Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )

Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )
Episode 87. Ketika bertemu lagi.


__ADS_3

Hampir jam 3 malam, Dinda dan Tini akhirnya sampai juga di Cibitung dengan selamat. Keduanya masuk ke dalam kontrakan dan langsung menutup kembali pintunya. Karena masih ngantuk, mereka berdua langsung tidur lagi di atas kasur.


Shubuh berkumandang, Dinda bangun terlebih dahulu di susul oleh Tini. Mereka melaksanakan ibadah sholat shubuh. Karena satu tembok, kegiatan mereka terdengar oleh mas Heru. Akan tetapi mas Heru yang tidak dikabari oleh Dinda bahwa dia berangkat lagi ke Cibitung membuat mas Heru tidak menghiraukannya dan itu mungkin tetangga sebelahnya lagi.


Hingga terdengar pintu di buka sekitar jam 6 pagi, Tini mengajak Dinda untuk berjalan-jalan di pagi hari membeli sarapan nasi uduk yang sudah dikangeni oleh Tini.


"Din, ayo mumpung masih pagi, seger nih udaranya." Ucap Tini setelah membuka pintu dan menikmati udara pagi di Cibitung yang seger.


"Iya, bentar Tin mau nyolokin dulu dispensernya biar pas pulang airnya sudah matang." Jawab Dinda di dalam yang sedang memasukkan colokan dispenser ke stopkontak.


Mas Heru yang sedang menonton televisi sambil menikmati segelas kopi hitamnya kaget dan tersedak air kopi karena dengan jelas mendengar suara Tini dan Dinda dari kontrakan.


Mas Heru membuka pintu dan langsung menengok ke arah depan pintu kontrakan Dinda. Dan benar saja Tini berdiri di teras sambil merentangkan tangan seperti sedang pemanasan otot mau senam.


Di saat itu pula keluar Dinda sambil membawa kunci kontrakan kemudian menutup pintu dan menguncinya. Mas Heru yang melihat Dinda keluar dari kontrakan hanya menatapnya dengan senang sekaligus rasa kesal yang muncul tiba-tiba.


"Tin, Din, kalian sudah di sini, kapan datang?." Tanya mas Heru langsung.


"Sebenarnya tanyanya ke siapa mas, ke Aku atau ke Dinda?." Tanya Tini balik sambil melihat mas Heru yang terus saja melihat Dinda.


"Din jawab tuh, mas Heru tanyanya ke kamu." Ucap Tini lanjut.


"Kok Aku Tin?, kamu yang jawab." Ucap Dinda sambil memakai sandal yang terletak di teras kontrakan.


"Ya kamu lah, kamu yang dilihatin terus sama mas Heru. Lagian kamu kan pacarnya." Jawab Tini kemudian.


"Pulang semalam mas, kenapa?." Jawab Dinda agak ketus seakan tidak merasa kangen padahal dalam hati senang melihat mas Heru dan ingin berkata yang lembut tapi yang keluar dari mulut bahasanya agak kesal.


Mas Heru berjalan mendekat melompati pembatas kontrakan yang tingginya selutut. Sambil melihat Dinda seakan tidak percaya kalau Dinda bisa berangkat ke Cibitung lagi hari ini.


"Din, kenapa ga ngomong semalam berangkat. Paling tidak kasih tahu lewat telphon atau SMS. Jadi mas bisa jemput kamu." Ucap mas Heru saat di dekat Dinda dan Tini di teras kontrakan Dinda.


"Sengaja mas, biar buat kejutan. Bener kan terkejut, sampai lihatin terus. Kalau kangen, mau peluk silahkan, mumpung masih sepi heehee." Ucap Tini meledek.


"Eee ga boleh lah, lagian malu tahu Tin." Ucap Dinda.


"Ga boleh karena ada Tini ya Din, kalau ga ada, boleh dong." Ucap mas Heru lanjut dengan meledek Dinda.


"Mas Heru apaan sih, masih pagi juga udah gombal. Malu apa mas, nanti semua tetangga pada dengar lagi." Jawab Dinda agak kesal beneran.


"Din, emang semua tetangga itu sudah tahu kalau kamu itu pacarnya mas Heru. Iya ga mas?." Ucap Tini kemudian lanjut bertanya kepada mas Heru.


"Tau tuh Dinda, habis pulang kampung mendadak amnesia. Lupa ingatan, jangan-jangan lupa sama pacarnya juga nih." Jawab mas Heru sekenanya namun bercanda.


"Emang lupa, lupa kalau punya pacar ga perhatian." Jawab Dinda kesal entah kenapa.


"Aku ga ikutan ya, masalah rumah tangga. Ayo Din beli sarapan keburu lapar nih cacing dalam perut Aku. Kasihan meronta-ronta dari semalam." Ucap Tini ga mau ikutan masalah antara Dinda dan mas Heru yang ga jelas.


"Hmmm, ya sudah mau beli sarapan, di mana ?, mas ikut ya, sekalian mau beli juga. Tapi bentar tungguin, mas mau ambil duit dulu sama ngunci pintu." Ucap mas Heru tidak ingin memperpanjang obrolan yang membuat Dinda semakin kesal entah karena apa.


"Mas Heru, bawa duitnya yang banyak ya sekalian bayarin sarapan kita juga heehee." Ucap Tini meledek minta traktir sarapan.


Mas Heru masuk ke dalam kontrakan mengambil dompet yang sudah ada uangnya. Sementara itu Dinda dan Tini berjalan ke depan kontrakan mas Heru. Menunggu mas Heru mengambil uang. Sesaat kemudian mas Heru keluar dari kontrakan kemudian menutup pintu dan menguncinya.


Mereka berjalan bersama ke warung nasi uduk yang sudah menjadi langganan Tini dan Dinda. Sesampainya di warung nasi uduk, sudah ada beberapa pembeli yang sedang mengantri.

__ADS_1


Dinda dan Tini juga mas Heru ikutan mengantri. Setelah tiba antrian Dinda dan Tini, mereka langsung memesan nasi uduk dengan lauk yang menjadi pilihannya masing masing.


"Tin, kamu pake apa?." Tanya Dinda.


"Aku pake, Telur dadar sama semur tahu dan jengkol." Jawab Tini.


"Kalau mas Heru pake apa mas?." Tanya Dinda ke mas Heru.


"Mas komplit Din di kasih sambal ya." Jawab mas Heru.


Kemudian Dinda memesan sesuai pesanan dari Tini dan mas Heru juga untuk Dinda sendiri.


"Bu nasi uduk tiga bungkus. Yang satu komplit tambah sambal, yang dua pake telur dadar sama semur tahu dan jengkol." Ucap Dinda memesan nasi uduknya sesuai lauk yang diinginkan kepada ibu penjual nasi uduk.


"Iya neng bentar ya." Jawab penjual nasi uduk.


"Din, ini uangnya buat bayar nasi uduk." Ucap mas Heru setelah mengambil uang 50 ribuan dari dalam dompetnya dan menyerahkannya ke Dinda.


"Ga usah mas, ini aku ada uang kok." Jawab Dinda menolak uang dari mas Heru.


"Sudah pake ini saja, uang kamu buat nanti kalau mas ga di kontrakan." Ucap mas Heru sambil memberikan uang 50 ribuan di masukkan ke tangan Dinda.


"Tapi mas,,,,." Ucap Dinda merasa ga enak pegang uang dari mas Heru.


"Sudah ga usah tapi, pake saja, kata Tini mas yang traktir ya ga Tin." Ucap mas Heru maksa.


"Iya Tin, ga apa-apa pake saja. Mas Heru ikhlas ko traktir sarapan kita. Biar kita ngirit dikit ngapa, ya kan mas?." Ucap Tini membela mas Heru sekaligus membela agar menghemat uang makan Tini walaupun baru buat sarapan.


"Iya Din, mas ikhlas kok. Sudah tuh, ibunya sudah selesai, bayar gih." Ucap mas Heru lanjut.


"Berapa Bu semuanya?." Tanya Dinda hendak membayar sambil menerima kresek yang berisi tiga bungkus nasi uduk.


"10 sama 8 jadi 18 ribu neng." Jawab si ibu penjual nasi uduk.


"Ini Bu uangnya." Ucap Dinda sembari memberi uang 50 ribuan dari mas Heru.


Ibu penjual nasi uduk menerima uang 50 ribuan dari Dinda. Menaruhnya di laci lalu mengambil uang untuk kembaliannya.


"Ini kembaliannya neng, 32 ribu ya, makasih neng." Ucap ibu penjual nasi uduk sembari memberikan uang kembalian kepada Dinda.


"Makasih juga Bu." Ucap Dinda sambil menerima uang kembalian.


Mereka bertiga mulai berjalan meninggalkan penjual nasi uduk.


" Mas, ini uang kembaliannya." Ucap Dinda memberikan uang kembalian pembelian nasi uduk.


"Ga usah, sudah kembaliannya simpan saja. Kamu lebih butuh daripada mas. Mana sini kreseknya mas yang bawa." Ucap mas Heru malah meminta kresek bungkus nasi uduk.


"Ya sudah nih, jadi enteng ga bawa apa-apa ya kan Tin.?" Ucap Dinda sambil berjalan di samping Tini.


"Hmm, iya deh terserah ibu negara." Ucap Tini sembarang.


"Din, tunggu, sini." Ucap mas Heru menghentikan langkahnya.


Saat berjalan Mas Heru berhenti di tempat penjual gorengan. Sambil melihat gorengan yang sudah matang berjejer beraneka macam.

__ADS_1


"Mas Heru mau beli gorengan?." Tanya Dinda setelah menghampiri mas Heru di gerobak tempat penjual gorengan.


"Iya, beli campur Din, 15 ribu saja, pake duit yang tadi ya." Ucap mas Heru.


"Gimana sih, tadi bilangnya suruh simpan. Sekarang malah buat beli gorengan." Ucap Dinda agak manyun karena mas Heru yang minta beli gorengan bayar pake uang kembalian nasi uduk.


Sebenarnya bukan masalah uangnya, Dinda merasa ga enak sama mas Heru. Beli sarapan sama gorengan pake uang mas Heru. Entah kenapa Dinda merasa ucapannya seperti manyun dan agak kesal saja sama mas Heru.


"Mas, gorengannya ya mas, 15 ribu campur-campur. Tapi ga pake gandasturi ya." Ucap Dinda membeli gorengan sambil memberikan uang 20 ribu kepada mas penjual gorengan.


"Iya mba." Jawab mas penjual gorengan sambil menerima uang pemberian Dinda 10 ribuan dua lembar.


Mas penjual gorengan mengambil beberapa gorengan senilai 15 ribu yang bermacam- macam sesuai keinginan Dinda.


"Ini mba gorengannya, dan ini kembaliannya, makasih mba." Ucap mas penjual gorengan sambil memberikan sekantong gorengan yang ditaruh di dalam kantong kresek kemudian memberikan uang kembalian sebesar 5 ribuan kepada Dinda.


"Iya, makasih juga mas." Ucap Dinda sambil menerima kantong kresek berisi gorengan lalu menerima uang kembalian sebesar 5 ribu.


Akhirnya setelah membeli nasi uduk untuk sarapan dan gorengan, mereka bertiga berjalan kembali ke kontrakan.


Sesampainya di kontrakan, mas Heru malah melewati kontrakannya sendiri. Mengikuti Dinda dan Tini sampai di kontrakannya.


"Lho kok mas Heru ga ke kontrakan?." Tanya Dinda mengetahui mas Heru malah mengikutinya.


Tini membuka pintu kontrakan dengan kunci pintu yang sebelumnya diberikan oleh Dinda karena pas berangkat kunci kontrakan di pegang oleh Dinda.


"Iya sih mas." Ucap Tini sambil membuka pintu.


"Kamu gimana sih Din, ini bungkusan nasinya mau buat mas. Kalau mas berhenti di kontrakannya mas." Ucap mas Heru sambil mengangkat kresek bungkus nasi uduk.


"Heehee iya ya mas, maaf lupa. Ini sih Dinda bawa kresek gorengan." Jawab Dinda agak malu sendiri karena sebenarnya senang dengan sikap mas Heru pagi ini.


"Ya sudah, mas sekalian deh sarapan di kontrakan kamu." Ucap mas Heru yang langsung duduk di ruang depan kontrakan Dinda lalu menaruh bungkusan nasi uduknya.


Tini mematikan dispenser dengan mencabut colokannya dari stop kontak setelah membuat teh manis tiga gelas dengan teh celup.


Sementara itu Dinda masuk ke dapur untuk mengambil piring 4 buah untuk menaruh bungkusan nasi uduk dan gorengan serta sendok makan.


Mereka bertiga pagi itu menikmati sarapan nasi uduk dengan gorengan yang masih hangat. Dengan ditemani segelas teh celup manis yang masih panas.


Mas Heru memperhatikan Dinda makan sedangkan Dinda merasa agak malu karena diperhatikan sekaligus senang. Sementara Tini menjadi orang ketiga yang cuek yang pura-pura tidak melihat interaksi keduanya.


Setelah melihat, bertemu, saling menatap dan makan bersama, mas Heru dan Dinda hanya berdua sambil menonton televisi setelah sarapan. Kemudian mengobrol berbagai hal.


Tini sendiri memilih ke kamar mandi untuk mandi pagi dan mencuci pakaiannya padahal masih malas. Namun itu dilakukannya karena tidak ingin menggangu Dinda dan mas Heru saling melepas rindu.


*


*


Maaf ya readers, Authornya masih up ga setiap hari. Cuaca yang panas di tambah badan yang tidak menentu membuat author ga bisa mengetik karyanya.


Semoga semuanya sehat selalu, tetap semangat, dan bahagia selalu aamiin 🤲🤲🤲☺️☺️☺️🥰🥰🥰🌹🌹🌹.


Bersambung dulu.....

__ADS_1


__ADS_2