
Gossip itu ternyata benar adanya.
Dari sekian banyak karyawan, eh ga begitu banyak sih cuma seratus lebih. 200 kurang sedikit lah karyawan di pabrik tersebut, hanya Nani yang di gosipkan di semua bagian di perusahaan eh pabrik. Entah itu hanya gosip belaka atau memang nyata. Namun dari beberapa karyawan yang pernah memergoki pak Marno dan Nani jalan berdua berboncengan entah kemana membenarkan adanya gosip tersebut.
Semakin kesini semakin terdengar jelas gosip yang beredar. Hingga suatu hari Dinda pas pulang kerja mendengar dari karyawan yang satu kontrakan dengan Nani, mengiyakan hubungan temannya itu. Ini hal yang mengejutkan bagi Dinda, karena dia baru bekerja di Cikarang tepatnya di pabrik yang tidak begitu besar. Jika benar adanya hubungan antara Nani dan pak Marno berarti itu adalah hubungan perselingkuhan. Merasa rendah dan tidak ada harga diri sebagai perempuan, Dinda merasa teman yang satu kontrakan dengan Nani harus menyadarkannya bahwa itu salah.
Sebelum Dinda berbicara bel masuk sudah berbunyi. Tidak ada kesempatan untuk mengobrol karena Minggu ini mereka berbeda shift. Tidak ingin menjadi pikiran namun tetap saja, pada saat berjalan pulang beberapa karyawan benar-benar membicarakan Nani.
Dinda tidak berkomentar sedikitpun karena takut menimbulkan fitnah. Hubungan antara pak Marno dan Nani seandainya itu benar yang seperti dibicarakan oleh teman-teman sesama karyawan maka dapat di pastikan akan menimbulkan ketidaknyamanan pada semua karyawan.
Meskipun terdengar dengan jelas beberapa karyawan menggosipkan Nani, sepertinya itu tidak berpengaruh buat Nani. Nani tetap saja cuek dan bersikap seperti tidak ada gosip tentangnya. Meskipun teman satu kontrakan telah menasehatinya, namun Nani tetap saja jalan berdua dengan pa Marno.
Suatu hari, pulang kerja shift satu, beberapa karyawan melihat langsung Nani membonceng pak Marno. Sepertinya mereka menunjukkan hubungannya kepada karyawan yang lain. Tanpa mempunyai rasa malu dengan karyawan lainnya, bahkan saat turun dari motor, Nani mencium punggung tangan kanan pak Marno dan mengucapkan terimakasih dengan memanggil pak Marno dengan panggilan mas Marno.
Sungguh pemandangan yang tidak seharusnya diperlihatkan oleh seorang atasan, yang sudah mempunyai isteri dan anak. Apalagi ini di depan karyawan yang lain dalam hal ini bawahannya. Sepertinya mereka sudah tidak lagi perduli dengan orang lain dan apa yang dibicarakan tentang mereka.
*
Ternyata setelah beberapa Minggu, teman satu kontrakan Nani pindah kontrakan. Dia tidak tahan dengan sikap dari Nani dan pak Marno. Tidak sepatutnya hal ini dilakukan oleh mereka berdua. Teman satu kontrakan Nani melihat sendiri bahwa Nani dan pak Marno berciuman di dalam kontrakan. Kejadian ini ternyata pernah dilihat oleh karyawan lain yang tinggalnya di dekat kontrakan Nani.
Berita tersebut menyebar di semua bagian di pabrik dengan cepat. Antara percaya dan tidak percaya. Bahkan karyawan yang sudah lama ikut berbicara. Bahwa Nani sudah di makan oleh buaya darat. Perkataan ini terdengar oleh Dinda yang agak bingung mengartikannya. Dari mulut ke mulut, akhirnya seluruh karyawan mengetahuinya. Bahkan personalia atau HRD di pabrik juga mengetahuinya. Sungguh ironi jika memang hal ini benar terjadi adanya. Dinda bertanya kepada temannya yang sudah karyawan lama yang kebetulan satu shift dengannya.
"Teh Cici, aku mau nanya, itu kata pak Karyo, beneran kalau Nani sudah di makan pak Marno?. Maksudnya apa teh?, Aku ga ngerti?". Ucap Dinda kepada Teh Cici salah seorang karyawan tetap.
__ADS_1
"Memangnya lu ga tau Dinda, itu maksudnya mereka berdua udah lakuin itu. Denger kaga berita si Nani ciuman sama pak Marno di dalam kontrakan. Kaga mungkin cowo udah ciuman ga lakuin hal satu itu. Apalagi ciumannya di dada ada bekasnya pula, tahu kaga namanya apaan?. Lu kaga tahu ya, gue kasih tahu ya, itu namanya ******. Pasti lu kaga tahu, lu baru dari desa sih ya. Lu baru kerja di Cikarang kan ya. Baru di sini kan kerja dan baru 1 bulan lebih ini kan ya". Ucap Teh Cici menjelaskan.
"Iya, Dinda dengar berita itu, tapi beneran Teh sampai segitunya. Pak Marno kan punya isteri dan anak, terus Nani gimana Teh?". Ucap Dinda serasa tidak percaya yang dikatakan Teh Cici barusan dan bertanya kembali.
"Dinda lu dengerin baik-baik ya?, cowo buaya itu maunya itunya doang. Nah kalau sudah dapat bodo nanan, tuh cewe yang goblok. Kenapa juga, mau-maunya digituin ma cowo buaya darat. Tahu tuh pak Marno punya ilmu pelet kali ya. Dulu juga ada tahu Din, anak kontrak sama kaya Nani habis kontrak udahan tinggalin gitu doang. Anehnya tuh cewe ga minta tanggung jawab udah dilobangin sama pak Marno. Makanya biarpun pak Marno sudah tua tetep awet muda kan. Iya lah dia makan gituan. Perawanin doang dia habis tuh tinggal gitu aja. Makanya lu jangan mau ama cowo yang model gitu. Bukan apa-apa Din, kasihan kalau nikah, bekas orang. Kalau suaminya mau Nerima ga masalah, lha kalau kaga mau?, ga nyesel ntarnya". Ucap Teh Cici menjelaskan dengan rasa kesal.
"Hhhiiii, siapa juga Teh amit amit jabang bayi jangan sampai. Iya juga ya Teh, ah sudah ah jadi ga semangat kerja gara-gara berita gini. Ga enak kerjanya takut kaya gimana ya, ga kerasan gitu Teh". Ucap Dinda merasa ngeri dan takut.
"Nah, lu kan baru di Cikarang gue sih cuma kasih tahu doang ada model cowo kaya gitu. Takut sih iya kita cewe, gimanapun juga kalau cewe tuh ada bekasnya Din, nah kalau cowo kaga ada bekasnya. Enak di cowo, lha kalau cewe di gituin kalau jadi, apa kaga malu hamil di luar nikah?. Amit amit jabang bayi ya, jangan sampai deh". Ucap Teh Cici melanjutkan keseriusannya.
"Iya ya Teh, Teh maaf ya udah mau masuk nih mau ke line ya Teh". Ucap Dinda setelah melihat jam dinding.
"Iya Din, sono lu balik ke line gih buruan, entar telat lu". Ucap Teh Cici menyuruh Dinda buruan ke line.
Begini kata orang mah ya, cewe belum nikah ibaratnya papan atau tembok yang masih polos atau alus. Terus cowo itu ibaratnya paku aja deh biar gampang. Nah kalau papan atau tembok di paku, terus pakunya di cabut, tuh papan atau tembok ada lobang bekas pakunya kaan. Papan atau temboknya berlubang, tapi pakunya apa tumpul?, kaga si paku tetap saja tajam bisa buat paku papan lain atau tembok lainnya. Kecuali pakunya tua, tumpul dan berkarat banget, itu ga tajam berarti ga bisa buat lobangin papan atau tembok lagi.
Nah kalau ini ibaratnya orang, kasihan si perempuan sudah berlubang di tinggalkan ya kalau ga hamil. Kalau hamil?, itu jadi aib dan kehamilannya itu di luar nikah, malu sekeluarga. Kecuali orang yang ga punya malu ya. Jadi buat perempuan yang masih sendiri atau perawan tolong ya jaga itu barang pribadi anda dengan sebaik-baiknya. Kalau sudah kejadian hanya akan ada penyesalan.
Makanya Reader jangan berdua-duaan di tempat sepi, karena yang ketiga setan. Orang kalau sudah keenakan pasti lupa apalagi yang ga takut dosa pasti lanjut teruuus. Jangan yah, juga buat para pria jagalah perempuan anda dengan sebaik-baiknya sebelum menikah. Karena itu dilakukan setelah menikah akan lebih indah. Bukan dosa yang didapat melainkan pahala yang akan diperoleh.
Demi kebaikan bersama dan demi kebahagiaan yang bisa di dapat baik di dunia juga di akhirat kelak. Mungkin di jaman sekarang hal itu sudah umum biasa terjadi, apalagi di kota-kota besar seperti Cikarang. Karena terakhir kalinya Author berada di Cikarang ada tempat deretan kontrakan yang ternyata penghuninya tidak menikah resmi bisa ngontrak bareng. Entah lah apa yang terjadi sebenarnya, namun tempat seperti itu ada. Lanjut lagi ke cerita ya gaes.
*
__ADS_1
Hari libur pun tiba Dinda dan Tini serta mba Lilis libur dan mereka bertiga hanya di kontrakan saja melakukan kegiatan seperti nyuci baju, gosok baju, beresin kontrakan, masak bareng-bareng. Dan juga menonton televisi bareng-bareng juga. Ada hal yang menjadi pembicaraan mereka bertiga saat sedang nonton televisi.
"Dinda, kamu sudah kenal yang namanya mas Nur yang ngontraknya deretan sini di ujung. Aku kemaren ketemu dia, dia nitip salam buat kamu, katanya salam kenal". Ucap mba Lilis memulai obrolannya.
"Mas Nur, yang ngontraknya deretan sini mba, paling ujung ya?, yang gimana orangnya mba?". Tanya Dinda karena merasa tidak mengenal orang tersebut yang bernama mas Nur.
"Itu yang ngontraknya ujung sini iya, orangnya agak tinggi, agak kurus, kulitnya sawo Mateng bersih gitu, yang kerjanya di pabrik baja sini warung bongkok". Jawab mba Lilis.
"Aku ga kenal mba, lihat orangnya saja kayanya belum pernah tuh mba. Ga tahu orangnya gimana, tapi terimakasih sudah nitip salam". Ucap Dinda yang masih tidak tahu orangnya yang mana.
"Masa sih Din?, padahal berangkat pulang kerja kan lewat depan sini, depan kontrakan kita lho. Masa iya kamu ga tahu yang mana orangnya. Orangnya menurut Aku baik, agak cakep lah ya, kerja sudah lama di pabrik baja. Sepertinya sih sudah jadi karyawan". Ucap mba Lilis menjelaskan ciri-ciri dari Mas Nur.
"Terus kenapa mba, kan dia cuma nitip salam saja. Ada yang aneh selain itu apa ya?, Kok mba seperti mau menjodohkan anaknya sih, iya ga sih Tin?". Ucap Dinda merasa agak aneh dengan sikap mba Lilis dan bertanya canda dengan Tini.
"Iya nih, mba Lilis seperti sedang mencoba menjodohkan anaknya dengan seseorang heehee". Jawab Tini sambil tertawa.
"Yaaa ga juga sih Din, cuma dari kapan yah, dia nanya kamu terus cuma mba lupa mau ngomong sama kamu. Kamu sama mba beda shift, satu shift juga mba lupa mau ngomong. Dianya juga berangkat terus jarang libur. Jadi ya gitu deh". Ucap mba Lilis menjelaskan.
"Oowh, ya kalau ketemu sama dia, salam balik juga mba eh salam kenal saja walaupun Aku belum jelas orangnya kaya gimana". Ucap Dinda mencoba untuk tidak berfikir yang tidak-tidak selain hanya kenalan sebagai tetangga kontrakan.
"Iya insyaallah kalau ketemu dia dan kalau mba ingat juga ya Din". Jawab mba Lilis.
Obrolan tentang tetangga kontrakan yang bertanya tentang Dinda kepada mba Lilis membuat Dinda penasaran. Tapi Dinda sadar bahwa kedatangan Dinda ke Cikarang untuk bekerja agar mendapatkan penghasilan supaya bisa membantu ekonomi keluarganya.
__ADS_1
Nah Reader, bagaimana cerita selanjutnya?, simak kembali di episode yang berikutnya. Like, vote, dan komentarnya tetap masih di tunggu ya. Tetap semangat dan jaga selalu kesehatan. Salam sehat untuk semuanya dan ingat 5M. πππͺπͺβΊοΈβΊοΈπΉπΉ