Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )

Cikarang ( Pekerjaan Dan Cinta )
Episode 72. Janji sebagai kakak angkat.


__ADS_3

Setelah malamnya beristirahat, keesokan harinya mas Heru pergi ke rumah sakit untuk mengikuti pemakaman bapaknya Ayu.


Setelah pemakaman selesai, di lanjut langsung mengurus kendaraan sepeda motor bapaknya dan sepeda motor milik bapaknya Ayu di Polsek.


Seharian penuh mas Heru yang mengurusi semuanya. Sore harinya baru mas Heru datang ke rumah sakit. Menjenguk bapaknya dan ibunya Ayu.


Saat mengunjungi ibunya Ayu terlihat seorang perempuan seumuran Dinda yang duduk disebelahnya.


"Assalamu'alaikum Bu." Salam mas Heru sambil menyalami tangan ibunya Ayu.


"Wa'alaikumussalam, nak Heru." Jawabnya sambil tersenyum.


"Kenalkan ini anak ibu satu-satunya, namanya Ayu. Semalam baru datang langsung ngurusi pemakan bapaknya. Ini tadi baru datang ke sini gantian sama Om nya." Ucap ibunya Ayu.


"Ayu mas." Ucap Ayu senyum sendu setelah semalaman menangis.


"Heru." Sebut nama singkat.


"Maaf Bu, Saya ke sini cuma nengok ibu sebentar karena masih ada yang harus diurus." Ucap mas Heru tidak ingin berlama-lama.


"Mmm,, gitu ya nak Heru. Ga apa-apa, ibu ada Ayu yang jagain. Terimakasih sudah nengokin ibu jadi repotin." Ucapnya lanjut.


"Ga kok Bu, ga repot, kan sekalian jenguk bapak juga." Jawab mas Heru.


"Ya sudah Bu, saya tinggal dulu, cepet sehat ya Bu, assalamu'alaikum." Ucap mas Heru pamitan.


"Iya Mak Heru, sama-sama." Jawab ibunya Ayu.


Mas Heru menyalami ibunya Ayu dan juga Ayu kemudian lanjut ke ruang bapaknya.


"Bu, de Ika sudah pulang." Tanya mas Heru langsung karena tidak melihat adiknya Ika di ruang rawat bapaknya.


"Tadi pamitan pulang, mau nyuci baju dan beresin rumah sekalian masak. Hari ini Ika izin ga masuk kerja, tapi besok berangkat kerja." Ucap ibunya mas Heru.


"Kalau besok Ika kerja terus ibu di sini sama siapa?." Tanya Heru.


"Kamu gimana sih Her, ada suster, ada kamu juga kan. Ika biarin masuk kerja, ga enak baru masuk kerja sudah izin. Kalau kamu izin berapa hari Her?." Tanya ibunya.


"Tadi pagi nelphon atasan Heru Bu, tadinya izinnya dua hari. Tapi nanti nunggu keadaan di sini gimana." Jawab Heru.


"Her, karena kamu izinnya cuma dua hari, itu gimana janji ibu sama bapaknya Ayu. Kamu gimana Her?. Tadi sudah lihat dan kenal yang namanya Ayu?." Tanya ibu.


"Sudah Bu, tapi maaf sebelumnya. Janji ibu akan tetap di tepati tapi bukan Heru Bu yang mau nikah sama Ayu." Ucap Heru membuat ibunya bingung.


"Kenapa Her?." Tanya ibu bingung ingin tahu.


"Apa kamu sudah punya calon sendiri?. Setahu ibu kamu belum punya pacar lagi setelah di tinggal menikah sama mantan kamu." Ucap ibunya.


"Ada Bu, namanya Dinda, aslinya Tegal. Memang Heru belum bilang bahkan mengenalkannya sama ibu. Itu karena Heru ingin memastikan bahwa Dinda benar-benar calon Heru." Jawab Heru.


"Terus itu janji ibu mau menikahkan Ayu gimana Her?." Tanya ibu ingat janjinya.


"Tenang Bu, ibu ga usah mikirin itu. Yang penting sekarang ibu jagain bapak sampai sembuh total. Urusan itu nanti kita sama-sana bilang ke ibunya Ayu dan juga Ayu." Ucap mas Heru menenangkan pikiran ibunya.


Heru pergi meninggalkan ibunya yang menjaga bapaknya. Pergi ke arah mushola sambil menunggu Maghrib. Di dalam mushola, Heru tiduran sambil berpikir tentang bapak dan ibunya. Tentang ibunya Ayu dan Ayu, juga tentang dirinya dan Dinda.


Sebenarnya Heru juga bingung mau gimana bicara sama ibunya Ayu. Ibunya sudah terlanjur janji kepada bapaknya Ayu yang sudah meninggal dunia.


Sebagai anak pertama dan laki-laki dia tidak ingin menyakiti orang tuanya. Akan tetapi Heru juga tidak ingin menyakiti Dinda. Karena Heru sudah terlanjur sayang dan cinta sama Dinda.


Heru diajarkan oleh bapaknya untuk bersikap tanggung jawab dengan segala tindak tanduknya dan ucapannya.


Heru tidak tega melihat bapaknya yang sehari-hari sebagai buruh bawang menanggung beban tanggung jawab terhadap anak orang yang di tabraknya.


Adzan Maghrib berkumandang, mas Heru melaksanakan ibadah sholat Maghrib. Berdo'a agar di beri kemudahan jalan keluar masalah yang dihadapinya tanpa menyakiti siapapun.

__ADS_1


"Kriiiinngggg.


"Kriiiinngggg.


Nada dering hp milik mas Heru berbunyi. Di lihatnya layar hpnya dan ternyata Wawan sahabatnya yang menelphon.


"Hallo, assalamu'alaikum Wan." Ucap salam Heru mengangkat hpnya.


"Wa'alaikumussalam, Her katanya kamu cuti mendadak karena dikabari bapak kamu kecelakaan. Terus bapak kamu gimana keadaannya Her?." Tanya Wawan langsung.


"Alhamdulillah bapakku ga apa-apa cuma patah tulang lengan tangan kanan dan lecet-lecet. Tapi yang di tabrak bapakku suaminya meninggal dunia dan istrinya masih di rawat di rumah sakit." Jawab mas Heru.


"Innalillahi, kamu cuti berapa hari Her?." Tanya Wawan lagi.


"Rencananya dua hari, tapi nanti lihat keadaan di sini." Jawabnya lagi.


"Oo,, gitu ya, yang sabar ya Her. Musibah kan ga tahu." Ucapnya Wawan.


"Ini sih bukan musibah lagi Wan, musibah buat kisah cintaku juga Wan, cintaku diujung tanduk." Ucap mas Heru membuat Wawan bingung apa maksudnya.


"Emang kenapa lagi kisah cintamu bro, bukannya damai-damai saja sama Dinda." Jawab mas Wawan tahu karena mas Heru cerita tentang Dinda dengannya.


Mas Heru menceritakan kejadian ketika baru datang dan setelah sehari ini. Bagaimana akhirnya dia harus berpikir untuk semua orang untuk tidak menyakitinya. Terutama orang tuanya dan ibunya Ayu yang sudah tidak ada suami.


"Begini saja Her, karena ibumu terikat janji akan menikahkannya, gimana kalau kamu janji menjadi kakak angkatnya mengambil tanggung jawab ibumu. Yaaa kenalin ke siapa gitu untuk dijodohkan jika ga punya pacar. Kalau punya pacar yaa tinggal kamu nikahkan saja dia dengan pacarnya gampang kan." Saran Wawan.


"Makasih Wan, otakmu encer juga ya. Kenapa Aku ga mikir ke situ ya." Jawab mas Heru.


"Bukan ga mikir ke situ, otak lu yang ngadat karena banyak urusan. Sudah dulu ya Her mau isya, entar kamu kabarin Aku lagi." Ucap Wawan sebelum menutup sambungan telphonnya.


"Iya, makasih ya Wan." Balas mas Her kemudian menutup sambungan telephonnya.


"Alhamdulillah ya Allah Engkau memberi solusi lewat sahabatku Wawan." Ucap mas Heru dalam hati.


Mas Heru melanjutkan sholat isya kemudian masuk kembali ke kamar bapaknya yang sudah ada Ika membawa rantang makanan untuk ibunya dan mas Heru.


"Bu, Aku mau ngomong sesuatu." Ucap mas Heru.


"Ngomong apa Her?." Tanya ibunya penasaran.


"Ibu sudah janji sama bapaknya Ayu, untuk menepatinya, ga harus menikahkan Ayu dengan Heru Bu." Ucap mas Heru menolak.


"Terus gimana caranya, ibu merasa bersalah, terutama bapakmu Her." Ibunya sedih dan bingung.


"Heru yang meneruskan janji ibu, Heru akan bertanggung jawab tapi bukan sebagai suami, melainkan kakak angkat sampai Ayu menikah." Jawab Heru yakin.


"Caranya?." Tanya ibunya tambah bingung.


"Kalau Ayu punya pacar nikahkan dia dengan pacarnya atau pilihannya. Tapi jika tidak jodohkan dengan pria baik-baik yang pantas sebagai imamnya Bu." Ucap mas Heru dengan niat rencananya.


"Kalau punya, kalau ga punya di jodohkan sama siapa Her, ibu ga punya calon." Jawab ibunya lagi.


"Heru ada teman Bu, in syaa Allah jika jodoh ga akan ke mana. Yang penting kita niatnya baik, dan tulus serta menepati janji ibu kepada almarhum bapaknya Ayu." Jelas mas Heru.


"Ga kamu saja Her, biar ga susah nyari?." Saran ibunya.


"Maaf Bu, Heru ga bisa. Seandainya ibu di posisi Dinda, gimana perasaan ibu tahu begini. Dan coba pikirkan juga perasaan Heru, tanggung jawab Heru akan pernyataan sayang dan cinta Heru sama Dinda. Ibu jangan memaksa, Heru yakin mereka pasti mengerti." Ucap Heru penuh keyakinan.


"Kalau itu maumu ibu akan bicarakan dengan mereka. Semoga mereka mau menerima saran dan tanggung jawab kita akan janji yang telah diucapkan." Ucap ibu berharap.


Mereka berdua kemudian datang ke ruang rawat ibunya Ayu. Di sana ada Ayu yang sedang duduk di samping ibunya dan ada juga om nya yang baru datang menemani setelah acara tahlilan.


"Gimana kabarnya Bu Ayu?." Tanya ibunya mas Heru langsung.


"Alhamdulillah, sudah mendingan. Besok juga sudah boleh pulang sama dokternya." Jawab ibunya Ayu.

__ADS_1


"Maaf Bu ganggu, ada yang mau saya bicarakan. Kebetulan ada Ayu dan om nya juga." Ucap ibunya mas Heru basa basi.


"Ga apa-apa Bu, bicarakan saja. Mumpung ada anak-anak di sini. Karena Ayu besok sudah berangkat lagi ke Cikarang. Karena dia cuma dapat cuti dua hari." Ucap ibunya Ayu.


"Begini Bu mengenai janji yang saya ucapkan kepada almarhum bapaknya Ayu, mungkin Ayu sudah dengar. Mmmm,,, jadi begini, Heru anak Saya ini yang akan menjelaskannya." Ucap ibunya mas Heru berhati-hati takut menyinggung dan ga enak hati.


"Iya Bu, Ayu sudah saya ceritakan mengenai hal ini tadi. Tapi memang sebaiknya mereka yang memutuskan, meskipun kita sebagai orang tuanya. Toh merekalah yang akan menjalaninya bukan kita." Tutur ibunya Ayu.


Mas Heru seketika bertambah yakin setelah mendengarkan ucapan ibunya Ayu. Bahwa antara mas Heru dan Ayu kemungkinan tidak akan menikah karena janji orang tuanya.


"Begini Bu, sehubungan janji ibu Saya, di sini akan Saya ambil alih tanggung jawab tersebut. Bukan sebagai suami tetapi sebagai kakak angkat sampai Ayu menikah nanti." Jujur mas Heru langsung berucap.


Ayu dan ibunya sempat terkejut, tetapi ibunya Ayu sudah mulai merasa memang Heru sepertinya tidak menyukai Ayu terlihat pada saat mereka bertemu tadi sore.


Ayu merasa malu sekaligus sedih, namun juga tidak menampik bahwa itu pilihan mas Heru yang tidak mau menikah dengannya meskipun ibunya berjanji menjodohkannya.


Dari awal pertama bertemu, Ayu merasa Heru sudah menjaga jarak terlihat dari caranya dan bahasanya saat bertemu tadi sore.


"Jika Ayu punya pacar, Saya akan menikahkan Ayu dengan pilihannya. Tapi jika belum, Saya bertanggung jawab mencarikannya. In syaa Allah jika jodoh, Saya ada teman, mungkin bisa kenalan dulu." Ucap mas Heru menawarkan.


"Gimana Yu, kamu punya pacar belum?." Tanya ibunya Ayu.


"Belum Bu." Jawab Ayu singkat.


"Mau di kenalkan sama temannya nak Heru mau?. Tanyanya lanjut.


"In syaa Allah mau Bu, demi almarhum bapak dan ibu serta janji ibunya mas Heru." Jawabnya Ayu.


"Nak Heru yakin dia bisa jadi imam buat anak ibu?." Tanyanya kepada mas Heru.


"In syaa Allah dia baik Bu, dan bisa menjadi imam untuk Ayu. Tetapi itu tergantung mereka jika jodoh Bu." Jawabnya mas Heru meyakinkan ibunya Ayu.


"Kalau begitu ibu nitip Ayu di Cikarang, karena mas Heru juga kerja di Cikarang. Ayu anak ibu satu-satunya. Dia anak manja nak Heru, maklum. Di Cikarang saja ikut buliknya yang usaha warteg. Karena bapaknya khawatir, di suruh kerja di sini ga mau. Dapat kerja di Cikarang ya gimana lagi. Kami orang tua mengizinkan dan hanya mendoakan." Tutur ibunya Ayu.


"In syaa Allah Bu, Saya akan tanggung jawab dan menjaganya sebagai kakak angkatnya. Menggantikan almarhum bapaknya Ayu meskipun tidak 24 jam penuh, tapi Saya akan berusaha sampai Ayu menikah." Janji mas Heru sebagai kakak angkat.


"Gimana Ayu ga apa-apa kan nanti di Cikarang ada mas Heru. Anggaplah dia sebagai mas kandungmu meskipun mas angkat." Pesan ibunya.


"Iya Bu, Ayu akan jadi adik angkat mas Heru. Nanti kalau Ayu butuh mas Heru, janji ya harus ditepati." Ucap Ayu dengan sikap agak manjanya seperti mempunyai kakak untuk bersandar sebagai pengganti setelah tidak ada bapaknya.


Malam pun beranjak, mereka kembali ke ruang bapaknya mas Heru. Setelah membicarakannya, mas Heru merasa lega, akhirnya bisa terselesaikan dengan baik tanpa menyakiti hati dan perasaan orang lain.


Kini mas Heru berharap bahwa rencananya menjodohkan Ayu dengan Wawan akan berhasil. Sebagai teman dekatnya karena satu pabrik meskipun beda bagian, Heru berharap penuh Wawan mau menerima Ayu.


Keesokan harinya, Heru berangkat ke Cikarang dengan menggunakan sepeda motornya. Di lain tempat, Ayu juga berangkat namun menggunakan angkutan bus umum.


Mereka sementara berkomunikasi melalui hp karena mas Heru sempat meminta nomor Ayu agar nanti setelah di Cikarang mas Heru tahu keberadaan Ayu.


Makanya sekarang mas Heru dekat dengan Ayu. Tanpa memberitahu Dinda yang sebenarnya. Kini Ayu menempati rumah milik Wawan yang letaknya tidak jauh dari rumah mas Heru.


Mas Heru dan Wawan sama-sama membeli rumah di perumahan yang sama. Karena setelah pulang dari kampung mas Heru menceritakan semuanya kepada Wawan, Wawan mengerti benar posisi mas Heru.


Pada saat memperkenalkan antara Ayu dan Wawan, mereka bertemu di kontrakan mas Heru karena bingung mau ketemu di mana. Sedangkan Wawan masih ngontrak dengan temannya dan merasa ga enak.


Sedangkan mas Heru hanya ngontrak sendiri jadi tidak masalah. Saat itu mereka semua janjian lewat telephon antara Wawan dan mas Heru. Sedangkan mas Heru janjian dengan Ayu yang kemudian menjemputnya dari warteg buliknya.


Karena tidak menceritakan hal tersebut dengan Dinda, maka hal ini membuat masalah diantara mereka. Meskipun tidak sampai terjadi keributan. Namun Dinda merasa seakan-akan mas Heru telah berubah.


**


*


Di saat mas Heru kembali ke kontrakan dengan Ayu yang bonceng di belakangnya, Tini sempat melihatnya.


Lalu janji apakah yang di ucapkan mas Heru kepada Ayu. Dan bagaimanakah Ayu dan Dinda jika bertemu. Ikuti terus kisah selanjutnya di episode berikutnya.

__ADS_1


Bersambung lagiiii....


__ADS_2