
Hari-hari sudah terlewati seperti biasa. Minggu demi Minggu berjalan apa adanya pula. Seperti biasa Dinda dan Tini masih melakukan aktifitasnya.
Kini mereka berdua sudah mempunyai hp. Tini membeli hp pholiphonic merk Nokia 3200 keluaran terbaru. Dan Dinda hanya membeli Nokia 3315.
*
Tahun 2003 dulu hpnya tidak seperti sekarang. Yang di beli Dinda masih monophonic harganya dulu yang bekas saja 500 ribuan. Sedangkan yang di beli Tini keluaran baru, sudah pholiphonic dan ada radionya. Harganya sekitar 1 juta 250 ribuan. Jadi bersyukurlah di tahun ini hp sudah canggih.
*
Dua bulan lagi Dinda dan Tini akan habis masa kontrak kerjanya di pabrik toyo***. Namun mereka masih santai, masih belum mencari kerja lagi.
Dan hubungan Dinda dan mas Heru masih sama sejak pulang dari kondangan hajatan temannya mas Heru.
Mas Heru bilang bahwa dia adalah karyawan kontrak. Dan Dinda masih mempercayai hal tersebut. Namun akhir-akhir ini ada yang berbeda dari mas Heru.
Dinda hanya tidak mau menimbulkan salah paham yang akhirnya berantem. Maka dari itulah Dinda tidak pernah menanyakan atau membicarakannya.
Mas Heru juga tidak pernah bicara mengenai pekerjaannya jika bertemu dengan Dinda. Karena memang mas Heru tidak mau cerita. Karena jarang bertemu meskipun libur, Dinda sedikit bertanya-tanya dalam hati dan pikirannya. Apakah mas Heru sibuk kerja atau yang lain. Karena kalau di tanya pasti jawabannya kalau ga kerja pasti istirahat.
"Mas Heru lagi di mana?." Tanya Dinda melalui SMS.
"Kenapa?." Jawab SMS mas Heru.
"Cuma tanya, aku dikontrakan mas sedang nonton televisi." SMS Dinda lagi.
"Mas lagi kerja, udah dulu ya." Mas Heru balas SMS.
"Semangat ya mas." SMS Dinda.
Mas Heru tidak membalas lagi SMS dari Dinda. Entah mengapa Dinda merasa sikap mas Heru berubah, atau mungkin Dinda sendiri yang berubah.
Dinda mendengar beberapa orang berkata bahwa seorang pria yang kerja sudah menjadi karyawan tetap, maka carinya ya karyawan tetap lagi. Ada juga yang mengatakan bila perempuan carinya yang sudah karyawan tetap.
Memang ada beberapa orang yang beranggapan kalau sudah karyawan tetap itu enak. Paling tidak punya pekerjaan tetap jadi ga nyari kerja lagi karena bukan karyawan kontrak. Bila habis masa kontrak kerjanya, maka akan menjadi pengangguran. Pasti di bilang sudah mapan seperti PNS.
Makanya kebanyakan mungkin karena pandangan tersebut banyak perempuan yang cari pasangan itu yang sudah karyawan tetap.
Berbeda terbalik dengan para pria, mungkin ada yang beranggapan kalau dapat karyawan tetap enak sama-sama kerja tetap dan punya penghasilan tambahan dari pasangannya. Boleh di bilang bisa membantu suami dalam hal perekonomian.
Namun Dinda tidak berpandangan demikian. Jodoh itu sudah di atur sama Allah. Tinggal manusianya saja yang berusaha dan berdoa. Mau mencari atau mendapatkan pasangan yang seperti apa.
__ADS_1
Tapi beda dengan kata cinta. Cinta tidak memandang siapa. Cinta mau dia karyawan kontrak atau karyawan tetap. Bila panah cinta sudah tertancap maka itulah yang terjadi.
Tetapi terkadang ada juga orang yang memilih. Meskipun hatinya cinta tapi akal dan pikirannya menolak, entah apa yang akan terjadi. Tiap orang pasti mengalaminya, demikian dengan Dinda pasti mengalami hal yang berbeda-beda. Yang pasti cinta itu ada.
*
*
"Din, ada orang yang cari mas Heru. Katanya temannya, bentar ya mas." Ucap Tini setelah masuk dari luar kontrakan yang berbicara dengan seseorang.
Suatu hari di hari Minggu, mas Heru keluar pagi-pagi sekitar jam setengah 6. Entah mau kemana, di mana, tidak ada yang tahu. Hari itu jam 7 lewat ada seseorang yang mencarinya.
Orang tersebut ada di teras kontrakan mas Heru. Karena Tini kebetulan di teras, makanya dia bertanya kepada Tini.
"Siapa Tin?." Tanya Dinda balik.
"Maaf mas siapa ya ?." Tanya Tini kepada orang tersebut setelah keluar kontrakan.
"Wawan mba." Jawabnya.
"Din namanya mas Wawan." Kata Tini ketika mau masuk ternyata papasan dengan Dinda yang mau keluar kontrakan.
"Maaf mas Wawan ya ada apa ya mas ?." Tanya Dinda kepada tamunya mas Heru.
"Saya sendiri mas, Saya Dinda. Mas Wawan temannya mas Heru?." Tanya Dinda ke mas Wawan.
"Iya mba." Jawabnya.
"Maaf mas silahkan masuk." Tawar Dinda ajak masuk kontrakan.
"Maaf mba, terimakasih, tapi di luar saja nunggunya." Jawab mas Wawan.
"Ooo ya sudah di teras saja. Bentar ya mas Saya tinggal dulu." Ucap Dinda kemudian masuk kembali ke dalam kontrakan.
"Din, tuh dispensernya sudah nyala warna hijau tinggal buatin minum buat tamunya ayang mas Heru heehee." Ucap Tini setelah membuat teh manis panas.
"Baik banget sih adik iparnya mas Heru mmm." Jawab Dinda tersenyum.
Dinda membuat teh manis panas untuk mas Wawan tamunya mas Heru yang sedang duduk di teras kontrakan.
Mas Heru datang dengan seorang perempuan yang di boncengnya. Dinda melihat hal tersebut, penasaran, cemburu, tetapi malu bertanya karena ada temannya.
__ADS_1
"Sudah lama Wan?. Tanya mas Heru setelah memarkirkan motornya di belakang motor mas Wawan.
"Ga juga lumayan, baru sampai teh panasnya." Jawab mas Wawan melihat Dinda masih membawa teh panas di nampan.
"Maaf mas, ini minumnya, silahkan." Ucap Dinda menawarkan teh manis panas yang baru di bawanya.
"Terimakasih mba, jadi repotin." Ucap mas Wawan menerima teh manis panas.
"Panas ya mba mmm." Ucapnya lagi ketika memegang gelas yang tidak ada pegangannya sambil senyum.
"Iya mas, maaf seadanya." Ucap Dinda lagi.
Sementara itu, mas Heru sudah masuk menaruh tas dan jaket yang di bawanya. Bersamaan itu pula sang perempuan mengikutinya di belakang namun akhirnya duduk di ruang depan di depannya televisi.
"Wan, masuk saja sini. Din, tolong buatin mas minuman teh panas ya sekalian dua." Ucap mas Heru setelah jalan keluar dan berdiri di pintu melihat Wawan dan Dinda di teras.
"Enak banget sih, baru datang nyapa belum sudah main suruh." Ucap Dinda dalam hati sekalian berjalan menuju ke dalam kontrakannya.
"Bikin minum buat siapa Din?." Tanya Tini melihat Dinda mengambil dua gelas dan dua teh celup dan memasukkan gula pasir.
"Buat mas Heru sama ceweknya." Jawab Dinda agak kesal.
"Cie cie buat mas Heru sama ceweknya. Ceweknya bukannya lu Din, ngajak bercanda nih bocah, kalau kata orang Betawi Din." Ucap Tini meledek.
"Emang buat ceweknya, dan sayangnya ceweknya sekarang bukan Aku Tin." Jawab Dinda sambil mengaduk teh manis panas dengan sendok.
"Lha emang mas Heru sama siapa Din, bukannya temennya tadi cowo. Eee bukannya tadi dia sudah dibikinin minum ya. Itu satu lagi buat siapa Din?. Aku pikir buat kamu secara tuh ya kamu kan ceweknya !." Ucap Tini bingung sendiri.
"Tengok saja sendiri, nih sekalian bawa teh manis panasnya. Kalau nanya bilang sama mas Heru, Dinda lagi pusing." Ucap Dinda agak kesal karena cemburu.
Semenjak kenal hingga jadian dengan mas Heru, sekalipun Dinda tidak pernah melihat mas Heru berboncengan dengan perempuan yang lain selain Dinda.
Dinda agak kesal karena rasa cemburunya melihat mas Heru berboncengan dengan perempuan lain. Kemudian dia dengan ramahnya mempersilahkan si perempuan masuk ke dalam kontrakannya. Terlihat santai, akrab dan dekat sekali.
"Emang siapa sih kok Dinda jadi kesal begitu. Cuma bikin teh manis panas saja sampai penyakit cemburu akutnya kambuh." Ucap Tini dalam hati penasaran sebenarnya siapa tamunya mas Heru selain mas Wawan.
Tini membawa teh manis panas dua gelas yang di taruh di nampan. Berjalan keluar menuju ke kontrakannya mas Heru. Melalui samping teras kontrakan, Tini melihat mas Heru dan temannya yang sedang duduk di ruang depan sambil menonton televisi.
"Mas Heru maaf, ini teh manis panasnya." Ucap Tini memanggil mas Heru kemudian menyodorkan teh manis panas yang dibawanya dengan nampan.
"Terimakasih Tin, kok jadi kamu yang anterin?. Dinda nya kemana Tin?." Ucap mas Heru bertanya.
__ADS_1
"Kata Dinda, kalau mas Heru tanya, bilang saja Dinda sedang pusing. Serangan cemburu akutnya kambuh mas heehee." Ucap Tini ledek mas Heru karena melihat tamu seorang perempuan yang bikin penasaran Tini.
Nah penasaran siapakah perempuan tersebut. Yuk simak kembali episode berikutnya. Bersambung dulu gaes ....