
Hampir dua bulan Dinda menjalani hubungan yang tidak jelas. Dinda takut hal yang menimpanya kemaren terulang lagi. Meskipun semenjak pindahan sampai saat ini mas Heru terlihat jujur.
"Din, sudah dua bulan ini kamu belum memberi jawaban kepastian hubungan kita. Jika berdua denganmu, Aku merasakan hal yang sama. Tapi itu tidaklah cukup, setidaknya ada kata-kata sebagai pernyataan bukan sekedar tindakan." Tutur mas Heru.
"Apalah arti kata-kata jika tidak ada bukti nyata." Ucap Dinda sambil menunduk kepala.
"Maksudnya apa, ya kalau sekedar hanya kata-kata ada tapi agar terlihat jelas juga dengan tindakan. Tidak seperti ini, tindakanmu seakan kita menjalani hubungan sebagai kekasih. Tetapi dari pertama Aku bilang kamu ga pernah kasih jawaban Din." Mas Heru berharap Dinda bicara tentang perasaannya.
Dinda hanya terdiam, masih menyimpan perasaannya. Meskipun sikap dan tindakannya nyata terlihat kalau Dinda sayang dan cinta dengan mas Heru. Ada batasan yang Dinda tidak mau melewatinya.
"Waktu itu mas bilang, jalani saja dulu, saling mengenal, mengerti, memahami, ga harus jawab ya atau tidak. Yaa itu kan yang mas bilang." Ingat Dinda ucapan mas Heru untuk dijadikan alasan.
"Mmmm, iya sih Din. Tapi ini sudah dua bulan sejak hari itu. Aku hanya ingin tahu sebenarnya perasaan kamu ke Aku gimana ?. Paling tidak jika kamu ngomong Aku akan tenang." Ucap mas Heru.
"Tenang di sana mas." Ledek Dinda.
"Iya setidaknya kalau Aku kenapa-napa hatiku tenang sudah tahu dan ga penasaran begitu lhooo."Ungkap mas Heru.
"Udah ahh mas, ga usah di bahas. Apa yang mas rasakan tentang Aku ya itulah yang aku rasa." Jelas Dinda.
Mas Heru hanya menarik nafas dalam. Dua bulan ini sulit rasanya bagi mas Heru membujuk Dinda untuk mengungkapkan perasaannya. Entah apa yang membuat Dinda hanya menjalani hubungan tanpa adanya kata sayang atau cinta yang keluar dari mulutnya.
Mas Heru berpikir ada sesuatu yang membuat Dinda seperti ini. Tetapi mas Heru tidak tahu. Hingga akhirnya mas Heru berinisiatif untuk menanyakan kepada Tini tentang hal ini.
*
"Din gimana hubungan kamu dengan mas Heru?." Tanya Tini setelah beberapa Minggu ini Dinda dan mas Heru terlihat dekat.
"Biasa saja, kenapa Tin." Jawab singkat.
"Tapi tambah ke sini tambah dekat nih, sudah jadian ya?." Tanya Tini ingin tahu.
"Belum." Jawabnya.
"Kirain sudah jadian, tahunya belum." Tini salah kira.
"Ga tau ahh Tin. Pokoknya kita jalani dulu, saling kenal, mengerti, memahami yaa itu saja." Tutur Dinda.
"Tapi sebenarnya mas Heru sudah ngomong kan kalau dia suka kamu." Tini memastikan.
"Sudah, tapi belum aku jawab." Jelas Dinda.
"Kenapa Din, memangnya kamu ga suka sama mas Heru?." Tanya Tini selidik.
"Bukan ga suka, tapi gimana ya Tin. Yang kemaren saja masih membekas, Aku takut." Ucap Dinda teringat kejadian dengan mas Nur.
""Iya sih, tapi selama di sini, dan kenal sepertinya mas Heru tidak seperti mas Nur." Tini berpikir tentang mereka.
"Ya jelas ga sama, yang dulu diam-diam menghanyutkan. Yang sekarang ampun bikin kesel terus Tin. Habisnya ledek terus, dan agak blak-blakan gitu." Jelas Dinda membandingkan.
"Terus lebih suka yang dulu atau yang sekarang hayooo?." lanjut Tini.
"Ga tahu Tin, yang dulu itu ya sudah ahh semua sudah berlalu." Ucap Dinda.
"Kamu takut seperti kejadian dengan mas Nur ya Din. Kamu akan kecewa di awal sebelum di mulai. Tapi tidak semua hal akan sama Din. Contohnya Aku, dari tiga pria yang ku suka memang semuanya tidak merespon sikap Aku. Tapi sikap mereka berbeda Din. Ada yang cuek banget, ada yang biasa memang kita teman, ada juga yang perhatian tapi itu palsu cuma buat cemburu ceweknya. Jadi gitu deh Aku masih begini heehee." Tutur Tini kali ini mungkin benar berdasarkan pengalamannya.
__ADS_1
"Begini apa, sendiri, jomblo, heehee." Ledek Dinda tidak ingin terlalu serius.
"Yaaa pokoknya apa salahnya menjalaninya, jujurlah dengan perasaanmu, hadapi kenyataan setidaknya ga bikin orang penasaran." Tutur Tini.
"Tumben ngomongnya agak bener Tin. Aku mau jujur tapi yaa nanti lihat dulu ke depannya gimana. Seperti apa mas Heru yang sebenarnya. Aku juga memikirkan sebentar lagi habis kontrak, aku belum bisa bilang ke mas Heru Tin kamu tahu sendiri. Paling tidak tunggu beberapa Minggu lagi. Lihat perkembangannya dia gimana." Ucap Dinda sedikit tentang perasaannya.
"Iya ya, ga terasa beberapa bulan lagi kita habis kontrak. Pusing lagi nih cari kerjaan, mana tambah saingan banyak. Yang lulusan baru banyak yang masih nganggur. Lowongan kerja sedikit, resiko Din jadi karyawan kontrak. Kontrak kerja habis cari lagi kerjaan." Tini sedikit mengeluh.
"Gimana lagi memang begini keadaannya. Sabar dan tawakal Tin. Yang penting tetep usaha pasti dapat kerja lagi." Semangat Dinda.
"Oh iya Din, bulan besok beli hp yuk. Yang bekas saja ga apa-apa yang penting bisa di pakai. Kata mba Susi Leader kita yang baru, bilangnya harus punya hp buat nanti kalau habis kontrak, siapa tahu ada panggilan lagi dari PT." Saran Tini.
"Lihat nanti deh Tin, soalnya bulan ini Aku kirim uang buat sekolah adikku. Memang harganya berapa Tin kira-kira." Ucap Dinda.
"Yaa kalau yang bekas yang biasa kurang lebih 500 ribuan Din." Jawab Tini.
"Nanti saja ya Tin lihat dulu uangnya cukup apa ga." Sambil berpikir mengingat tabungannya.
"Ya kalau bisa sih nanti belinya sama-sama biar sekalian jalan keluar, refreshing sudah lama ga jalan Din." Ajak Tini.
"Ya sudah nanti habis gajian ya Tin, sekalian ngilangin pusing pikiran." Dinda setuju.
"Pusing pikiran apa pusing hati Din." Ledek Tini.
"Kamu Tin, udah ahh yang penting ga pusing mau pusing pikiran mau pusing hati." Ucap Dinda.
*
Malam Minggu di kontrakan Dinda seperti biasa mas Heru main. Karena masuk malam, setelah isya mas Heru tidak tidur dan memilih untuk duduk di teras depan pintu kontrakan Dinda. Tini seperti biasa juga menemani mereka ngobrol. Karena permintaan Dinda yang tidak mau hanya berdua saja bila mengobrol dengan mas Heru.
"Ga Tin, masuk malam." Jawab mas Heru setelah minum kopi item panas.
"Widiihh masuk malam lembur ya mas, ga tidur?." Lanjut Tini.
"Ga lembur cuma di suruh masuk sama atasan. Dulu biasanya tidur karena ga ada yang dilihatin sambil di ajak ngobrol, tapi sekarang beda Tin. Kalau tidur sayang nanti ga bisa kerja gara-gara belum ketemu sama yayang Dinda." Terang mas Heru.
"Apaan sih mas, malu tau. Bilang aja mau ketemu." Ucap Dinda yang malu dan agak kesal.
"Emang gitu Din, kalau orang jatuh cinta bawaannya pengin ketemu terus ya ga mas?." Ledek Tini.
"Iya Tin, lagian temenmu ini aneh sudah tahu jarang ketemu. Orang kangen malah ga boleh ketemu, gimana Tin. Jadi tanda tanya nih, tapi beneran kan Tin Dinda ga punya pacar?." Tanya mas Heru memastikan dari Tini.
"Emang ga punya mas, tapi dulu sempat mau punya, ups." Tini keceplosan.
"Tini, ga kok mas, ga ada, maksudnya ga punya pacar." Dinda salah tingkah lalu masuk ke dalam dan tiduran di ruang tengah di atas kasur melepaskan perasaannya yang tidak menentu teringat mas Nur.
"Maksudnya gimana Tin." Tanya mas Heru serius.
Tini berdiri kemudian melihat Dinda sekilas lalu jalan keluar kontrakan dan duduk di teras kontrakan di depan mas Heru. Karena melihat Dinda tiduran, Tini akhirnya bercerita tentang perasaan Dinda kepada mas Heru.
"Sebenarnya waktu kemaren baru kerja, ada yang suka sama Dinda mas." Ucap Tini mulai bercerita serius.
"Siapa Tin, serius?." Tanya mas Heru lanjut dengan muka serius untuk mendengarkan.
"Tetangga kontrakan, namanya mas Nur." Jelas Tini.
__ADS_1
"Din, sini apa Din, masa mas ditinggalin ngobrol sama Tini. Kan mas mau ketemu kamu ngobrol sama kamu bukan sama Tini." Mas Heru coba memanggil Dinda.
"Maaf mas, ga ahh, kepalaku pusing mau tiduran." Jawab Dinda pura-pura yang sebenarnya malu teringat hubungannya yang belum jelas dengan mas Heru.
"Terus Tin lanjutin ga ada Dinda, Aku penasaran. Masalahnya kalau lihat sikapnya Dinda terlihat dia juga suka, sayang, mungkin cinta juga. Tapi ya gitu kalau di tanya ga jawab." Tutur mas Heru.
"Ya itu mas, dia baik, cuma dia punya mantan. Mantannya masih cinta, deketin terus ga mau putus. Yaaa akhirnya Dinda mengalah menghindar. Sampai kejadian yang membuat malu aku sama Dinda. Tapi akhirnya Dinda lebih memilih untuk melupakannya mas, karena ternyata mas Nur balikan lagi sama mantannya. Mungkin sekarang sudah nikah kali, ga tau deh apa jadinya kalau waktu itu Dinda sudah jadian. Apa ga tambah kecewa mas Dinda." Jelas Tini mengenai Dinda.
"Kejadian yang membuat malu gimana Tin, maksudnya Dinda sama mantannya mas Nur gitu. Ribut apa gimana ?." Tanyanya lagi.
"Iya ribut mas, sebenarnya yang ribut mantannya sama mas Nur, tapi kita eh Dinda kebawa-bawa. Dia ga terima kalau mas Nur sudah cinta sama Dinda, Dinda juga. Tapi melihat mantannya mas Nur, Dinda mengalah mas." Tutur Tini membuat mas Heru merasa pantas Dinda ga bicara tentang perasaannya mungkin karena ini.
Mas Heru mengerti apa yang di ceritakan oleh Tini. Dan berharap Dinda lebih terbuka tentang perasaannya. Biar bagaimanapun, bila diungkapkan akan lebih lega.
"Terus Aku harus gimana Tin, Dinda sampai sekarang ga mau ngomong tentang perasaannya. Kalau diungkapkan kan aku lega, ga penasaran gitu Tin." Ucap mas Heru.
"Mmmm, mas Heru sudah lama kerja di Cikarang kan. Selama ini sudah pernah pacaran ga eh punya cewe gitu." Tanya Tini.
"Sebenarnya dulu pernah suka sama cewe waktu baru ngontrak di sini. Baru kerja berapa bulan lah. Dia ngontrak diujung sana, dia cewe Sunda dari Cirebon. Tapi ya itu karena aku karyawan kontrak dia ga mau. Cewe itu maunya yang kerja sudah jadi karyawan tetap. Ya kalau pegawai mungkin PNS kali yaa Tin. Dari situ Aku kalau lihat cewe yaa ligat-lihat dulu orangnya sebelum rasa itu tumbuh semakin besar." Ungkap mas Heru.
Tini mendengarkan kisah mas Heru dengan seksama. Mungkin bila Dinda dengar dia akan lega dan percaya dengan mas Heru kalau perasaannya sungguh-sungguh.
"Terus sekarang ceweknya kemana mas?." Tanya Tini penasaran.
"Dia sudah nikah sama cowo yang kerja di pabrik YKK. Karyawan tetap, sudah beli perumahan juga Tin. Ya Aku sadar diri Tin, Aku karyawan kontrak masih tinggal di kontrakan pula Tin. Mana ada cewe mau sama Aku. Cuma pas lihat Dinda ga tahu saja kenapa ada perasaan yakin kalau Dinda ga gitu orangnya, tapi yaaa gitu lah." Cerita mas Heru.
"Kok sama seperti mas Nur ya, dia karyawan tetap di pabrik baja. Itu lho mas pabrik baja yang di warung bongkok. Nah itu mantannya juga kaya gitu tuh. Ga mau putus gara-gara mas Nur sudah karyawan tetap kali ya. Segitunya sampai bikin malu Dinda di bilang rebut cowonya. Hiiii amit-amit jabang bayi, cewe ga tau diri." Tini merasa kesal ingat Indah.
"Ya mungkin Tin, makanya itu yaaa tidak semua cewe begitu dan ga semua cowo begitu juga." Ucap mas Heru setelah menghabiskan kopi itemnya.
"Mas Heru ga kaya gitu kan?, kasihan Dinda mas baru jatuh cinta belum juga di mulai sudah kecewa duluan." Tanya Tini.
"In syaa Allah ga lah Tin." Jawab mas Heru yakin.
"Ngobrolin apaan sih Tin, serius amat." Tiba-tiba suara Dinda terdengar.
Tini yang menengok ke arah sumber suara hanya senyam senyum tertawa kecil sambil meledek Dinda. Ternyata suara dari Dinda yang sedang duduk di ruang tengah depan televisi.
"Ngobrolin kamu Din heehee, nih mas Heru tanya kamu pernah punya pacar ga?. Kan tadi sudah Aku bilang. Sempat mau punya, tapi ga jadi karena ada tragedi heehee." Jawab Tini sambil membawa gelas kopi yang habis ke dalam.
Mas Heru akan bersiap-siap untuk berangkat kerja. Karena sudah jam 9 lebih, Mas Heru berpamitan kepada Tini. Sebelum mengambil gelas yang berisi kopi yang sudah habis di minum oleh mas Heru, Tini memberi kode kepada mas Heru. Mas Heru mengerti maksud Tini.
"Ngobrolin apaan sih Tin, awas ya ngobrolin yang ga bener. Lagian ini sudah malam, bukannya mas Heru mau berangkat kerja." Ucap Dinda kesal mengingatkan.
"Ini tadi sudah pamitan sama Tini makanya kopinya mas habisin. Tini masuk ke dalam sekalian di bawa gelasnya biar ga repotin yayang Dinda. Din, mas kerja dulu ya. Besok jangan lupa habis dhuhur, nanti kalau mas belum keluar panggil saja ya ketok pintu. Langsung masuk juga ga apa-apa pintunya ga bakalan mas kunci." Ucap mas Heru dengan senyum jahilnya.
"Ga ahh malas, sudah sana pulang nanti terlambat." Suruh Dinda.
"Iya." Jawab mas Heru sambil berjalan ke kontrakannya.
"Ternyata karena cinta yang belum di mulai namun sudah kecewa terlebih dahulu. Din demi orang lain kamu rela melepas cintamu. Bagaimana denganku nantinya Din." Ucapan yang ada di dalam pikiran mas Heru.
Sambil memakai seragam kerjanya, mas Nur berpikir bagaimana meyakinkan Dinda untuk mengungkapkan perasaannya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya ikuti terus karyaku ini yaaa.
__ADS_1
Terimakasih buat semuanya yang mendukung karyaku ini. Semoga kalian semua sehat terus dan bahagia. Jangan lupa like, dan komentarnya. Salam bahagia 🥰🥰🥰.