satu persatu membaca namanya sendiri dan nama yang lainnya. Dan ternyata mereka lulus semua, artinya tidak ada satupun yang tidak lulus tes kesehatan.
Saling tersenyum dan berucap syukur semua calon karyawan terharu karena ternyata akhirnya mereka lulus. Dan di saat itu pula salah satu perwakilan dari pihak sekolah dan perusahaan mendatangi mereka.
"Perhatian, untuk semua calon karyawan silahkan berkumpul di ruang aula untuk pengumuman selanjutnya, terimakasih." Ucap bapak guru perwakilan sekolah.
"Iya, sekarang biar cepat selesai jadi kalian cepat pulang dan beristirahat." Jawab bapak perwakilan sekolah tersebut.
Semua calon karyawan termasuk Dinda dan Tini berjalan menuju ruang aula yang disebutkan tadi. Diantara mereka ada yang mengobrol satu dengan yang lain, termasuk Tini dan Dinda.
"Alhamdulillah kita diterima Din, ga nyangka banget. Padahal aku ga yakin seratus persen lhooh." Ucap Tini memulai pembicaraan sambil berjalan.
"Berarti ini rezeki kita Tin, Alhamdulillah. Kita sama-sama lagi. Dan Alhamdulillah juga kita ga jadi pengangguran lagi iya thooo." Dinda menyambut pembicaraan Tini dan tersenyum senang.
"Iya juga yaa, ga enak tahu jadi pengangguran. Kata orang sono no ya, bilangnya boke alias ga punya duit hee heee." Tini menimpali sambil tertawa selepas berbicara.
__ADS_1
"Sudah ah ngobrolnya ga enak ada bapak yang di depan, lagian sudah mau sampai Tin." Dinda berbicara sambil melirik kedua orang bapak dari perwakilan sekolah dan perusahaan yang berjalan di depan mereka yang jaraknya beda dua orang di depannya.
"Iya hemm." Tini menutup mulutnya takut diperhatikan ehh di lihat oleh orang yang dimaksud Dinda.
Sampailah mereka di tempat aula, kemudian berucap bapak perwakilan dari sekolah untuk mempersilahkan mereka duduk. Satu persatu duduk di kursi dan untuk sesaat terdiam seluruhnya menunggu apa yang selanjutnya akan diumumkan untuk mereka.
"Terimakasih saya ucapkan kepada kalian karena telah berusaha dari mulai melamar kerja, kemudian mengikuti tes demi tes dan akhirnya sampai di sini." Perwakilan dari sekolah memulai berbicara di depan calon karyawan yang sudah duduk dan menunggu arahan berikutnya.
"Dan saya ucapkan selamat kepada kalian karena telah lulus seleksi demi seleksi. Bersyukurlah kalian dari sekian banyak pelamar, cuma kalian yang lulus. Untuk itu, jangan menyia-nyiakan hasil dari usaha tes demi tes yang kalian lakukan. Kalian sekarang menjadi calon karyawan di perusahaan Toyo** yang berada di daerah cikarang. Belum resmi menjadi karyawan ya, karena ada beberapa hal yang harus dilalui lagi. Untuk selanjutnya, Saya serahkan kepada bapak dari perwakilan perusahaan. Untuk itu saya persilahkan kepada bapak perwakilan perusahaan untuk melanjutkan." Perwakilan sekolah memberikan beberapa kalimat yang ujungnya membuat calon karyawan yang tadinya plong kembali deg-degan karena ternyata belum resmi di terima menjadi karyawan atau belum lulus seratus persen.
"Terimakasih kepada bapak perwakilan sekolah yang menjadi jembatan bagi perusahaan kami." Perwakilan perusahaan memulai berbicara dan diperhatikan dengan seksama bahkan tidak sedikit dari calon karyawan mulai berwajah tegang.
"Saya lanjutkan, dari hasil tes demi tes dan pengumuman terakhir, bahwa kalian telah lulus dan dinyatakan menjadi calon karyawan. Baru calon ya belum karyawan, karena ada beberapa tahap lagi yang harus dilewati untuk menjadi karyawan." Lanjut pembicaraan yang serius.
"Lhoh, kok sepertinya muka-muka di depan saya agak tegang ya, santai saja, kan kalian sudah lulus tes. Kalian sudah setengah jalan lho, masa mukanya tegang. Yang santai saja mba mba, apa muka saya yang membuat kalian tegang?, saya kan bukan sedang memarahi kalian mba mba, jadi santai saja yah." Perwakilan perusahaan mencoba membuat calon karyawan baru untuk santai karena terlihat beberapa dari mereka mukanya tegang begitu mendengar bahwa mereka baru calon karyawan belum resmi menjadi karyawan.
*
Ya iya pa tegang saya saja dulu begitu tak pikir, saya sudah lulus dan diterima menjadi karyawan. Taunya belum seratus persen karena ada beberapa tahap lagi dan ternyata itu prosedur menjadi karyawan. oooaalaaahhh, kalau jaman sekarang itu namanya setengah prenk. Padahal sudah diterima jadi karyawan, kok dikatakan calon karyawan yaa jadinya setengah tegang mukanya paaaaa heeheee. Lanjut terus ya Thor ceritanya meski lamaaaaaaaaaaaa upnya. Semangat terus yaaa thooooorrrr πͺπͺπͺ
*
Maaf teruntuk pembaca sekalian dari author. Untuk cerita ini memang dalam pengerjaannya melambat yaa. Bahkan sempat vakum, eh gimana ngomongnya ya, vakum tuh apa?, takut salah ketik nih Authornya. Pada dasarnya sempat terhenti untuk sekian waktu.
__ADS_1
Mohon pengertiannya untuk para pembaca tercinta dan tersayang, yang masih setia menanti episode cerita ini. Dalam setiap penulisan cerita, penulis terkadang mengalami beberapa kendala. Dan karena kendala tersebut, penulis memutuskan untuk berhenti sejenak. Bahasanya itu penulis sedang bersemedi mencari ide bukan wangsit yaaaa heeeheee. Jadi author berharap pembaca bersabar untuk menantikan episode atau cerita selanjutnya. Semangat teruuussss dan sehat selalu untuk semuanya salam bahagia dari authorππππ₯°π₯°π₯°πΉπΉπΉπ»π»π».