
Awal pekerjaan baru, dan teman baru.
Sehari bekerja di pabrik, ada beberapa nama karyawan baru yang satu line dengan Dinda. Dinda, Tini dan mba Erna ternyata berbeda line. Namun ketika jam istirahat mereka makan bersama, duduk dengan karyawan baru yang lain.
Jam istirahat digunakan mereka untuk saling memperkenalkan diri masing-masing. Saling mengenal, dan mengobrol. Bercerita pengalaman, asal daerah, dan yang lain. Lima menit sebelum bek masuk, mereka menempati tempat kerjanya masing-masing. Ada yang duduk dan ada yang berdiri.
Masing-masing karyawan mempunyai pekerjaan sendiri-sendiri. Meskipun dalam satu line, tetap saja perorang dihitung target produksinya. Pengalaman kerja pertama kalinya yang dialami oleh Dinda. Sehari bekerja akhirnya tiba masa pulang kerja. Karena jam kerja sudah selesai.
Karena masih baru, Dinda dan teman-temannya yang baru bekerja masih menggunakan pakaian hitam putih. Seminggu sudah berlalu, mereka akhirnya di berikan seragam karyawan perusahaan tersebut. Seminggu itu pula teman Dinda dalam satu line sudah saling kenal.
Minggu kedua Dinda bekerja, sudah di bagi shift dengan line lainnya. Minggu ini Dinda masuk sore berlawanan dengan Tini. Karena mereka berbeda line dan ternyata berbeda shift juga. Karena masuk jam 4 sore, Dinda berangkat dari kontrakan jam 3 sore. Bekerja seperti biasanya, namun jam istirahatnya saja berbeda.
Jika masuk pagi jam istirahat di bagi 2 yaitu 10 menit di jam 10 dan 50 menit di jam 12 siang. Jadi total istirahat dalam bekerja adalah 1 jam. Berbeda waktu dengan masuk sore, 50 menit pertama di jam 6 petang dan 10 menit kedua di jam 10 malam.
Masuk pagi, jam 7 pagi pulang jam 4 sore. Sedangkan masuk sore, masuk jam 4 sore pulang jam 12 malam. Karena kawasan industri, jadi pada saat pulang kerja, masih banyak orang berlalu lalang. Ramai kendaraan karena jam tersebut adalah jam pulang kerja.
Di jalan raya, di pinggir jalan daerah Teleng masih ramai. Apalagi daerah Teleng dekat dengan pasar malam dan terminal. Meskipun pulang kerja malam hari, Dinda tidak khawatir jalanan masih ramai kendaraan. Setiap hari di lalui oleh banyak orang dan kendaraan roda dua.
Dinda semangat bekerja, setiap hari berangkat. Meskipun naik angkutan dan jalan kaki, namun itu tidak menjadi beban bagi Dinda. Di dalam pabrik, Dinda sudah berteman dengan teman satu linenya. Temannya berbeda daerah, ada yang dari Solo, Kuningan, Jawa timur, Padang, Palembang, orang Cikarang asli, bahkan ada yang dari Medan. Ada juga dari Brebes, Kerawang, dan Cirebon.
Mereka adalah teman yang berbeda asal daerahnya, tetapi satu tempat kerja. Saling berbagi cerita pengalaman kerja, asal daerahnya, dan ada juga yang ngobrol masalah pribadi tentang pacarnya. Dalam beberapa hari mereka sudah saling mengenal satu dengan yang lainnya.
Bagi Dinda ini adalah pengalaman pertamanya bekerja di tempat yang jauh dan mengenal teman dari berbagai daerah. Selain itu juga Dinda sedikit-sedikit belajar bahasa mereka. Baik bahasa Jawa Solo, Sunda, Cikarang, Padang, dan yang lain. Meskipun belajar sedikit, Dinda merasa senang bekerja di Cikarang. Pekerjaannya, orang-orangnya, dan juga suasana pabriknya.
__ADS_1
Mereka seperti keluarga baru buat Dinda. Di kontrakan, Dinda juga sudah mengenal beberapa tetangga kontrakan. Baik yang masih sendiri, dan juga yang sudah berumah tangga. Jika waktu libur kerja, Dinda hanya di rumah membersihkan dan melakukan pekerjaan rumah seperti menggosok baju.
*
Seminggu bekerja, Dinda merasa uang sakunya berkurang. Dinda bingung, sedangkan gaji pertamanya masih dua minggu lagi. Untuk makan dan untuk ongkos berangkat pulang kerja Dinda merasa uang saku yang sekarang tersisa tidak cukup sampai gajian pertama.
Merasa bingung dan tidak tahu ingin pinjam kepada siapa. Dinda akhirnya menelphon tetangganya yang mempunyai telp dan usaha wartel yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah orang tuanya. Berharap bahwa pemilik wartel mau menyampaikan maksudnya kepada kedua orang tuanya.
Author kok nelponnya lewat wartel sih?, ga lewat hp saja?.
Oh iya lewat wartel, tahun 2002 itu hp belum seperti saat ini. Anak kecil saja punya, apalagi orang dewasa. Pada waktu itu, komunikasi masih menggunakan telp rumah. Kebetulan Dinda tidak punya telp rumah, yang ada tetangganya. Karena tetangganya juga punya usaha wartel, ya di situlah Dinda numpang telp. Jelas mba atau mas Reader, jadi dulu itu masih memakai telp rumah. Lanjut ke cerita ya Reader.
Setelah orangtuanya Dinda mengetahui bahwa Dinda sudah bekerja. Namun Dinda membutuhkan uang untuk makan dan ongkos berangkat pulang kerja, Ibu Dinda juga bingung darimana mendapatkan uang.
Karena Dinda juga bingung kirim uangnya melalui siapa, akhirnya Dinda pulang ke kampung dengan uang sisa yang ada hanya untuk sekedar ongkos naik bus dan angkot sampai di rumah. Berhubung hari Sabtu dan Minggu libur kerja, Dinda pulang di hari sabtu.
Dinda berpamitan dengan Tini dan mba Lilis untuk pulang kampung. Dalam perjalanan, Dinda berharap ini pertama dan terakhir kalinya Dinda merepotkan kedua orang tuanya meminjam uang. Karena sudah bekerja, Dinda akan membantu keuangan keluarganya.
Sampailah Dinda di rumah, Dinda beristirahat melepaskan rasa lelahnya setelah menempuh perjalanan selama 7 jam dari Cikarang. Malamnya Dinda mengobrol dengan ibu dan bapaknya.
"Bu, maaf Dinda merepotkan ibu untuk meminjam uang pada tetangga". Ucap Dinda merasa tidak enak.
"Ga apa-apa Din, lagian kamu kan sudah kerja, nanti kalau gajian, kamu balikin uang yang ibu pinjam ini. Kalau ibu ada, ibu yang balikin. Tapi kamu tahu sendiri Din, keuangan ibu dan bapak untuk sehari-hari saja kadang tidak cukup. Maaf ya Din ibu yang nyusahi kamu, kamu berusaha membantu keuangan keluarga. Ibu berharap kamu bisa menggunakan uang gaji kamu dengan sebaik-baiknya". Ucap ibu Dinda menasehati.
__ADS_1
"Iya Bu, Dinda mengerti. Dinda juga minta doanya agar tetap sehat dan tetap dapat kerja agar bisa membantu keuangan ibu dan bapak". Ucap Dinda sambil meminta agar di doakan.
"Din, kamu tidak minta ibu selalu berdoa setiap saat setiap waktu untuk semuanya. Kamu jaga kesehatan dan jaga diri. Jauh dari rumah jangan bergaul dengan sembarang orang. Kamu sudah dewasa hati-hati memilih teman apalagi teman pria". Ucap ibu Dinda yang merasa khawatir.
"Iya Bu, Dinda akan ingat kata-kata ibu. Ibu jangan khawatir, insyaAllah Dinda akan jaga diri Dinda dengan baik. Besok Dinda berangkat Bu, karena senen Dinda masuk kerjanya pagi. Kalau berangkat malam Senen, Dinda takut terlambat". Ucap Dinda sambil berpamitan kepada ibunya.
"Ya sudah besok bapak antar ke terminal, simpan uangnya baik-baik. Jangan boros hidup di perantauan. Apa yang ibu bilang, ingat baik-baik. Sudah malam istirahat, besok kesiangan". Ucap bapak Dinda tegas.
"Iya pa, Dinda akan ingat dengan baik". Ucap Dinda akan apa yang diucapkan oleh bapaknya.
Malam itu Dinda tidur di rumah untuk pertama kalinya setelah pergi merantau untuk beberapa Minggu. Karena senen Dinda berangkat kerja pagi hari, Minggu pagi Dinda berangkat ke Cikarang.
Pagi hari, Minggu yang cerah Dinda bersiap-siap untuk berangkat pergi ke Cikarang. Bapak Dinda bersiap-siap untuk mengantar Dinda ke terminal. Dinda berpamitan kepada ibunya dan saudaranya untuk berpamitan berangkat ke Cikarang.
Sesampainya di terminal Dinda berpamitan kepada bapaknya karena akan naik bus yang akan berangkat ke Cikarang. Untuk kedua kalinya Dinda berangkat dari kampung menuju Cikarang. Tempat dimana Dinda bekerja dan mencari pendapatan untuk membantu ekonomi keluarganya.
Perjalanan kali ini berbeda, pertama kali karena akan mencari pekerjaan. Ini kali kedua sudah bekerja di salah satu pabrik di daerah Cikarang. Perusahaan kecil yang pabriknya tidak terlalu besar namun memberi pekerjaan kepada Dinda. Dinda hanya bisa bersyukur atas apa yang didapatnya. Meskipun pabriknya tidak besar, Dinda berharap bisa bekerja dengan baik.
Setelah menempuh perjalanan 7 jam, sampailah Dinda di kontrakan mba Lilis. Rasa lelah terbayar sudah ketika Dinda beristirahat sejenak. Tini menanyakan bagaimana kabar keluarga Dinda di kampung. Termasuk mba Lilis, yang menanyakan oleh-oleh dari kampung. Karena mba Lilis memesan beberapa makanan ringan dari kampung. Makanan yang di pesan oleh mba Lilis yang Dinda bawa dari kampung tidak ketinggalan.
Mereka menikmati oleh-oleh makanan ringan yang di bawa oleh Dinda bersama-sama. Dinda merasa senang tinggal bersama Tini dan mba Lilis. Meskipun tinggal di kontrakan yang hanya tiga petak, namun Dinda bersyukur bisa di bantu oleh mereka sampai Dinda mendapatkan gaji pertamanya.
Nah bagaimana kisah Dinda di Cikarang selanjutnya, ikuti kisahnya di episode yang berikutnya. Terimakasih sudah membaca karyaku. Like, vote, dan komentarnya tetap di tunggu. Semoga sehat selalu buat semuanya dan tetap semangat.🙏💪💪☺️☺️🌹🌹
__ADS_1