Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )

Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )
Episode 33. Pengumuman tes wawancara.


__ADS_3

Malam ini Dinda hanya beharap dan berdoa semoga tes wawancaranya kemaren bisa lulus. Orang tua Dinda mendoakannya pula, berharap putrinya dapat segera mendapatkan pekerjaan lagi.


Pagi cerah semoga membawa berkah buat Dinda. Semangat pagi mengantarkannya kembali berangkat menuju ke sekolah SMK. Di depan gerbang Dinda menunggu kedatangan Tini.


Jam setengah 9 Tini terlihat sedang menyeberang jalan. Sesampainya di depan gerbang langsung menghampiri Dinda yang menunggunya. Mereka berdua langsung menuju ke ruang aula. Ternyata sudah beberapa pelamar kerja yang sudah duduk di ruang aula.


Jam 9 tepat guru BKK dan perwakilan dari perusahaan datang ke ruang aula. Guru BKK tersebut menghitung banyaknya pelamar yang datang. Ternyata seluruh pelamar yang mengikuti tes wawancara kemaren semuanya telah datang.


Tanpa berbasa basi, guru BKK tersebut langsung berbicara membuka pertemuan untuk mengumumkan tes wawancara.


"Assalamu'alaikum, selamat pagi semua." Ucap guru tersebut.


"Wa'alaikumussalam, pagi Bu." Jawab para pelamar kerja dengan kompaknya.


"Langsung saja, di sini Saya akan mengumumkan siapa saja yang berhasil lulus tes wawancara kemaren." Tanpa basa-basi guru BKK tersebut langsung berbicara pada intinya.


"Yang namanya Saya panggil adalah mereka yang tidak lulus tes wawancara. Sedangkan yang tidak Saya panggil, berarti mereka yang lulus tes wawancara. Jadi mohon maaf bagi yang namanya Saya panggil berarti belum rezekinya. Semoga di tempat lain atau di perusahaan yang lain kalian akan mendapatkan pekerjaan. Tetap semangat, jangan menyerah, terus berusaha untuk mencari pekerjaan." Ucap guru tersebut dengan semangat untuk menyemangati yang tidak lulus tes wawancara.


"Untuk yang namanya Saya panggil, silahkan langsung keluar ruangan, dan silahkan pulang. Dan yang tidak Saya panggil tetap tinggal di ruangan ini, karena masih ada pemberitahuan tentang tahapan tes berikutnya." Ucap guru BKK lanjut


Akhirnya mulai satu per satu di panggil nama-nama yang tidak lulus tes wawancara. Satu demi satu keluar ruang aula dengan rasa kecewa karena tidak lulus tes wawancara. Namun mau bagaimana lagi belum rezekinya. Meskipun sudah berusaha, tetap saja Allah yang menentukan. Sementara yang namanya tidak di panggil masih berada di dalam ruangan dan merasa lega serta bertanya-tanya tentang tes selanjutnya.


Setelah beberapa nama di panggil, akhirnya guru BKK tersebut berhenti. Berarti yang masih berada di dalam ruang aula adalah mereka yang lulus tes wawancara. Dinda dan Tini ternyata lulus tes karena nama mereka tidak di panggil. Merasa bersyukur dan bertanya tentang tes selanjutnya dalam pikiran masing-masing.


Ada 25 orang yang lulus tes wawancara, selebihnya mereka tidak lulus. Yang telah lulus masih duduk di ruang aula menunggu pengumuman selanjutnya. Masih menunggu dan mereka saling berbicara satu sama lain dengan orang yang duduk di sebelahnya.


"Ehem ehem, oke tolong ngobrolnya berhenti dulu. Ya, Saya akan menyampaikan hal yang tadi sempat dibicarakan oleh guru BKK tadi. Bahwa yang telah lulus tes wawancara akan mengikuti tes selanjutnya." Ucap salah satu perwakilan dari perusahaan.


"Tes tersebut adalah tes kesehatan. Pihak perusahaan telah bekerjasama dengan salah satu klinik. Pihak perusahaan meminta kepada klinik terdekat untuk bekerjasama dalam memeriksa kondisi kesehatan Anda semua." Lanjut perwakilan perusahaan tersebut memberitahu.


"Untuk itu diharapkan yang lulus tes wawancara mengikuti tes kesehatan besok pagi di klinik Tiara jam 9 pagi. Untuk hari ini cukup sekian saja, apa yang tadi Saya ucapkan sudah jelas?. Kalau sudah jelas silahkan pulang dan terimakasih." Ucap perwakilan perusahaan menjelaskan dan mengakhirinya.


Para pelamar kerja yang lulus mulai beranjak dan keluar dari ruang aula. Sambil berjalan keluar sekolah, Dinda dan Tini mengobrol. Mereka berdua janjian bertemu di depan klinik Tiara.


"Din, besok langsung ke klinik Tiara ya. Siapa yang datang duluan harus mau nungguin. Pokoknya jam setengah sembilan lah harus sudah sampai oke !." Ucap Tini mengajak Dinda bertemu di depan rumah sakit dr. Soesilo.

__ADS_1


"Iya deh, tapi jangan telat kamu Tin. Biasanya kan kamu yang datang telat." Jawab Dinda sambil senyam-senyum meledek Tini yang suka datang telat.


"Ya maaf, telatnya aku itu karena supir angkutnya tuh. Suka mangkal lama, nunggu penuh dulu baru jalan." Tini menjawab agak kesal, pasalnya meskipun Tini berusaha untuk tidak terlambat datang, tetap saja supir angkutnya yang buat lama.


"Ingat ya, nunggu depan klinik Tiara. Siapapun yang datang terlebih dahulu, eits tapi jangan telat jam setengah 9 pagi." Dinda kembali mengingatkan.


"Iya iya, kok sekarang jadi agak galak sih Din. Bisa ga kaya dulu heehee." Ledek Tini sambil memegang bahu tangan kanan Dinda.


"Aku mulai sekarang mau agak galak biarin, kamu kebiasaan buat aku lama nunggu hemm." Balas Dinda sambil memalingkan mukanya.


Obrolan tersebut masih berlanjut karena mereka berdua masih menunggu angkutan umum lewat. Tidak lama kemudian angkutan umum yang ditunggu lewat juga. Mereka pun masing-masing naik angkutan umum untuk pulang.


*


Dinda masih beristirahat di dalam kamarnya. Tiba-tiba saja Dinda teringat teman yang dulu kerja bareng waktu di Cikarang. Dia menceritakan pengalamannya pada saat hendak mengikuti tes kesehatan. Sebelum besoknya tes kesehatan, malamnya minum susu soda. Dan perbanyak minum air putih dari pagi.


Mengingat hal tersebut, antara percaya dan tidak percaya Dinda melakukannya. Katanya minum susu soda untuk membersihkan paru-paru. Dan minum air putih untuk membuat air kencing berwarna kuning bersih. Untuk membersihkan ginjal dan tidak mengalami dehidrasi.


Benar atau tidaknya, Dinda sendiri tidak tahu. Menurut Dinda hal ini aneh dan lebih aneh lagi Dinda melakukannya. Dinda pergi ke toko untuk membeli susu dan minuman soda. Susu dan minuman soda tersebut di campur, diaduk-aduk rata. Kemudian Dinda meminumnya.


*


Pagi hari tiba, Dinda telah bersiap-siap berangkat untuk mengikuti tes kesehatan di klinik Tiara. Tepat pada Jam 08.25 Dinda sudah sampai di depan klinik Tiara, Dinda tengak-tengok ke kiri ke kanan ke segala arah untuk menemukan sahabatnya. Namun sahabatnya itu tidak terlihat sama sekali. Entah di mana Tini berada, batang hidungnya saja tidak terlihat sama sekali. Itulah yang dipikirkan Dinda sambil melihat lihat di sekitar depan klinik Tiara.


"Dorr." Suara dari Tini sambil memukul bahu kanan Dinda.


"Astaghfirullahal'adzim, Tini kamu ngagetin aku tau. Kalau jantungku copot gimana?. Apa kamu bisa pasang lagi apa?." Dinda terkejut sambil mengelus-elus dadanya karena masih agak kaget.


"Buktinya belum copot tuh. Masih ada, kecuali hati kamu Din, mungkin tinggal separuh." Ucap Tini meledek sambil merangkul pundak Dinda kemudian berjalan bersama menuju ruang pendaftaran.


"Sembarangan kamu ya Tin, bilang hatiku tinggal separuh. Wong hatiku masih utuh Wee. Kamu bilang separuh, memangnya lihat, terus separuhnya ke mana coba?." Ucap Dinda agak kesal sedikit kemudian bertanya untuk melanjutkan obrolannya.


"Mau tau separuhnya kemana?, cieeee lupa yaaaa kalau hatinya yang separuh masih di Cikarang." Tini terus saja meledek Dinda.


Sambil berjalan ke arah pendaftaran Dinda dan Tini asyik mengobrol sambil bercanda. Kemudian mereka duduk di kursi yang telah di sediakan. Mereka masih melanjutkan pembicaraan yang tidak tahu arahnya kemana.

__ADS_1


"Di Cikarang, ngarang kamu Tin, aku kan di sini di sebelahmu." Dinda masih merasa sedikit kesal, tetapi malu dan menyembunyikan raut mukanya dari Tini.


"Tuh kan merah mukanya, tahu deh yang masih keinget sama yayangnya, siapa lagi kalau bukan itu tuh." Tini masih tetap meledek Dinda.


"Iya Tin, kok aku jadi ingat mas Nur ya. Kamu sih ngingetin aku, jadi ingat deh tuh." Dinda merasa mengingat mas Nur.


"Ngomong-ngomong dia baik ga sih Din." Tanya Tini yang agak penasaran.


"Ga tahu, kayanya sih baik." Jawab Dinda singkat.


"Kok kayanya, emang baik kali Din. Terlihat dari sosoknya yang alim gitu." Jawab Tini yang ga mau kalah.


"Kan ga tahu Tin, terlihat alim memang. Tapi ga tahu ahh, siapa tahu diam-diam menghanyutkan." Dinda juga tidak mau kalah dengan Tini.


"Sungai kali Din, sudah yuk ga usah bahas mas Nur. Sudah mau giliran kita tes, semoga lancar bismillah." Tini menyudahi obrolannya saat tahu yang lain sudah mulai tes kesehatan, tinggal menunggu gilirannya dan Dinda.


"Iya, semoga lancar Tin aamiin." Dinda pun akhirnya sepakat mengakhiri obrolannya.


Tes kesehatan di mulai, mereka mengantri satu persatu masuk ke ruang yang sudah ditentukan. Demikian juga Dinda dan Tini sama-sama mengantri.


Satu persatu tes tersebut di lakukan. Dari tes tinggi badan sampai rongsen. Semua dilakukan demi persyaratan masuk kerja.


Sampailah mereka di tempat tunggu yang sudah disediakan, karena mereka telah selesai melakukan tes kesehatan. Sambil menunggu pengumuman mereka dipersilahkan untuk istirahat.


Beberapa ada yang mengobrol, ada juga yang pergi ke kantin. Ada juga yang berjalan-jalan melihat-lihat kondisi atau keadaan sekitar. Dinda dan Tini merasa bosan akhirnya mereka berdua pergi ke kantin.


Membeli makanan ringan bahkan lontong dan gorengan. Merasa lelah dan lapar, Dinda dan Tini memakan makanan yang mereka beli di kantin. Sambil menunggu pengumuman hasil tes kesehatan yang mereka jalani.


*


Maaf yaa reader, Authornya lagi sibuk hingga karyanya sempat tertunda untuk beberapa waktu. Namun author masih ingin melanjutkan karyanya.


Maka untuk itu harap bersabar karena Authornya masih baru belajar. Masih perlu banyak perbaikan di dalam menulis karyanya. Semoga para Reader semua memakluminya.


Terimakasih masih mau membaca karyaku ini. Untuk episode berikutnya sabar yaaaa,, yang jelas saling mendoakan semoga author dan Reader semua dalam keadaan sehat.

__ADS_1


Tetap semangat apapun kondisinya, dan tetap jaga kesehatan. Salam bahagia untuk semuanya,,🥰🥰🥰 semangat yaaa💪💪💪.


__ADS_2