Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )

Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )
Episode 84. Bukan miscall doang emang nelphon.


__ADS_3

Dinda kesal saat di telphon mas Heru dan sudah mengangkat panggilan malah mati sambungan telphonnya.


Belum hilang kesal semalaman nunggu balasan SMS sampai ketiduran, ini di tambah lagi adanya panggilan telphon yang langsung di matiin. Hanya sekedar miscall doang ga nelphon sungguhan.


Rasa rindu yang tadinya begitu terasa kini hanya rasa kesal yang ada di dada. Itulah yang dirasakan Dinda saat SMS ga di balas-balas dan di telphon sudah diangkat malah dimatiin.


Lain halnya dengan mas Heru. Semalam memang mas Heru sudah niat tidak membalas SMS. Karena mas Heru sendiri SMS ga di balas-balas dan nelphon ga di angkat-angkat. Mas Heru sendiri sebenarnya kangen sudah beberapa hari tidak mendengar suaranya.


Berbeda waktu Dinda tidak pulang kampung. Meskipun tidak bertemu, tapi baik mas Heru dan Dinda cukup senang walaupun hanya melihat baju yang di jemur di teras kontrakan. Itu sudah cukup membayangkan melihat wajahnya saat memakai baju tersebut.


Mas Heru yang bersikap seperti ini, dia melakukannya semata-mata agar Dinda tahu rasanya ketika kangen sudah SMS tapi ga di balas-balas dan di telphon ga diangkat-angkat. Hingga malam tiba sampai mas Heru ketiduran.


Pagi harinya mas Heru merasa bersalah. Dia tidak ingin ada salah paham diantara dirinya dan Dinda. Hingga akhirnya mas Heru memutuskan untuk menelphon Dinda setelah pulang kerja.


Mas Heru yang masuk kerja pagi yang seharusnya pulang sore, karena lembur kerja mas Heru pulang malam. Saat jam istirahat sore hari setelah sholat ashar, mas Heru menelphon Dinda.


Pada waktu menelphon Dinda waktu istirahat tinggal lima menit lagi. Namun mas Heru menyempatkan untuk tetap menelphon Dinda. Karena ga diangkat, akhirnya mas Heru mematikan sambungan telphonnya. Karena mas Heru akan kembali kerja.


Di saat itulah sebenarnya Dinda sudah mengangkat telphon dari mas Heru. Tapi ternyata mas Heru malah mematikan panggilannya. Akhirnya Dinda merasa bahwa mas Heru cuma miscall saja.


"Biarin awas kalau nanti nelphon lagi ga akan Aku angkat!." Ucap Dinda dalam hati.


"Kenapa tadi nelphon ga diangkat sih. Ga tahu apa ya, pacarnya kangen. Ini kalau ga kerja mah, sudah tak tungguin sampai diangkat." Ucap mas Heru dalam hati sambil kerja.


Maghrib sudah berlalu, Dinda berada di dalam kamarnya membereskan berkas-berkas lamaran kerja. Sambil membereskan, Dinda melihat ke arah hp yang tergeletak di atas meja.


Karena penasaran, Dinda mengambil hpnya dan melihat layar hp tersebut. Tidak ada SMS satupun yang muncul di layar hp. Dan juga tidak ada panggilan berdering. Meskipun Dinda tahu kalaupun ada SMS atau panggilan pasti hp nya berdering bunyi pesan di terima dan panggilan telphon. Namun tetap saja Dinda melihat hpnya hanya untuk memastikan.


Jam sudah menunjukkan waktu isya. Dinda melaksanakan ibadah sholat isya demikian juga mas Heru di Cikarang sana. Dengan seragam kerjanya yang masih melekat di badan, mas Heru melaksanakan sholat isya.


Sudah hal biasa yang di lakukan mas Heru bila pulang lembur jam 7 malam, sebelum pulang dia melaksanakan sholat isya terlebih dahulu. Kemudian baru pulang ke kontrakan. Sebelum sampai ke kontrakan, mas Heru menyempatkan untuk mampir ke warteg. Membeli sebungkus nasi dan lauk pauk untuk makan malam.


Sesampainya di kontrakan, mas Heru bersih-bersih terlebih dahulu. Kemudian baru makan malam sambil menonton televisi. Setelah makan, mas Heru mengambil hp nya yang di letakkan di dekat colokan karena tadi sedang di cas.


Tertera di layar hp nama kontak Dinda, kemudian dipencetlah tombol memanggil. Mas Heru berharap kali ini Dinda mengangkat telphonnya.


"Kriiiiingg."


"Kriiiingg."


"Kriiiiingg."


"Kriiiingg."

__ADS_1


Dinda mendengar suara nada dering panggilan hpnya. Di lihatnya layar hp tersebut dan terlihat mas Heru memanggil. Dinda tidak mengangkat panggilan tersebut malah menaruh kembali hp nya di atas meja.


"Kenapa sekarang nelphon lagi?, jangan-jangan cuma miscall doang. Biarin aja lah kalaupun diangkat yang ada nanti langsung di matiin." Ucapan dalam pikiran Dinda.


"Lagi ngapain sih Dinda?, lama banget ga diangkat-angkat. Ga kangen dia apa ya sama pacarnya ini. Sudah mengalah SMS duluan, nelphon duluan, ini malah dicuekin sih." Kesal mas Heru dalam hati karena dari tadi nelphon ga diangkat-angkat.


"Kriiiiingg."


"Kriiiiingg."


"Kriiiiingg."


"Kriiiingg."


Kriiiiingg."


"Din, itu hp nya bunyi kenapa ga diangkat-angkat." Ucap ibu yang mendengar hp nya Dinda bunyi terus karena adanya panggilan, karena suaranya agak menggangu konsentrasi ibu menonton sinetron di televisi.


"Iya Bu, tanggung, ini mau Dinda angkat." Jawab Dinda dari dalam kamar yang sebenarnya enggan untuk mengangkat panggilan telphon dari mas Heru.


Karena ibu yang bilang, Dinda akhirnya mengangkat panggilan telphon tersebut dari mas Heru.


"Hallo, assalamu'alaikum." Ucap Dinda setelah memencet tombol panggilan masuk.


"Wa'alaikumussalam, Din lama banget sih angkat telphonnya. Emangnya lagi ngapain sih?. Kenapa sejak di kampung kok jadi lama angkat telphon dari mas?." Ucap mas Heru beruntun bertanya kepada Dinda.


"Lagian di telphon lama banget. Mana sudah malam, nanti keburu ngantuk Din, Maaf tapi kamu sekeluarga sehat semua kan ?."


"Yang tadi saja belum di jawab, ini nanya lagi. Alhamdulillah sehat, tadi habis beresin berkas lamaran tanggung."


"Ooo, sudah makan belum Din?.


"Sudah tadi."


"Di telphon mas kok kaya ga kangen sih."


"Mas tuh, kenapa kemaren ga balas SMS. Dinda nungguin sampai malam sampai ketiduran."


"Maaf, Mas sudah ketiduran, paginya kerja. Lha tadi sore kenapa di telp ga diangkat kemana hayooo?."


"Apaan mas telphon tadi sore itu Dinda angkat, mas saja tuh sudah diangkat malah di matiin. Tak kirain mas tuh cuma miscall doang. Jadi ini juga tadinya ga mau angkat tapi di suruh ibu di angkat karena bunyi terus hp nya. Kirain Dinda mas cuma miscall mau ngerjain Dinda."


"Ya Allah di kira miscall doang ya ga lah Din, mas tuh beneran nelphon bukan miscall."

__ADS_1


"Oooo nelphon ya, ga miscall heehee."


"Ga miscall Dinda sayang ini buktinya ngobrol. Mas taunya itu kamu ga angkat-angkat telphon dari mas, ya sudah mas matiin soalnya sudah jam kerja. Ini baru pulang, mas kangen makanya buruan tak bela-belain nelphon."


"Mas lembur ya?, maaf Dinda ga tahu. Tadi apa, mas kangen?, bohong banget, kemaren kemaren saja ga ketemu ga apa-apa."


"Tuh kan ga percaya mas kangen, ya sudah lah tak tutup telphonnya percuma saja nelphon, yang di telphon ga kangen."


"Eeee mas bukan gitu, iya percaya. Tapi emang iya kan kemaren kemaren waktu mas sibuk sendiri ga kangen sama Dinda.


"Din, mas itu sebenarnya kangen tapi lihat baju kamu yang di jemur kangen mas sedikit berkurang. Ini ga ada apapun, jadi mas tuh kangen berat. Din bisa ga Minggu depan berangkat ke sini lagi?."


"Oo jadi karena jemuran, mmm. Kalau itu Dinda ga tahu mas, nanti saja, emang kenapa?,ada perlu?."


"Ya ada, mas mau ajak kamu penting banget, bisa ya."


"Yaaa, in syaa Allah mas, emangnya penting apa mas?."


"Nanti kalau sudah di sini mas ceritanya. Kalau di telphon ga afdol. Ya sudah udah malam ga enak sama bapak dan ibu. Salam ya buat camerku."


"Iya, baru nelphon cuma bentar tok."


"Sudah malam Dinda sayang, mas cape, ngantuk, besok lagi ya nelphonnya kalau mas ga cape dan ada pulsa."


"Mmmmm ya sudah, kalau gitu mas istirahat."


"Iya, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam mas."


"Tut."


"Tut."


"Tut."


Dinda meletakkan hpnya karena sudah terputus sambungan telphonnya. Rasa kesal sudah berganti menjadi rasa bahagia meskipun sesaat.


Demikian juga dengan mas Heru, meskipun tahu Dinda agak kesal tetapi mas Heru juga merasa bahwa Dinda juga kangen kepadanya.


Meski hanya bertemu lewat sambungan suara di telphon hp, itu sudah cukup buat mas Heru mengobati rasa kangennya.


Dinda yang mendapat telphon lewat hp, bukan miscall, merasa senang. Bisa mendengar suara mas Heru sedikit mengobati rasa kangen dan tidak kesal lagi karena salah paham.

__ADS_1


Hari ini segini dulu ya Reader, nanti sambung lagi.


Bersambung .......


__ADS_2