Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )

Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )
Episode 94. Lamaran atau langsung nikah.


__ADS_3

Setelah menjalani medical checkup, dan keesokan harinya membawa berkas lamaran lengkap beserta aslinya, akhirnya Dinda dan Tini kini bekerja kembali di pabrik Toyo***.


Dengan menandatangani kontrak kerja waktu tertentu yakni 1 tahun. Kini Dinda dan Tini bisa lega. Satu tahun ke depan tidak perlu mencari pekerjaan.


*


Kini sudah hampir tiga bulan Dinda bekerja. Hari-hari seperti biasa dengan rutinitas kerja. Namun ada yang berbeda dengan mas Heru. Semakin ke sini semakin mendesak keinginan untuk melamar Dinda.


Hari Minggu yang cerah, seperti biasa Dinda libur bekerja. Berbeda dengan mas Heru yang baru pulang bekerja. Bukannya pulang ke kontrakannya sendiri, mas Heru malah pulang ke kontrakan Dinda. Kebetulan Tini sedang main ke kontrakan mba Lilis di warung bongkok.


"Mas Heru kalau mau tidur di kontrakannya sendiri apa mas, Tini ga ada, ga enak sama tetangga kita belum nikah masa berdua-dua." Ucap Dinda mengusir secara halus mas Heru yang sedang asik tiduran di ruang depan dengan pintu dan jendela yang terbuka lebar.


"Makanya Din, pulang kenalin mas sama kedua orangtuamu. Mas mau minta izin nikahin kamu, ya minimal melamar dulu juga ga apa-apa." Jawab mas Heru yang ingin segera menikah.


"Ga bisa mas eh maksudnya belum bisa sekarang. Mas Heru tahu sendiri aku baru kerja 3 bulan. Kalau pulang sehari aku malas ahh cape di jalan." Jawab Dinda sambil memotong sayuran kangkung yang hendak di masak.


"Terus kapan dong Din?, masa nunggu mas tambah tua gitu. Din, ibu sudah nelphon terus lho. Nanya mas sudah dikenalin belum sama orangtua kamu. Kalau pulang jangan lupa mampir ke rumah sekalian kan satu jalan. Lagian Tegal Brebes cuma satu jam lebih. Terus kalau bisa jangan lama-lama." Ucap mas Heru.


"Mas Dinda kan sudah pernah bilang mau kerja dulu. Ini mas minta nikah terus kalau nikah emang Dinda masih boleh kerja. Kasihan orang tua Dinda mas masih perlu bantuan Dinda." Ucap Dinda yang sedang memotong bawang merah.


"Ya itu urusan nanti. Saat ini kamu masih kerja ya kerja saja dulu. Paling tidak sampai habis kontrak. Kalau sudah nikah dan punya anak ya terserah masih mau kerja apa di rumah. Mas terserah Dinda saja deh, yang penting Dinda bisa bagi waktu dengan baik. Meskipun sebenarnya mas inginnya kamu di rumah saja." Jawab mas Heru yang kemudian duduk menyender di dinding sambil minum kopi hitam panas yang baru di bikin oleh Dinda.


"Tapi mas Dinda itu mau fokus kerja dulu habisin kontrak. Baru setelah itu pulang ke kampung terus gimana enaknya kan perlu diomongin dulu sama ibu dan bapak." Jawab Dinda sambil masak.


"Lama Din nunggu satu tahun. Ini saja mas lama nunggunya. Keburu ga tahan Din gimana?." Ucap mas Heru membuat Dinda bingung.

__ADS_1


"Ya ga lama mas ga ada satu tahun, kan 9 bulan lagi. Ini saja sudah mau jalan 4 bulan kerja. Sabar ya mas Heru. Emang mas Heru ga tahan apa?." Malah tanya buat mas Heru agak kesal.


"Masa gitu saja ditanyakan sih Din. Yang namanya orang sudah dewasa pasti pengin apalagi sama orang yang disayangi. Lagian kamu juga sudah dewasa kenapa tanya sih bikin mas pengin ke situ." Ucap mas Heru yang semakin lama entah semakin ingin dekat dengan Dinda meskipun harus sekuat tenaga menahan gejolak yang membuatnya panas dingin.


"Mas pasti mikirin yang ga ga, pasti pengin yang jorok-jorok. Awas ya kalau berani, Dinda bilangin ke ibu sekalian." Ucap Dinda malah mengancam.


"Bilangin sekalian juga ga apa-apa biar sekalian dinikahin we." Jawab mas Heru malah meledek.


"Kok mas Heru sekarang nakal sih. Jangan gitu apa mas, Dinda makanya mau sama mas itu karena mas kuat. Makanya Dinda nerima mas, sayang, ya karena mas baik dan bisa jaga Dinda ga kaya yang lain." Ucap Dinda memuji mas Heru karena sikapnya yang bisa menjaga meskipun berhubungan atau pacaran belum sekalipun mas Heru mencium atau memeluk Dinda. Paling hanya pegang tangan saja.


"Ga kaya yang lain gimana?, emang harus gimana sih." Jawab mas Heru memancing sambil makan kacang kulit dan biskuit yang ada di toples.


"Yaaa kaya yang lain yang ono no, kalau pacaran gitu pintu kontrakan ditutup berdua di dalam ngapain coba kalau ga gituan. Bukannya buruk sangka emang iya, pernah waktu itu ciuman pintu kebuka ada yang lihat. Emang kalau pacaran harus gitu, itu yang salah. Kaya mas Heru nih bisa jaga Dinda, pacaran yang sehat ya mas gituannya nanti habis nikah." Terang Dinda yang sudah menggoreng tempe dan menumis kangkung dan akan menguleg beberapa cabe untuk dibuat sambal.


"Mas takut sama Allah ya, takut dosa." Tanya Dinda yang menaruh satu piring tempe goreng dan satu mangkok tumisan kangkung di depan mas Heru.


"Ga, mas bukan takut sama Allah dan takut dosa." Jawab mas Heru buat Dinda melihat mas Heru tajam.


"Lha terus apa dong kalau ga takut dosa."Tanya Dinda melihat tajam ke mas Heru.


"Takut ga bisa lepas bibir kalau dah ciuman sama pelukan heeheee." Jawab mas Heru bercanda.


"Mas Heru apaan sih, jawabnya gitu. Au ahh entar tak kasih sambal tuh bibirnya biarin biar monyong gara-gara kepedesan." Jawab Dinda kesal sambil membawa sambal yang sudah jadi.


"Eeee beneran lho Din, ga percaya?, kalau mau ayo buktikan. Bukan takut dosa takut ga mau lepas." Ucap mas Heru menyusul Dinda ke arah dapur.

__ADS_1


"Kok mas Heru ke sini mau ngapain?, awas ya jangan macam-macam." Dinda mulai panas dingin ketika mas Heru sudah dibelakangnya berada di ruang dapur.


"Mau praktekin kalau mas ga takut dosa, takut ga bisa lepas makanya mau buktikan bener apa ga?." Ucap mas Heru di depan Dinda dan saling menatap satu sama lain di ruang dapur.


Dinda yang sudah bersusah payah menahan rasa deg degan dalam jantungnya yang mulai tak beraturan dan semakin kencang karena mas Heru yang semakin dekat. Ditambah senyumnya mas Heru yang meluluhkan hati Dinda sesaat membuatnya diam membeku.


Mas Heru yang menatap Dinda begitu semakin dekat dan hanya sedikit jarak diantara mereka. Membuatnya tidak bisa menahan lagi, dan akhirnya terjadilah hal yang membuat Dinda malu mukanya merah merona.


"Haahaaaahaaa ya Allah Dinda mau ngapain?, kenapa menutup mata?, minta mas cium, atau peluk. Mas sih mau banget tapi sayang rasa takut mas akan dosa lebih gede daripada rasa takut ga bisa lepasin bibir kalau udah ciuman heehee." Ucap mas Heru seketika tertawa melihat sikap Dinda menutup matanya dan pasrah. Hingga mas Heru masuk ke dalam kolam untuk membuang hajatnya dan cuci tangan.


"Mas Heru kebangetan deh. Bisa-bisanya buat Dinda gini. Kan malu mas, makanya jangan mancing-mancing sih. Entar kalau mas ga bisa nahan beneran gimana?, kan dosa beneran mas." Kesal Dinda dibuat mas Heru.


Dinda membawa dua gelas kosong kemudian diisi air minum Aqua dari galon dan di taruhnya di ruang depan.


Mas Heru keluar dari dalam kamar mandi masih dengan senyum jahilnya dan senang meledek Dinda hingga agak kesal dan malu. Padahal sama-sama mau tapi sama-sama malu. Terlebih mas Heru yang masih bisa menahan karena takut nanti keblabasan.


"Makanya buruan nikah yuk, kalau ga ya lamaran dulu Din biar mas sama kamu itu ga di bilang cuma pacaran main-main saja. Mas serius Din, biar mas agak tenang bila sudah mengikat kamu. Itu tandanya kamu itu calon istri mas." Ucap mas Heru meyakinkan.


"Ya mas Dinda tahu dan ngerti tapi nanti yaa bahas lagi sekarang makan dulu. Nanti coba Dinda bicarakan sama ibu dulu. Kebetulan bulan besok ada cuti bersama pas hari Jumat kalau Sabtu libur in syaa Allah pulang ya mas. Jadi ada 3 hari buat di rumah." Ucap Dinda membuat mas Heru senyum senang akhirnya mau juga pulang kampung ngenalin calonnya.


Dinda dan mas Heru makan bersama di ruang depan sambil menonton televisi. Bagi tetangga kontrakan yang melihat hanya senyum, karena sudah terbiasa bagi mereka melihat mas Heru dan Dinda di kontrakannya. Karena mereka tahu Dinda dan mas Heru menjalin hubungan tetapi bukan hubungan yang tidak-tidak.


Gimana kelanjutannya, simak di episode berikutnya.


Bersambung dulu....

__ADS_1


__ADS_2