
Tini yang tadinya duduk di depan televisi masuk ke ruang tengah tiduran di atas kasur. Yang akhirnya tidur juga, mungkin karena semalam ga bisa tidur penasaran dengan Dinda. Sementara mba Lilis masak beras di ricecooker atau Magicom. Kemudian mulai memasak sayuran dan tempe yang di beli dari tukang sayur yang lewat depan kontrakan. Sedangkan Dinda yang tadinya mau membantu mba Lilis masak tidak diperbolehkan oleh mba Lilis.
Dinda di suruh mba Lilis menemani mas Nur yang masih duduk di teras kontrakan. Kasihan juga kalau di tinggal, ga enak juga masa ada tamu dicuekin. Ga sopan kan tamu dibiarkan sendiri. Mungkin itu juga yang membuat Dinda mau tidak mau akhirnya duduk kembali di depan televisi.
Dinda bingung harus memulai pembicaraan dengan mas Nur. Terutama setelah mendengar pengakuan mas Nur kalau dirinya mulai menyukai Dinda. Grogi ya pasti, dag dig dug begitu jelas dalam hatinya. Keringat dingin mulai nampak di telapak tangannya. Panas dingin mulai terasa di tubuh Dinda. Malu tidak tahu harus bagaimana, antara perasaan dan pikiran saling bertolak belakang.
Mata seakan ingin melihat dan menatap wajah pria yang terkadang terlintas dipikirannya. Hati seakan berbicara bahwa sesungguhnya mulai merasa getaran bila bertemu pandang. Ingin rasanya mengatakan bahwa sejak hari itu Dinda terkadang memikirkan mas Nur. Namun apalah daya dibenaknya terlintas juga perempuan yang masih saja sering main ke kontrakan mas Nur meskipun sudah putus berpacaran.
"Jangan lamun nanti kesambet setan lho." Ucapan mas Nur yang seketika mengagetkan Dinda.
"Siapa yang lamun, lha wong lagi nonton televisi." Dinda seketika itu pula langsung menjawab meski masih berasa kaget.
"Gimana kerjaan di pabrik yang baru."Mas Nur membuka obrolannya dengan menanyakan pekerjaan di pabrik baru tempat sekarang Dinda bekerja.
"Gimana apanya mas." Dinda malah balik bertanya maksud dari pertanyaan mas Nur barusan.
"Ya kerjaannya, enak tidak kerjanya, tempatnya, orang-orangnya maksudnya teman kerja dan atasan kamu Din." Mas Nur bertanya lebih jelas.
"Ooooo, itu tho. Yaaa baik Alhamdulillah. Yang namanya kerja pasti ada enak dan ga enaknya mas." Dinda mulai menjawab santai mencoba bersikap normal.
"Enaknya di mana dan ga enaknya di mana Din." Mas Nur mulai pertanyaannya lagi seakan benar-benar ingin tahu atau sekedar hanya ingin mengobrol saja dengan Dinda.
"Yang ga enak itu kerja cape mas, enaknya ya pas gajian." Jawab Dinda singkat.
"Itu sih sudah pasti Din, di mana-mana kerja cape. Tidur saja cape, tapi enak kan dapat gaji." Mas Nur masih saja ingin ngajak ngobrol Dinda.
"Yaaaa gitu mas." Ucap Dinda singkat kemudian diam dan terlihat serius menonton acara televisi.
"Din besok masuk kerja shift berapa." Tanya mas Nur lanjut ngobrol hanya sekedar ingin Dinda mau berbicara meskipun harus di tanya terlebih dahulu.
""Shift 2 mas." Dinda masih menjawab dengan singkat.
"Shift 2, berangkat jam berapa terus pulangnya jam berapa Din." Mas Nur masih bertanya.
"Masuknya jam 3, pulangnya jam 11." Jawaban yang Dinda berikan masih sesuai dengan pertanyaan mas Nur tanpa ada tambahan ucapan atau perkataan yang lainnya.
"Mba Lilis masak apa sih, baunya enak banget, baunya sampai sini lho mba." Mas Nur mencoba mengalihkan pertanyaan ke mba Lilis meskipun arah pandangannya ke Dinda.
"Cuma masak tempe goreng sama sayur bening, dan bikin sambal terasi. Emang baunya sampai ke situ yaaa. Ini karena libur, Dinda dan Tini main jadi aku masak mas." Mba Lilis menjawab dari dapur kontrakan sambil menguleg sambel terasi yang hampir jadi.
"Iya baunya enak banget mba, sampai aku bangun nih. Baunya itu buat aku bangun tidur nih mba Lilis, terus pengin makan heehee." Tini langsung menyahut setelah membuka matanya karena terbangun dari tidurnya.
"Itu sih emang kamu sudah lapar Tin." Mba Lilis langsung membalas ucapan Tini.
Mas Nur yang mendengar percakapan mba Lilis dan Tini tersenyum. Tanpa sengaja tatapan dan senyuman mas Nur di lihat oleh Dinda.
"Ga apa-apa di lihat, jangan curi-curi pandang gitu apa Din." Seketika mas Nur berucap tatkala tatapannya menangkap tatapan Dinda sekilas.
"Ciee ciee curi-curi apa mas, curi-curi pandang. Curi hatinya mas Nur kali ahh. Din ga cape apa dari tadi ngobrol cuma tanya jawab doang. Kaya lagi wawancara kerja saja heehee."
"Siapa yang curi-curi pandang. Tin bukannya kamu tadi tidur ya, kok bisa dengar aku ngobrol sama mas Nur, bilang tanya jawab lagi, kaya apa wawancara kerja. Maaf yaa aku ga ada bahan obrolan, jadi yaaa berhubung di tanya, yaaa tinggal jawab kaan." Jawab Dinda menyembunyikan rasa malu dan mengelak saat mas Nur mengatakan bahwa Dinda curi-curi pandang terhadap mas Nur.
"Iya-iya tahu lah yang ga mau ngaku, maluuu tuuuhhh ketahuan nyuri heehee. Aku tuh dari tadi cuma tiduran bukan tidur beneran. Jadi masih bisa dengar kalian ngobrol, juga bisa nyium bau masakan mba Lilis. Karena sudah laper juga sih heeheeee. Maaf yaa Dinda yang manis bercanda heeheee." Tini dengan tertawanya dan dengan senangnya meledek Dinda.
"Sudah Tin kasihan mukanya sudah merah gitu tuh. Ga lihat apa yaa, mukanya Dinda kaya kepiting rebus." Timpal mas Nur yang ikutan meledek Dinda sambil tersenyum karena melihat Dinda mukanya merah karena malu dan kesel diledekin.
__ADS_1
Dinda akhirnya ke ruang belakang menuju kolam untuk mencuci mukanya karena ketahuan sama mas Nur. Mau disembunyikan tetap saja, bagaimanapun juga akhirnya ketahuan juga. Meskipun Dinda belum bisa menunjukkan sikap yang sebenarnya, bagaimana perasaannya terhadap mas Nur.
Mba Lilis yang mendengar hal tersebut ikut tersenyum. Mba Lilis sebenarnya tahu sikap Dinda seperti ini. Karena dulu ia pernah mengalaminya. Wajar saja baru pertama kali hati bergetar karena seseorang yaa beginilah akhirnya. Salah tingkah di depan orang yang membuat hati berdebar-debar.
Mas Nur yang sedari tadi melihat Dinda hanya bisa menarik nafas dalam sesekali berucap dalam hati untuk tetap sabar. Biar bagaimanapun juga mungkin ini yang pertama kali dialami oleh Dinda.
Tini bangun dari rebahan di kasur kemudian menyusul Dinda ke arah kolam. Setelah Dinda keluar dari kolam barulah Tini masuk kedalam kolam.
Jam menunjukkan pukul 11 lewat 30 menit. Mba Lilis di bantu Dinda serta Tini menaruh nasi di megiccoom dan tempe goreng, sambal terasi serta sayur bening di ruang depan televisi. Tak lupa juga piring dan sendoknya.
Mba Lilis mengajak mas Nur ikut makan juga karena memang baru kali ini mas Nur main di tempat mba Lilis dan ikut makan bersama demi melihat Dinda lebih lama.
**
Dua minggu sebelumnya, Tini keluar kontrakan sehabis magrib. Pamitnya ke Dinda mau menelpon ibunya di kampung. Memang benar Tini ke wartel dan menelpon ibunya di kampung. Namun setelah itu Tini menelpon ke kontrakan mba Lilis. Karena hari Minggu Tini yakin kalau mba Lilis ada di kontrakan seperti biasanya. Ternyata benar saja Mba Lilis ada di kontrakan. Tini kemudian mengobrol dengan mba Lilis melalui telp.
"Assalamu'alaikum mba Lilis." Salam keluar dari Tini ketika sambungan telephonnya yang kedua diangkat. Sambungan telp yang pertama di angkat oleh ibu kontrakan, kemudian Tini bilang ingin berbicara dengan mba Lilis. Jadi ketika sambungan telp kedua diangkat Tini langsung menyapa mba Lilis.
"Wa'alaikumussalam, iya ini mba Lilis, apa kabar Tin. Tadi ibu kontrakan nyampein kalau kamu nelp. Kamu nelp dari kampung?." Jawab mba Lilis kemudian bertanya Tini menelpon dari kampung.
"Alhamdulillah aku baik mba, sehat. Aku nelp bukan dari kampung mba." Tini langsung menjawab, namun belum sempat bilang kalau dia nelp dari Cibitung sudah di tanya lagi oleh mba Lilis.
"Lhaaa terus kamu nelp dari mana kalau bukan dari kampung, emang sekarang kamu lagi di mana Tin?." Mba Lilis langsung tanya kembali sebelum Tini menjawab dia nelp dari Cibitung.
"Aku sekarang di Cibitung mba." Jawab Tini singkat.
"Kok kamu di Cibitung, ngapain, kerja?." Tanya Mba Lilis penasaran.
"Ceritanya entar saja ga penting, ini yang penting mba." Jawab Tini sekenanya.
"Aku tadi nelp ibu di kampung, cuma sebentar soalnya nelp ke kampung dari sini di wartel mahal mbaaa. Nah ini sekalian nelp mba cuma mau kasih tahu." Tini menjelaskan maksud dia menelpon.
"Teruuusss maksudnya kamu itu apa hubungannya." Mba Lilis tambah bingung dengan jawaban Tini.
"Intinya itu aku mau bilang sama mba minta tolong bilang juga ke mas Nur ya." Ungkap maksud Tini yang sebenarnya.
"Lhoo kok mas Nur apa hubungannya sama mba." Semakin bingung mba Lilis.
"Dua Minggu dari sekarang aku entar mau main ke kontrakan mba Lilis sama Dinda. Mba tolong kasih tahu mas Nur. Paham ga maksud aku mba." Ucap Tini menyampaikan maksudnya.
"Oooo,, gituuuu thooo. Maksud kamu Minggu depan depannya lagi mau main ke sini sama Dinda. Mas Nur kasih tahu gitu, tapi mba sama kamu pura-pura ga kasih tahu mas Nur. Kamu main ke sini ngajak Dinda mendadak yaaaa pura-pura belum kasih tahu ke mba kamu mau main. Okeeee, Kita mau deketin mas Nur sama Dinda gitu maksudnya kamu kan." Mba Lilis menjelaskan apa maksud Tini yang sebenarnya.
"Nah, itu maksud aku mba. Serprise gitu lah buat Dinda. Semoga ga ketahuan sama Dinda mba. Soalnya Dinda cerita pas pulang kampung diantar mas Nur mana tiketnya dibayarin mba sama mas Nur. Itu kan sudah tanda-tanda kalau ada sesuatu sama mas Nur ke Dinda iya ga sih mba." Tini menerangkan sedikit cerita Dinda ke mba Lilis.
"Mungkin sih tapi ga tahu juga Tin. Ya sudah nanti kalau mba ketemu mas Nur in syaa Allah mba kasih tahu ya." Ucap mba Lilis sambil berpikir apa yang dikatakan oleh Tini.
"Ya sudah mba, sudahan ya, takut Dinda nyariin, nanti curiga dia. Assalamu'alaikum." Tini menyudahi obrolannya lewat telp.
"Iya, wa'alaikumussalam." Jawab mba Lilis yang kemudian terdengar suara tit tit tit di telp pertanda sambungan telp telah berhenti.
*
Satu minggu sebelumnya, mba Lilis menelpon ibunya di kampung untuk memberitahu bahwa mba Lilis sudah kirim uang. Pada saat itulah ibunya Lilis memberitahu kalau ibunya Tini bilang bahwa Tini sudah kerja lagi di Cikarang. Tapi dia tinggal di mess di Cibitung.
Setelah pulang dari wartel, tidak sengaja mba Lilis bertemu dengan mas Nur di jalan gang ke arah kontrakan. Seperti kebetulan, mba Lilis teringat akan rencananya dan Tini. Akhirnya mba Lilis menyapa dan bertanya apa mas Nur bisa ngobrol sebentar atau tidak. Mas Nur dengan senang hati mau mengobrol dengan mba Lilis karena mungkin dari mba Lilis mas Nur dengar kabar tentang Dinda.
__ADS_1
Namun karena mas Nur keluar untuk membeli sesuatu, dia hanya menjawab nanti pulangnya mampir ke kontrakan mba Lilis. Waktu menunjukkan jam 8 malam lewat 5 menit, mas Nur datang mampir di kontrakan mba Lilis.
"Assalamu'alaikum." Ucap mas Nur sambil mengetuk pintu kontrakan mba Lilis.
"Wa'alaikumussalam." Mba Lilis menjawab sambil membuka pintu kontrakan.
"Tak kirain ga jadi mampir mas, masuk mas, duduk." Mba Lilis basa-basi kemudian menawarkan mas Nur untuk masuk.
"Terimakasih mba, di sini saja, ga enak sama tetangga lagian sudah jam segini. Ada apa ya mba tumben sepertinya ada yang mau disampein, penting ya mba." Jawab Mas Nur merasa tidak enak kemudian duduk di teras depan kontrakan.
"Penting ga penting sih, tapi ini amanah, jadi yaa harus disampein. Jawab mba Lilis tentang apa yang akan di sampein.
"Minggu kemaren Tini nelp, kasih tahu kalau Minggu depan dia mau main ke kontrakan sama Dinda. Kata Tini dia minta tolong aku di suruh kasih tahu sama mas Nur." Cerita mba Lilis kepada mas Nur tentang hal yang mau disampein.
"Yang ngomong Dinda mba." Tanya mas Nur ingin tahu.
"Yang ngomong Tini mas, bukan Dinda." Mba Lilis kembali memperjelas.
"Iya yang ngomong Tini ke mba Lilis, tapi yang suruh Tini ngomong, Dinda mba?." Mas Nur memperjelas pertanyaannya.
"Ga." Jawab mba Lilis singkat.
"Lho, kok, aku bingung mba jadinya." Mas Nur merasa bingung kenapa Tini.
"Iya, jadi Dinda ga tahu, kalau Tini nelp aku cuma buat kasih tahu mas Nur, Minggu depan mau main ke sini. Minggu depan libur, rencananya Tini ngajak Dinda gitu mas maksudnya." Mba Lilis menjelaskan singkat.
"Memangnya Dinda sama Tini sekarang di mana mba, masih di kampung?." Tanya mas Nur yang seingatnya Dinda dan Tini masih di kampung.
"Tini sama Dinda sekarang di Cibitung, sudah kerja lagi mas, bahkan hampir satu bulan." Mba Lilis Lanjut menjelaskan.
"Kerja di mana mba, terus Cibitungnya di mana?." Kaget sekaligus senang dan bertanya karena ingin sekali bertemu dengan Dinda, yang ternyata berada di Cibitung dekat dengan warung bongkok.
"Aku ga tahu mas, kerja di mana, Cibitungnya di mana, Tini ga jelasin. Itu aja aku dengar dari ibuku tadi. Ibuku yang kasih tahu kalau Tini sama Dinda itu di Cibitung sudah kerja, itu juga dari ibunya Tini mas." Mba Lilis menjelaskan bagaimana dia tahu keberadaan Tini dan Dinda.
"Ooo, aku pikir mba sudah tahu jelas, makanya aku nanya, soalnya Cibitung kan dekat mba." Mas Nur terlihat agak kecewa dengan penjelasan mba Lilis.
"Itu saja sih mas, yaaa terserah mas Nur Minggu depan gimana, yang penting aku sudah sampein amanah dari Tini." Mba Lilis berucap seakan ingin menyudahi obrolannya dengan mas Nur.
"Terimakasih mba Lilis sudah kasih tahu, yaa sudah mba sudah malam, aku pulang assalamu'alaikum." Mas Nur menyudahi obrolan mereka.
"Sama-sama mas, wa'alaikumussalam." Mba Lilis menjawab salam kemudian masuk ke dalam kontrakan.
Setelah mba Lilis menutup pintu kontrakannya, mas Nur berjalan menuju ke kontrakannya sendiri. Dalam perjalanan pulang itulah dia memikirkan Dinda, bagaimana nanti bila bertemu dengan Dinda.
*
Gimana readers masih penasaran kelanjutannya, tunggu saja cerita karyaku ini di episode berikutnya. Bagaimanakah kisah Dinda selanjutnya, tunggu yaaa.
Jangan lupa untuk like, vote, atau komennya yaa. Author masih belajar, mohon maaf bila masih ada salah kata atau pengejaan yang kurang.
Dukungan dari para readers, author sangat harapkan demi kemajuan author dalam penulisan karyanya. Semoga kedepannya bisa membuat karya lebih baik lagi.
Terimakasih banyak yang masih mengikuti cerita karyaku ini. Semoga readers semua dan juga author sehat selalu, terus semangat, dan bahagia selalu aamiin 🤲🤲🤲.
Terus ikutin yaa karyaku ini semoga tidak mengecewakan para readers. Salam bahagia selalu ☺️☺️☺️🥰🥰🥰🌹🌹🌹
__ADS_1