Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )

Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )
Episode 43. Hari-hari tanpanya.


__ADS_3

Siang itu mereka menikmati makanan yang ada dengan lauk seadanya. Makanan yang nampak sederhana namun sedap terasa. Makan siang untuk pertama kalinya bersama dengan orang yang diharapkan. Sedang asiknya menikmati makan siang, tanpa suara, tanpa bicara, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan memanggil nama mas Nur.


"Mas Nur." Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan yang menyapa mas Nur.


Mas Nur menengok kearah sumber suara sembari mengunyah makanan yang masih ada di dalam mulutnya.


"Indah." Suara hati mas Nur ketika melihat seorang perempuan yang menyapanya.


"Mas Nur kok di sini, sedang ngapain, oooo sedang makan." Ucap Indah seketika yang terlihat agak marah melihat mas Nur yang tidak biasanya main ke kontrakan tetangga apalagi ikut makan bersama.


"Indah kok kamu di sini." Ucap mas Nur agak terkejut setelah di sapa oleh indah setelah menelan makanan di dalam mulutnya.


"Setiap Minggu aku pasti main ke sini mas, main ke kontrakan teh Dewi. Baru hari ini bisa ketemu lagi sama mas Nur. Mas Nur kemana aja sih, kok ga pernah kelihatan." Penjelasan Indah ke mas Nur, dan tanpa basa basi langsung duduk di sebelah mas Nur di teras kontrakan mba Lilis.


*


Tidak dipungkiri meskipun Indah sudah menjadi mantan pacarnya, namun tetap saja bila bertemu dengan Indah, mas Nur tidak bisa menghindar dari rasa bersalahnya. Yah merasa bersalah karena menyakiti perasaan perempuan yang masih sangat mencintainya.


Sikap Indah yang membuat mas Nur meminta putus berpacaran dengannya. Sikap yang ingin menang sendiri dalam segala hal. Sikap yang mengekang mas Nur dalam berteman. Sikap yang merasa akan pasti menjadi istrinya. Meskipun Indah bekerja, setiap belanja bulanan selalu mengajak mas Nur dan dengan entengnya meminta mas Nur untuk membayar semua belanjaannya.


Begitulah sikap Indah yang terlalu mencintai mas Nur dan terlalu berharap bahkan yakin kalau mas Nur akan menjadikannya istri. Sikap yang memaksakan kehendak dan keinginannya. Semua itu membuat mas Nur sadar bahwa Indah bukan perempuan yang pantas mendampingi hidupnya.


Putusnya hubungan Indah dan mas Nur sudah hampir 6 bulan. Namun selama itu pula, setiap minggu saat libur kerja, Indah selalu datang ke kontrakan Teh Dewi temannya yang kontrakannya berada di sebelah kontrakan mas Nur. Dia tidak perduli meskipun mas Nur sudah tidak menganggapnya sebagai pacarnya. Indah akan tetap datang dan terus datang.


Karena Indah sering main di kontrakan teh Dewi itulah yang akhirnya membuat Indah bertemu dengan mas Nur. Kemudian Indah selalu main ke kontrakan mas Nur jika mas Nur ada di kontrakan. Dari situlah Indah mulai mendekati mas Nur.


Awalnya Indah sangat perhatian dan baik kepada mas Nur, membuat hati mas Nur luluh dan menyukainya. Rasa suka akhirnya menjadi rasa cinta. Mereka akhirnya memutuskan menjalin kasih hampir selama satu tahun. Dalam perjalan kisah kasih mereka, lambat laun sifat dan wataq asli Indah diketahui oleh mas Nur.


"Bukan karena rasa sayang dan cinta yang tulus yang Indah berikan kepada mas Nur, melainkan karena Indah merasa bisa menggaet pria yang ia mau. Setelah mendapatkan perhatian dan kasih sayang serta cinta dari pria tersebut, Indah akan dengan mudahnya memoroti uang atau apapun itu asal Indah senang. Tanpa memperdulikan bagaimana perasaan pria yang tulus padanya.


** Memoroti itu bahasa dari tempat aku ya readers, author juga bingung itu bahasa aslinya manaaaa ya. Memoroti itu artinya selalu ingin di kasih, di belanjakan, di traktir, di beri apapun maunya, harus dituruti. Selalu minta gratisan sama pacarnya, segala sesuatunya itu yang bayar si cowonya gitulah pokonya. Readers paham kaaannn maksud Author. Paham sajalah yaaa daripada ribet.


*


"Neng Indah, silahkan neng masuk, kebetulan ini lagi pada makan, kalau mau gabung hayo silahkan. Tapi maaf ya neng Indah adanya ini." Ajak mba Lilis yang mendengar suara Indah dan melihatnya duduk di sebelah mas Nur. Kemudian dengan tangan kanan mba Lilis menunjuk makanan yang tergeletak di ruang depan televisi.


"Terimakasih mba Lilis tawarannya, tapi maaf saya tadi sudah makan mie ayam bakso di depan. Mas Nur kok udahan makannya, mau nambah ga mas, mumpung masih di sini. Kalau udahan aku mau ngomong sama mas Nur di kontrakannya mas Nur, sekarang!. Maaf mba Lilis duluan, ayo mas Nur." Ucap Indah seakan tidak perduli pada perasaan mas Nur, bahkan orang sekitar.


Sambil memegang tangan kanan mas Nur, Indah bersama mas Nur kemudian langsung berjalan ke kontrakan mas Nur. Dengan memegang tangan mas Nur, tanpa penolakan sedikitpun dari mas Nur, Indah merasa mas Nur masih seperti yang dulu. Masih sayang dan cinta dengan Indah.

__ADS_1


Sementara itu, Tini yang sempat terkejut dengan sikap dari Indah merasa kasihan dengan mas Nur. Ternyata pacarnya seperti itu pantas saja.


Sedangkan mba Lilis sebenarnya sudah tahu bagaimana Indah dan mas Nur dari kenal sampai jadian, kemudian pacaran sampai akhirnya mas Nur meminta putus. Itu semua tidak membuat mba Lilis terkejut.


Lain halnya dengan Dinda, Dinda tidak tahu harus bagaimana bersikap kepada mas Nur. Kejadian barusan yang di dengar dan di lihat dengan mata Dinda sendiri cukup membuat Dinda mengerti. Kejadian barusan sepertinya tidak berpengaruh untuk Dinda. Terlihat jelas Dinda masih melanjutkan makan siangnya tanpa perduli dengan apa yang barusan terjadi.


"Din, kamu kasihan ga tadi sama mas Nur. Kasihan tahu aku lihat mas Nur baru habis makan dan minum langsung di bawa sama cewe edan tadi." Tini membuka obrolannya dengan Dinda sambil mencuci piring dan gelas bersama.


"Tin jangan sembarangan ngomong, takut nanti orangnya dengar. Masa cewe cantik di bilang cewe edan. Kalau kamu kasihan, harusnya tadi bilang sama si cewe yang kamu bilang edan tadi." Jawab Dinda Sembari menaruh gelas dan piring yang sudah di cuci di rak piring.


"Aku bilang apa Din, lihat mukanya saja berasa malas. Beneran deh itu cewe kaya apa sih ngomongnya. Cewe apa ya, apa ya, yang sama cowonya terlalu lengket, nempel gitu, cewe apa ya Din, kok aku lupa. Cewe apa ya Din, ihhh apa sih lupa banget." Tini bingung lupa dengan apa yang mau disebutnya.


" Cewe posesif maksudnya." Dinda langsung sebut.


"Nah iya itu mungkin namanya. Emang iya itu nama cewe tadi posesif. Seratus buat kamu Din." Tini senang akhirnya di sebut juga yang tadi lupa.


"Mana sini, apa entar habis gajian. Lumayan makasih ya." Dinda menyodorkan telapak tangannya kepada Tini sambil tersenyum penuh keisengan.


"Apaan sini, habis gajian apa, ngomong apa nyambungnya ke mana." Tini malah agak kesal seperti di tagih utang oleh Dinda.


"Tadi barusan bilang seratus, ya mana sini, lumayan kaann buat nambah kiriman buat adikku." Dinda masih menyodorkan telapak tangannya yang seperti preman minta jatah setoran.


*


Di kontrakan mas Nur, Indah duduk di ruang depan. Mas Nur kemudian memberikan segelas air putih untuk Indah. Dan selanjutnya mas Nur duduk agak jauh dari Indah. Percakapan diantara mereka berdua akhirnya terjadi.


Semua jurus penakluk hati bahkan jantung sekalipun sudah di keluarkan oleh Indah. Selama 6 bulan putus dari mas Nur, Indah merasa menyadari sesuatu hal yang menjadi penyebabnya.


Namun sekeras apapun usaha Indah ingin balikan sama mas Nur, bahkan ingin menikah, sepertinya itu takkan terjadi. Mas Nur telah menetapkan hatinya yang saat ini hanya untuk Dinda. Tetapi mas Nur tidak mengatakan hal tersebut, karena mengingat sifat dan wataq Indah.


*


Hampir sore hari, Dinda dan Tini berpamitan kepada mba Lilis. Setelah mereka bertiga melanjutkan obrolannya. Obrolan mengenai kontrakan, kerjaan, bahkan mas Nur.


Tanpa berpamitan dengan mas Nur, Dinda terus melajukan langkahnya untuk pulang ke kontrakannya di Cibitung. Dinda sempat melihat ke kontrakan mas Nur sebelum pulang. Ternyata cewe yang di sebut Tini cewe edan masih dikontrakkannya mas Nur. Bersama Tini, Dinda pulang tanpa memberi kabar kapan bisa main lagi. Atau setidaknya memberitahu mas Nur tinggal di kontrakan di Cibitung sebelah mana.


Karena sikap Dinda terlihat biasa saja tanpa ada rasa kesal, marah, sedih, atau cemburu sekalipun, Tini sebagai sohibnya pun demikian juga bersikap biasa saja.


*

__ADS_1


Selepas pertemuan itu, Dinda dan Tini belum pernah main lagi ke kontrakan mba Lilis. Hampir dua bulan lamanya tanpa kabar dan tidak memberi kabar sama sekali kepada mas Nur. Dinda dan Tini menjalani hari-hari kerja seperti biasa.


Kerja di pabrik yang sekarang berbeda dengan yang kemaren. Tiap hari ada lemburan dan hari Sabtu tetap berangkat. Jadi kalau hari Minggu Dinda dan Tini hanya di kontrakan saja.


*


"Mba Lilis." Sapa mas Nur ketika lewat depan kontrakan mba Lilis.


"Eeee mas Nur, baru pulang kerja ya mas." Jawab Mba Lilis balik menyapa mas Nur yang masih di atas motornya dengan memakai seragam kerja.


"Iya mba, pas lewat ada mba Lilis jadi berhenti sebentar." Mas Nur turun dari motornya setelah mematikan mesin motornya.


"Mampir mas, mau masuk apa di situ saja." Mba Lilis menawarkan masuk karena dia duduk di ruang depan televisi dengan pintu kontrakan yang terbuka. Sementara mas Nur berada di teras.


" Terimakasih mba, di sini saja, lagian cuma sebentar ko mba." Mas Nur menolak untuk masuk karena hanya ingin bertanya saja pada mba Lilis.


"Oooo,,,,." Hanya kata ooo yang keluar dari mulut mba Lilis seakan paham maksud dari ucapan mas Nur.


"Mba Lilis, Dinda dan Tini belum main ke sini lagi ya mba. Maaf mba, mba Lilis tahu alamat kontrakan Dinda yang sekarang. Kalau boleh saya minta alamatnya mba." Mas Nur berucap.


""Belum mas, maaf mas Nur, aku ga tahu alamat kontrakan sekarang, aku lupa nanya. Kemaren cuma bilang di Cibitung, tapi Cibitung sebelah mana aku ga tahu. Nanti kalau main kesini aku kabari mas Nur lagi deh." Mba Lilis menjelaskan.


"Ooo, gitu ya mba, ya sudah mba terimakasih, permisi saya pulang dulu mba." Ucap mas Nur agak kecewa.


"Iya mas sama-sama." Mba Lilis melihat mas Nur yang mulai naik sepeda motornya setelah berpamitan pulang.


*


"Dinda Aku ingin melihatmu, bertemu denganmu, ngobrol, mengajakmu jalan dan makan. Tapi rasanya mungkin saat ini belum bisa. Perasaanmu saja aku tidak tahu. Setelah kejadian kemaren, kok aku kepikiran kamu terus Din." Ucapan yang ada di hati dan pikiran mas Nur yang sedang tiduran di atas kasur.


"Tiga bulan aku memperhatikan kamu dari jauh. Kini rasanya hari-hariku di isi oleh kehadiran bayang-bayangmu saja. Seandainya aku tahu alamatmu, aku pasti langsung ke sana." Isi pikiran dari mas Nur yang masih memikirkan Dinda.


"Kini aku merasakan hari-hari tanpamu. Saat kamu tinggal dengan mba Lilis aku hanya bisa menatapmu dari jauh. Tapi setidaknya aku melihatmu. Meskipun aku tidak melihatmu, aku hanya bisa melihat bajumu yang di gantung di jemur depan kontrakan aku sudah senang Din." Mas Nur terus memikirkan Dinda saat masih di kontrakan mba Lilis.


"Sepertinya aku benar-benar sayang sama kamu Dinda ayu. Dinda tolong bisakah kamu main ke sini atau ngontrak lagi di sini. Aku benar-benar tak tahan ingin bertemu denganmu." Sudah malam pun mas Nur masih memikirkan Dinda yang kini hari-harinya tanpa melihat Dinda.


*


Cinta oh cinta, begitu mungkin yaa orang yang sedang jatuh cinta. Memikirkannya, ingin bertemu dan sebagainya.

__ADS_1


Nah Dinda bagaimana apakah mau menerima mas Nur atau tidak. Ikuti terus kisah selanjutnya yaa. Salam dari author, semoga sehat selalu untuk semuanya dan salam bahagia, selalu semangat terimakasih. πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ☺️☺️☺️πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ’πŸ’πŸ’


__ADS_2