
Setelah isya, Dinda hanya tiduran di kasurnya. Menunggu hpnya berdering. Tidak lama kemudian bunyi dering SMS terdengar dengan jelasnya.
"Din, besok jadi ya ke BKK sekolah. Aku ke kamunya sekitar jam setengah delapan pagi." SMS dari Tini.
"Iya Tin, besok aku tunggu." Balas SMS.
"Pasti lagi nungguin SMS atau telphon dari mas Heru." SMS Tini meledek Dinda.
"Ngaco, kata siapa nungguin. ini lagi SMS an sama kamu." Balas Dinda.
"Kataku barusan, dia tadi juga habis SMS an denganku Din." Tini lanjut SMS.
"Hmmm, bener-bener deh mas Heru. Emang mas Heru SMS apa Tin ke kamu." Tanya Dinda SMS.
"Cuma bilang nitip Dinda selama di kampung, sama nitip salam kangen buat kamu. ciee cieee baru sehari di tinggal dah kangen bae tuh orang ya." Ledek Tini lewat SMS.
"Biarin lah Tin, giliran ga ada aja gitu. Sok perhatian banget, kemaren-kemaren au ahh. Boro-boro bilang kangen yang ada ngilang terus ga pernah kelihatan." Curhat Dinda lewat SMS.
"Curhat neng, cieee ngambek apa kesel tuh. Din tapi beneran lho mas Heru bilang kangen buat kamu." Tambah ledek Tini di SMS nya.
"Au ahh, udahan ya Tin, besok mau ketemu kan?, besok saja lanjut ya." Dinda menyudahi SMS nya.
"Bilang aja mau telphonan sama mas Heru." SMS terakhir Tini.
Dinda membaca SMS terakhir Tini. Masih menunggu telphon dari mas Heru yang tak kunjung datang.
"Tok."
"Tok."
"Tok."
"Assalamu'alaikum." Ucap salam setelah terdengar pintu di ketuk.
'Wa'alaikumussalam." Jawab bapak Dinda dari ruang tengah kemudian membukakan pintu rumah.
"Mas Rahman, monggo mas, silahkan masuk. Silahkan duduk, gimana kabarnya?." Ucap bapak Dinda setelah membuka pintu.
"Alhamdulillah Gus, sehat. Sedang sibuk ga nih?, maaf barangkali ganggu." Jawab mas Rahman teman bapaknya Dinda yang lebih tua umurnya.
"Ga mas, biasa jam segini ya santai nonton televisi. Ini ngomong-ngomong darimana mau kemana nih tumben?." Tanya bapak Dinda.
"Sebenarnya tadi ada perlu ke saudara di Slawi. Sekalian mampir ke sini sudah lama ga mampir. Oo iya Gus, istri sama anak sehat semua?." Tanya mas Rahman.
"Alhamdulillah sehat mas, ini Rafli bukan mas?." Tanya bapak Dinda sambil menunjuk pemuda yang duduk di sebelah mas Rahman.
"Iya ini Rafli." Jawab mas Rahman.
Rafli tersenyum kepada bapaknya Dinda.
"Rafli yang dulu ngejar-ngejar Dinda waktu kecil. Sekarang sudah besar ya, ganteng, gagah." Ucap bapaknya Dinda.
"Iya yang kalau Aku main ke sini dia minta ikut. Dulu ketemu anakmu terus ngajak main bareng. Main kejar-kejaran sama petak umpet. Setelah itu minta main ke sini terus, katanya mau main sama Dinda." Ucap mas Rahman mengingat dulu waktu Rafli kecil.
"Iya ya ya, terus lulus SD langsung mondok di pesantren ya mas. Semenjak itu ga main ke sini. Sekarang masih kuliah apa kerja?." Tanya bapaknya Dinda.
__ADS_1
"Sekarang sudah kerja, lulus kuliah dua tahun lalu. Sekarang dia guru sekaligus dosen." Jawab pak Rahman.
Pak Rahman dan anaknya Rafli serta bapaknya Dinda asik mengobrol di ruang tamu. Sementara di belakang, ibu Dinda sudah menyuruh Dinda membuatkan teh manis panas dan menaruh makanan kecil untuk disuguhkan.
"Jadi repoti, ada minum segala Gus." Ucap pak Rahman setelah melihat Dinda membawa nampan berisi tiga gelas teh manis panas dan cemilan di toples.
"Ga Man, cuma ini kok repot silahkan minum dan makan, maaf nih adanya cuma ini." Ucap bapaknya Dinda setelah Dinda menaruh tiga gelas dan toples berisi makanan sambil tersenyum.
"Makasih ya mba, Gus ini Dinda bukan?." Ucap Pak Rahman bertanya.
"Iya ini Dinda, pangling Man?." Jawab bapaknya Dinda.
"Yaa dulu kan masih kecil sekarang sudah besar. Masih sekolah Gus?." Tanyanya lanjut.
Rafli yang melihat Dinda tanpa sadar masih melihat dan memperhatikan Dinda hingga masuk kembali ke dalam. Hal itu tanpa sengaja di lihat oleh bapaknya Dinda sambil senyum.
"Sudah lulus tahun kemaren, sekarang sudah kerja. Tapi baru habis kontrak kemaren, makanya dia pulang kampung." Jawab bapaknya Dinda.
"Memangnya Dinda kerja di mana Om?." Kini Rafli yang bertanya.
"Tadinya kerja di pabrik apa itu yang pertama kontrak tiga bulan di Cikarang, kontrak kerjanya habis. Dapat kerja lagi kemaren di pabrik Toyo apa ya Om lupa itu kontrak setahun di Cikarang, baru habis kontrak. Sekarang pengangguran, maklum kerja sekarang sistemnya kontrak." Jelas bapaknya Dinda.
"Berarti sekarang sedang cari kerja lagi ya Om?." Tanya Rafli lagi.
"Iya sekarang lagi nyari kerja. Silahkan minum ini makanan juga di makan. Nak Rafli monggo ga usah malu-malu nanti malu-maluin." Ucap bapak Dinda bercanda menawarkan minum dan makan karena semenjak melihat Dinda dan ngobrol dengan bapaknya Dinda belum di minum.
"Iya pak." Jawab Rafli dengan senyum malu.
Pak Rahman dan bapaknya Dinda asik mengobrol namun Rafli hanya diam dan mendengarkan saja obrolan mereka sambil melihat ke arah ruang tengah barangkali Dinda keluar. Namun Dinda tak kunjung kelihatan hingga akhirnya Pak Rahman mengajak Rafli anaknya untuk berpamitan pulang.
"Gus, aku pulang dulu lain kali mampir lagi lah kalau ada waktu. Tapi kalau kamu mau main ke rumah ga apa-apa." Ucap pak Rahman berpamitan pulang.
"Om terimakasih atas suguhannya, Rafli sama bapak pulang dulu. Lain kali in syaa Allah main lagi kapan-kapan." Ucap Rafli pamitan juga kepada bapaknya Dinda.
"Iya sama-sama, Om juga terimakasih kamu sudah nemenin bapak kamu main ke sini. Sering-sering saja main ke sini ga apa-apa. Anggap saja seperti rumah sendiri. Om sama bapak kamu itu sudah seperti saudara." Tutur bapaknya Dinda.
"Iya Om." Ucap Rafli.
"Ya sudah Gus, nanti keburu tambah malam. Aku pulang ya, assalamu'alaikum." Ucap salam pak Rahman.
"Assalamu'alaikum." Ucap Rafli sambil mencium tangan bapaknya Dinda.
"Wa'alaikumussalam, hati-hati nak Rafli boncengi bapak." Ucap bapaknya Dinda mengingatkan.
"Iya Om." jawab Rafli.
"Mari Om." Ucap Rafli setelah menyalakan mesin sepeda motornya.
"Ya nak Rafli." Ucap bapaknya Dinda.
Rafli pun melaju dengan sepeda motornya meninggalkan bapaknya Dinda yang masih di teras rumah. Ibu Dinda keluar untuk merapikan gelas bekas minum mereka bertiga dan juga toples makanan ringan.
"Bu, Dinda nya mana?, sudah tidur tho?." Tanya bapak sambil menutup pintu lalu menguncinya karena sudah jam 9 malam.
"Sudah pak, tadi habis ngeluarin gelas terus bilang sama ibu kalau dia mau tidur karena cape dan ngantuk. Terus bilang nanti tolong ibu yang beresin gelas di depan. Ya sudah wong anaknya sudah tidur masa ibu suruh bangun terus ambil eh beresin gelas ini. Kasihan tho pak, baru pulang biarin istirahat." Jawab ibu panjang lebar.
__ADS_1
"Ibu ini kalau di tanya, tanya apa jawabnya apa. Mbok kalau di tanya tadi itu tinggal jawab saja sudah tidur. Gitu aja kok repot, sampe panjaaaaang jawabnya hmmmm." Ucap bapak sambil geleng-geleng kepala.
Bapaknya Dinda masuk lalu duduk di ruang tengah sedangkan ibu menaruh gelas di tempat cucian. Setelah meletakkan gelas, Ibu kemudian masuk ke dalam kamar. Melihat ibu yang masuk ke dalam kamar, bapak kemudian menyusulnya.
"Bu, tadi Pak Rahman yang dulu sering main. Tadi sama anaknya, kenapa ibu ga keluar nemuin pak Rahman sama Rafli anaknya?." Ucap bapak bertanya setelah duduk di pinggir kasur mengajak ibu ngobrol.
"Aku malu pak, apalagi sama pak Rahman dan anaknya." Jawab ibu terus terang.
"Lho kok malu tho, gimana?, emang malu kenapa tho Bu?." Tanya bapak.
"Malu karena ga ada istrinya pak Rahman, ga enak." Jawab ibu.
"Ooo itu tho, pantesan tadi ibu yang suruh Dinda bawa gelas sama toples." Tanya bapak lagi.
"Iya, ibu suruh soalnya ibu sempat lihat sekilas pas tadi pak Rahman baru datang. Pak Rahman datang sama anaknya ga sama istrinya. Kalau anaknya perempuan yaaa ibu temenin bapak. Lha ini anaknya laki-laki mana ganteng, nanti kalau ibu khilaf gimana?." Ucap ibu bercanda.
"Kok ibu jadi khilaf gimana tho?." Tanya bapak bingung.
"Yaa khilaf, nanti bukannya dengerin obrolannya bapak sama pak Rahman, yang ada ibu lihatin terus anaknya pak Rahman sambil ajak ngobrol." Jawab ibu apa adanya.
"Tak kirain bapak ibu khilaf naksir jatuh cinta sama Rafli." Ucap bapak ledek.
"Bapak ini, ya ga lah masa ibu ada suami masih hidup naksir apalagi jatuh cinta sama barondong. Kecuali bapak sudah ga ada, mungkin ibu mau naksir bahkan ..." Ucap ibu belum selesai sudah di potong bapak.
"Oooooo, jadi ibu doain bapak ga ada hmmm, teruuuussss ibu mau naksir, bahkan nikah gitu tho!." Ucap bapak agak marah.
"Yaaa ga juga sih pak, wis tho sudah malam ga enak sama anak-anak dan tetangga bila dengar." Ucap ibu menyudahi ucapan yang ga jelas arahnya.
"Lagian dia itu seumuran anak kita pak, Dinda. Pantasnya yaa jadi anak kita juga, masa mau sama ibu. Itu namanya enak di ibu dooong." Ucap ibu lanjut.
"Tadi nyuruh udahan sudah malam, lha ini ibu sendiri lho yaaa yang memperpanjaaaaaangggg." Ucap bapak agak kesal ibu masih panjaaaaaaang obrolannya.
"Yaaa namanya saja perempuan pak, apalagi sudah jadi ibu-ibu. Itu pasti cerewet, ngomongnya panjaaaaaaang kaya kereta." Ucap ibu melanjutkan.
"Tadi kata ibu, Rafli pantasnya jadi anak. Rafli sama Dinda bukan seumuran Bu, Rafli itu beda satu tahun lebih dari Dinda. Rafli lebih tua, gimana kalau dijodohkan saja Bu?." Ucap bapak akan rencana yang tiba-tiba.
"Deg." Jantung ibu kaget.
"Apa pak, jodohkan?, maksudnya Dinda sama Rafli?." Tanya ibu ingin lebih jelas.
"Iya jodohkan Dinda sama Rafli gimana Bu?." Tanya bapak mengenai perjodohan.
"Pak, ini sudah bukannya jaman Siti Nurbaya. Main jodoh-jodohin, ya kalau Dinda sama Rafli sama-sama mau ga masalah pak. Kalau dua-duanya ga mau, atau salah ga mau gimana pak?." Tanya ibu yang menutupi sebenarnya Dinda sudah punya pacar tapi ga mau bilang sama bapak karena takut.
"Yaaaa kita coba saja Bu, bilang dulu. Kalau mereka berdua keberatan itu sih terserah mereka, toh mereka yang menjalani bukan kita. Tapi kita sebagai orang tua kan mau anaknya bahagia mendapat yang baik dan sudah mapan lho Bu." Saran bapak.
"Kok jadi begini sih ya." Ucap ibu dalam hati dan pikirannya.
"Bukan begitu juga pak. Mereka anak muda jaman sekarang, mereka punya pilihan. Yaaa memang sebagai orang tua mengarahkan untuk mendapatkan yang baik. Terbaik kalau bisa, baik segi agama, segi ekonomi dan apa itu mbuh lah pak. Pokoknya itulah, tapi balik lagi ke anaknya." Tutur ibu melanjutkan.
"Iya Bu, bapak mengerti dengan baik." Ucap bapak paham.
"Kalau mengerti ya sudah, yang jelas kalau jodoh pasti ketemu kok pak. Kita tinggal mendoakan saja anak-anak kita." Ucap ibu lalu menguap karena sudah ngantuk.
"Sudah ngantuk tho Bu, ya sudah tidur, bapak juga sudah ngantuk mau tidur." Ucap bapak yang sudah mengantuk juga, kemudian rebahan di sebelah ibu untuk tidur.
__ADS_1
Ini othornya juga ikutan sudah ngantuk mau tidur juga ya. Nah gimana kelanjutannya, simak lagi di episode berikutnya.
Bersambung lagiiii.....