
Untuk para pembaca maaf apabila author lama up. Dikarenakan ada kesibukan dan lain hal yang membuat author tidak up.
Namun author akan berusaha menyelesaikan cerita ini. Mohon bersabar dalam menantikan episode berikutnya.
Author masih belajar dan perlu memperbaiki cerita karyanya ini. Ada beberapa yang perlu di perbaiki dalam menulis karyanya ini. Dan untuk para pembaca terimakasih sebanyak-banyaknya.
Dukungan dari para pembaca pastinya akan membuat author akan lebih semangat lagi dalam melanjutkan karyanya ini. Jadi tetap dukung author yaa. Salam sehat selalu dan tetap semangat untuk semuanya, terimakasih. 🙏🙏🙏
Episode 23. Sikap mas Nur.
Setelah obrolan antara mas Nur dan Dinda di teras kontrakan, mas Nur lebih sering menitip salam kepada mba Lilis atau Tini. Karena dengan mereka mas Nur sama waktu kerjanya. Sedangkan dengan Dinda berbeda. Mas Nur lebih sering bertemu dengan Tini atau mba Lilis ketimbang dengan Dinda.
Mba Lilis dan Tini menyangka kalau mas Nur menyukai Dinda. Dari sikapnya yang terlihat jelas. Selalu menanyakan Dinda dan menitip salam. Tanpa Dinda sadari ada perasaan yang aneh dalam dirinya ketika berbicara mengenai mas Nur.
Hari-hari berlalu begitu saja. Berangkat kerja, pulang, istirahat. Kecuali hari Minggu, bila sudah gajian yaa acaranya paling belanja kebutuhan di supermarket dekat kontrakan. Tidak ada acara pergi main atau jalan-jalan. Untuk menghemat uang gajian, di tambah sebentar lagi akan habis masa kerjanya.
Dinda berpikir, bagaimana nanti bila memang masa kerjanya telah berakhir. Maka mau tidak mau Dinda harus mencari pekerjaan lagi. Jangankan memikirkan pacar, kerja saja masih kontrak. Dan cuma 3 bulan saja, Dinda bekerja di PT. MMI.
Dua bulan sudah Dinda bekerja di PT. MMI. Ada beberapa hal yang Dinda pelajari selama bekerja. Bagaimana berteman dengan teman kerja, bagaimana sikap dengan atasan. Peraturan perusahaan yang harus ditaati. Lingkungan perusahaan di mana tempat Dinda bekerja. Membagi uang gaji yang diperoleh untuk digunakan dengan bijak.
Sedangkan di lingkungan kontrakan, Dinda berteman dengan tetangga kontrakan. Mencoba membaur dan beradaptasi dengan lingkungan serta orang yang berbeda daerah asal. Berusaha untuk menjadi orang yang lebih dewasa dan mandiri.
Meskipun terkadang mengalami masalah baik dalam bekerja, di tempat kerja, di kontrakan, dan lingkungan kontrakan. Dinda berusaha menyikapi setiap masalah dengan berpikir positif dan berlapang dada.
*
__ADS_1
Hampir sebulan Dinda tidak melihat dan bertemu mas Nur. Hanya ucapan salam dari Tini dan mba Lilis. Entah kenapa Dinda merasa akhir-akhir ini ingin melihat mas Nur. Jangankan ingat, bagaimana bentuk wajahnya, membayangkan wajahnya saja Dinda lupa.
Karena hanya sekali Dinda bertemu dan melihat mas Nur. Itupun melihat dengan malu-malu. Rasa penasaran Dinda selalu muncul akan bagaimana sebenarnya perasaan mas Nur terhadapnya. Hingga di hari Minggu yang ditunggupun tiba, Dinda libur bekerja. Dinda berharap mas Nur bisa main lagi ke kontrakannya.
Sambil menjemur baju di teras depan kontrakan, Dinda melihat ke arah kontrakan mas Nur. Jika motor Honda terparkir depan kontrakan mas Nur, maka mas Nur libur kerja. Dan ternyata motor tersebut ada di teras kontrakan mas Nur.
Dinda merasa senang, entah kenapa tetapi itulah yang dirasakan oleh Dinda. Melihat motornya saja membuat senang, apalagi orangnya. Itulah yang Dinda rasakan dalam hatinya.
Selang beberapa menit ada seorang perempuan yang datang ke kontrakan mas Nur. Dinda yang duduk di teras kontrakan merasa penasaran, siapakah perempuan yang datang tersebut.
Setelah perempuan tersebut mengetuk pintu, keluarlah seorang laki-laki yang tak lain adalah mas Nur. Dinda terkejut, namun berusaha berpura-pura bersikap biasa saja.
Terlihat mereka berdua mengobrol di teras kontrakan mas Nur. Dinda merasa kecewa, entah kenapa hatinya merasa ada sesuatu yang terasa sakit. Dinda diam-diam memperhatikan mereka berdua. Mas Nur masuk ke dalam kontrakan. Kemudian keluar lagi memakai jaket dan membawa helm.
Terasa ada yang sakit dalam diri Dinda. Namun Dinda tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Merasa aneh akan bagaimana sikap mas Nur selama ini. Dengan cerita dari Tini, mba Lilis dan terkadang tetangga sebelah. Yang mengatakan bahwa mas Nur ingin kenal dengan Dinda dan selalu menitip salam.
Mungkin Dinda yang terlalu memikirkan dan terbawa perasaan. Padahal selama ini Dinda berusaha untuk menepisnya. Toh Dinda hanya perempuan biasa yang dari desa dan datang untuk bekerja. Sebagai orang yang baru merantau ke Cikarang belum banyak pengalaman apalagi dalam hal cinta.
*
Mendengar dari cerita tetangga, ternyata yang datang ke kontrakan mas Nur adalah pacarnya. Deg, hati Dinda merasa sesak sesaat mendengar cerita tersebut. Namun ketika cerita itu berlanjut, Dinda merasa lega. Pasalnya, mas Nur dan pacarnya sebenarnya sudah putus.
*
Jadi sebenarnya Mas Nur itu pernah pacaran dengan seorang perempuan. Pacarnya tersebut adalah teman kerja tetangga kontrakan. Awalnya hanya sekedar kenal, karena pas main pas bertemu dengan mas Nur.
__ADS_1
Karena waktu itu tiap hari Minggu mas Nur libur kerja. Belum seperti saat ini yang sering berangkat kerja atau lembur. Hari Minggu pun mas Nur berangkat, dan akhirnya mereka jarang bertemu.
Singkat cerita, perempuan tersebutlah yang sering main ke kontrakan mas Nur. Karena malu dan kasihan, akhirnya mas Nur menerimanya sebagai pacar. Namanya Indah, aslinya dari Kerawang. Dia bekerja di pabrik garmen PT Sandang.
Melihat dan kenal mas Nur, Indah bertanya pada temannya yang tinggal di dekat kontrakannya mas Nur. Akhirnya Indah tahu kalau mas Nur adalah karyawan di pabrik Baja Gunung Garuda. Pabriknya setelah pabrik PT. Sandang yang terletak di Warung Bongkok.
Indah datang main ke kontrakan temannya sekaligus main ke kontrakan mas Nur. Karena tahu mas Nur kalau libur selalu di kontrakan. Indah semakin sering datang ke kontrakan mas Nur, apalagi mengetahui bahwa, kalau mas Nur tidak punya pacar.
Indah setiap Minggu main ke kontrakan mas Nur, bahkan jika pulang kerja mampir ke kontrakan temannya. Sekedar memastikan mas Nur ada atau tidak ada di kontrakan. Kalau mas Nur ada di kontrakan, maka Indah pasti main ke kontrakan mas Nur.
Dari situlah terlihat bahwa Indah suka dan cinta serta sayang kepada mas Nur. Meskipun mas Nur sudah berusaha menghindar, namun tetap saja Indah tidak mau menyerah.
Hingga akhirnya Indah duluan yang menyatakan perasaannya. Bahwa Indah suka dan cinta serta sayang kepada mas Nur. Mas Nur bingung, ingin menolak, tetapi kasihan melihat Indah. Pada akhirnya mas Nur hanya mengatakan jalani saja apa adanya. Mas Nur tidak pernah sekalipun menyatakan suka atau cinta bahkan sayang kepada Indah.
Hanya Indah saja yang merasa kalau rasa suka dan cinta serta sayangnya terbalas oleh mas Nur. Perasaan itu tidak perlu dikatakan, yang penting perbuatan yang menunjukkan. Itulah yang menurut Indah, tanpa mau mendengar yang sebenarnya. Bahwa sebenarnya mas Nur bersikap seperti itu hanya karena merasa kasihan. Karena malu Indah sering main ke kontrakannya. Malu dan kasihan terhadap Indah, biar bagaimanapun Indah wanita. Dan mas Nur menjaga perasaannya untuk tidak merasa kecewa dan sedih terhadap perasaannya kepada mas Nur.
*
Setelah sekian bulan menjalin pacaran dengan Indah, mas Nur mengetahui watak dan karakternya. Ternyata tidak seperti yang diharapkan mas Nur untuk menjadi pendamping hidup. Bertentangan dengan yang diharapkan, akhirnya mas Nur meminta putus dengan Indah. Namun Indah selalu menolak untuk memutuskan mas Nur.
Akhirnya mas Nur lah yang memutuskan hubungan dengan Indah sebagai pacar. Mas Nur menghindar dari Indah, dan untungnya pekerjaannya sedang banyak. Sering lembur, pulang malam, dan Minggu pun lembur. Jadi mas Nur punya seribu alasan untuk tidak bertemu dengan Indah.
*
Setelah sekian lama putus, dan memberi harapan entah harapan apa untuk Dinda. Tiba-tiba mas Nur berboncengan kembali dengan Indah. Hal itu membuat para tetangga kontrakan bergosip ria tentang mas Nur dan Indah. Dan yang membuat lebih sesak di dada Dinda adalah ketika mendengar bahwa mereka balikan lagi. Entah itu benar atau tidak, namun yang pasti sikap mas Nur terhadap Dinda itu belum jelas.
__ADS_1