
Mas Heru mengembalikan nampan kepada Tini. Tini yang masih duduk di teras, hanya melirik mas Wawan dan tamu perempuan yang duduk agak jauh tepatnya di bawah jendela.
"Tin, boleh mas masuk ke kontrakan kamu sekalian naruh nampan ini." Ucap mas Heru izin masuk kontrakan.
"Boleh, tapi awas ya, jangan ngapa-ngapain Dinda." Ancam Tini.
"Ga ngapa-ngapain Tin, cuma mau kasih obat penyakit cemburu akutnya heehee." Jawab mas Heru tertawa yang sebenarnya merasa ga enak karena tidak bicara dulu dengan Dinda.
"Ya sudah sana masuk, Aku nunggu depan pintu mau jadi satpamnya Dinda kali aja entar ada yang ilang." Jawab Tini agak kesal juga karena melihat cewek yang duduk ternyata cantik juga.
"Paling yang ilang jantungnya Tin, karena kemaren hatinya heehee." Jawabnya mas Heru.
Mas Heru berjalan masuk ke dalam kontrakan Dinda. Sampai di pintu ruang tengah, terlihat Dinda tiduran dengan menutup mukanya dengan bantal.
Sementara itu Tini hanya mengawasi dari depan pintu. Benar-benar jadi satpamnya Dinda. Melihat mas Heru yang hanya berdiri di pintu ruang tengah sambil melihat Dinda.
Mas Heru bingung jika nanti kalau bicara Dinda malah tambah marah. Hingga dia hanya bisa diam. Namun sesaat kemudian Dinda menaruh bantalnya di sebelahnya tetapi masih dengan mata tertutup.
Mas Heru berjalan ke ruang belakang untuk menaruh nampan di rak piring. Ketika hendak berjalan kembali ke luar kontrakan menuju kontrakannya sendiri, terdengar suara Dinda berbicara.
"Tin sudah lihat kan ceweknya, cantik. Gimana ga kepencut mas Heru, lha wong ceweknya cantik terus kelihatan ramah, sopan, akrab banget gitu." Ucap Dinda sambil mata terpejam tanpa tahu sebenarnya yang menaruh nampan itu mas Heru.
Tini Hendak berucap bahwa sebenarnya itu bukan dia, karena suara Dinda terdengar sampai depan oleh Tini. Tetapi di cegah oleh mas Heru dengan mengangkat jari telunjuknya di tempel di kedua bibirnya.
"Ssssttt."
Mas Heru berjalan ke depan kontrakan tepatnya di depan Tini.
"Tin, bilang sama temanmu. Cemburu ya, kalau ga tahu itu nanya dulu jangan main marah. Aku ga mau ngomong takut jadi singa betina heemmm." Ucap mas Heru ke Tini sambil tersenyum sebelum kembali ke kontrakannya.
"Aku bilangin nih mas ke Dinda, biarin jadi singa betina beneran wee." Jawab Tini yang ikutan kesal juga di tambah ucapan mas Heru bilang Dinda singa betina sekalian menjulurkan lidahnya.
Mas Heru hanya tersenyum melihat tingkah Tini dan Dinda sekaligus mendengar ucapan mereka berdua. Akhirnya baru kali ini mas Heru melihat bagaimana Dinda ngambek, kesal, marah karena penyakit cemburu akut.
Yah terlihat jelas oleh mas Heru Dinda cemburu. Cemburu karena telah membonceng seorang cewek yang belum di kenalnya dan terlihat dekat dengan mas Heru.
"Din kamu beneran cemburu sama mas Heru?." Tanya Tini setelah masuk ke dalam kontrakan dan duduk di sebelah kasur tempat Dinda tiduran.
__ADS_1
Dinda bangun dari tiduran, kemudian duduk tetapi masih di atas kasur. Lalu tiduran lagi, dan mukanya dengan bantal.
"Cie cie bener nih penyakit cemburu akutnya kambuh?. Sudah sana ke apotik beli obat biar sembuh." Ucap Tini lagi melihat tingkah Dinda yang sebenarnya meledek karena terlihat lucu.
"Aku tuh ga cemburu Tin, cuma kesel aja. Lagian di SMS bilangnya lagi kerja. Biasanya kalau kerja masuk malam pulang pagi jam 7. Ini jam 8 baru pulang ga pake baju seragam kerja. Mana pulang boncengan lagi sama cewek, ngeselin kan." Jawab Dinda kesal setelah melepas bantal dari yang menutupi mukanya.
"Lagian kamu, emangnya ada penyakit cemburu akut, terus kalau ada obatnya ada gitu beli di apotik, obatnya namanya apa terus harganya berapa Tin?. Tanya Dinda lanjut bicara.
"Ya Allah Dinda, Aku pikir Aku sendiri yang bodoh, ternyata kita sama bodoh ya haahaa." Tini malah tertawa mengingat betapa bodohnya dia dan melihat serta mendengar ucapan Dinda.
"Kamu malah tertawa sih Tin, senang ya lihat temannya menderita. Dasar teman ga punya akhlak, temannya menderita malah tertawa." Dinda tambah kesal ditertawakan Tini.
"Lagian kamu ada-ada saja sih Din. Bodoh karena ga tahu kalau yang kamu rasa itu namanya cemburu. Kalau ada dokter cinta sana berobat sama dia, nanti di periksa. Ketahuan sakitnya, baru di kasih obat. Ga usah beli obat cemburu di apotik, di jamin ga ada. Yang ada kamu di katain orang gila baru gara-gara cemburu." Terang Tini penjelasan yang membuat bingung Dinda dan masih kesal.
"Aku serius Tin." Ucap Dinda dengan pandangan dan sikap seriusnya.
Kalau sudah mode begini mau tidak mau Tini ikutan serius juga. Gimana lagi Tini menjelaskan mengenai perihal cinta dan segudang penyakitnya serta obatnya.
Sedangkan dia sendiri belum pernah merasakan indahnya di cintai, karena Tini hanya mencinta. Cemburu mungkin Tini mengalaminya tetapi ini kasus berbeda.
Tini cemburu karena orang yang di cintai tidak mencintainya dan membawa seseorang di sampingnya tanpa Tini tahu hubungan mereka. Karena merasa cintanya tidak terbalas, maka Tini hanya sekedar punya rasa cemburu saja. Cemburu yang biasa saja tidak sampai ngambek, marah, kesal kepada orang yang di cintai.
"Coba deh Din kamu pikir ulang, tadinya kamu biasa saja sebelum mas Heru datang. Tetapi kenapa mendadak kesal, marah, terus aneh. Sikap kamu ini Din yang terlihat setelah mas Heru datang boncengan sama itu cewek tadi." Tutur Tini.
"Ga tau ahh pusing." Ucap Dinda merasa pusing.
"Coba saja ke sana Din, siapa tahu dikenalkan sama cewek tadi." Ucap Tini lagi menawarkan.
"Kamu saja sana, yang penasaran kan kamu bukan aku." Jawab Dinda.
"Lagian siapa sih yang mau kenalan sama cewek yang diboncengi sama pacarnya. Gengsi lah, terus yang ada nanti pacarnya santai aja gara-gara pacarnya ga cemburu. Enak banget selingkuh di depan pacar, pacarnya ga marah cemburu." Dinda bicara dalam hati.
"Ya sudah, nikmati sakit cemburunya. Aku mau main ya Din, mau kenalan sama selingkuhannya mas Heru. Mau ikut ga Din, kalau mau ikut ayo, Aku temenin biar ga malu ketemu sama saingannya heehee." Ledek Tini.
"Ga, udah sana. Mau kenalan, sana kenalan sendiri." Jawab Dinda.
"Kabur ahh nanti di makan singa betina." Ucap Tini lagi teringat kata mas Heru singa betina.
__ADS_1
"Tini !!. Kesal Dinda di ledek.
Tini berjalan keluar kontrakan hendak ke kontrakannya mas Heru. Namun setelah di luar kontrakannya, Tini melihat mas Wawan dan mas Heru keluar kontrakan termasuk perempuan tamunya mas Heru.
Mas Wawan ternyata hendak pulang dari kontrakannya mas Heru. Sedangkan mas Heru mengunci pintu kontrakan, kemudian pergi lagi dengan perempuan tersebut.
"Belum tanya sudah main pergi saja. Takut ya di interogasi, ketahuan bawa cewe langsung kabur hem." Ucap Tini dalam hati cemberut melihat mas Heru pergi berboncengan dengan perempuan.
Tini masuk kembali ke dalam kontrakan, namun kali ini ada di depan televisi. Menyalakan tombol televisi lalu menonton acara favoritnya.
Mendengar suara televisi, Dinda bangun dari tidurnya. Yang sebelumnya mendengar suara motor menyala kemudian jalan.
"Tin, ga jadi main?. Katanya mau kenalan sama selingkuhannya mas Heru, saingannya Aku. Cewek yang dibonceng mas Heru, yang cantik tadi." Tanya Dinda melihat Tini yang sedang nonton televisi.
"Ga jadi, orangnya keburu pergi, kabur." Jawab Tini.
"Telat ya, lagian kelamaan sih ngobrol sama Aku, ledek terus. Seneng sih ya lihat teman menderita." Ucap Dinda sambil duduk nonton televisi juga.
"Iya emang seneng, habisnya kamu di ledek lucu sih. Eh Din tapi kamu dapat pahala lho, kan bikin orang seneng." Ucap Tini.
"Tin, kira-kira cewek itu siapa ya?." Tanya Dinda penasaran ke Tini.
"Mana Aku tahu Diiin, tanya saja sama orangnya, atau tanya sama mas Heru. Telp ke apa SMS gitu aja kok repot." Ucap Tini.
"Lagian kamu lucu Din, ga tahu siapa. Ngambek, kesal, marah, karena cemburu. Harusnya tanya dulu ke mas Heru itu siapa mas yang dibonceng. Siapa tahu adiknya, atau saudaranya, atau temannya. Mungkin juga teman tapi mesra." Ucap Tini menasehati sekaligus memanas-manasi.
"Gimana mau tanya, lihat aja udah kesel Tin. Terus ya harusnya mas Heru yang ngomong, ngenalin ke Aku, Din ini si ini, adik, apa sepupu, apa teman, tapi jangan teman tapi mesra Tin." Jawab Dinda.
"Iya keburu cemburu akut kambuh, udah lah Din, ga usah dipikirin cowo emang gitu." Ucap Tini menyudahi obrolannya daripada urusannya nanti tambah panjang kali lebar sama dengan luas.
Dinda penasaran sebenarnya siapa cewek yang di bonceng sama mas Heru. Namun seketika mendengar ucapan Tini terakhir, jadi berpikir mungkinkah cowok seperti itu termasuk mas Heru.
Nah penasaran kaaaan siapa cewek yang di bonceng mas Heru. Yuk simak terus kelanjutan kisahnya di karyaku ini.
Terimakasih buat yang baca karya author. Vote, like, dan komennya masih di tunggu ya.
Author masih belajar nulis karya ini. Maaf jika up tidak konsisten setiap hariπ. Tetapi Author ucapkan banyak-banyak terimakasih.
__ADS_1
Tetap semangat, semoga sehat selalu dan bahagia. Bersambung lagiiii....πͺπͺπͺπ₯°π₯°π₯°