
Hari-hari berlalu begitu saja. Bulan pun berganti. Tak terasa tiga bulan sudah Dinda dan Tini mengontrak di kontrakan yang baru. Kontrakannya ramai. Warung makan dan toko dekat dari kontrakan. Dinda dan Tini merasa betah.
"Din, enak ya tinggal di sini, aku betah deh. Ramai, terus orang-orangnya juga enakan. Pada kerja juga, jadi tahu banyak pabrik-pabrik tempat mereka kerja." Ucap Tini.
"Iya Tin, Aku juga betah. Orangnya enakan, ibu dan bapak kontrakan juga baik." Jawab Dinda.
"Apalagi sebelah tuh, baik banget iya ga Din hmm." Ledek Tini.
"Ga tahu, emang iya, sebelah orangnya baik. Baik ada maunya kali Tin." Ucap Dinda agak gimana menilai kebaikan orang. Apalagi mas Heru.
"Waahhh, kamu gimana sih Din. Orang jelas-jelas baik masih dikatain ada maunya. Gini ya mba, orang baik mah baik aja ga ada urusan ada maunya." Kesal Tini membela mas Heru.
"Kan kali Tin, orang baik ga gitu. Masa baik kalau ada aku, ga ada aku biasa aja." Balas Dinda.
"Din, mungkin dia suka kamu jadi baiknya kalau ada kamu. Kan niatnya kasih ke kamu, cuma karna ada orang banyak makanya gitu." Balas Tini membela.
"Iya itu yang namanya baik ada maunya. Aku tuh pengalaman ya mba Tini. Ga mau terulang lagi. Kalau emang orangnya baik kalau kasih makanan atau apa ya ga harus ada aku kan." Ucap Dinda mulai kesal.
"Ya ga gitu Dinda yang ga cantik tapi manis. Nih kebanyakan pria eh cowo kalau suka sama perempuan eh cewe pasti berusaha baik di depan cewe yang ditaksir, gimana sih. Katanya pengalaman cuma baru sekali aja, belum berkali-kali." Tini tak mau kalah.
"Tau ahh, pokoknya cowo semua sama aja. Baik kalau ada maunya, giliran udah dapat nyakitin." Ungkap Dinda kesal banget.
"Kita ngomongin apaan sih Din , kok jadi bawaannya esmosi ya." Tini merasa aneh sendiri.
"Kan yang mulai ngobrol kamu Tin, yang ngajakin emosi bukan esmosi juga kamu. Malah nanya ke Aku. Dah ahh aku ngantuk, mau tidur."Ucap Dinda sambil ambil bantal guling.
"Din, mas Heru masuk shift pagi ya, kok ga kelihatan." Tanya Tini karena ga lihat semenjak masuk kerja shift malam.
"Ga tahu, huaaa, emang aku apanya, kenapa kamu nanya aku Tin." Jawab Dinda sambil menguap karena ngantuk.
"Kemaren masuk sore pulang malam, masa pagi sudah berangkat lagi Din." Tanya Tini bingung.
"Emang gitu mas Heru, kalau Minggu kemaren masuk shift sore, minggunya langsung shift pagi. Hari Senin langsung nyambung masuk pagi. Ga tau ahh, pabriknya begitu katanya." Jawab Dinda yang matanya sudah tertutup tetapi telinganya masih mendengar Tini bicara.
"Ehh Din, berarti itu lemburan ya. Gila Sabtu Minggu masuk, gajinya gede dong." Ucap Tini ingat lemburan gajinya gede.
"Apanya yang gede, ga usah ngurusin orang lain, syukuri yang kita punya." Dinda sudah mulai melantur.
"Lha ini anak di ajak ngomong apa jawabnya nyrempet ke mana sih. Din, Dinda, woy, Din, Dinda."
Tini masih saja ngajak ngobrol Dinda, tapi Dinda sudah terlelap dalam tidurnya. Entah karena cape atau memang sudah ngantuk. Namun yang jelas Dinda tidak ingin membahas tentang mas Heru untuk saat ini.
Sejak ngontrak di tunggal dara, dan bersebelahan dengan kontrakan mas Heru, Dinda tidak menampik mas Heru berusaha dekat dengannya.
Ada-ada saja tingkahnya mas Heru kepada Dinda dan itu yang membuat Dinda agak kesal. Terutama saat Dinda libur di hari Minggu. Jika ada kesempatan bertemu pasti digunakan mas Heru dengan sebaik-baiknya. Mendekati Dinda berbagai alasan yang digunakan, dan akhirnya benar-benar membuat Dinda kesal.
*
**
"Hai Dinda yang jelek." Sapa mas Heru sambil membersihkan sepeda motornya.
"Sudah tahu jelek, ngomong." Dinda sudah kesal.
"Libur ya, kok tumben nyuci bajunya agak siang." Tanya mas Heru melihat Dinda menjemur baju di teras kontrakan.
__ADS_1
"Sudah tahu libur nanya. Emang sudah siang kenapa mas ada masalah." Jawab Dinda makin kesel.
"Masalah lah, kalau jadi istri aku nyuci bajunya siang, terus masak buat sarapannya jam berapa, keburu kelaparan Din." Jawab mas Heru meledek.
"Kan ada warteg, tinggal beli, susah amat mas." Jawab Dinda sambil jemur baju di kibaskan karena kesal entah kenapa.
"Ooo, berarti kalau sarapan beli di warteg. Oke ga masalah, Aku ga mau nyusahin kamu Din." Ucap mas Heru asal.
"Kok nyusahin aku sih mas, emangnya aku siapanya mas." Tambah kesal Dinda.
"Kan tadi mas bilang kalau jadi istri aku, berarti kamu mau ya Din." Ledek mas Heru sambil mengelap sepeda motornya yang sudah di cuci."
Dinda tidak menjawabnya malah masuk ke dalam kontrakan. Karena hari ini hari Minggu, Dinda seperti biasa libur kerja. Makanya Dinda agak siang nyuci bajunya. Karena pagi Dinda jalan-jalan keluar membeli sarapan. Sedangkan mas Heru tidak tahu kalau Dinda pagi-pagi keluar beli sarapan.
*
Mas Heru masuk kerja shift dua yaitu masuk siang. Berhubung tadi malam pukul 01. 00 baru pulang, mas Heru bangun hanya sholat shubuh lalu tidur lagi.
Bangun pada jam setengah delapan membuat mas Heru terbangun karena lapar. Mas Heru memasak beras dalam Magicom dan menggoreng telur dadar hanya untuk sarapan. Setelah semua matang dan mas Heru memakan sarapannya, mas Heru mulai dengan aktifitasnya. Di mulai dengan mencuci sepeda motornya.
Pada saat mengeluarkan sepeda motor dari dalam kontrakan, ternyata bersamaan pula dengan Dinda mengeluarkan jemuran bajunya untuk di jemur. Kebetulan ketemu dan pas juga kegiatan di luar kontrakan membuat mas Heru kambuh penyakit isengnya terhadap Indah.
Sejak bertemu dengan Dinda, entah kenapa mas Heru suka sekali iseng dan meledek Dinda. Dan entah kenapa pula sejak bertemu mas Heru, Dinda merasa kesal.
Kalau diibaratkan mungkin seperti kucing dan anjing yang tidak akur. Setiap bertemu suka berantem tanpa sebab yang jelas.
*
"Lha di ajak ngobrol malah pergi." Ucap mas Heru setelah melihat Dinda masuk ke dalam kontrakan.
Dari dalam kontrakan, keluar Tini dengan membawa seember baju yang hendak di jemur.
"Kloter ke dua Tin." Ucap mas Heru.
"Iya mas, soalnya aku masih ngantuk jadi tadi tidur lagi." Jawab Tini yang mulai menjemur bajunya.
"Tin minta tolong boleh?." Tanya mas Heru pelan.
"Minta tolong apaan mas." Jawab Tini sambil melihat mas Heru bingung.
"Minta tolong, bilangin ke Dinda suruh buat kopi item." Jawab mas Heru langsung tanpa basa basi.
"Cuma itu tok, ga ada yang lain." Tanya Tini lagi.
"Yaa yang satu ini saja kalau Dinda mau buat sudah Alhamdulillah Tin." Tutur mas Heru.
"Din, kamu sudah buat kopi susunya belum." Tanya Tini yang tadi sebelum keluar membawa baju untuk di jemur, melihat Dinda menyalakan dispenser dan membuka satu bungkus kopi susu kemudian memasukkannya ke dalam gelas.
"Sudah, kenapa Tin." Tanya Dinda dari dalam ruang tengah.
"Dispensernya masih nyala ga?." Tanya Tini lagi.
Mas Heru hanya duduk di teras diam saja dan mendengarkan ucapan mereka berdua.
"Masih." Jawab Dinda singkat.
__ADS_1
"Minta tolong boleh ga?." Tanya Tini.
"Tolong apa?." Lanjut Dinda.
"Tolong buatin kopi item satu bisa Din." Jawab Tini.
"Kebiasaan kamu Tin, kalau Aku bikin minum pasti deh ngikut minta di bikinin, bentar ya tak bikinin dulu." Jawab Dinda kemudian membuka satu bungkus kopi item dan di masukkan ke dalam gelas.
Dinda membuat kopi hitam satu gelas untuk Tini yang sebenarnya untuk mas Heru. Setelah membuatnya Dinda menaruh kopi tersebut di tatakan dispenser.
"Din, sudah belum?." Tanya Tini.
"Sudah." Jawab Dinda singkat sambil tiduran di atas kasur.
"Terimakasih, minta tolong lagi boleh Din?." Tanya Tini lagi yang sebenarnya cuma mengerjai Dinda.
"Apaan sih Tin, emang kamu masih jemur baju. Bukannya tadi jemur bajunya sedikit, masa lama jemurnya." Tanya Dinda penasaran.
"Udah deh Din, cuma minta tolong kopinya bawa ke sini tok." Jawab Tini agar Dinda mau mengantarkan kopi yang sebenarnya untuk mas Heru.
"Aku ga tanggung jawab yaaa, kalau Dinda sampai marah ke kamu Tin." Ucap mas Heru lirih sambil pindah duduk agak jauh dari pintu tapi masih di teras kontrakan Dinda dan Tini.
"Heeheee, tenang mas tak jamin." Ucap Tini dengan percaya dirinya.
Tidak berapa lama, Dinda membawa nampan berisi satu gelas kopi item ke depan tepatnya di teras kontrakannya sendiri untuk Tini.
"Terimakasih." Ucap mas Heru kemudian mendekati gelas tersebut dan langsung mulai menyruputnya sedikit demi sedikit.
Dinda yang melihat hal tersebut terbengong, namun kemudian sadar bahwa kopi permintaan Tini telah diambil oleh mas Heru dan di minumnya.
"Mas Heru, kok di ambil?. Di minum pula. Itu kopi punya Tini. Tadi Tini pesen, kenapa jadi mas Heru yang ambil." Tanya Dinda masih bingung.
"Sebenarnya yang pesan itu aku Dinda ku yang manis tapi terkadang pahit seperti kopi ini." Jawab mas Heru dengan santainya dan candaan pula.
"Pesan, memangnya tadi ngomongnya sama siapa mas. Perasaan tadi mas Heru ga ngomong ke Dinda." Ucap Dinda merasa mas Heru ga pesan kopi.
"Gimana sih Tin, teman kamu ini. Cantik ga tapi manis, bodoh ga tapi kok rada ga nyambung." Ucap mas Heru ledek.
"Tin, emangnya tadi mas Nur ngomong." Tanya Dinda ke Tini.
"Tadi kan aku ngomong sama kamu." Jawab mas Heru sambil masih meminum kopinya.
"Kapan?."
"Tadi waktu kamu jemur baju, lupa?."
"Tapi tadi mas Heru ga ngomong pesan kopi." Dinda mengingat-ingat obrolannya dengan mas Heru.
"Udah Din, bener mas Heru kan tadi ngobrol sama kamu, memang ga sempet pesen kopi. Terus ngobrol sama Aku minta tolong ke kamu suruh buatin kopi. Mas Heru ngomongnya ke Aku. Sudah jelas, nih temenin mas Heru nya, Aku mau mandi gerah banget." Jelas Tini.
"Kok aku Tin." Tanya Dinda.
"Terus aku suruh siapa, daun, pohon buat nemenin mas Heru ngobrol. Waaaahhh kamu yang benar saja Din. Tamu ibaratnya itu seperti raja maka hormatilah. Jangan malah di cueki, bahkan kini di tinggal pergi." Ucap Tini kali ini benar menurutnya.
Bagaimana kelanjutannya simak terus di episode berikutnya by .......
__ADS_1