
Mendekati habis kontrak, Dinda dan Tini bersiap-siap. Merapikan berkas lamaran yang tersimpan rapi di lemari.
"Din, Minggu kemaren Aku sempat lihat mas Heru sama perempuan yang waktu itu di bonceng mas Heru." Ucap Tini memulai obrolannya sambil merapikan berkas lamarannya dulu.
"Minggu kemaren, pas Aku pergi beli pulsa sama foto kopi KTP." Jawab Dinda mengingat.
"Iya, Aku lihat sebentar tok. Waktu itu aku di dalam nonton televisi. Mas Heru pulang lalu langsung pergi lagi. pas Aku tengok dari jendela ya itu sama dia." Jelas Tini.
"Aku bingung Tin, Aku ga berani tanya sama mas Heru. Dia juga ga pernah ngomong itu siapa." Jawab Dinda.
"Tapi akhir-akhir ini mas Heru gimana sih Din?." Tanya Tini lanjut.
"Sekarang jarang ketemu, sepertinya mas Heru jarang pulang ke kontrakan. Iya ga sih Tin. Tetangga juga jarang yang lihat mas Heru, kalau di tanya jawabnya kerja. Kalau di telp ga diangkat, kalau di SMS paling jawabnya lagi kerja, lagi keluar ada perlu atau lagi main ke temannya, ga tau lah." Terang Dinda.
"Tapi dia tahu ga sih Din, kamu mau habis kontrak kerja." Ucap Tini lanjutnya.
"Tahu, Aku pernah bilang sama dia. Bulan ini kita habis kontrak. Terus dia tanya, nyari kerja di sini lagi atau pulang kampung atau gimana?." Jawab Dinda.
"Terus kamu jawab apa?." Tini tanya lagi.
"Aku jawab saja lihat nanti gimana karena belum tahu di perpanjang atau tidak." Jawabnya Dinda.
"Ooo." Tini mengerti.
Mereka masih merapikan berkas lamaran yang tersisa dulu. Seperti fotokopi ijazah, SKCK, kartu kuning, daftar riwayat hidup.
Karena mereka berdua sedang shift 2 atau masuk sore, waktu pagi mereka habiskan untuk menata kembali beberapa syarat lamaran kerja yang masih bisa di pakai lagi. Dan membuang yang sudah tidak bisa di pakai.
*
Di sebuah rumah di perumahan Cibitung, seseorang sedang sibuk membersihkan rumahnya. Setelah selesai pembangunan bagian dapur atau ruang belakang dan sedikit merombak rumah asli dari model perumahan.
"Mas, nanti selesai ini beli makanan ya, Aku lapar." Ucap perempuan yang sedang mengepel lantai.
"Iya nanti mas belikan, mau beli apa de?." Tanya mas Heru yang menata isi salah satu kamar.
"Karedok mas, yang pedes ya sama gorengan." Pintanya.
"Iya, tapi mungkin agak lama ya soalnya mas mau pulang dulu ke kontrakan." Ucap mas Heru.
"Pasti mas mau ketemu Dinda. Aku tahu Dinda Minggu ini masuk shift 2, dan mas dua hari ini cuti kan. Pasti mau nengokin Dinda, iya kan!."
"Dari mana kamu tahu Dinda shift 2." Tanya mas Heru heran.
"Kan Aku lawan shiftnya dia mas. Mas Heru lupa ya." Ucapnya.
"Oo iya mas lupa, kamu kan kerja satu pabrik, satu departemen satu bagian cuma beda shift. De, tolong doong, mas ga bakalan macam-macam. Lagian kamu jangan begini terus sama mas. Kasihan Dinda belum tahu dan ga ngerti apa-apa." Ucap mas Heru memelas.
"Tapi kali ini saja ya, Aku masih baik sama mas. Karena mas Heru sudah janji dan akhir Minggu ini mas pindah ke sini. Jadi Aku ga sendirian. Kalau mas ingkar janji, Aku bilangin sama bapa sama ibu biar mereka tahu mas Heru seperti apa." Ancam dengan kata-katanya.
"Iya mas ga akan ingkar janji." Mas Heru menurut saja dan agak kesal dalam hati.
"Aku ikut mas, Aku ga mau mas lama-lama di kontrakan." Ucapnya.
Mas Heru menghela nafasnya dalam. Dua bulan ini memang mas Heru dibuat pusing. Mau dilakukan salah, ga di lakukan tambah salah. Serba salah rasanya tapi inilah yang terjadi.
__ADS_1
*
**
Tiga bulan sebelumnya, mas Heru pulang kampung untuk sesaat karena di kabari kalau ayahnya jatuh dari sepeda motor.
Sesampainya di rumah sakit, didapati ayahnya yang sedang menunggunya datang. Yah saat itu mas Heru sedang bekerja. Kemudian mendapat telephon dari ibunya bahwa ayahnya mengalami kecelakaan.
Ayahnya yang langsung masuk UGD, tanpa pikir panjang mas Heru langsung izin mendadak untuk pulang kampung.
Bahkan Dinda tidak tahu kalau ayah mas Heru kecelakaan, dan mas Heru izin mendadak untuk pulang kampung. Mas Heru asli Brebes, untuk pulang kampung dengan sepeda motornya sudah menjadi hal biasa dia lakukan. Sejak mempunyai sepeda motor, setiap pulang kampung maka akan menggunakan motor.
"Bu gimana kabar bapa?." Tanya mas Heru sesampainya di UGD.
"Bapakmu Alhamdulillah ga apa-apa cuma patah tulang lengan tangan kanan." Jawab ibunya setelah tahu kondisi bapaknya.
"Alhamdulillah, kecelakaan apa Bu?." Tanya mas Heru ingin tahu.
"Bapakmu nabrak motor orang. Untungnya bapakmu masih hidup cuma patah tulang tok sama luka-luka. Tapi yang di tabrak kasihan Her, suaminya meninggal karena luka di kepalanya ga tertolong. Sedangkan istrinya masih di rawat." Ucap ibunya sedih mengingat kecelakaan yang merenggut nyawa.
"Terus gimana urusannya Bu?." Tanya mas Heru memastikan.
"Besok mau di makamkan, tapi nunggu anak semata wayangnya pulang." Jelas ibu.
"Polisi gimana Bu?." Tanya mas Heru khawatir bapaknya terkena kasus tabrakan.
"Sama polisi ga diperkarakan karena kita damai sama pihak keluarga korban Her. Sebelum suaminya meninggal, dia pesan anaknya kalau pulang di suruh nikah itu pesan bapaknya. Dan ibunya hanya nangis dan mengiyakan meskipun bingung mau menikahkan dengan siapa?." Ucap ibunya mas Heru.
"Karena ibu kasihan, ga tega ya sudah sebelum ayahnya meninggal ibu bilang nanti saya nikahkan anak bapa. Ibu pikir anaknya laki-laki mau ibu nikahkan dengan Ika adikmu. Tapi ternyata anaknya perempuan Her." Tutur ibunya lanjut.
"Ibunya maksud ibu istrinya bapak itu sudah memaafkan bapakmu dan ikhlas suaminya telah meninggal dunia Her. Musibah tidak ada yang tahu. Tapi kata saksi memang bapakmu yang salah, yang menabrak, bapakmu ngebut terjang lampu merah hingga kecelakaan naas itu tidak dapat dihindarkan." Terang ibunya mas Heru menjelaskan.
"Pihak polisi sudah membawa motor bapakmu dan motornya korban. Nanti ibu minta tolong sama kamu ya Her, tolong urusin." Pinta ibunya mas Heru.
"Iya Bu, besok Heru urusin." Jawab Heru dengan rasa yang entahlah.
"Kamu ga istirahat dulu Her, pulang kerumah. Lalu kerjaan kamu gimana?." Tanya ibu melihat Heru hanya membawa tas kecil dan jaket yang menempel di badan.
"Heru tadi siang pas ibu telphon sedang kerja. Heru langsung izin mendadak Bu. Kata atasan Heru nanti suruh kabari lagi keadaan di sini." Jawab Heru tidak ingin membuat ibunya khawatir tentang kerjaannya.
"Syukurlah, Ibu nungguin bapakmu Her. Sebentar lagi mungkin nanti Ayu kemari membawa baju dan perlengkapan lainnya untuk menginap karena ini sudah mulai malam.
"Ya sudah Bu, Heru tunggu Ayu sekalian di sini." Ucap Heru.
"Bu, di mana ruangan istrinya bapak yang di tabrak sama bapak, Heru mau nengok." Tanya mas Heru.
"Ibu antar ya, sekalian mau ngenalin kamu." Ucap ibunya mas Heru.
Seketika jantung mas Heru seakan tidak bisa berdetak dengan baik. Inikah tanda-tandanya. Apakah maksud ibunya mas Heru mengenalkannya. Mendadak pertanyaan muncul di kepala Heru. Akankah ini tentang pernikahan.
Mereka berjalan ke ruang melati tempat orang yang di tabrak oleh bapaknya Heru di rawat.
Sesampainya di tempat tidur yang berjejer, ibunya mas Heru berhenti di salah satu tempat tidur. Terlihat wanita yang hampir seumuran ibunya mas Heru dengan luka-luka dan memar di tangan dan kaki serta infus yang masih terpasang.
"Assalamu'alaikum." Ucap mas Heru dan ibunya bersamaan.
__ADS_1
Wanita tersebut tersenyum dan menjawab salam.
"Wa'alaikumussalam."
"Maaf Bu ganggu, saya ke sini lagi." Ucap ibunya mas Heru.
"Ga apa-apa Bu, malah saya senang ada yang nemenin. Kalau sendiri Saya sedih teringat suami." Jawab ibu tersebut menghibur diri karena baru di tinggal suaminya.
Terlihat mata ibu tersebut bengkak karena menangis mendengar kabar suaminya tidak tertolong dan meninggal dunia karena kecelakaan tersebut.
"Maaf Bu, saudara ibu belum ada yang datang?." Tanya ibunya mas Heru.
"Tadi sudah ada, adik suami saya. Mungkin saat ini sedang mengurus administrasi untuk pengantaran jenazah almarhum suami saya nanti malam." Jawabnya.
"Rencananya kapan dimakamkan Bu?." Tanya ibunya mas Heru lagi.
"In syaa Allah besok, nunggu anak saya pulang dari Cikarang. Tadi di telphon katanya habis Maghrib baru pulang naik bus. Mungkin nanti malam baru sampai." Jawab ibu tersebut tentang anaknya juga.
"Bu, ini kenalkan anak saya. Namanya Heru Purnomo, Anak saya yang pertama." Ibu mas Heru memperkenalkan.
"Heru Bu." Ucap Heru setelah menyalami tangan ibu tersebut.
"Ibunya Ayu, Saya biasa di panggil begitu karena nama anak ibu namanya Ayu." Jawab ibu Ayu.
"Berarti kalau nama anak ibu Eni ya panggilnya ibu Eni ya." Ucap mas Heru basa basi dengan candaan sedikit.
"Nak Heru bisa aja." Jawab ibu Ayu sambil tersenyum.
Ibu Ayu menatap Heru tersenyum bahagia, melihatnya dengan seksama. Ada tatapan bahagia terlihat dari mata ibu Ayu dan tatapan tenang meskipun baru di tinggal suaminya.
"Pak, kamu yang tenang di sana ya. In syaa Allah ibu ikhlas menerima semua ini. Bapak lihat pemuda ini, dia terlihat pemuda yang baik. In syaa Allah bisa menjadi imam yang baik juga untuk anak kita Ayu." Ucap ibu Ayu dalam hati lalu meneteskan air mata untuk sesaat.
Karena masih dalam perawatan, Heru dan ibunya kemudian pamit untuk menemani bapaknya Heru di ruang rawat yang letaknya tidak jauh.
"Mas, kapan datang?." Tanya Ika adiknya mas Heru melihatnya dengan ibunya di ruang rawat bapaknya.
"Belum lama de, kamu bawa apa?." Tanya mas Heru ke Ika yang membawa beberapa barang.
"Ini mas, baju ibu sama perlengkapan mandi dan makan." Jawab Ika sambil menaruh tas yang berisi baju ke dalam lemari, dan menaruh barang lainnya.
"Mas mau nginep di sini apa pulang?." Tanya Ika.
"Mas pulang saja, kamu yang temenin ibu ya. Besok mas mau ke pemakaman bapak korban dan ngurusin sepeda motornya sekalian." Jawab mas Heru.
"Ya sudah, mas besok ke sini dulu, mas kan ga tahu rumahnya, besok ikut mobil ambulan saja." Saran Ika.
"Iya de, besok mas ke sini dulu. Sekalian beli sarapan sama makanan lain buat kamu sama ibu." Jawabnya lanjut.
"Ok, hati-hati mas." Ucap Ika.
"Iya, mas pulang dulu ya Bu. De, jaga ibu sama bapak." Pamit mas Heru dan berpesan sambil menyalami tangan ibunya dan Ika.
Gimana gaes masih lanjut, simak lagi kisahnya di episode berikutnya.
Bersambung dulu....
__ADS_1