
"Kamu yakin ingin mas menjelaskan yang panjang tentang kerja sambil kuliah. Semua itu butuh kemampuan dalam segala hal Din." Ucap mas Heru bicara serius
"Yakin mas." Jawab Dinda singkat.
"Memangnya siapa yang mau kuliah Din?." Tanya mas Heru penasaran.
"Eng... itu mas, teman Aku ngobrol kalau kerja sambil kuliah gimana. Soalnya ada temenku yang kerja sambil kuliah, katanya yaaa enjoy aja yang penting di jalani." Jawab Dinda tidak mengaku dirinya yang mau kuliah.
"Memangnya teman kamu yang kerja sambil kuliah ga cerita suka dukanya. Atau kendalanya, atau masalahnya atau bisa di jalani dua-duanya tanpa kendala dan masalah." Ucap mas Heru bertanya.
"Ga mas." Jawab Dinda asal karena memang dia tadi pura-pura dan berbohong.
"Hmmm, nih mas jelasin. Mas bukannya tidak suka atau tidak bangga malah mas kasih jempol banyak buat mereka yang kerja sambil kuliah." Ucapnya lanjut.
"Tapi, kebanyakan dari mereka pasti punya kendala dan masalah masing-masing Din." Masih lanjut.
Dinda mendengarkan dengan serius.
"Kebanyakan rata-rata kalau ga di biaya kuliah ya waktu kuliah. Itu saja sih garis besarnya." Mas Heru menjelaskan kemudian minum Aqua dan makan cemilan.
"Kalau di biaya maksudnya mas?." Tanya Dinda ingin tahu.
"Kita kerja cari apa ?, uang kan. Setelah dapat uang, uang itu untuk apa?, bayar kontrakan, dan biaya hidup. Nah masih ada sisa berapa, untuk kuliah per bulan biayanya berapa, ongkos kendaraannya, belum bukunya, belum untuk fotokopi, tugas dan lain-lain. Itu semua butuh uang Din, apa cukup gaji sebulan." Terang mas Heru.
Untuk sesaat Dinda berpikir seperti sedang membayangkan jika ia mengalaminya.
"Kuliah itu biayanya tergantung dari kamu ambil jurusan apa terus kuliah di universitas mana. Jadi sebelum kuliah paling tidak tentukan dulu mau kuliah jurusan apa dan universitas mana. Nanti biasanya ada brosur tentang kuliah jurusan dan biayanya apa per bulan atau per semester. Terus ada lagi biaya mid semester dan semesteran. Apakah per buku atau per SKS." Jelas mas Heru tentang kuliah.
"Mas Heru tahu banyak ya, mas Heru kuliah?." Tanya Dinda ingin tahu, kok bisa mas Heru menjelaskan sebegitu rincinya tanpa Dinda pikirkan tentang kuliah kalau seperti itu.
"Mas ga kuliah Din. Tapi teman mas kuliah, cuma dia di tengah jalan keluar karena ga sanggup lagi." Jawab mas Heru.
"Ga sanggup kenapa mas?." Tanyanya Dinda lagi.
"Yaa itu tadi, ga sanggup di biaya dan waktu. Biayanya banyak Din, waktunya dia ga bisa bagi waktu antara kerja dan kuliah. Terkadang dia harus lembur kerja dan akhirnya ga kuliah." Jawabnya mas Heru.
"Aku ga tahu mas, kalau kuliah seperti itu. Eh maksudnya teman Aku yang kuliah tidak cerita begitu." Ucap Dinda keceplosan.
"Itu kalau laki-laki tidak masalah. Setelah lulus kuliah dia kerja ga ngaruh terhadap kehidupan keluarganya karena tetap sama saja dia yang kerja cari nafkah. Tidak seperti perempuan, bisa berpengaruh terhadap kehidupan keluarganya maksudnya rumah tangganya." Ungkap mas Heru.
"Memangnya kalau perempuan kenapa mas?." Kan banyak juga perempuan kuliah, terus kerja, ga masalah bagi keluarganya." Ucap Dinda membela dirinya terutama untuk kaum perempuan.
__ADS_1
"Sekarang gini Din, kuliah oke orang tuanya mengizinkan. Setelah lulus, kerja ga masalah karena belum menikah. Setelah menikah, istri harus izin sama suami kerja boleh ga?. Kalaupun boleh, dia harus mengutamakan suami daripada kerjaannya. Harus bisa bagi waktu karena seorang istri." Ucap mas Heru lebih serius seakan Dinda lah yang ingin kuliah.
"Mmmm, gitu ya mas." Ucap Dinda tertunduk karena ditatap mas Heru seakan dialah tersangkanya.
"Apalagi kalau punya anak, nanti yang ngasuh siapa, apa baby sister?. Itu harus dipikirkan dan dibicarakan dengan suami. Ga bisa semaunya sendiri, sesuai keinginan sendiri." Ucap mas Heru.
"Tapi mas, sekarang kan banyak wanita yang kerja tapi bisa mengurus rumah tangga, mengurus suami dan anak. Yang penting kan ga mentingin kerjaan terus." Ucap Dinda membela diri.
"Tapi ga seratus persen Din. Yang bagus itu perempuan di rumah ga kerja, yang kerja itu suaminya karena sudah jadi tanggung jawabnya mencari nafkah." Ucap mas Heru menegaskan.
"Berarti pandangan kita berbeda ya mas." Ucap Dinda di dalam pikiran.
"Kenapa?. Kamu mau kerja terus jika nanti menikah dan punya anak?." Tanya mas Heru melihat Dinda.
"Eh,,, mmmm,,, ga tau mas, nanti saja belum terpikirkan." Jawab Dinda pura-pura bingung.
"Mas boleh tanya ga ?." Ucap Dinda sesaat kemudian.
"Boleh mau tanya apa." Jawab mas Heru.
"Jika mas menikah, punya istri, maunya istrinya itu kerja atau di rumah saja eh maksudnya jadi ibu rumah tangga?." Tanya Dinda hati-hati.
"Kalau mas maunya dia di rumah, jadi ibu rumah tangga saja. Ga usah kerja karena nafkah itu kewajiban suami." Jawab mas Heru jelas.
"Terus yang ngurusin rumah tangga siapa, sama anak kalau punya anak ?." Tanya mas Heru agak kesal.
"Yaaa kan nanti ada orang yang urusin mas." Jawab Dinda lagi.
"Anak sendiri ya di urus sendiri, jangan diurus orang lain. Mau baik atau tidak itu hasil didikan orang tuanya sendiri bukan orang lain." Terang mas Heru.
"Maaf mas, kita kan tadi bahas kuliah kenapa jadi bahas rumah tangga sih." Kesal Dinda karena sebenarnya dia ingin kuliah dan bekerja.
"Memang awalnya kuliah, tapi ujungnya kan sampai ke situ Din." Jawab mas Heru seakan melihat Dinda bahwa hal yang dibicarakan ada sangkut paut dengannya.
"Mas yang kemaren sebenarnya siapa, perempuan yang di bonceng sama mas Heru?." Tanya Dinda dalam hati.
"Sebenarnya Aku ingin tahu perempuan yang di bonceng sama kamu mas. Kenapa juga mas Heru tidak cerita, apa nunggu Aku bertanya dulu." Kata-kata dalam pikiran Dinda teralihkan mengingat perempuan yang di bonceng mas Heru.
"Kamu kenapa Din?, ga usah lamun, lamunin apa sih?. Pacarnya di sini lamunin orang lain ya?." Tanya mas Heru melihat Dinda seperti melamun.
"Eh ga mas, cuma berpikir, berarti butuh perjuangan ya kalau kerja sambil kuliah." Tanya Dinda berbeda dengan apa yang dipikirkan barusan.
__ADS_1
"Ya iya lah Dinda yang ga cantik tapi manis." Ucap mas Heru bercanda.
Dinda yang penasaran siapa sebenarnya dia akhirnya hanya diam tanpa bertanya. Dinda masih percaya dengan mas Heru.
Dalam hati dan pikirannya, Dinda yakin mas Heru tidak selingkuh. Tetapi akhir-akhir ini sikapnya agak berbeda. Jarang ketemu, dan jarang SMS atau nelp. Meskipun tinggal bersebelahan, tapi rasanya jauh.
Di tambah adanya hp, Dinda berharap bisa komunikasi terus meskipun di pabrik atau di manapun. Tetapi sama saja, tidak berpengaruh besar terhadap hubungan antara mereka berdua.
Kini Dinda dilema mengenai kuliah. Apa yang dikatakan oleh mas Heru mungkin benar adanya. Butuh kemampuan dalam segala hal baik keuangan maupun waktu.
"Oh iya Din, bilangin sama teman kamu kalau jadi kuliah, jangan sampai di tengah jalan berhenti." Ucap mas Heru setelah untuk sesaat terdiam karena serius menonton televisi.
"Kenapa mas?." Tanya Dinda.
"Sayang duitnya, kuliah cuma setengah jalan. Kalau mau kuliah, apapun rintangan, halangan, kendala, masalah, apapun itu harus di hadapi dan selesaikan kuliahnya sampai lulus jadi sarjana. Karena kalau cari kerja di tanya ijazahnya itu ada yaitu sarjana apa. Ga mungkin jawab belum sarjana karena kuliah di tengah jalan berhenti." Tutur mas Heru dengan panjangnya.
"Iya mas nanti Dinda ngomong sama temannya Dinda." Kesal Dinda karena yang dibicarakan sebenarnya dirinya sendiri.
Dari obrolan tersebut kesimpulan akhir yang Dinda ambil adalah mas Heru tidak mengizinkan istrinya kerja. Akan tetapi balik lagi, jodoh sudah di atur.
Mas Heru akhirnya permisi pulang karena sudah mengantuk. Tidak enak juga lama-lama main di kontrakan Dinda tanpa adanya Tini.
Saat di kontrakan, mas Heru berpikir apakah Dinda tidak cemburu. Ketika mas Heru memboncengkan seseorang perempuan tepatnya waktu itu.
"Apakah Dinda tidak marah, cemburu, Aku boncengan dengan perempuan lain." Pikir mas Heru dalam hati.
"Kenapa dia tidak bertanya sosok perempuan yang Aku boncengi. Kalau Aku bilang, aduh ga ahh, yang ada dia senang Aku terbuka." Masih dengan kegundahan pemikirannya.
"Jadi biarlah, Aku nunggu Dinda nanya dulu, sekalian ngetes Dinda, ngetes rasa sayang dan cintanya segede apa sih." Pikir mas Heru.
*
**
"Aduh pusiiiiing, mau kuliah duitnya kurang. Coba aja ada kuliah yang gratis." Ucap Dinda sendiri.
"Ga usah pusing Din, nikmatilah dan resapilah, hidup itu di nikmati bukan untuk di pusingiii heeheee." Jawab Tini ledek."
"Apalagi kita mau habis kontak, tambah nih. Lengkap sudah masalah yang ada." Dinda berasa pusing menghadapi akan habis kontrak masa kerjanya. Dan tentang siapa perempuan yang di bonceng mas Heru waktu itu.
Ga apa-apa Dinda yang pusing asal jangan author heehee, pusing mau ngetik karya kalau belum ada ide atau inspirasi.
__ADS_1
Jadi maaf bila ada salah tulis eh ketik, jadi harap maklum. Silahkan untuk vote, like, dan komentarnya.
Gimana masih lanjut terus kaaaann, tapi sayangnya bersambung dulu. Sampai jumpa di episode berikutnya.