
Dinda melihat-lihat isi etalase. Begitu juga dengan Tini. Di dalam etalase barang yang di pajang juga terdapat nilai tiket yang harus di tukar.
"Din, mau yang mana, cepetan apa sudah hampir sore." Ucap Tini melihat Dinda masih melihat-lihat barang di etalase.
"Iya sebentar Tin. Aku tuh mau barang yang belum ada di kontrakan. Yang sekiranya butuh banget." Jawab Dinda berhenti di depan salah satu barang.
"Mba maaf yang ini." Ucap Dinda sambil menunjuk barang di dalam etalase kepada kasir.
"Sebentar mba Saya ambilkan." Jawab kasir tersebut.
Sang kasir berjalan menuju barang yang di tunjuk oleh Dinda. Kasir tersebut membuka lemari etalase dan mengambil barang yang di maksud.
"Ini barang hadiah penukaran tiket time zonenya mba." Ucap Kasir sambil memberikan barang yang sudah terbungkus oleh kantong plastik.
"Terimakasih mba." Jawab Dinda sambil menerima barang tersebut.
"Semoga permainannya menyenangkan dan semoga datang kembali, terimakasih atas kunjungannya." Lanjut kasir berucap.
"Iya mba, terimakasih juga." Ucap Dinda dan Tini bersamaan.
Mereka berdua berbalik dan berjalan keluar mall Ramayana. Dalam perjalanan pulang ke kontrakan, mereka berjalan sambil mengobrol.
"Kok kamu pilih bantal boneka Din." Tanya Tini.
"Iya soalnya bantal ini lumayan buat nyender kepala. Di kontrakan kan cuma ada dua bantal, ini buat tambahan saja." Jawab Dinda sekenanya.
"Hmmm, alasan, bilang saja buat di peluk. Buat nyender, nyender hati yang belum kuat bangun gitu ya Din." Ucap Tini sekaligus meledek.
"Apaan sih Tin. Mending peluk bantal lah daripada peluk kamu, Iiiiiii ngeri peluk kamu. Terus enakan nyender sama bantal daripada nyender sama kamu." Ucap Dinda balik meledek.
"Emang kenapa, aku ga masalah ya di peluk apa di sender sama kamu daripada ga ada orang. Berarti itu menandakan Aku teman yang pengertian Din." Jawab Tini.
"Iya pengertiannya sih oke, tapi bau asemnya itu lho Tin. Kamu tega ya sama Aku sudah kebauan di tambah nyender ke kamu ga empuk Tin bikin sakit tahu heeheee." Dinda meledek sambil berlari menuju kontrakan.
"Sialan, ngatain bau asem, emangnya dondong. Sudah asem, keras lagi ga empuk gitu, waahhh kebangetan ya. Sini kamu Din, awas ya." Kesal Tini sambil mengejar Dinda.
Mereka berdua sampai di kontrakan. Dinda dan Tini bergantian mandi kemudian sholat ashar. Dinda menggosok baju yang sudah kering. Sedangkan Tini tiduran di belakang Dinda memakai bantal boneka.
"Din, ada gunanya juga ya kamu ambil bantal boneka ini, enak empuk Din." Ucap Tini sambil tiduran.
"Hemmm, lumayan kan buat nyender kepala kamu yang sering lupa. Siapa tahu habis pakai bantal itu penyakit lupa kamu berkurang Tin." Ucap Dinda meledek.
__ADS_1
"Apa hubungannya, Din yang namanya lupa itu manusiawi. Ga ada sangkut pautnya ya sama ini bantal." Jawab Tini sambil bangun dari tidurnya dan memegang bantal boneka, lalu lanjut tiduran lagi.
"Iya, iya, ga ada sangkut pautnya. Memang lupa itu manusiawi Tin, tapi kalau sering lupa itu kebangetan." Ucap Dinda sambil menaruh pakaian yang sudah di gosok.
"Din, kira-kira mas Nur gimana ya?. Aku kalau jadi dia pasti galau 1000 persen. Masalahnya itu si Indah kebangetan banget cintanya." Ucap Tini tiba-tiba tentang mas Nur.
"Tanya saja sendiri sama mas Nur galaunya berapa persen. Lagian itu urusan dia Tin, kenapa kamu malah ikutan galau." Jawab Dinda cuek.
"Memangnya kamu ga kepikiran mas Nur ya Din, kasihan tahu. Aku lihatnya saja gimana gitu. Kalau kamu galau juga ga Din?. Pasti galau ya sampai tadi main pukul kepala saja sampai tenaga di keluarin semua." Tanya Tini lanjut.
"Kenapa Aku galau, lagian itu terserah mas Nur. Perasaan dia, hati dia, terserah dia lah Tin." Mode cuek Dinda sambil menggosok baju.
"Iya betul, itu perasaan dia, hati dia, lah kalau semua itu buat kamu, gimana ?." Tanya Tini lebih serius.
Dinda menghentikan menggosok baju. Kabel colokan setrika dia cabut. Kemudian merapikan pakaiannya di lemari. Dinda membawa bantal dari ruang tengah. Di taruhlah bantal tersebut di sebelah Tini. Kemudian Dinda ikut tiduran di sebelah Tini. Menikmati sore hari dengan tiduran setelah seharian pergi, Tini dan Dinda lanjut mengobrol.
"Tin, kamu tahu mas Nur dengan jelas. Dan kamu juga tahu Aku. Gimana Aku selama ini, benar Aku belum menjawab pernyataan cinta mas Nur. Seandainya kamu di posisi Aku gimana?." Tanya Dinda seketika.
"Masalahnya Aku belum jelas, kamunya itu gimana Din. Aku masih bingung sama kamu. Kalau mas Nur jelas lah sekarang dia suka kamu, cinta iya. Lha kamu di bilang suka mungkin, tapi cinta ga tahu, kamu seperti bingung." Terang Tini.
"Aku suka sama mas Nur, mungkin rasa itu juga sudah mulai tumbuh. Tapi Aku berusaha untuk menepisnya Tin." Ungkap Dinda tentang perasaannya.
"Kamu kan tahu Aku harus kerja, ada orang tua yang harus Aku bantu. Bantu biaya sekolah adikku itu lebih penting daripada ngurusin cinta. Aku harus serius kerja dan ingin kuliah kalau bisa. Gimana Aku mikirin mas Nur Tin. Di tambah masalah mas Nur sama Teteh Indah belum selesai, Aku ga mau jadi nambah urusannya." Ucap Dinda serius.
"Iya ya, serius kerja dan kuliah kalau bisa. Aku juga Din. Kalau mikirin cinta, terus terang saja Din urusan yang lain kebawa. Pikirannya itu terbayang-bayang waktu berdua. Jalan, makan, minum, nonton, itu pasti ternyiang-nyiang. Ga bakalan konsentrasi ngurusin yang lain." Ucap Tini mengingat kisahnya.
"Itu sih kamu Tin. Makanya Aku itu mau serius dulu kerja bukan mikirin cowo, pacaran gitu." Jelas Dinda.
"Iya Aku ngerti kamu kok Din. Tenang saja, kalau pilihan kamu yakin seperti itu Aku akan dukung. Yang penting kamu ga pusing eh galau heehee." Hibur Tini.
" Iya terimakasih Tin." Ucap Dinda.
Mereka berdua asik ngobrol, sesekali tertawa untuk menghilangkan pengat di kepala. Sementara itu di tempat lain, nampak dua orang manusia masih dengan keseriusannya mengobrol. Hingga hari menjelang sore, masih dengan pilihannya.
"Indah, tolong kamu jangan seperti ini terus." Ucap mas Nur mencoba menenangkan Indah.
"Ga bisa mas, Aku benar-benar sayang dan cinta sama kamu mas. Aku ga mau kehilangan kamu. Aku mau kita balikan seperti dulu lagi. Aku malu mas, bahkan Abah sering tanya sama Aku kapan mas Nur ke rumah. Aku bingung harus jawab apa huuu huuu huuu." Jawab Indah masih dengan sesenggukan.
"Tapi ga bisa Indah. Hubungan kita sudah berakhir. Tolong mengertilah. Saat ini rasa sayang dan cinta Aku ke kamu sudah berubah. Tidak seperti dulu lagi, mungkin Aku hanya menganggapmu hanya masa lalu. Kini kita bisa jadi saudara, bahkan teman Indah. Kebaikanku tidak akan berubah. Perhatianku mungkin akan berbeda." Terang mas Nur.
"Kalau itu maksud kamu mas, baiklah. Bagaimana jika Aku yang berubah." Pinta Indah.
__ADS_1
"Maksud kamu." Tanya mas Nur bingung.
"Demi kamu mas, Aku akan berusaha berubah. Sikap, sifat, tindak laku Aku sama kamu, Aku akan merubahnya. Apa yang kamu mau tentang Aku mas. Aku akan berusaha merubahnya. Asalkan kamu mau balikan sama Aku dan menjalin hubungan seperti dulu lagi. Sampai kita menikah mas, Aku mau nikah sama kamu." Pinta Indah dengan serius.
"Sudahlah Indah, jangan berubah demi Aku. Jangan merubah demi mendapatkan Aku. Aku tidak akan bisa kembali lagi sama kamu. Jadi tolong, Aku harap kamu mengerti. Tutur mas Nur pelan tapi tegas.
"Baik Aku akan mengerti kamu mas. Sebaliknya kamu juga harus mengerti Aku. Bagaimana pertanggungjawaban kata-katamu mas kepada Abah. Kamu yang harus menjelaskan sendiri kepada Abah, apa bisa." Tantang Indah.
Mendapati kenyataan tak seindah harapan itu memang sulit di hadapi. Mas Nur menyadari dirinya sendiri. Bagaimana sikap seorang laki-laki terutama dengan kata-katanya. Mas Nur terdiam sesaat. Kecewa dalam hati sekaligus frustasi akan nasib cintanya kini.
"Baik, aku akan mempertanggungjawabkan kata-kataku. Dan jangan memaksaku untuk kembali lagi sama kamu. Aku sudah tidak bisa, jadi hentikan Indah." Ucap mas Nur serius.
"Sebagaimana kamu masih berusaha dengan cintamu untuknya, maka Aku juga demikian mas. Aku tidak akan menyerah, aku yakin kamu akan kembali sama Aku." Ucap Indah dengan percaya diri.
"Oke kalau itu mau kamu, terserah. Jangan salahkan Aku jika aku sudah tidak perduli lagi sama kamu." Tutur mas Nur penuh penekanan.
"Sekarang sudah sore, sebaiknya kamu pulang." Pinta mas Nur.
"Baiklah mas Aku pulang. Mas Nur Aku sayang kamu." Ucap Indah sambil mengecup pipi mas Nur tiba-tiba.
Mas Nur terdiam sesaat, kaget iya tapi sekaligus bingung kenapa Indah tiba-tiba mencium pipinya. Rasa yang berbeda dalam diri mas Nur mulai muncul.
Sesaat setelah itu mas Nur tersadar bahwa Indah sudah tidak ada lagi di kontrakannya. Indah pulang ke kontrakannya namun terlebih dahulu mampir di kontrakan Teteh Dewi.
*
Malam hari mas Nur tidak bisa tertidur. Pikirannya masih di bayang-bayangi saat Indah mencium pipinya dengan tiba-tiba. Hal itu membuatnya membayangkan bagaimana jika Dinda yang menciumnya. Seketika tubuhnya bergetar, rasa yang tidak pernah dialaminya saat menjalin cinta dengan Indah. Kini di alami oleh mas Nur.
"Dinda seandainya kamu mengakui perasaanmu untukku, pastinya Aku akan bahagia. Seandainya kamu tadi yang mencium pipiku, pastilah tubuhku akan bergejolak, hatiku berdebar, jantungku berdetak lebih kencang, pasti itu akan jadi hal terindah." Ucap kata-kata dalam pikiran mas Nur.
"Astaghfirullahal'adzim. Ya Allah kenapa jadi begini. Ini gara-gara Indah, Aku jadi kebayang-bayang Dinda." Ucap mas Nur dalam hati dan pikirannya sambil senyum.
"Dinda, jika nanti kita bisa menjalin hubungan, Aku berharap Aku dan kamu saling pengertian satu sama lain." Pinta mas Nur dalam hati.
"Tapi, kamu harus sabar Din. Sabar menunggu Aku menyelesaikan masalahku dengan Indah. Sabar dengan hubunganku yang dulu, terutama mantanku. Aku yakin kamu bisa mengerti semua yang terjadi denganku." Harap mas Nur dalam hati.
Tak terasa mas Nur akhirnya tertidur di atas kasur di ruang tengah. Rasa lelahnya membuatnya tertidur dengan pulasnya.
Bagaimana kisah selanjutnya, ikuti terus cerita karyaku ini. Semangat buat semuanya.
Bersambung....
__ADS_1