
Setelah sebulan menjalani training di pabrik Toyo*** dan akhirnya dinyatakan sebagai karyawan membuat Dinda dan Tini bersyukur. Setidaknya mereka kini memiliki pekerjaan dan bukan pengangguran lagi.
Meskipun masih berstatus sebagai karyawan kontrak. Mereka tetap bersyukur menjadi karyawan dengan waktu tertentu atau karyawan kontrak. Setidaknya satu tahun kedepan mereka akan bekerja di perusahaan tersebut. Mereka menandatangani kerja waktu tertentu selama satu tahun.
*
"Din besok libur kaann, gimana kalau besok main ke mba Lilis." Tanya Tini ketika duduk berdua di depan kontrakan setelah isya.
"Emang besok mba Lilis ga kerja atau pergi kemana gitu." Jawab Dinda sekenanya sambil memakan cemilan.
"Libur lah, kan biasanya kalau hari Minggu mba Lilis pasti libur. Kalaupun pergi pasti jam 8 ke atas, makanya pagi-pagi jam 7 an kita sudah sampai. Kalaupun mba Lilis ga ada ga apa-apa tinggal nunggu saja, gitu aja ko repot." Tini seakan memaksa Dinda untuk tetap main ke kontrakan mba Lilis.
"Iya ya kan kita masih punya kunci kontrakan mba Lilis. Kalaupun mba Lilis ga ada juga ga apa-apa. Kan di situ juga sudah pada kenal kita. Ya sudah besok ke mba Lilis sekalian kasih tahu kita ngontrak di Cibitung." Ucap Dinda.
"Ok deal besok kita main ke kontrakan mba Lilis. Eh Din sepertinya kamu lupa sesuatu deh. Coba ingat-ingat." Tini masih melanjutkan percakapannya dengan Dinda sembari makan kuaci.
"Apa, emangnya aku lupa apa, ga salah biasanya kamu kali Tin." Dinda menjawab sambil mengingat-ngingat yang sedang ditanyakan oleh Tini.
"Kunci kontrakan, ada kok di tas, aku bawa." Dinda teringat kunci kontrakan.
"Kamu tuh yang lupa kunci duplikat kontrakan mba Lilis ketinggalan di rumah, karena kamu bangun kesiangan, telat, lupa lagi kunci itu belum masuk ke dalam tas." Dinda teringat bahwa Tini lah yang lupa kalau kunci kontrakan mba Lilis tertinggal di rumah. Itupun ceritanya pas sudah di dalam bus ketika sudah berangkat dalam perjalanan dari Tegal ke Cikarang.
"Bukan kunci Dinda, itu sih emang bener aku yang lupa. Kamu yakin cuma itu yang ada di pikiran kamu sekarang, ga ada yang lain." Tini mencoba membuat Dinda teringat akan sesuatu hal.
"Apa sih masalah kerjaan, atau besok masuk shift berapa, besok shift 2." Dinda berpikir apa sebenarnya yang ditanyakan oleh Tini.
"Lagi M nih Din, jawabnya gitu. Aku juga tahu besok masuk shift 2. Bukan masalah kerjaan, ini masalah pribadi, ingat ga Din." Tini mencoba bertanya kembali kepada Dinda sembari agak kesal juga kalau masalah pribadi memang Dinda ga pernah mau ngomong.
"Masalah pribadi, apaan sih aku ga ngerti. Aku sepertinya ga punya masalah pribadi. Kan kamu tahu sendiri aku gimana selama lulus kan bareng sama kamu." Dinda masih
merasa bahwa dirinya tidak mempunyai masalah pribadi.
"Ini nih, kalau otak pikirannya kerja, keluarga, ga mikirin yang lain. Pasti lupa deh, kasihan banget tuh orang ga dianggap." Tini masih dengan sedikit rasa kesalnya terus mendesak Dinda untuk tetap mengingat sesuatu.
"Tin, aku bingung deh sama kamu. Kamu kan tahu semuanya tentang aku, masa iya aku lupa, apalagi masalah pribadi. Masalah pribadi apa, terus sama siapa, apa tuh tadi orang ga dianggap. Emang siapa, apa sih, ngomong dooongg jadi aku tuh ngerti maksud arah pembicaraan kamu." Dinda sudah merasa cape dan kesal dengan Arah pembicaraan Tini yang menurutnya ga jelas.
"Beneran lupa ya Din, waaaahhhh amnesia nih. Sepertinya besok kamu berobat ke klinik deh Din, priksain pikiran kamu biar ingat sama itu orang yang sekarang kamu lupain." Tini bersikap seperti menyudutkan Dinda dengan pernyataannya mengenai seseorang yang Dinda sendiri merasa lupa.
"Beneran Tin, siapa orangnya, aku tuh ga tau maksud kamu, lagian kenapa aku yang priksa, kamu tuh yang priksa yang sering lupa." Dinda masih merasa tidak mengingat orang tersebut, sehingga terjadi perdebatan kecil diantara mereka yang sebenarnya tidak terlalu penting.
"Ya Allah Dinda mau aku sebut namanya yaa biar kamu ingat, ampun deh ahh. Beneran ga ingat, ya sudah kelamaan ingatnya sampai mau ribut." Tini sudah merasa kesal dan hilang sedikit kesabarannya pada Dinda yang akhirnya tanya sendiri jawab sendiri.
"Astaghfirullahal'adzim, eling Tin eling. Sabar orang sabar di sayang Allah ingat itu." Dengan santainya Dinda mengatakan istighfar, meskipun dia sendiri bingung kok jadi mau ribut gara-gara hal yang ia sendiri bingung.
"Aku yang tanya jadi aku juga yang jawab Din Din. Nih kamu ga ingat sama mas Nur." Tini mencoba mengingatkan Dinda tentang mas Nur.
"Mas Nur, mas Nur tetangga kontrakan mba Lilis?." Tanya Dinda memastikan
"Ya iya lah mas Nur itu memangnya ada mas Nur yang lain selain dia." Kesel kan Tini menyebut nama mas Nur.
__ADS_1
"Memangnya kenapa dengan mas Nur, apa ada masalah pribadi sama aku. Setahu aku, aku ga punya masalah pribadi sama dia." Dinda berusaha menghindar maksud dari pertanyaan yang ternyata ada kaitannya dengan mas Nur.
"Din, aku tanya sama kamu beneran ya, sumpah nih, kamu ga ada masalah pribadi sama mas Nur. Bukannya dia suka sama kamu. Terus kamu gimana,?." Balik lagi ke pokok bahasan yang sebenarnya Tini ingin tahu bagaimana perasaan Dinda ke mas Nur.
"Tini sahabatku yang penasaran, ingin tahu apa mau tahu banget niiiihhhhh." Balas Dinda dengan bercanda.
"Sumpah ya aku ga bercanda lho Din, maksud aku gimana kalau besok kamu ketemu sama mas Nur hayoooo?." Tini bertanya sambil tersenyum meledek.
"Yaaa kalau ketemu ga gimana-gimana. Emangnya harus gimana. Aku tuh ya ga ada apa-apa sama mas Nur. Udah ahh aku cape mau tidur besok jangan telat bangunnya." Dinda menyudahi pembicaraan yang Dia sendiri ingin menghindarinya.
Dinda bangun dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam kontrakan. Di susul Tini di belakangnya yang masih agak kesal dan penasaran. Meskipun Tini tahu bahwa Dinda mencoba untuk menghindar darinya terutama masalah pribadi.
*
Malam terlewati begitu saja hingga akhirnya pagi menyapa dengan sinar mataharinya yang hangat. Dinda sudah bersiap-siap untuk pergi dengan Tini menuju ke kontrakan mba Lilis di warung bongkok.
*
Setelah menempuh perjalanan yang kira-kira dari Cibitung hanya butuh waktu 10 menit karena naik turun penumpang di jalan, akhirnya mereka sampai di pertigaan Warung bongkok.
*
Berjalan menuju ke kontrakan mba Lilis, dalam hati dan pikiran Dinda, ia berharap bahwa hari ini tidak bertemu dengan mas Nur.
*
Sampailah Tini dan Dinda di depan gang menuju kontrakan mba Lilis. Terlihat mba Lilis sedang menjemur pakaian di depan kontrakan. Saat sampai di depan mba Lilis mereka langsung saling menyapa satu sama lainnya dengan senangnya.
"Hai, Dinda Tini, ya Allah apa kabar?." Mba Lilis sapa balik dan bertanya kabar mereka.
"Baik mba." Jawab Tini.
"Alhamdulillah baik mba Lilis, lagi jemur baju ya mba?." Dinda menjawab sambil duduk di depan pintu.
"Iya Din, nih sebentar lagi selesai, masuk saja dulu." Kata mba Lilis karena melihat Dinda duduk di depan pintu.
"Terlat mba Lilis nawarin masuknya, aku sudah masuk nih bahkan minum air galon heehee." Jawab Tini langsung berbicara setelah minum air galon segelas dan duduk di depan televisi yang sudah dinyalakannya.
"Kamu sudah biasa Tin sama mba ga ditawarin juga sudah nyomot duluan." Mba Lilis jawab sembari jalan masuk ke dalam kontrakan membawa ember kosong.
Dinda masuk ke dalam kontrakan dan duduk menyender di tembok depan televisi sambil nonton. Sementara itu mba Lilis menyalakan dispenser untuk membuat teh manis panas untuk mereka dan dirinya.
"Kalian sudah kerja lagi ya." Mba Lilis langsung bertanya sambil duduk.
"Alhamdulillah mba sudah." Jawab Dinda singkat.
"Mba Lilis tahu dari siapa kita sudah kerja." Tanya Tini yang penasaran karena setahu Tini mereka berdua belum memberitahu kalau Tini dan Dinda sudah mendapatkan pekerjaan.
"Tahu dari ibu. Kemaren kapan yah, aku telp kasih tahu ibu kalau aku kirim uang. Terus ibu bilang kalau kamu sama Dinda sudah berangkat ke Cikarang kerja lagi. Tapi ibu ga bilang kerja di mana, cuma kasih tahu kamu sama Dinda kerjanya lewat BKK sekolah. Itupun ibu tahunya dari Bulik, ibu kamu. Jawab mba Lilis sambil membuat teh manis panas karena dispensernya sudah menyala hijau.
__ADS_1
"Oooo, ibuku gosip ya mba heeheee." Tini menyahut sambil tertawa.
"Kamu tuh ya, Bulik kasih tahu ibu tuh cuma mastiin ke aku tahu ga kabar kamu di mana. Kan kamu ga tinggal sama mba, mba juga ga tahu kamu tinggal di mana." Mba Lilis langsung jawab seadanya sambil kasih teh manis panas ke Dinda dan Tini.
Obrolanpun terjadi antara mereka bertiga, sambil nonton televisi di temani sama teh manis panas dan makanan ringan di toples. Dari pulang kampung, ikut tes, dan diterima kerja sampai training dan akhirnya kerja di perusahaan Toyo** kawasan mm 2100.
Tanpa mereka sadari sebenarnya di teras telah duduk seseorang dengan senyum yang entah sejak kapan. Melihat seseorang yang sedang duduk sambil nonton televisi dan makan makanan ringan sambil ngobrol lanjut minum teh manis yang mungkin sudah hangat bahkan adem.
*
Minuman adem itu bukan dingin ya readers. Author bingung ngetiknya mau ngomong minuman adem gimana yaa, tapi kalau orang Jawa sih mungkin tahu minuman adem heehee.
*
"Astaghfirullahal'adzim, ya Allah tak kira siapa, kaget aku." Tini pura-pura kaget karena ternyata dia sudah mengetahui keberadaan mas Nur dari tadi di teras.
"Sudah pulang ke Cikarang lagi ya Tin." Tanya mas Nur memulai obrolannya yang sebenarnya ingin ditujukan kepada Dinda tapi ternyata yang keluar dari mulutnya malah menyebut nama Tini.
"Eeee mas Nur, kok di luar mas, masuk mas Nur, nanti tak buatin teh manis panas apa kopi. Kok aku ga ngeh ya kalau ada mas Nur di situ." Sapa mba Lilis yang baru menyadari keberadaan mas Nur di teras.
"Iya mas Nur, sebenarnya sudah satu bulan tapi di Cibitung." Jawab Tini sesaat kemudian setelah mba Lilis sebelumnya langsung mendadak berbicara sama Mas Nur.
"Oooo,,, kok ga kasih kabar Tin. Mba Lilis maaf repoti kalau ada kopi, kopi saja, nih mata sepertinya masih ngantuk." Mas Nur berusaha mengobrol dengan santai meskipun sebenarnya hatinya dag dig dug takut salah bicara apalagi melihat Dinda yang hanya diam duduk menyender di tembok tertutup daun pintu sedikit.
"Ini kopinya mas Nur, ini temennya kopi maaf adanya cuma ini." Mba Lilis menaruh segelas kopi hitam dan cemilan kepada mas Nur.
"Makasih mba, enak nih, pas kopi sama kacang, apalagi gratis, sudah pasti enak pool nih." Ucap mas Nur sambil tersenyum dan sekilas melirik ke arah Dinda.
"Maaf mas ga sempat kasih kabar, soalnya sibuk, mba Lilis saja tahunya dari ibunya, itupun dari ibu aku." Tini menyahut sambil makan kacang.
"Iya yang lagi sibuk jadi karyawan baru heehee." Celetuk mas Nur sambil tertawa, kemudian minum kopi yang masih panas.
"Ada yang sariawan ya Tin, kok diam aja nih dari tadi." Mas Nur sengaja meledek yang tujuannya agar Dinda berbicara sambil melirik Dinda.
"Ga mas cuma aku dari tadi dengerin obrolan kalian." Dinda yang dari tadi diam akhirnya berbicara juga karena merasa tersindir atas omongan mas Nur.
"Cie ga jadi sariawannya mas, tuh mulutnya ngomong juga." Tini ikut meledek Dinda yang akhirnya ngomong juga.
"Oooo dengerin tapi ga ikutan ngomong." Lanjut mas Nur menimpali ucapan Dinda.
"Tadi ngomong, lha ini juga ngomong." Dinda agak kesal karena di ledek sama mas Nur dan Tini.
Pertama kali bertemu setelah sebulan lebih mereka tidak bertemu terutama mas Nur yang tidak melihat Dinda membuat hatinya senang meskipun ada rasa yang entah bagaimana mengungkapkannya.
Mereka akhirnya mengobrol satu sama lain, Dinda yang tadinya agak bagaimana karena ada mas Nur, sudah mulai santai menanggapi setiap obrolan.
*
Canggung ga sih, author mah dulu kalau keadaannya begitu merasa ga enak. Perasaan gimana gitu, soalnya senang bercampur gimana lah pokoknya panas dingin kali di badan. Jadinya gimana yaa ngerasa aneh akhirnya sikapnya sama orang tersebut. Yaaaa gitu deh pokoknya. Ga tahu kalau para readers, kaya gitu ga yaaa heeee heehee.
__ADS_1
*
Gimana readers, masih setia kaaan sama cerita karyaku ini. Gimana kelanjutannya simak aja terus kisahnya di episode berikutnya. Sampai jumpa lagi, salam sehat selalu dan bahagia semuanya. 🥰🥰🥰🥰