Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )

Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )
Episode 65. Kondangan.


__ADS_3

Mas Heru tertidur dengan lelapnya setelah merasakan lega, tenang, dan bahagia. Dinda telah menyatakan perasaannya. Terjawab sudah perasaan mas Heru. Bahwa cinta dan sayangnya ternyata tidak bertepuk sebelah tangan.


Tidak sia-sia perjuangan beberapa bulan ini. Hingga sakitnya dijadikan alasan untuk membuat Dinda mengatakan sayang dan cinta pada mas Heru.


Dinda yang mengisi libur dengan menonton televisi hanya bisa diam memikirkan kembali yang terjadi tadi. Teringat saat Dinda mengucapkan rasa sayang dan cintanya pada mas Heru membuatnya menutup mukanya dengan bantal. Rasa khawatir, malu, dan entahlah membuatnya merasa debaran jantungnya tak berirama dengan baik.


Masih terbayang dengan jelas sentuhan mas Heru yang lembut, pegangan tangannya yang tak lepas. Rasa itu begitu nyata dan membuatnya bergejolak menginginkan lebih dari sekedar itu saja.


"Astaghfirullahal'adzim." Ucap Dinda sambil mengelus dadanya.


"Kenapa Din." Tanya Tini yang memperhatikan sikap Dinda semenjak datang dari kontrakan mas Heru.


"Ga apa-apa Tin." Menahan malu sendiri membayangkan jika hal itu terjadi.


"Mukamu merah Din, kamu sakit?." Tanya Tini khawatir melihat Dinda mukanya merah.


"Ga Tin, Aku ga sakit. Mungkin karena gerah kali ya." Jawab Dinda asal.


"Ini kipas sudah nyala, pintu dan jendela terbuka, masih panas Din. Waaahhhh aku curiga kamu kena demam cinta, cie cie cie." Ledek Tini.


"Apaan sih Tin ga, beneran gerah, panas nih cuaca. Beli es enak kali ya Tin biar adem, bikin es teh manis." Ucap Dinda mengelak.


"Bener banget tuh, cuaca emang panas, paling enak minum yang dingin. Bikin es teh manis boleh juga Din. Tapi bukan itu kan maksudnya heehee. Kalau demam cinta obatnya ya ketemu, puas-puasin deh natap mukanya heehee." Lanjut Tini ledek.


"Bilangin ga masih saja, udah ahh, mau beli es batu di depan." Dinda masih mengelak lalu pergi keluar membeli es batu.


"Dasar Dinda, sudah tahu ga bisa bohong masih saja berkilah. Apa susahnya tinggal bilang iya lagi demam cinta. Emang tadi aku ga lihat kalian saling menatap diam. Emang ya orang jatuh cinta begitu, dunia seakan milik berdua. Coba tadi ciuman beneran sama pelukan langsung deh aku suruh nikah heehee."


Kata-kata dalam pikiran Tini yang terlintas setelah Dinda pergi, setelah itu malah tertawa sendiri mengingat saat Dinda dan mas Heru saling tatap. Wajah mereka begitu dekat, dan Tini hanya diam melihat mereka sambil berjaga takut ada tetangga atau bapak bahkan ibu kontrakan lewat.


Sementara itu di kontrakan sebelah, mas Heru sudah bangun dari tidurnya kemudian mandi dan menunaikan sholat dhuhur. Setelah menunaikan ibadahnya, mas Heru bersiap-siap untuk berangkat kondangan dengan Dinda.


Tini memberi kesempatan kepada Dinda dan mas Heru berdua saling jujur tentang perasaannya. Itu membuatnya bahagia, sebagai sahabatnya hanya bisa membantu. Selagi masih dalam batasan Tini tidak masalah.


Waktu dhuhur sudah beberapa menit yang lalu, Dinda menunaikan ibadah sholat. Demikian juga dengan Tini, setelah sholat mereka makan siang bersama sambil menonton televisi.


"Din, kamu ga nengokin mas Heru?." Tanya Tini setelah selesai makan.


"Ga ahh, entar juga dia ke sini." Cuek Dinda menjawab.


"Assalamu'alaikum, Din." Salam dan panggil mas Heru.


"Wa'alaikumussalam, jawab Tini dan Dinda bersamaan.


"Sudah siap belum Din?." Tanya mas Heru dari depan pintu melihat Dinda duduk dengan Tini di ruang depan televisi.


"Belum mas." Jawab Dinda singkat.


"Din, mau di ajak kondangan itu ya dandan dikit tho. Jadi Aku seneng ajak kamu dan ngenalin ke temanku kalau kamu yayangku." Ucap mas Heru keceplosan.


"Emang harus dandan ya?." Tanya Dinda agak malu karena tidak terbiasa dandan.

__ADS_1


"Biar tambah cantik." Ucap mas Heru.


"Ehem cie cie ada yang jadian nih yeee. Ada pasangan baru heehee, aku jadi ngiri. Mas punya teman masih jomblo ga, kenalin siapa tahu jodoh." Ucap Tini sambil melihat mas Heru yang duduk di teras menunggu Dinda.


"Ada banyak mau yang kaya gimana Tin." mas Heru berkata.


"Yang seperti mas Heru ada ga?." Tanya Tini lanjut.


"Ga ada Tin, Aku tuh limited edition. Cuma ada satu heehee." Ledek mas Heru.


"Tanya serius juga mas." Kesal Tini sambil memanyunkan bibirnya.


"Serius Tin, ga ada. Paket komplit kaya Aku tuh sudah ga ada." Jawab mas Heru serius.


"KFC kali paket komplit." Saut Tini.


"Ayo mas berangkat, Tin tak tinggal dulu ya."Ucap Dinda sambil jalan keluar dari ruang tengah.


Mas Heru terpesona melihat Dinda dengan pakaian yang tidak biasa, dan sedikit polesan riasan. Terlihat lebih cantik, dan membuat mas Heru tersenyum.


"Cantik." Kata yang keluar dari bibir mas Heru tanpa sengaja.


"Terimakasih." Ucap Tini dari ruang depan langsung sambil senyum yang ditutupi telapak tangan.


"Bukan kamu Tin." Ucap mas Heru.


"Iya tahu mas, awas jangan nempel-nempel Din. Jaga jarak aman ya, nanti kesetrum." Tini mengingatkan.


Mas Heru menjalankan sepeda motornya setelah menyalakan mesin dan Dinda duduk di belakangnya. Saat mulai jalan di jalanan, mas Heru memperhatikan Dinda dari kaca spion motornya.


"Pegangan Din, nanti jatuh." Ucap mas Heru.


"Ini sudah pegangan mas." Jawab Dinda.


"Pegangan apa?." Tanyanya.


"Ini samping jok motor." Jawabnya lagi.


Mas Heru bingung, sebenarnya Dinda pegangan sama apa. Kenapa dia tidak merasakan tangan Dinda berpegangan padanya. Setidaknya pegang pinggangnya atau pegang jaketnya.


Mas Heru meminggirkan motornya di tepi jalan. Kemudian menengok kearah Dinda di belakang. Memperhatikan tangannya Dinda berpegangan apa. Ternyata tangan Dinda berpegangan pada pinggiran jok motor.


"Pegangannya sama pinggang aku Din jangan sama jok motor. Peluk juga ga apa-apa mmm." Pinta mas Heru dengan senyum senangnya.


"Dasar modus, yang penting kan pegangan mas." Jawab Dinda agak kesal dan malu.


"Ya sudah kalau begitu aku berasa tukang ojek dong Din." Ucap mas Heru agak marah padahal pura-pura.


Dinda merasa ga enak kepada mas Heru sampai berkata berasa tukang ojek. Akhirnya Dinda memberanikan diri untuk memegang jaket bagian pinggang mas Heru.


Selama perjalanan, mereka hanya diam. Sesekali pegangan Dinda longgar dan akan lepas. Maka mas Heru akan langsung memegang tangan Dinda dan di taruh di pinggang melingkar depan perutnya.

__ADS_1


Sampai mereka tiba di tempat hajatan temannya mas Heru. Mas Heru parkir motor terlebih dahulu. Kemudian mereka berjalan ke tempat acara. Acara tersebut di rumah dalam komplek perumahan.


Ternyata temannya sudah membeli rumah setelah menikah satu bulan. Namun acara syukuran nikahannya tiga bulan kemudian sekalian syukuran rumah baru.


Mas Heru berjalan di depan dan Dinda mengekor di belakangnya. Mereka bersalaman dengan pengantin dan duduk di kursi yang telah di sediakan. Mas Heru dan temannya saling memperkenalkan pasangannya.


Kemudian mas Heru dan Dinda di suruh makan terlebih dahulu. Karena malu dan mengantri dengan tamu yang lain, Dinda hanya duduk menunggu mas Heru datang dengan membawa makanan. Tak lupa juga dengan air minum mineralnya.


Selagi menunggu, Dinda mendengar tamu yang sedang ngobrol di belakang tempat duduknya. Karena tempat duduk mereka dekat, hingga membuat Dinda sangat jelas mendengarnya.


"To, tadi gue ngobrol sama Ridwan, katanya Heru Dateng sama ceweknya." Ucap pria yang duduk di belakang Dinda.


"Iya tadi gue sempat lihat pas mau ambil nasi, lihat pas Ridwan ngobrol sama Heru. Ada cewek sebelah Heru, itu ceweknya tapi gue ga lihat jelas yang mana. Soalnya tadi banyak cewe temannya istrinya Ridwan." Balas ucapan pria di sebelahnya lagi.


"Ridwan sempet gue tanya, ceweknya kerja ya?. Katanya iya kerja di pabrik Toyo***. Gue tanya sudah karyawan apa belum?. Jawabnya Heru belum masih kontrak." Ucap pria tersebut sambil makan.


Dinda merasa yang dibicarakan mereka berdua adalah dirinya dan mas Heru. Tetapi Dinda berusaha mengacuhkannya, karena mungkin yang dibicarakan adalah orang lain.


Dinda melihat mas Heru di tempat antrian prasmanan, ternyata tidak ada. Sambil tengak tengok, akhirnya Dinda melihat mas Heru yang sedang pegang piring nasi dan ada lauknya tetapi ngobrol dengan temannya.


Dinda masih menunggu mas Heru untuk duduk kembali di kursi sebelahnya. Karena tidak mengenal yang punya hajat dan tamu undangan lain, Dinda hanya diam sambil melihat-lihat sekitar.


"Gue pikir Heru jadi nikah sama yang dulu siapa namanya lupa gue." Sahut temannya.


"Yang dulu dikenalin pas acara familyday. Iya inget, gue lupa soalnya udah lama juga. Denger-denger Heru ditinggalin gara-gara waktu itu dia masih karyawan kontrak." Lanjut berkata.


"Iya gue denger dari Ridwan, Kan dia sohibnya. Terus ceweknya dia nikah sama karyawan pabrik YKK yang sudah jadi karyawan tetap." Lanjut.


"Kasihan Heru, baru punya cewe di tinggalin. Maklum pengalaman baru punya cewe. Waktu itu dia kan baru kerja di sini." Lagi lanjut cerita.


"Sekarang yang jadi ceweknya Heru enak ya, Heru sekarang sudah jadi karyawan tetap." Sambungnya lagi.


"Iya enak lah mana sudah beli rumah di sini kan, cuma beda blok." Sambungnya.


"Iya soalnya ngambil rumahnya bareng sama Ridwan jadi gue tahu." Ucapnya lagi.


"Ssttt, ada Heru." Ucap salah satunya melihat Heru melangkah ke arah mereka.


"To, Sam, dateng juga. Gue pikir kalian belum dateng." Sapa mas Heru melihat mereka berdua setelah di depan Dinda sambil memberikan Aqua gelas dan piring beserta lauk pauknya.


"Datenglah, cuma kita sendiri-sendiri. Maklum istri pada repot ngurusin anak. Ga mau ikut kondangan katanya entar repot di sini." Jawab yang bernama Anto.


"Ooo, iya sih kasihan kalau anaknya rewel ya ga betah, nanti repot bener tuh." Tutur mas Heru.


"Lho, lu dateng ama siapa ini Her, kenalin ngapa, ini cewe lu." Tanya yang bernama Samsul.


"Iya gue dateng sama cewe gue, kenalin Dinda." Jawab mas Heru sambil memperkenalkan.


"Degg."


Bersambung gaess.....

__ADS_1


__ADS_2