Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )

Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )
Episode 93. Rencana Lamaran.


__ADS_3

Esok hari Dinda dan Tini bangun pagi-pagi sekali sebelum shubuh. Karena setelah shubuh, mereka bersiap-siap hendak berangkat mengikuti medical checkup di klinik pabrik.


Waktu terus berjalan, mereka berdua kini berada di klinik pabrik guna melakukan medical checkup. Serangkaian proses demi proses medical checkup dilakukan oleh mereka. Hingga tahap akhir berupa rongsen.


Dari pagi hingga siang hari semua berjalan lancar. Semua peserta yang dapat panggilan medical checkup kini berkumpul di ruang training.


Saling mengobrol satu dengan yang lain termasuk Dinda dan Tini. Hingga suara mereka terhenti karena masuknya manager dari bagian HRD.


"Selamat siang." Ucap salah satu manager HRD.


"Selamat siang." Jawab mereka kompak.


"Selamat datang kembali kami ucapkan kepada kalian eks karyawan. Tadi kalian sudah melaksanakan serangkaian medical checkup. Untuk selanjutnya besok kalian membawa berkas lamaran lengkap disertakan dengan packlaring, dan buku tabungan. Baik asli atau fotokopi disertakan untuk pendataan ulang. Untuk hari ini sekian dulu, terimakasih dan selamat beristirahat atau boleh pulang." Ucap manager tersebut langsung.


"Bu maaf boleh tanya?." Ucap salah seorang eks karyawan.


"Ya boleh silahkan sebelum yang lain pulang." Jawab manager tersebut.


"Kalau SKCK mati tidak apa-apa Bu ?." Tanyanya.


"Boleh yang penting aslinya di bawa ya. Sudah tidak ada lagi yang ingin ditanyakan?. Kalau sudah jelas dan tidak ada lagi yang tanya maka silahkan pulang, terimakasih." Ucap manager mengakhiri.


Semua eks karyawan pada beranjak bangun dari duduknya dan berdiri kemudian satu persatu keluar dari ruang training. Mereka semua pulang ke kontrakan atau rumah masing-masing.


Dinda dan Tini pulang sampai kontrakan hampir jam 12 siang pas waktunya jam makan siang. Mereka sebelumnya membeli nasi bungkus untuk makan siang.


Sesampainya di depan kontrakan, mas Heru dengan muka bertanyanya langsung melihat dan memperhatikan Dinda.


"Mas Heru, sendirian mas?." Sapa Tini meledek melihat muka bertanyanya mas Heru.


"Emangnya ada yang lain Tin." Jawabnya agak ketus.


"Cieee, ada yang ngambek di tinggalin ga di pamitin." Ucapnya Tini masih meledek.


Dinda hanya diam saja membiarkan mas Heru dengan muka cemberutnya. Dinda tahu karena semalam dia tidur, di tambah pagi-pagi sudah pergi tanpa pamitan. Dan tanpa memberitahu terlebih dahulu.

__ADS_1


"Sudah makan belum mas?, sini makan bareng." Ajak Tini setelah membiarkan pintu dan jendela terbuka serta dirinya yang makan nasi bungkus yang di belinya dengan duduk menyender di pintu sambil minum es teh manis.


"Makasih Tin, tapi maaf, pacarnya saja ga nawarin." Jawab mas Heru.


"Bukannya ga nawarin mas tuh lihat masih repot naruh es teh manis di gelas tadi ambilin piring sama sendok makanya sini bantuin apa mas, naruh gorengan ke." Jawab Tini setelah menelan makanannya.


"Kok jadi mas sih, kamu ga bantuin Tin, kan kamu temennya." Jawab mas Heru.


"Idih enak banget, aku emang temennya nah yang mau jadi suaminya emang siapa?, ga mau bantuin?, ganti aja Din, cari yang lain masa di mintain tolong begitu. Calon suami apaan tuh kaya gitu, sudah coret saja langsung dari daftar calon suami Din heehee." Ucap Tini meledek mas Heru puas.


"Hmmm, iya deh mas bantuin mana." Akhirnya mas Heru berjalan mendekat dan masuk ke kontrakan Tini melewati Tini di depan pintu dan akhirnya membuka nasi bungkus dan bungkus gorengan. Kemudian meletakkan gorengan di atas piring yang sudah di sediakan.


"Tadi dari mana Din?." Tanya mas Heru.


"Makan dulu mas, baru habis itu ngobrol ya, Aku lapar banget. Ini es teh manisnya mas." Jawab Dinda lalu menyodorkan gelas berisi es teh manis di depan mas Heru.


Mas Heru pasrah dan mengikuti Dinda untuk makan dulu. Sebungkus nasi di temani macam-macam gorengan di tambah minumnya es teh manis membuat mas Heru makan dengan lahap apalagi di sebelahnya ada Dinda. Melupakan rasa kesalnya yang dari semalam hingga pagi di tambah pagi sampai siang karena ga ada kabar dari Dinda.


Setelah makan selesai, mereka bergantian sholat dhuhur. Mas Heru sholat dhuhur di kontrakannya sendiri. Setelah selesai dia kembali lagi ke kontrakannya Dinda sambil menunggu jam 2 siang sebelum berangkat kerja.


"Tini mana Din?." Tuh di dalam lagi tiduran kenapa?." Jawabnya Dinda.


"Boleh tanya apa mas?." Jawab Dinda.


"Tadi dari mana?."


"Dari medical checkup di pabrik Toyo****. Jawabnya.


"Semalam tidur ?. Mas pulang lampu depan mati dan sepertinya sepi ga nonton tv juga." Tanya mas Heru lagi.


"Iya, ngantuk kelamaan nunggu mas jadi tidur." Jawabnya lagi.


"Dapat panggilan kerja?." Tanya serius mas Heru.


"Iya, mendadak semalam di SMS sama leader. Langsung medical checkup, besok suruh bawa surat lamaran lengkap sama packlaring dan buku rekening asli dan fotokopi." Jawab Dinda.

__ADS_1


"Ooo, terus gimana?." pertanyaan mas Heru membuat Dinda bingung.


"Terus gimana, maksudnya mas Heru, Dinda bingung?." Tanya Dinda.


"Ya sudah pasti kerja apa seleksi lagi?, maksudnya itu lho Diiiiiinnnn." Tanya mas Heru lebih jelas.


"Kurang tahu mas, tapi sepertinya sudah pasti kerja lah massa balik lagi seperti pertama kali." Jawab Dinda.


"Sudah ga usah lamar di lamar saja ya mau?." Tanya mas Heru membuat Dinda tersedak karena sedang minum.


"Ughuukk ughuuukkk ughuuukk." Tersedak Dinda mendengar ucapan mas Heru.


"Makanya kalau minum itu yang pelan-pelan. Emang siapa yang mau minta coba. Kalau diminum bareng kaya gini boleh." Ucap mas Heru meledek dengan mengambil gelas minum Dinda lalu meminumnya.


"Lagian mas, bukan minumnya yang salah tapi mas tuh ngomong ga jelas banget, apa aku salah dengar." Jawab Dinda membela diri.


"Emang dengarnya apa Din?." Tanya mas Heru mengetes Dinda.


"Ga usah lamar, di lamar saja." Jawab Dinda tapi terlihat biasa saja. Padahal dalam hatinya sudah ga karuan banget itu rasa jantungnya mau meledak.


"Beneran ga apa-apa nih. Enakan juga di lamar Din daripada lamar ?." Jebakan pertanyaan untuk Dinda tanpa disadarinya.


"Ya ga apa-apa. Emang enakan di lamar lah daripada lamar. Di lamar itu dapat banyak kalau lamar ngeluarinnya banyak, uupss." Ucap Dinda langsung nutup mulut melihat mas Heru senyum-senyum berhasil mengerjai Dinda.


"Gimana?." Tanyanya mas Heru.


"Apanya mas?." Tanya Dinda pura-pura ga ngerti.


"Tadi, masa perlu diulang sih Din?." Ucap mas Heru karena sudah hampir jam setengah dua siang.


"Apanya yang diulang air, air isi ulang?." masih pura-pura Dinda mengeles arah pembicaraan mas Heru.


"Mau yah, serius nih Din, ibuku kemaren telphon mendingan lamaran dulu ga apa-apa deh kalaupun itu kamu mau. Paling tidak ada ikatan jelas diantara kita gitu lhooo Dinda Ayu." Ucap mas Heru jelas tanpa jeda.


Perkataan mas Heru barusan membuat Dinda terdiam namun memikirkan seribu langkah kaki untuk mencari alasan karena Dinda sendiri belum ingin menikah apalagi menikah muda.

__ADS_1


Bagaimana caranya yuk simak lagi di episode berikutnya.


Bersambung lagiii.....


__ADS_2