
Sore hari seperti biasa, Dinda dan Tini hanya bersantai duduk di teras kontrakan. Dinda masih berpikir bagaimana dia menjelaskan keinginannya untuk ingin kerja dan melanjutkan sekolah.
Di usia yang hampir 20 tahun, baginya itu akan menjadi nikah muda. Namun bagi mas Heru yang sudah 25 tahun lebih itu cukup umur untuk menikah.
Biar bagaimanapun membangun rumah tangga bukan hanya dengan cinta namun banyak hal. Terutama kejujuran, kepercayaan, saling menghargai dan menghormati posisi masing-masing.
"Hayooo, melamun yaaa?." Ucap Tini sambil menyenggol pundak lengan tangan kanan Dinda.
"Masih melamunin yang tadi, bersambung nih melamunnya?. Ga ada kerjaan sampai lamun saja buat kerjaan Din Din." Lanjut Tini.
"Ini ngajak ngobrol apa cuma ledek?, ntar kaya tadi siang ngajak ngobrol malah tinggal pergi." Tanya Dinda balik ucap.
"Maaf, tadi siang gerah banget Din, pengin mandi. Lagian ga usah lamunin cowok kan jadi pusing. Kaya Aku nih ga mikirin suka jalanin ga suka ya udah. Mau pacaran lama-lama juga ga ngaruh Din. Jodoh itu ga tahu urusan Allah. Emang manusia usaha, tapi sekeras apapun usaha kalau bukan jodohnya mau gimana hayooo?." Jelas Tini.
"Iya sih Tin." Jawab Dinda singkat.
"Nah tuh tahu." Ucap Tini lanjut.
"Tapi tetep saja Tin, Aku kepikiran." Ucap Dinda masih memikirkan.
"Hmmmm, itu sih terserah kamu yaaa. Kan itu perasaan kamu, hati kamu, dan pikiran kamu. Aku ga berhak ngatur-ngatur. Cuma sebagai sahabat aku cuma bisa kasih saran saja Din."
"Iya Tin makasih."
"Sama-sama."
"Masuk Din, sudah mau Maghrib. Kata mama, anak perawan kalau mau Maghrib ga boleh di luar rumah, ora ilok, pamali, nanti di gondol gendrewo, hhiii." Ucap Tini menakuti sambil masuk ke dalam kontrakan.
"Tiiiinnnn!, kan ujungnya tinggal pergi lagi. Lagian kenapa bilang begitu sih, kan jadi merinding. Terus itu yang pada kerja mau Maghrib keluar yang masuk jam 7 malam gimana? Di gondol gendrewo gitu?." Ucap Dinda bertanya sambil menutup pintu.
"Ga, cuma di gondol tukang ojek sama supir bus jemputan. Lagian kamu percaya gituan emang ga pernah dengar ibumu ngomong begitu?." Tanya Tini lanjut ngobrol di ruang depan.
"Ga cuma ngomong, waktu kecil di bilangin jangan keluar rumah sebelum Maghrib sama sesudah Maghrib. Kata ibu banyak setan yang keluar dari sarangnya pas jam segitu, nanti ada Wewe gombel yang suka anak kecil." Tutur Dinda teringat waktu kecil.
"Ya bener itu kata ibumu. Itu sama saja Din. Dulu waktu kecil yang suka itu ma Wewe sekarang kita sudah gede ganti yang suka jadi um uwo." Jelas Tini lanjut.
"Hah!, siapa lagi tuh ma Wewe sama um uwo?." Tanya Dinda yang ga tahu.
"Haduh, ga ngerti Din, itu ma Wewe ya itu si Wewe gombel. Kalau um uwo ya gendrewo itu. Hp ku mana ya Din, Aku lupa naruh nih." Jelas Tini lalu bertanya hp nya.
"Tuh di atas meja dekat dispenser, tadi di cas. Udah penuh udah aku cabut juga cas-casannya. Sampai lupa ngecas hp Tin Tin. Dah apa ga usah cerita begituan, serem hiii." Ucap Dinda yang memang tidak suka tentang horor.
__ADS_1
Tini mengambil hp nya yang terletak di dekat dispenser. Terlihat satu pesan diterima di layar hpnya.
"Tin besok datang ke klinik pabrik untuk check up kesehatan, jika lolos nanti bisa di terima kerja lagi. Pakai baju hitam putih." Pesan mba Atun leader Tini.
"Din, Alhamdulillah, Aku dapat panggilan dari mba Atun, coba kamu lihat hp, mungkin ada SMS juga dari leader kamu Din." Saking senengnya setelah membaca SMS dari leadernya.
"SMS panggilan kerja Tin, bentar aku lihat dulu." Jawab Dinda kemudian mengambil hp yang ada di rak meja televisi.
Dinda melihat layar hp nya, ternyata tidak ada SMS satupun yang masuk. Dinda merasa sedih sebab cuma Tini yang dapat panggilan lewat SMS.
"Tin, ga ada SMS dari mba Susi Leader aku." Ucap Tini agak sedih.
"Ya mungkin nanti Din tunggu saja ya, in syaa Allah ada panggilan, sabar." Ucap Tini memberi semangat.
"Iya Tin." Jawab Dinda sambil berdoa.
"Ya Allah Tini sudah dapat panggilan kerja, semoga aku juga dapat panggilan kerja juga ya Allah aamiin." Doa Dinda dalam hati.
Sore telah tenggelam bersamaan dengan mulai datangnya malam. Setelah Maghrib, Dinda melihat kembali hp nya dan ternyata ada beberapa SMS dari teman-temannya yang dulu kerja bareng dalam satu line.
"Din, aku dapat SMS panggilan dari mba Susi. Kamu dapat kiriman SMS dari mba Susi ga Din?." SMS dari Lina.
"Assalamu'alaikum, Din aku dapat SMS dari mba Susi. Besok suruh datang ke klinik pabrik untuk medical check up kalau lolos nanti di terima kerja lagi. Kamu sudah di SMS mba Susi belum." SMS dari mba Sari.
"Din, nanti malam jangan tidur dulu ya, mas mau ngomong, penting!." SMS dari mas Heru.
"Dinda, gue dapat SMS panggilan checkup lu dapat SMS gitu kaga?. Yang lain ada yang dapat ada juga yang belum. Lu masuk yang mana nih." SMS dari Neng Widya.
"Dinda, lu dah tau belum kalau dapat panggilan checkup SMS dari mba Susi?. Line sebelah di panggil semua Din, lu dapat kaga?. Gue belum di SMS nih, katanya kan nunggu di SMS ya. Iih sumpah ya jari gue gatal ingin SMS mba susi, masa line sebelah di panggil semua line kita kaga." SMS Neng Windi.
"Assalamu'alaikum, Din kamu sudah dapat SMS dari mba Susi belum?." SMS mba Kartini.
Satu persatu SMS Dinda baca ternyata tidak ada satupun SMS dari mba Susi leadernya tentang panggilan checkup untuk bisa kerja kembali.
Sampai akhirnya isya datang dan berlalu, SMS yang ada hanya dari temannya. Sampai akhirnya hampir di jam 9 malam ada satu SMS yang akhirnya membuat Dinda bersyukur dan tersenyum.
SMS yang dari tadi di tunggu-tunggu oleh Dinda. SMS dari mba Susi, akhirnya muncul di layar hp Dinda.
"Din maaf mba Susi baru SMS kamu, ini juga karena ada yang SMS mba Susi. Nomor kamu ternyata salah makanya kok ga balas-balas. Besok ke klinik pabrik ya Din, untuk medical checkup. Jika tesnya lolos maka otomatis akan di terima kerja lagi. Jangan lupa pakai baju hitam putih, jam 07 tepat harus datang." SMS mba Susi.
Setelah membaca SMS tersebut Dinda berucap syukur Alhamdulillah setidaknya satu langkah jalan menjadi pekerja akan di lalui.
__ADS_1
"Terimakasih informasinya mba, in syaa Allah besok saya berangkat." Jawab SMS Dinda ke mba Susi.
Rasa plong sudah lega tinggal besok usaha medical checkup. di klinik.
"Tin, Alhamdulillah aku dapat panggilan medical checkup juga dari mba Susi." Ucap Dinda keluar dari ruang tengah ke ruang depan tempat Tini sedang menonton televisi.
"Alhamdulillah Din, kita besok bisa berangkat sama-sana lagi. Ya sudah aku dah ngantuk mau tidur. Persiapan buat besok Din, medical checkup biar ga ngantuk." Balas Tini.
"Ya sudah Tin, kalau mau tidur dulu, aku bentar lagi." Ucap Dinda lanjut.
"Awas, jangan kemalaman biar besok ga terlambat. Oh iya terus biar itu tuh si mata jangan seperti mata panda ya. Malu baru pertama dapat panggilan kerja masa mata mirip mata panda kan ga lucu Din." Ucap Tini mengingatkan sekaligus meledek.
"Iya bentar lagi Tin, udah ah sana kamu sudah seperti ibuku saja Tin." Jawab Dinda.
"Iya, iya." Jawab Tini sambil masuk ke ruang tengah tidur di atas kasur.
Dinda sendiri sebenarnya sudah ngantuk. Apalagi SMS dari mba Susi, bahwa medical checkupnya jam 7 pagi sudah harus datang. Mau tidak mau kesehatan lebih utama dibandingkan yang lain.
Tapi mengingat SMS mas Heru, Dinda merasa tidak enak. Mas Heru yang pulang jam 11 malam jika shift 2 maka tidak mungkin bagi Dinda untuk menunggunya. Alhasil Dinda akhirnya memilih mematikan televisi, mengunci pintu kontrakan dan mematikan lampu ruang depan.
Dinda memilih untuk tidur awal mengingat besok ada medical checkup di pabrik yang sebelumnya Dinda bekerja.
*
Jam 11 malam, di gang kontrakan agak sepi. Namun di depan pinggir jalan ramai banyak kendaraan baik roda dua, maupun roda empat masih berlalu lalang. Truk pembawa barang dan truk tronton juga masih bersliweran meskipun kapasitasnya tidak begitu banyak yang lewat.
Mas Heru yang dalam perjalanan pulang dalam benaknya berpikir apa yang harus diobrolkan dengan Dinda.
"Kenapa tadi Aku SMS gitu sih?." Ucap dalam hati mas Heru.
"Aduh kan, mau ngomong apa coba, kalau emang Dinda nungguin aku pulang." Masih dalam pikiran ngomong sendiri tanpa mengurangi konsentrasi menyetir sepeda motornya.
"Nanti saja wis kalau ketemu, tinggal bilang saja lupa gampang heehee." Rencana di dalam benak mas Heru yang ujung-ujungnya memakai senjata pamungkas yang terakhir yaitu lupa.
Gimana kelanjutannya, ikuti terus ya karyaku ini.
Maaf baru up lagi, karena author masih dalam proses penyembuhan.
Terimakasih masih setia membaca karyaku ini. Semoga semua readers dan Authornya sehat selalu.
Dan semoga bahagia, aman, nyaman, dan damai karena kemarin baru pencoblosan kepala desa di desa tempat author tinggal🤭.
__ADS_1
Salam bahagia🥰🥰🥰🌹🌹🌹.
Bersambung dulu yaaa.....