Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )

Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )
Episode 59. Antara Aku dan dia.


__ADS_3

Dinda, Tini dan juga mba Lilis asyik mengobrol di dalam kontrakan. Meskipun sedang mengobrol dengan Tini dan juga mba Lilis, tetapi pikiran Dinda tertuju pada mas Nur. Apalagi tadi bertemu dengan Indah. Meskipun Indah hanya menyapa mereka saja.


Di kontrakan mas Nur sudah selesai makan dan minum obat. Indah yang sudah membereskan peralatan makan dan minum duduk di depan mas Nur.


"Mas tadi pas di depan beli gorengan, tahu ga Aku ketemu siapa." Ucap Indah sambil memberikan apel yang sudah di kupas.


"Ga, kan mas ga tahu." Ucap mas Nur sambil makan buah apel.


"Mba Lilis, tadi sama temannya. Yang pernah ke sini." Lanjut Indah.


"Sama temannya, siapa?." Tanya mas Nur penasaran.


"Yang waktu itu ketemu di kontrakannya. Terus ketemu lagi di warung mie ayam bakso." Ucap Indah lalu terdiam.


"Dinda, dan Tini." Ucap mas Nur mengingat yang diucapkan Indah.


Seketika mas Nur beranjak dari duduknya, saat hendak berjalan keluar dari kontrakan, tiba-tiba Indah memeluknya dan menangis.


"Maafkan Aku mas, Aku ingin minta maaf padanya juga. Aku sudah salah selama ini terhadapmu dan juga dia. Tolong mas, jangan salah paham lagi, aku sangat mencintaimu dan ga mau kehilanganmu lagi." Ucap Indah menangis sambil memeluk mas Nur.


"Tolong jangan seperti ini. Aku sudah jelaskan semuanya padamu, sudah beberapa Minggu ini aku mencoba mengerti dan memahamimu. Aku tahu dirimu mencoba berubah, tapi, tapi, Aku sendiri, entahlah." Jujur mas Nur berucap lemah karena badan dan pikirannya.


"Mas, Aku pasti akan berusaha seperti yang kamu mau mas. Tolong, demi Aku, demi orang tuaku, terutama abahku. Aku juga malu mas, malu karena kita sekarang seperti ini. Aku malu ditanya kapan nikah sama kamu, aku bingung harus jawab apa mas." Indah masih menangis.


"Beri Aku waktu, Aku tahu selama ini hanya kamu yang ada untukku. Tapi, entahlah, Aku masih bingung. Tolong biarkan Aku bertemu dengannya, mungkin sekarang kesempatan Aku. Besok atau lusa bisa bertemu atau tidak Aku tidak tahu." Ucap mas Nur.


"Baiklah mas, Aku juga akan bertemu dengannya. Minta maaf atas semua yang terjadi antara kita. Tolong biarkan Aku bersamamu menjelaskan kesalahpahaman kita." Pinta Indah.


"Ya sudah, tapi janji jangan membuat keributan seperti waktu itu. Jika itu terjadi jangan salahkan Aku." Ancam mas Nur.


"Aku hanya ingin minta maaf mas, tidak minta ribut." Ucap Indah setelah berhenti menangis dan berucap manja menatap wajah mas Nur dan masih memeluknya.


Sebenarnya mas Nur tidak ingin seperti ini, tetapi dia hanya laki-laki biasa yang juga merasa ingin di manja, di sayang oleh seorang wanita.


Setelah kejadian waktu itu, Indah benar-benar berusaha mencari bahkan ingin mendapatkan perhatian mas Nur. Meskipun dengan cara dia yang memulainya lebih dulu.


Demi mas Nur, Indah akan melakukannya bahkan jika mas Nur memintanya Indah akan dengan senang hati. Cinta benar-benar membuat Indah buta. Sekarang bahkan mencium dan memeluk mas Nur sudah menjadi hal biasa bagi Indah.


Tidak menampik seperti kucing yang di beri ikan, maka akan di makan. Demikian mas Nur sebagai lelaki normal dan sudah dewasa, dia ternyata tidak menolak meski hatinya menolak, tetapi tubuhnya merespon tindakan yang di lakukan Indah.


Kini mereka seperti sepasang suami istri meskipun belum berhubungan badan karena mas Nur masih bisa menahannya. Selama ini Indah sering datang ke kontrakannya, mencuci baju, memasak, dan membersihkan kontrakannya itu sudah hal yang biasa bagi Indah.


Mas Nur melangkah di susul Indah di belakangnya berjalan ke arah kontrakan mba Lilis. Mas Nur sadar perasaannya terhadap Dinda mulai menipis seiring dengan bertambahnya perhatian yang Indah berikan begitu besar padanya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum." Ucap salam mas Nur.


"Wa'alaikumussalam." Jawab mereka bertiga bersama.


"Boleh gabung ngobrol ga?." Tanya mas Nur hati-hati.


"Boleh mas, bukannya sedang sakit." Tanya mba Lilis.


"Alhamdulillah mba sudah baikan." Jawab mas Nur sambil melihat Dinda yang hanya diam menonton televisi tanpa melihat mas Nur.


"Mau di teras saja mas apa masuk." Tawar mba Lilis merasa tidak enak dengan mas Nur dan Dinda.


"Sini saja mba, terimakasih." Tolak mas Nur dan memilih duduk di teras depan pintu.


"Mba Lilis." Sapa Indah.


"Ada Teteh Indah juga tho, masuk Teh." Ajak mba Lilis.


"Iya makasih mba, cuma mau ngomong sama mba Dinda boleh." Ucap Indah langsung tanpa basa basi.


"Ngapain nanyain Dinda, cuma mau ngomong, ngomong apaan." Jawab Tini langsung sambil berdiri di dekat pintu.


"Tini." Ucap Dinda sambil menggelengkan kepala maksudnya agar Tini tidak ribut.


"Begini Tin, Indah tadi bilang ke Aku mau minta maaf sama Dinda juga kamu termasuk mba Lilis." Mas Nur bantu bicara yang sebenarnya enggan di lakukan namun mengingat Dinda ada dan tidak ingin terjadi lagi seperti waktu itu.


"Biar Aku yang bicara Tin." Dinda berbicara dan bergeser duduk dengan mba Lilis di dekat pintu.


Mba Lilis dan Tini akhirnya hanya membiarkan mereka bertiga berbicara satu sama lain atas ketidaknyamanan dan bahkan kesalahpahaman yang terjadi. Mereka menemani Dinda ngobrol dengan Indah sekaligus mas Nur.


"Jadi apa yang ingin Teteh bicarakan dengan Saya dan juga yang ada di sini." Ucap Dinda langsung.


"Teteh yang caem, tuh temanku sudah baik hati, ayo ngomong biar jelas semuanya di sini jadi ga ada ya ribut-ribut lagi seperti kemaren." Ucap Tini mulai kesal dengan Indah yang ternyata hanya cari perhatian mas Nur karena bersikap baik.


"Maaf mba, saya cuma mau ngobrol baik-baik. Ga cari ribut seperti kemaren." Jawab Indah jengah karena Tini sepertinya tahu maksud dirinya.


"Mau ngomong apa sih Teteh sebenarnya." Ucap Dinda lagi karena tidak mau berlama-lama dalam situasi yang tidak nyaman.


"Begini mba, saya minta maaf atas semua tindakan Saya tempo kemaren. Mungkin Saya bersikap tidak sopan dan salah paham terhadap mba dan juga mas Nur." Tutur Indah.


"Sebenarnya apa yang Teteh salah pahami dari Saya dan juga mas Nur." Tanya Dinda.


"Saya pikir mas Nur sudah suka dan sayang bahkan cinta sama kamu. Dan mungkin kamu sebaliknya. Apakah kalian menjalin hubungan. Terus terang Saya masih sayang dan cinta sama mas Nur. Bahkan mas Nur berjanji kepada Abah Saya. Dan Saya harap mba Dinda maklum kalau Saya seperti itu." Terang Indah berkata jujur.

__ADS_1


"Indah apaan kamu ga juga harus ngomong itu. Hal itu urusan Aku dengan Abah kamu." Mas Nur menyela omongan Indah.


"Mas kenapa ada yang salah dengan penuturan Indah. Saya rasa wajar jika Indah berkata demikian. Dia perempuan, Aku juga sama. Aku maklum kenapa kamu begitu. Jadi begini akan Saya jelaskan biar Teteh Indah tenang." Tutur Indah kepada mereka berdua.


"Din, kamu tidak perlu menjelaskan. Karena Aku sudah menjelaskannya." Ucap mas Nur menyela.


"Tidak mas, kamu dan Indah harus tahu dari Aku langsung biar tidak terjadi lagi salah paham." Ungkap Dinda.


Mas Nur hanya menghela nafas dalam. Siap tidak siap kali ini Dinda pasti akan menjawab pertanyaannya waktu itu di depan semua orang terdekat Dinda. Termasuk Indah mantan pacarnya yang kini masih dekat bahkan lebih dekat.


Tetangga yang melihat mereka sedang mengobrol sesekali lewat hanya tersenyum. Tidak menghiraukan apa yang sedang mereka bicarakan. Karena mereka tahu pasti hubungannya antara mas Nur dan Indah.


"Teteh tenang saja, antara Saya dan mas Nur tidak ada hubungan apa-apa." Tutur Dinda membuat mas Nur sedikit kecewa.


"Jadi Teteh tidak perlu khawatirkan Saya merebut mas Nur dari Teteh.


"Memang kami sempat dekat tapi itu hanya sebentar dan sebagai tetangga kontrakan. Toh sekarang Teteh kan yang selalu ada untuk mas Nur."Dinda mulai mengatur nada bicara yang semakin membuat sesak dadanya namun ia bertahan.


"Jadi jelas Teteh antara Saya dan mas Nur tidak ada hubungan apa-apa kecuali tetangga kontrakan." Ungkap Dinda jelas.


Mas Nur yang mendengar pengakuan Dinda kecewa. Bukan ini yang diharapkan tetapi sudah diisyaratkan sebelumnya kemungkinan di tolak. Mas Nur kemudian mencoba tidak egois terhadap perasaannya sendiri, Indah dan Dinda.


Sulit rasanya di posisi mas Nur tetapi semua yang terjadi akhir-akhir ini bahwa Indah lah yang benar-benar sayang dan cinta dan mau melakukan apapun untuknya. Dan mas Nur mulai suka bahkan nyaman dengannya.


"Dinda terimakasih sudah mau bicara, maaf kami membuatmu terlibat." Ucap mas Nur menyesal.


"Aku maaf kan kalian, Aku juga minta maaf mungkin tidak seharusnya aku hadir dan ada diantara kalian. Tidak seharusnya juga Aku dekat denganmu mas, karena kamu memiliki pasangan yang baik. Jika Aku ada di posisi Teteh Indah mungkin hal yang sama akan Aku lakukan." Terang Dinda.


"Ya sudah kalau begitu sudah selesai kan, santai saja ga perlu tegang, nih minum dulu es teh manis. Mas Nur dan Teteh Indah semoga bahagia, cepet nikah, dan jangan lupa jika nikah undangannya ya." Ucap Tini menyela obrolan serius mereka sambil memberikan es teh manis.


"Iya tenang saja mba Tini, nanti Saya undang tapi bagaimana undangannya sampai mba Dinda sama mba Tini sekarang ngontrak dimana." Tanya Indah.


"Gini lewat mba Lilis saja, nanti mba Lilis yang kabari kita, iya kan mba Lilis. Ucap Dinda lanjut.


Mereka akhirnya ngobrol di luar teks semula. Antara Dinda, Tini, mba Lilis dan Indah tidak terjadi adanya rasa ingin marah atau ribut. Yang ada hanya candaan dan obrolan tentang kerjaan, pabrik, dan hidup sebagai karyawan kontrak.


Mas Nur yang masih kecewa atas sikap Dinda sekarang bertolak belakang dengan sikapnya jika diperhatikan oleh mas Nur. Seperti menyembunyikan hal tertentu yang tidak ingin diketahui oleh yang lain termasuk mas Nur sendiri.


Selesai mengobrol, Dinda dan Tini pamitan pulang ke kontrakannya. Mas Nur yang sudah pulang duluan ke kontrakan bersama dengan Indah hanya bisa menarik nafas dalam berulang kali atas kecewa pada dirinya sendiri.


Bagaimana kelanjutan Dinda dengan mas Heru yaaa. Yuk ikuti lagi kisah karyaku ini di episode berikutnya.


Bersambung lagiiiii.....

__ADS_1


__ADS_2